
"Apa kabar?" Terdengar suara lantang dari balik gerbang, Nilna tak asing dengan suara itu. Ia menengok kanan dan kirinya
"S-Siapa?" hampir saja, Zaki mengagetkan Nilna untuk yang kedua kalinya
"Astagaa... hobinya ngagetin aja!" jawab Nilna dengan ketus
Senyum bahagia menghiasi wajah tampan Zaki, sesuai dengan orang yang ada di mimpinya, Nilna kembali lagi. Mereka masih berdiri di depan gerbang, untuk sejenak saling tatap dalam diam. Hal itu, membuat Nilna sedikit salah tingkah
"Apa sihh lihat-lihat ! Minggir aku mau lewat" Nilna sedikit geser ke kanan dan menabrak lengan Zaki yang masih berada di depannya.
Tiba-tiba Nilna terhenti sejenak
'Kenapa dia tidak memanggilku? Ah, apa yang aku pikirkan' Nilna menggerutuki pikirannya sendiri
__ADS_1
"Apa seperti ini sikapmu? setelah aku menyambutmu calon istriku?" Zaki berbalik mendahului Nilna. Kini ia berada tepat di samping Nilna, seperti jalan bareng tanpa gandengan.
"Kan baru calon ! Jangan terlalu bersikap manis padaku !" Jawab Nilna mengalihkan pandangannya berlawanan arah dari posisi Zaki
"Apa kamu mau menikah hari ini bersamaku? Biar aku bisa bebas kapan saja bersikap manis padamu?"
"Em.... itu, tidak perlu !" Wajah Nilna memerah mendengar perkataan Zaki
deg deg deg
Nilna hendak berlalu meninggalkan Zaki, tetapi langkahnya tertahan ketika Zaki juga menarik koper Nilna
"Kenapa cepat sekali?" tanya Zaki
__ADS_1
"Haa? Maksudnya? " Nilna masih tidak paham apa yang di maksud Zaki
"Iya, kenapa cepat sekali. Katanya kamu mau lanjut kuliah lagi? Cerdas juga kamu ya Na! dalam kesekian hari sudah lulus aja" Zaki tak tahan menahan tawanya
Dulu Nilna pergi pamitnya akan memperbaiki dirinya untuk Zaki, dengan melanjutkan S2 agar dapat lebih pantas ketika bersanding dengan Zaki.
"Arghhh... lepasin kopernya Gus !" Nilna terus menarik kopernya, sedangkan Zaki juga masih menahan koper Nilna
"Jawab dulu pertanyaanku!" Titah Zaki
"Apa???" jawab Nilna dengan ketus dan sebal dengan ulah Zaki yang terus menahannya untuk masuk
"Kenapa kamu meninggalkan kekasihmu?"
__ADS_1
"Ya karena dirimu!" jawab Nilna dengan wajah datar
Setelah mendengar perkataan itu, Zaki melepas kopernya. Ia tersenyum, memandang punggung Nilna yang sudah mulai jauh menuju pesantren putri.