
Sepertinya pria itu pantas aku panggil aneh, tadi dia mengikuti-ku dan sekarang dia malah pergi entah kemana meninggalkan aku dalam keadaan kotor, katanya dia akan membantuku membersihkan, tapi kenyataannya dia menghilang begitu cepat. Tapi pada akhirnya dia kembali memanggilku dengan cepat, aku benar-benar tidak habis pikir dengan tingkahnya.
"Hei, gadis tak tau terimakasih, berhenti!" dia menghentikan ku dari jarak satu meter dengan nafas yang terpotong-potong.
" Tadi pria itu hilang, sekarang dia memanggilku dengan mengatakan itu. " kataku dalam batin seraya menoleh, " Ada apa lagi? Kenapa kamu menghentikan aku sekarang? Kamu mau mempermainkan aku? Tadi kamu meninggalkanku secara mendadak, padahal aku sudah mengucapakan terimakasih di bawah pohon mangga itu, tetapi kamu malah mengatakan kalau aku orang yang tidak tau terimakasih!"
"Aku menghentikan kamu, karena aku kasihan sama kamu, aku habis dari warung membeli air buat kamu, warung itu cukup dekat dari sini masa kamu tidak melihat aku."
Aku tercengang mendengar perkataan pria itu, aku kira dia benar-benar pergi meninggalkan aku dalam keadaan duka, tapi ternyata aku sudah salah sangka terhadapnya, dia malah pergi ke warung sambil berlari tanpa berbicara padaku untuk membelikan 3 botol air mineral untuk membasuh ku.
"Maaf!"
"Maaf untuk apa?" tanyanya heran.
"Maaf, karena aku sudah berburuk sangka sama kamu. Aku kira kamu benar-benar pergi meninggalkan aku, tapi ternyata kamu pergi ke warung hanya untuk membelikan air. "
"Mana tega aku meninggalkan kamu dalam keadaan seperti itu, "
"Kenapa sih kamu baik banget? Padahal kita tidak saling kenal. "
"Kita tidak saling kenal juga di bumi, bisa saja kelak di langit kita akan saling kenal dan saling menyapa."kata pria itu.
"Tapi, kalau aku maunya di bumi sama di langit bagaimana? Aku tidak ingin pergi dari orang baik sepertimu, "candaku.
"Kalau begitu biarkan Tuhan dan semesta yang mengurusnya, jika memang kita di takdir-kan untuk bertemu lagi, kita pasti akan bertemu lagi. "
"Aamiin, sebaiknya kamu segera bantu aku membersihkan diri. "
Banyak manusia berlalu lalang melihat aku membersihkan diri di pinggir jalan, pria itu terus menumpahkan air ke wajah dan rambutku secara perlahan, agar terlihat sedikit bersih meskipun belum sepenuhnya. Setidaknya saat aku tiba di rumah, ibu tidak terlalu mengkhawatirkan aku.
"Gadis payah, aku heran kenapa sih kamu itu bisa di buli sama mereka? Memangnya kamu kenal dengan mereka?" tanyanya sambil menyirami wajahku.
"Aku juga bingung, kenapa mereka masih membenciku? Jika di ceritakan tidak akan selesai satu tahun, intinya kebencian mereka begitu tinggi seperti monas. Ya, bagaimana aku tidak kenal? Mereka kan teman satu kelasku, " jawabku.
"Oh, jadi mereka teman satu kelas-mu!"
"Iya, tapi hanya aku yang menganggap mereka teman, kalau mereka sih menganggap aku musuh bebuyutannya. "
"Ah, separah itukah mereka?!"
"Akhirnya sudah lumayan bersih juga wajahku,"aku menghiraukan.
Pria itu kembali bertanya, " Gadis payah! Kenapa kamu tidak jawab?"
"Apa yang harus aku jawab?"
"Itu... Pertanyaan aku, "
"Pertanyaan yang mana? Aku tidak ingat!"
"Separah itukah mereka benci sama kamu?" tanyanya ulang.
__ADS_1
"Em.... Begitulah, sudah ah aku malas bahas mereka, gara-gara mereka aku di skor satu minggu enggak bisa masuk sekolah. "
"Di skor? Memangnya mereka melakukan apa sama kamu?"
"Mereka memfitnah ku merokok di gudang sekolah, dan aku tidak bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Dan untuk menebus rasa rinduku ke sekolah, aku berniat datang ke sekolah, tetapi sayang aku malah bertemu mereka yang sedang bolos, kemudian mereka mengambil kesempatan untuk mengerjai ku. "
"Kalau begitu tindakan mereka tidak bisa di biarkan, ini sudah melanggar hukum, mereka harus segera di laporkan. "
"Bagaimana caranya? Mereka orang kaya, sedangkan aku tidak memiliki apapun, sehingga aku selalu saja kalah untuk membuktikan mereka bersalah. "
"Mau kaya atau miskin, tidak bisa di biarkan. "
"Lalu aku harus apa? Aku tidak tau lagi caranya untuk membuktikan mereka."
"Aku tau!"
"Apa?"
"Kita video mereka saat melakukan pembulian kepada kamu, terus videonya kasih ke guru-guru. "
"Tapi aku tidak memiliki handphone, mangkanya aku tidak bisa merekam mereka saat kejadian. Bahkan mereka selalu mengatakan, lo enggak mungkin bisa buktiin kita bersalah, kalau lo enggak punya rekaman kita. "
"Tenang aja, kamu tidak perlu kewatir, aku punya video mereka saat kamu sedang di buli tadi pagi."
