Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
29. Perjalanan ke rumah sakit


__ADS_3

Angin malam terus menemani kami, angin malam terus menusuk tubuhku dan ibuku yang sedang terbaring di dalam gerobak. Dengan balutan jaket tebal berwarna biru gelap, ibu tertidur dengan nyenyak. Sedangkan aku dan Udin yang ikut serta dalam perjalanan ini, kami berusaha untuk mendorong gerobak itu dengan cepat. Aku tidak ingin terlambat saat tiba di rumah sakit, aku tidak ingin kondisi ibu sangat memburuk.


"Udin, sebaiknya kita percepat perjalanan ini!" suruh ku.


"Baik, Kal! Tapi, kalau kamu capek biar aku saja yang dorong sendiri."


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu seorang diri mendorong gerobak ini. Aku tidak akan tega melihat itu, "


"Kenapa kamu begitu sungkan denganku? Aku tidak ada masalah bila harus mendorong ibumu seorang diri. "


"Bukan maksudku seperti itu, hanya saja aku tidak ingin terlalu banyak merepotkan-mu lagi, ini juga sudah bersyukur kamu sudah mengurangi beban-ku."


Sekitar seratus meter perjalanan menuju rumah sakit, mungkin bisa saja lebih dari itu. Aku tidak ingin terlihat lemah, aku harus kuat membawa ibu ke rumah sakit dengan tepat waktu. Saat aku melihat ke arah ibu, kondisi ibu sepertinya semakin memburuk. Tubuhnya yang terus menggigil, batuknya terus mengeluarkan darah, bahkan tubuh ibu semakin lemas, membuka matanya saja tidak mampu. Bahkan berbicara saja sudah hampir tak terdengar, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada ibuku.


"Ibu, bertahan! Kalbu akan membawa ibu dengan tepat waktu. Ibu harus kuat, demi Kalbu!" kataku seraya menoleh ke arah ibu. Sedangkan Udin dari belakang terus memperhatikan aku, aku tidak bisa menahan air mataku depan dia. Tanganku sesekali mengusap air mataku, kakiku perlahan terluka dan berdarah karena sandal jepit ku putus saat di pertengahan jalan. Aku sengaja tidak mengatakan hal itu pada Udin, karena jika aku bilang, Udin pasti akan melepas sandalnya dan dia yang akan terluka, aku tidak akan biarkan itu terjadi.


"Ya Allah, kuatkan aku!" batinku seraya meringis kesakitan.


Kakiku hampir tidak berdaya untuk berjalan lagi, tanganku yang sesekali merasakan sakit dan terdapat merah pada telapak tanganku. Itu tidak akan pernah menghalangi aku untuk memperjuangkan kesembuhan ibu, aku akan melakukan apapun untuk ibu. Mungkin ini tidak bisa membayar semua jasa ibu kepadaku sejak aku masih dalam kandungan, bahkan sekalipun kita memberikan uang satu karung pun, itu tidak akan pernah cukup membalas jasa seorang ibu.


Rumah sakit sudah dekat, sebentar lagi kami tiba di sana. Aku begitu senang, akhirnya aku bisa berhasil membawa ibu.


...🥀...


Setibanya kami di rumah sakit, suster langsung menghampiri kami dan membawa ibu ke ruangan. Aku begitu senang dan bersyukur saat kami tiba di rumah sakit, tidak ada penolakan dan ancang-ancang lainnya. Ibu langsung di tangani dokter yang baik, aku dan Udin menunggu di depan ruangan rawat ibu.


Saat tiba kami di rumah sakit, tanpa sadar aku sudah mengotori lantai yang berwarna putih dengan darah yang terdapat dari kakiku. Jejak kakiku begitu berserakan, untunglah... Aku tidak kena marah oleh pihak rumah sakit, bahkan aku di obati oleh salah satu suster di rumah sakit itu. Udin yang tau kakiku berdarah, dia langsung panik dan marah padaku.


"Kal, kenapa kamu tidak memberitahu aku?" tanyanya.

__ADS_1


"Beritahu apa?" tanyaku dengan polos.


"Itu.... Kaki kamu berdarah, kenapa diam saja? Dan kenapa bisa berdarah?"


"Oh, ini.... Ini hanya luka kecil, tadi itu sandal aku putus saat di pertengahan jalan. Jadi, aku melepaskannya lalu berjalan tanpa alas." jawabku sambil di obati suster.


