KETIKA GUS JATUH CINTA

KETIKA GUS JATUH CINTA
Sembuh


__ADS_3

F L A S H B A C K


"Pagi ibu, biar saya periksa pasien dulu ya" ucap dokter yang sudah mendekatkan stetoskop pada dada bidang Zaki


"Silahkan dok" umi memberi ruang untuk dokter memeriksa putranya, sekarang umi sudah berada di belakang dokter


"Kondisi pasien sudah sangat baik ibu, alhamdulillah. Bahkan ini di luar dugaan saya, nanti sore sudah boleh untuk di bawa pulang" ucap sang dokter dengan wajah sumringah


Umi kembali duduk di kursi, sedangkan abi sudah mengurus segala administrasi di rumah sakit. Abi tidak sengaja bertemu dengan ustad Ghufron, teman sewaktu mondok di Ploso dulu.


"Bro Gufron?"


"Brather Mustofa? ma syaa Allah, gimana kabarnya? lama tak jumpa" ustad Ghufron mendekat abi, dan mereka berpelukan layaknya bertemu dengan kawan lama.


"Alhamdulillah sehat wal afiat bro, kenapa panjenengan koq disini?" tanya abi pada kawan lamanya


"Menjenguk keponakan, dia terkena demam berdarah. Lha panjenengan sendiri jenguk siapa tho?" menepuk pundak abi


"Putraku dewe bro, kenang iku bar kecelakaan, mobile nibo ning kali" (putraku sendiri brother, anak laki-laki itu habis kecelakaan, mobilnya jatuh di sungai)


"Innalillahi, aku ya tak mau jenguk putrane penjengan bro"


"Ohh nggih, monggo-monggo, tapi sudah tidak apa-apa. Nanti mau pulang ke pesantren"

__ADS_1


Ustad Ghufron berjalan disebelah abi, tiba di ruangan di ruangan kosong, tidak ada siapapun. Umi pun tidak ada di dalam.


"Dimana putramu bro?"


Abi belum menjawab pertanyaan ustad Ghufron, mencari keberadaan Zaki. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka


"Walah, kamu dikamar mandi to nang, cah bagus" Abi menghampiri Zaki, merangkulnya dari samping


"Maaf bi, kebelet tadi" jawab Zaki sambil senyum-senyum


"Nak Zakiiii?" tunjuk ustad Ghufron


"Ustad... ustad Ghufron?" Zaki kembali menghampiri dengan pelan, akan tetapi ustad Ghufron lebih dulu menghampiri Zaki dan menahannya agar tetap di tempat tidur pasien.


"Nggak papa ustad, udah sembuh ini koq" ucap Zaki


"Ternyata kalian sudah saling kenal to?" tanya abi menatap Zaki dan ustad Ghufron secara bergantian


"Dulu putramu ini yang sudah menolongku waktu di Turki, gak di sangka putramu sama abinya beda jauh" ucap ustad Ghufron


"Beda jauh gimana bro? jelas-jelas mirip gini koq"


"Lebih gantengan putramu, mbok yo ngalah ngono lho, wis sepuh koq yo emoh ngalah (harusnya mengalah gitu, udah tua koq ndak mau mengalah)" ledek ustad Ghufron sambil ketawa

__ADS_1


"Sudah-sudah, sama gantengnya" jawab Zaki juga ikut ketawa


"Yaudah, nanti kita pulang cah bagus, apa sudah di siapin umi semua? lha umimu kemana?" tanya abi


"Umi tadi nyusul abi, tapi koq belum sampai, mungkin nyasar bi" jawab Zaki cengar-cengir


Dokter dan suster masuk untuk membantu melepaskan selang infus yang terpasang di tangan Zaki


"Assalamu'alaikum Warrahmatullah" umi dan Nilna sekeluarga juga masuk ke ruangan


"Wa'alaikumussalam Warramatullahi Wabarakatuh" jawab abi, zaki, dan ustad Ghufron secara bersamaan


"Ini sudah mau pulang koq di jenguk lagi pak buk, malah merepotkan" abi menyalami papa Nilna


"Ndak papa pak kyai, kami hanya ingin memastikan lagi keadaan mantu kami" membalas uluran salam abi


Ustad Ghufron menyela pembicaraan mereka...


"Lho lho... njenengan sampun mantu, koq yo ora ngundang-ngundang aku to bro" Ustad Ghufron menyenggol lengan abi


"Maaf pak kyai, ini salah paham, maksud saya calon mantu" jawab papa nilna dengan senyuman ramah


"Oalah, bagaimana kita jadikan mantu benaran sekarang?" Jawab ustad Ghufron

__ADS_1


"Ha?" ucap Nilna tanpa sadar


__ADS_2