"Kamu dapat dari mana? Sebenarnya sedari tadi aku bertanya-tanya, kenapa kamu bisa berada di sekolahan aku?"
"Aku hampir lupa, sebenarnya aku itu calon anak baru di sini, aku sedang melihat-lihat kondisi sekolahan ini. Setelah aku tiba di belakang sekolah, aku mendengar suara tangisan, suara gaduh, disitulah aku mencoba mencari dan mendekati. Setelah aku menemukan sumber suara, ternyata ada seseorang yang sedang melakukan kejahatan di pohon mangga itu, kemudian aku mengambil handphone dan merekamnya untuk bukti. " Pria itu menjelaskan semua yang di lihatnya.
"Itu sudah tugas seorang hamba Allah, "
Aku tersenyum dan menatap pria yang penuh kelembutan hati, meskipun aku sempat memanggilnya aneh, tetapi dia begitu baik tiada tara.
Sekarang aku sudah tau alasannya mengapa tiba di sekolah, sekarang aku sudah tau bahwa dia adalah calon anak baru di sekolahan ku. Tapi sayang saat perkenalan pertamanya esok, aku dan dia tidak bisa saling bersapa.
"Berarti besok kamu akan mulai sekolah?"
"Iya, aku besok resmi jadi siswa di sekolahan ini, tapi saya sedikit sedih, "
"Sedih kenapa?"
"Sedih... Sebab perkenalan pertama saya tidak di hadiri kamu."
"Yasudah, kebetulan kita belum kenalan! Gimana perkenalan pertama kita sekarang saja?"
"Boleh, tapi aku mau kamu dulu yang menyebutkan namanya. "
Aku mengulurkan tangan, " Aku Kalbu, kamu siapa?"
Dia malah balik bertanya, " Nama kamu Kalbu? Serius!"
"Iya, serius! Aku Kalbu, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Tidak... Namamu unik kayak orangnya, " senyum pria itu begitu manis.
"Bisa saja, sekarang giliran kamu yang memperkenalkan diri. "
"Maaf, aku tidak bisa memperkenalkan diri sama kamu sekarang, "
"Eh, kenapa? Kamu kok curang, "
Dia tidak menjawab pertanyaan ku, dia malah membahas ke yang lain, " Eh, mau sampai kapan kita berada di pinggir jalan seperti ini? Sebaiknya kamu segera pulang, InsyaAllah video ini akan aku simpan dan akan aku berikan semua bukti bahwa kamu tidak bersalah, "
"Kamu serius?" Aku begitu senang mendengar dia yang akan membantuku.
"Iya aku serius, sudah sana kamu pulang!" suruh-nya lagi, aku heran sama diriku sendiri kenapa aku bisa begitu nurut sama dia? Kenapa aku tidak balik bertanya lagi saat dia mencoba menghiraukan pertanyaan ku? Ada apa dengan aku? Perasaan ini kenapa begitu aneh sekali saat menatapnya.
...🥀...
Setibanya aku di rumah dalam keadaan basa dan sedikit kotor yang masih terlihat jelas di tubuh juga pakaianku. Seperti dugaan pertamaku, ibu sangat mengkhawatirkan aku sampai ibu terus memegang pundak-ku cukup kencang.
"Ya Allah, Kalbu!"
"Apa yang terjadi sama kamu, nak?!"
"Kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Bukankah kamu ijin sama ibu akan pergi ke sekolah, tapi kenapa pulang kamu menjadi seperti ini?"
"Kotor dan bau, siapa yang melakukan ini sayang?"
Aku hanya bisa menatap sebentar, mendengarkan semua pertanyaan yang keluar dari benak ibu.
"Kalbu, jawab ibu?!"
"Baik, bu! Kalbu akan jawab semua pertanyaan ibu, Kalbu akan menjelaskan semuanya."
"Kamu nanti tidak akan merahasiakan apapun dari ibu, kamu harus menjelaskan semuanya. "
Aku menjelaskan semua kejadian tadi pagi sama ibu, aku tidak bisa menyimpan rahasia ini seorang diri. Sebenernya aku tidak ingin berbagi duka sama ibu, aku tidak ingin melihat ibu sedih saat melihat putrinya sedih karna terus di tindas sama orang lain.
"Ya Allah, begitu beratkah ujianmu untuk putriku? Kenapa putriku begitu sering menghadapi masalah?"
"Hus.... Ibu tidak boleh berbicara seperti itu, Kalbu yakin, Allah memberikan setiap ujiannya kepada Kalbu itu pasti ada alasannya. Mungkin Allah kembali memberikan kekuatan pada hati Kalbu, agar bisa menjadi manusia lebih baik lagi melalui masalah baru ini. Kalbu tidak marah atas apa yang sudah Allah berikan pada Kalbu, Kalbu juga tidak menyesali semua yang sudah terjadi sama Kalbu, hanya satu yang akan Kalbu sesali dalam hidup ini. "
"Apa itu nak?"
"Ketika Kalbu tidak bisa menghadapi masalah yang Allah berikan pada Kalbu, dan ketika Kalbu tidak mampu membahagiakan ibu. "
Ibu memeluk tubuhku yang basah, ibu menangis dalam pelukan aku seraya mengusap punggungku dengan perlahan.
"Kamu yang sabar ya, nak! InsyaAllah Allah akan segera memberikan jalannya untuk kamu yang terbaik. "
"Aamiin, aku percaya akan kebaikan Allah. "
__ADS_1