
Satu hari sudah aku berada di rumah tidak melakukan kegiatan seperti biasanya, kini aku tidak melakukan persiapan untuk pergi ke sekolah, tidak mempersiapkan mata pelajaran hari ini, pokoknya hari-hariku bagaikan awan gelap yang tidak akan terbit matahari lagi, ya---itulah yang sedang aku rasakan, aku hanya bisa menatap buku-buku tebal yang seharusnya sekarang aku pelajari bersama teman-teman, tetapi waktu memaksakan aku agar aku belajar di rumah saja.
Beginilah keadaanku sekarang penuh dengan kemarahan namun tidak bisa untuk meluapkannya, banyak keluhan namun tidak bisa pula aku katakan. Rasanya bila aku mengatakan keluhan-ku pada orang lain, rasanya pula aku seperti orang yang paling putus asa, itu sebabnya aku sedang berusaha untuk tidak memperlihatkan keluhan-ku pada orang lain.
"Aku harus semangat, aku tidak boleh kalah dengan orang yang sama-sama berasal dari tanah. Jadi untuk apa aku harus mengeluh, mengeluh akan membuat keadaanmu semakin memburuk Kalbu." ujar ku pada diriku sendiri.
Saat keterpurukan mencoba menghancurkan rasa semangatku dalam jiwa, saat itu pula aku mencoba membangkitkan-nya kembali dengan cara memberikan semangat pada diriku sendiri, dengan cara mempercayai diri sendiri, bahwa aku bisa melewati semua ini.
Karena aku percaya jika kita sudah mempercayai diri kita sendiri, maka diri kita-pun perlahan membuat orang lain percaya pada diri kita, begitu pula ketika kita sudah menyukai diri kita sendiri maka orang lainpun akan menyukai kita walaupun hanya sebagian. Sebab kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai kita ataupun untuk mencintai kita, karna akan ada saatnya mereka membenci kita ketika memang mereka sudah merasa tidak perduli lagi sama kita.
Jika kita berbicara soal keperdulian orang lain, aku teringat pada sahabat kecilku yang kini telah pindah rumah ke kota. Dia sahabat kecil yang pernah aku kalahkan dalam permainan kelereng, bahkan dia pernah aku tangisi karna kelereng yang sudah dia kumpulkan banyak---ludes aku basmi. Namun di balik kejahilan ku, kehebatan-ku dalam bermain kelereng, dia tidak pernah marah ataupun balik menjahili ku. Bahkan dia begitu perduli terhadapku, dia selalu melindungi dari anak-anak nakal yang selalu ganggu ketenangan ku, aku jadi rindu pada pria cengeng itu. Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih cengeng? Apakah dia masih manja? Apakah dia tumbuh dengan baik? Apakah dia tumbuh menjadi pria yang kuat? Aku sudah lama sekali tak mendengar namanya, apalagi suaranya sudah pasti aku tidak akan pernah bisa mengenalinya. Pria itu lama sekali tak hinggap dalam bayangan imajinasi-ku, meskipun bayangan wajahnya yang masih kecil aku sudah sangat bersyukur bisa menyapanya dalam angan-ku.
"Dasar pria cengeng, kenapa kamu tak ada kabar? Sudahkah kamu melupakanku? Atau bahkan kamu sudah tertelan bumi! Ya Allah, Kalbu! Kamu jangan berkata seperti itu. Bagaimana kalau misalnya dia masih hidup? Kenapa kamu bisa berpikir sembarangan Kalbu?"
Aku seperti orang gila berbicara sendirian, aku seperti orang yang sedang merindukan kekasihnya padahal hanya sekedar sahabat masa kecilnya. Kata ibu sahabat masa kecil itu kadang lebih berkesan, sahabat masa kecil kadang lebih tau kita seperti apa dulunya, dan sahabat masa kecil suka mengingatkan kita tentang kenangan-kenangan di masa kepolosan itu. Jadi sahabat masa kecil bisa menjadi aset kita untuk berbagi cerita pada masa itu, bisa juga mengulang kenangan bersama di masa kepolosan itu. Agar kita tidak mudah lupa betapa indahnya kehidupan masa kecil, betapa indahnya ketika masalah belum kita ketahui dan belum kita pikirkan jauh lebih dalam lagi.
...🥀...
Saat aku duduk termenung di atas ranjang kamarku, ibu masuk kedalam kamar dengan wajah sedikit sedih.
Ibu menghampiriku, " Kalbu, "
"Ibu, aku kira ibu sudah pergi ke sungai." tengok ku pada ibu.
"Tidak nak! Hari ini ibu tidak pergi ke sungai, ibu mau istirahat dulu sambil menemani kamu."
"Baru saja Kalbu akan ikut bersama ibu ke sungai, tapi tidak jadi karna ibunya tidak pergi."
"Ibu sengaja tidak pergi ke sungai, karena ibu tau kalau kamu akan memaksa ibu untuk ikut pergi ke sana. "
"Em.... Ibu kok gitu sih, " lirih ku.
