
Sedikit demi sedikit ia mulai mengikuti gerakan mbah Kina...
Sampai pada genggaman ke lima?
Danang langsung lari menjauhi pupuk itu, dan mencuci tangannya karena hampir muntah.
"Nak, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa apah mbah hehe" Danang menggaruk bagian belakang tulang kepalanya, tetapi tidak gatal
"Kamu balik aja nak Danang, mungkin Nilna sudah selesai"
__ADS_1
"Baiklah Mbah, saya permisi dulu" seraya menundukkan kepalanya melihat mbah Kina
Akhirnya Danang memilih untuk pergi, ia berjalan ke rumah mbah Kina. Mbah Kina mengangguk dan tersenyum menatap Danang.
'Kini aku tahu siapa yang lebih pantas untuk Nilna, baiklah kalau begitu. Akan ku suruh yang namanya Zaki kesini suatu saat nanti '
Semua sudah siap, sekarang tinggal berangkat ke Semarang. Ia menarik kopernya, akan tetapi terlupa akan suatu hal. Iya, Danang... yang sejak tadi menunggunya
Sedangkan yang duduk di kursi samping Nonik, ada mata yang memperhatikan mereka..
"Jadi benar kau akan kembali? biar aku saja yang mengantarmu kesana!" Minta Danang dengan penuh permohonan
__ADS_1
"Aku akan meminta izin pada orang tuamu!" pandangan Nilna beralih ke Danang, kemudian mendekat duduk di sampingnya
"Maafkan aku Danang. Kamu oramg yang baik akan tetapi mamah mau aku menikah minggu ini. Terima kasih untuk selama ini, kita hanya kisah lalu yang belum pasti. Aku pamit dulu Danang, sekali lagi maafkan aku !" Nilna menarik kopernya menuju ojek online dan menaruhnya di bagasi.
"Izinkan aku memelukmu untuk hari ini saja Na! Aku mencintaimu !" Nilna merasakan pelukan Danang dari belakang, meletakkan kepalanya di ceruk leher Nilna yang tertutup hijab.
Nilna berbalik
Membalas pelukan Danang
"Maafkan aku... hikss..." Akhirnya air matanya tumpah
__ADS_1