Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
8. Resah


__ADS_3

Hatiku mendadak resah saat melihat kantor kepala sekolah yang tak lagi indah, untuk pertama kalinya aku di panggil ke kantor dalam kemarahan seorang guru kepadaku. Rasanya hatiku begitu hancur dan terluka, aku takut jika tidak mendapatkan rido guruku karena kesalahanku sendiri yang terlalu bodoh. Selain aku takut pada guruku, aku juga merasa takut menghadapi ibuku nanti di rumah, jika ibu sampai tau masalahku di sekolah entah apa yang akan terjadi padanya.


Kesalahan terbesar ku telah cerobah dan tergesa-gesa saat ingin membuktikan Resa dan teman-temannya bersalah. Hingga membuat aku terjebak dan terlibat dalam kesalahan orang lain, mereka yang sedang menertawakan-ku karena rencana mereka yang berhasil menjerumuskan aku ke dalam jurang yang mematikan, membuat diriku semakin haus untuk membuktikan jika aku tidak bersalah.


Bahkan berita aku dalam keterlibatan masalah Resa sudah menyebar begitu cepat, berita dari mulut manusia lebih tajam dan cukup menyakitkan. Bagi mereka yang membenciku mereka senang melihatku semakin sengsara, tetapi mereka yang menyukaiku mereka tidak akan senang melihatku sengsara.


Dalam suasana hening aku berdiri gemetar saat menanti Bu Anggun berbicara, pada saat itu aku di saksikan semua guru, mereka semua menatapku dengan tajam dan rasa iba. Ada beberapa guru yang membelaku, ada beberapa guru juga yang terdiam acuh.


"Kalbu, ayo katakan! Kalau kamu memang benar merokok di gudang sekolah."


"Ibu, bagaimana aku ingin mengakui kesalahanku? Sedangkan aku memang benar tidak bersalah, mana mungkin aku berani mengisap rokok, bu! Bahkan memegangnya saja aku tidak berani sama sekali."


Bu Kiran telah menjadi pembela ku, " Bu, saya percaya kalau Kalbu tidak akan melakukan itu! Pasti ini konspirasi dari mereka, bukankah kita semua sudah mengetahui Kalbu seperti apa? Dia itu anak yang baik, dia anak yang penurut mana mungkin dia berani melakukan hal yang akan membuat dirinya hancur."


Sambung lagi Pak Dermawan, " Betul itu, saya setuju dengan Bu Kiran. Selama ini saya mengenal Kalbu itu baik, dia juga tidak akan mungkin mengecewakan semua guru yang ada di sini."


"Bisa saja dia itu diam-diam melakukan sesuatu yang lebih besar dari ini, bisa saja dia berbohong dan sedang berpura-pura baik di depan kita." ujar Bu Anggun.


"Lalu, jika memang benar Kalbu yang bersalah apa yang akan ibu lakukan?" tanya Bu Kiran.


"Saya akan menskor dia selama satu minggu lamanya." jawaban dari Bu Anggun membuat aku semakin terkejut.


Aku berusaha untuk melakukan apapun agar aku bisa kembali sekolah, " Bu, saya mohon! Saya tidak mau di skor, saya akan melakukan apapun asalkan saya bisa sekolah setiap hari. Meskipun saya memang tidak bersalah dalam hal ini."

__ADS_1


"Tidak bisa, keputusan ibu sudah bulat! Kamu tidak boleh sekolah selama satu minggu lamanya!" tegas Bu Anggun, kemudian pergi.


"Bu, Kalbu mohon!"


Salah satu guru beranjak dari tempat duduknya kemudian memelukku, dialah Bu Karin.


"Kalbu, kamu harus sabar dan ikhlas! Ibu percaya sama kamu, kalau kamu memang tidak bersalah sama sekali akan hal ini. "


"Ibu, terimakasih sudah mempercayai Kalbu, Kalbu senang akhirnya ada seorang guru yang percaya pada Kalbu, terimakasih juga tadi ibu sudah membela Kalbu."


"Sama-sama, ibu yakin---sebentar lagi kamu akan kembali sekolah."