"Mulai lagi wajahnya di jelek-jelekin, " manisnya ibu mengacak rambutku.
__ADS_1
"Ah, rambut aku, " peluk aku dengan erat, " Makasih ya, bu! Sudah hibur aku. "
"Iya, kesayangan ibu, " kecupan kening di berikan ibu.
"Yasudah, dari pada kamu sedih-sedih saja! Gimana kalau kita pergi ke pasar terus kita masak bareng. "
"Emangnya ibu ada uang?"
"Alhamdulillah ada sayang, ibu habis jual pasir kemarin, dan harganya sangat cukup untuk beli makanan di pasar."
Aku menggenggam tangan ibu, " Ibuku sayang, dari pada kita pergi ke pasar, mending kita belanja di warung saja lebih hemat."
"Tadinya ibu ingin membuat kamu bahagia, biar kamu tidak terus termenung karna masalahmu di sekolah. "
"Ibu taukan, kalau pasar di desa kita itu jauh dan melewati sekolahan aku, nanti yang ada aku semakin sedih saat melewatinya. "
"Yasudah, ibu turutin kemauan kamu aja. "
"Oke, ayo kita pergi!" ajak ku dengan senang.
Aku begitu dekat dengan ibu, ibu yang selalu membuatku tertawa di kala sedih datang, ibu selalu memberi secercah cahaya di kala gelap datang. Ibu yang mampu mendinginkan hati yang sedang memanas akan kemarahan, ibu selalu menjadi petunjuk jalan di kala aku salah berbelok arah, aku tidak tau bila hidup tanpa seorang ibu aku akan jadi seperti apa? Betapa bersyukurnya aku kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan untuk membelai wajahnya, menatap matanya, memeluknya, dan menciumnya.
"Lagi dan lagi kamu menatap ibu seperti itu, "
"Eh... Ketauan lagi, "
Ibu hanya menggelengkan kepalanya seraya membentuk bibirnya dengan senyuman. Tibalah kami di warung kecil Bu Karsih, warung langganan kami yang tidak jauh dari rumah, Bu Karsih pemilik warung yang sangat baik hati, beliau sering memberikan sayuran gratis.
...🥀...
Usai belanja dan tiba di rumah aku dan ibu masak bersama, kami memasak makanan sederhana yang biasa kami makan yaitu, tempe, tahu, sayur asam, ikan asin dan sambal terasi. Apapun makanan kita hari ini itu patut di syukuri, karena semakin kita bersyukur akan nikmat Allah, maka akan semakin besar pula karunia Allah yang akan di dapatkan.
"Gimana bu masakannya?"
__ADS_1
"Masakannya sangat lezat, karna kita buatnya bersama. " jawab ibuku dengan tersenyum.
"Iya dong pastinya enak."
"Bu, "
"Apa nak?"
"Kapan ibu tidak mengambil pasir lagi? Aku benar-benar tidak tega melihat ibu. "
Ibu malah bertanya balik, " Kapan juga kamu berhenti menanyakan hal yang sama seperti itu?"
"Kok ibu malah tanya balik aku, " keluh ku.
"Seharusnya kamu sudah tau jawaban yang akan ibu berikan padamu, bahwa jawaban ibu akan tetap sama. "
"Aku tau jawaban itu akan sama, tapi kali ini aku ingin mendapatkan jawaban yang berbeda, aku benar-benar tidak tega melihat ibu terus bekerja keras seperti itu, karena mengambil pasir adalah pekerjaan kasar yang seharusnya tidak di kerjakan perempuan. "
"Oh, jadi alasannya karna ibu ini seorang wanita, mangkanya kamu larang ibu bekerja mengambil pasir."
"Tidak bu, bukan maksudnya seperti itu. "
"Lantas apa yang kamu maksud?"
"Maksud Kalbu, sekalipun ibu laki-laki Kalbu akan tetap larang ibu mengambil pasir, Kalbu tidak ingin orang tua Kalbu terus kelelahan karna kerja terlalu keras. "
"Nak! Dengarkan ibu baik-baik, kita hidup di bumi Allah itu tidak mudah, kadangkala kita harus bekerja keras untuk mendapatkan hidup yang layak, kadang kala pula kita harus bekerja keras untuk mendapatkan sebuah kehormatan dari orang lain. "
"Bukankah sebuah kehormatan itu akan kita dapatkan bukan dari kerja keras bu? Melainkan dari perilaku kitalah yang akan mendatangkan sebuah kehormatan itu sendiri. "
"Ya, memang yang kamu katakan itu benar! Tapi perilaku seseorang kadang kala di abaikan, sedangkan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu itu lebih di akui daripada yang lainnya. Karena mereka lebih sering melihat sesuatu dari apa yang kita miliki, maka berusaha dan bekerja keraslah untuk mendapatkan semua keinginanmu agar dirimu di hormati dan di hargai. "
"Baik bu, Kalbu akan bekerja keras untuk membahagiakan ibu dan mengangkat derajat ibu."
__ADS_1
...🥀...