Sahut suster, " Cerita kamu begitu mengharukan, sampai saya tidak bisa menahan air mata saya. "


Aku menatap wajah suster itu, " Suster nangis?"


Angguk suster itu, " Iya, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi akan kebaktian-mu pada ibumu. "


"Ini sudah menjadi kewajiban seorang anak, siapa lagi yang akan menolong orang tua kita selain anak."


"Apa yang kamu katakan itu benar, saya mendapat pelajaran dari kamu hari ini. "


Aku pun selesai di obati dan kembali keruangan ibu, setibanya di sana Doker masih belum juga keluar dari ruangan itu.


"Kamu harus sabar, sebentar lagi Dokter pasti keluar. " kata Udin.


Aku tidak tenang sebelum Dokter keluar, semoga ibu baik-baik saja dan tidak mengalami sakit yang parah. Semoga Allah memberikan kesempatan padaku, untuk menyembuhkan ibu. Tak lama Dokter keluar dengan wajah sedikit murung, hatiku semakin ketakutan seakan kegelapan akan datang menutupi cahaya semesta.


"Dok, bagaimana keadaan ibu saya? Apakah dia baik-baik saja?"


"Dok, apakah sekarang saya boleh masuk? Saya tidak sabar ingin melihat ibu saya tersenyum dan mengelus rambutnya, "


"Saya juga tidak sabar untuk memeluknya dan menggenggam tangannya, Dokter kenapa diam saja? Ayo, jawab Dok!"


Aku tidak mengerti akan kebisuan Dokter itu, aku tidak mengerti apa arti wajah murungnya. Aku pun mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa ibu baik-baik saja.

__ADS_1


"Din, ibu aku pasti baik-baik saja kan? Ibu aku pasti sembuh, ibu aku pasti akan pulang dengan sehat." senyumku dengan penuh kepalsuan.


"Kenapa Udin juga diam?"


"Kenapa kalian semua diam? Apa yang terjadi pada ibuku? Ayo, katakan!" teriakku seraya memegang baju dokter yang masih muda itu.


"SEBAIKNYA, KAMU LIHAT SAJA KE DALAM!" suruh dokter itu, aku pun langsung masuk ke dalam. Aku mencoba menghilangkan pikiran aku yang buruk, aku mencoba untuk tidak memperdulikan pikiranku. Tapi, kenyataannya aku percuma saja sedari tadi bergulat dengan pikiranku sendiri. Jika kenyataannya pikiran itu adalah benar.


Setengah kain sudah hampir menyelimuti seluruh tubuh ibu, wajahnya yang sudah terlihat pucat. Tak ada ungkapan kata terakhir yang keluar dari mulut ibu, seakan membuat tubuhku ini melemas dan tak berdaya. Seakan senyumku yang palsu itu hilang, seakan bunga yang sudah mekar saja layu kembali.


"APA YANG TERJADI PADA IBU?"


"IBU, SEDANG TIDUR KAN?"


"IBU, BESOK BANGUN LAGI! KALBU AKAN BUATKAN MASAKAN KESUKAAN IBU, DAN KALBU TIDAK AKAN LARANG IBU MENGAMBIL PASIR LAGI! IBU BOLEH MELAKUKAN APAPUN YANG IBU MAU. "


"IBU, KENAPA DIAM SAJA? AYO JAWAB, KALBU!"


"DOKTER, SUSTER, UDIN! KENAPA IBUKU TIDAK MAU BICARA, APAKAH DIA MASIH MARAH SAMA AKU. "


"KAMU YANG SABAR, KAMI SUDAH BERUSAHA SEKUAT MUNGKIN, TAPI ALLAH BERKEHENDAK LAIN. "


"IBU, BANGUN! MEREKA PASTI SEDANG BOHONGI KALBU. "


"IBU...... JANGAN, TINGGALIN KALBU!"


"BANGUN.... BANGUN....!" tubuhku terjatuh, tubuhku semakin lemas. Apalagi ketika suster membawa ibuku untuk di mandikan, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku berlari mengejar ibu, semua orang menyaksikan kesedihanku.


"IBU.... !!"

__ADS_1


"IBU....!! "


"IBU.... JANGAN PERGI!" aku terjatuh, dokter itu terus menenangkan aku dan membangunkan aku.


__ADS_2