...🥀...


Berjalan seraya di iringi air mata kepedihan yang berasal dari hati yang sedang terluka, sesekali menengok ke arah jendela sekolah---melihat anak-anak sedang belajar membuat hatiku semakin terpukul. Seharusnya tadi aku langsung pergi ke kelas, bukan malah ke gudang, hingga sampai masalah baru datang padaku. Seharian ini aku tidak belajar dengan mereka, seharian penuh ini aku menghadapi masalahku di ruang kepala sekolah bersama guru-guruku.


"Laela, Maryam! Rasanya dalam satu minggu ini aku tidak berjumpa dengan kalian, rasanya seperti satu tahun lebih lamanya aku tidak akan pernah bisa berjumpa dengan kalian." batinku.


"Laela, Maryam! Aku pergi, semoga semua masalah ini cepat selesai dan aku bisa bertemu lagi dengan kalian berdua."


Ku langkahkan kaki keluar gerbang sekolah meski berat, ku langkahkan kaki ke gerbang sekolah meski tak ingin. Saat beberapa langkah kakiku benar-benar akan keluar gerbang, tiba-tiba Maryam dan Laela memanggilku dengan berteriak.


"Kalbu!"

__ADS_1


Aku menoleh ke belakang, saat aku menoleh ternyata tidak hanya kedua sahabatku saja yang memanggil, semua teman satu kelas aku pun datang bersama Maryam dan Laela.


"Teman-teman, "


Aku benar-benar terharu saat membaca tulisan dalam selembar karton yang memberiku semangat untuk membuktikan bahwa aku memang tidak bersalah. Mereka semua membelaku dengan tulus, sungguh aku tidak menyangka mereka membelaku, sungguh aku tidak menyangka mereka melakukan hal yang tidak sama sekali aku bisa bayangkan.


KALBU, KAMI PERCAYA KALAU KAMU TIDAK SALAH.


KALBU, KAMI AKAN MEMBANTU KAMU UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA KAMU TIDAK BERSALAH.


SAATNYA PEMBULIAN DAN PENGHINAAN DI BRANTAS.


KALBU, KAMU PASTI BISA.


Itulah kata yang tertulis pada selembar karton, entah siapa yang merencanakan ini semua aku  benar-benar telah bangkit dari jasadku yang melemah dan sudah tak tau arah lagi.


Peluk Maryam dan Laela membuat jasadku semakin kekar dan tak melemah lagi.


"Maryam, Laela! Ku ucapkan terimakasih pada kalian semuanya. Aku janji sama kalian, bahwa aku akan semangat dan akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah."


"Aku pegang janji kamu, Kalbu!" ujar Maryam.


"Begitu pula aku, aku akan selalu ada bersama kamu! Dan aku sangat yakin, Allah akan memberikan petunjuk untuk kamu." sambung Laela.

__ADS_1


Aku pun melepaskan pelukan Maryam dan Laela, berpamitan dengan teman-teman ku untuk sesaat. Saat langkah kakiku mulai keluar dari gerbang, aku mulai berpikir bagaimana caranya  agar aku bisa memberikan pengertian kepada ibuku. Aku tidak ingin bila harus membohongi ibu bila aku beralasan bahwa sekolah libur, tapi kenyataannya sekolah tidak libur, akan tetapi aku di skor dari sekolahan karena sebuah masalah yang padahal aku tidak terlibat sama sekali.


Kini dunia sedang bermain denganku, bermain sebuah kesabaran yang ada dalam diriku. Tuhan, aku tau kau itu maha baik dan maha segalanya, akan tetapi apakah mungkin kali ini aku mampu melewati sebuah masalah baru yang kau berikan padaku? Mungkin menurutmu ini masalah kecil yang kau berikan padaku, tapi bagiku ini adalah masalah yang cukup besar yang akan aku hadapi. Tapi entah suatu saat nanti akankah masih ada masalah yang akan aku hadapi lebih dari ini, itu semuanya hanya engkau yang mengetahuinya.


__ADS_2