
Masih teringat dalam memori ku, teringat sebuah wajah polos telah menjadi penguasa dalam hidupku. Rasa tak tau malu belum aku dapatkan pada saat itu, ya---kalau bukan masa kecil apalagi, masa yang akan selalu teringat dan terkenang dalam hidupku meski perubahan telah datang. Pada saat itu aku ingat sekali, dimana suara tawa menghiasi wajah Ayah dan Ibuku, wajah yang penuh dengan kegembiraan melihat putrinya bermain mengalahkan semua cowok di Desanya.
Aku gadis kecil dari Desa yang memiliki hobi bermain kelereng, di saat semua perempuan kecil bermain boneka, bermain masak-masakan di saat itu pula aku bermain apa yang pria mainkan, pada zaman itu permainan kelereng menjadi tujuan pertama untuk di mainkan anak laki-laki.
Tapi....
Bagiku permainan kelereng juga bisa di mainkan oleh anak perempuan, contohnya seperti aku---aku selalu mengalahkan anak pria dalam permainan ini. Bahkan ada seorang pria yang menangis karena kelereng miliknya aku dapatkan. Pada saat itu aku benar-benar tertawa melihat teman priaku menangis karena diriku, dia pria klemer yang cengeng seperti anak kecil di bawahnya. Padahal saat itu usianya sudah 10 tahun, tapi dia masih saja cengeng.
"Em.. Jika mengingat masa kecil, rasanya aku ingin selalu tertawa."
Ada satu cerita lagi yang tidak akan pernah aku lupakan sama sekali, cerita yang akan selalu ada dalam hatiku dan pikiranku. Suatu cerita yang selalu terbayang, yang selalu menggema dalam jiwaku. Yaitu ketika aku pulang ke rumah dengan baju kotor, seraya mengandung banyak kelereng di pakaianku yang sudah penuh dengan tanah. Berjalan sambil cingkrak-cingkrik, bersenandung kecil kemudian berteriak memanggil nama Ayah.
"Ayah!"
"Ayah!"
"Ayah!"
"Lihat, Kalbu bawa begitu banyak kelereng!" teriakku dari jarak satu meter.
Setelah Ayah mendengar teriakan-ku, Ayah langsung menghentikan pekerjaannya, waktu itu Ayah sedang melakukan pekerjaan memotong kayu dengan kecil-kecil. Ayah langsung menaruh kampak yang sedang di genggamnya dan membersihkan tangannya yang kotor dengan bajunya. Saat itu senyum yang di berikan Ayah begitu tulus, saat itu senyum Ayah penuh dengan kejujuran, saat itu senyum Ayah penuh dengan cinta dan kehangatan.
"Kalbu! Kemari sayang!" Ayah menjawab teriakan ku, aku pun berlari sampai kelereng yang ada di pakaianku berhamburan jatuh.
"Ya, kelereng Kalbu jatuh, Yah!"
"Habisnya, kamu tidak hati-hati gadis kecil ayah. " Ayah mencubit hidungku.
Kemudian Ayah kembali berbicara padaku, " Kenapa kamu begitu hobi permainan anak laki-laki? Lihat, baju kamu kotor. Kasihan sama ibu yang mencuci pakaianmu, nanti ibu menangis karna kamu nakal. "
"Em, ayah! Ibu tidak mungkin menangis, ibu itu baik, Kalbu suka bermain kelereng ayah." jawabku dengan polos.
"Terus menurut kamu ayah itu enggak baik?!"
"Tidak-tidak, ayah juga baik, kok!"
"Dasar kamu nakal ya, " Ayah menggelitik ku sehingga aku tertawa karna geli. Aku benar-benar ingin kembali tertawa bersama ayah, kini ayah sudah tenang berada di sisi Allah.
"Ayah, aku benar-benar rindu kepadamu!"
__ADS_1
"Ayah, aku benar-benar ingin kembali jumpa denganmu!"
"Ayah, aku benar-benar ingin kembali memelukmu dengan pakaianku yang kotor. Tapi, kini aku tidak bisa melakukan itu---hanya sebuah kenangan saja yang kini memelukku."
Ada satu kata yang selalu aku ingat sampai sekarang, satu kata yang membuat hatiku selalu bersemangat untuk menjalani hidup. Kata itu ialah, " Nak, kelak jika kamu sudah dewasa, kamu harus menjadi anak yang mampu hidup dengan kakimu sendiri dan jangan mudah untuk percaya sama manusia. "
"Emang kenapa?"
"Sebab, percaya sama manusia hanya akan memberikan kamu sebuah kekecewaan. Jika kamu hidup karena orang lain, ayah khawatir jika nantinya sebuah ungkitan hadir dalam hidupmu, sehingga membuat dirimu merasa tidak tenang. Kelak kamu pun akan paham apa maksud ayah."
Kata itulah yang selalu aku ingat sampai sekarang, ayah selalu menyuruhku berdiri di atas kakiku sendiri. Dan tidak mudah percaya sama orang lain, sebab percaya sama orang lain selain Allah akan selalu memberikan rasa kecewa semata.
...š„...
Setibanya aku di sekolah, aku melihat tiga gadis memasuki gudang sekolah dengan tergesa-gesa, dengan tas yang selalu mereka peluk. Aku begitu penasaran dengan tingkah laku mereka yang mencurigakan, Resa dan gengnya lah yang melakukan tindakan yang mencurigakan itu.
"Kenapa mereka begitu terburu-buru masuk gudang? Aku jadi khawatir jika di dalam sana ada orang yang yang sedang mereka buli. Sebaiknya aku pergi saja mendekati mereka!"
Aku perlahan mendekati Resa, mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit. Tak lama aku melihat sebuah asap keluar, asap yang tak asing aromanya, aku mencurigai jika mereka sedang merokok.
"Sepertinya aku kenal dengan bau asap ini," lirih ku.
"Jangan-jangan mereka sedang merokok!"
Saat aku membuka pintu gudang, mereka sangat terkejut melihat kedatangkan-ku, mereka mencoba menyembunyikan satu bungkus rokok kebelakang punggungnya. Ya, percuma saja mereka mencoba menyembunyikan itu, karena aku sudah melihat kelakuan mereka. Dan merekapun tidak bisa berbohong, sebab aroma rokok itu masih pekat tercium.
"Kalbu! Ngapain lo kemari?"
"Iya, ngapain?"
"Aku kemari karna undangan asap rokok yang kalian hisap. "
"Rokok? Lo sotoy banget sih jadi orang, siapa juga yang merokok?"
"Aku tau kok, kalau kalian merokok! Sebab sedari tadi aku mengintip kalian berdua."
Resa mendekatiku, " Oh, jadi lo dari tadi ngintip!"
"Iya, ada masalah buat kalian?"
__ADS_1
"Ya, ada!"
"Apa?"
"Karna lo udah tau rahasia kita bertiga, kalau sampe lo aduin ini semua ke kepala sekolah. Gue bakal buat hidup lo semakin susah, paham cewek kumuh!"
"Tapi sayang, aku tidakĀ akan merahasiakan ini semua. Aku bakal aduin kalian semua ke kepala sekolah."
"Jadi, lo bantah perintah si Resa?" tanya Loli.
"Iya, perintah kalian tidak patut aku turuti!" tegas ku.
"Songong banget, nyepelein ancaman gue!"
Janet mengompori Resa, agar dia semakin marah, " Udah, Res! Kita sekalian kerjain saja."
"Betul juga, kira-kira apa ya!"
"Kalian mau kerjain aku? Kalian tidak akan pernah bisa. "
Aku mencoba membuka pintu gudang, namun Janet dan Loli menghalangiku.
" Mau kemana lo? Lo mau laporin kita?"
"Iya, aku bakal laporin kalian bertiga."
"Silahkan saja, kalau memang lo berani laporin kita. Karena kita merokok di sekolah, lo tadi liat kita isep rokok kan?"
"NIH, BIAR GUE TUNJUKIN LAGI CARANYA MEROKOK!"
Resa kembali membuka rokok, dia menyalakan api untuk rokok yang sedang di pegang-nya. Kemudian asap rokok itu dia mendapatkannya di wajahku.
"Sekarang lo puas! Bisa liat gue merokok tanpa harus mengintip di balik pintu, ah.... Gadis konyol dan bodoh! Yang bisanya mengintip kemudian laporin. " ujar Resa.
"Haha... Dia memang gadis bodoh, gadis yang belum juga paham dengan sifat kita." sambung Loli.
"Dan sekarang, giliran lo yang harus merokok!" suruh Jelita.
Senyum hinaan datang di raut wajah Resa, " Ya ampun, Jelita! Lo pinter banget sih. Kenapa gue enggak kepikiran sampe situ, seru juga kalau gadis bodoh ini merokok sama kita."
__ADS_1
"Yups, lo baru tau kalau gue pinter!"
"Ah, sudah! Tidak perlu bahas ke pinteran lo, gue udah enggak sabar liat dia merokok sama kita. "