
Aku tidak mengerti apa yang sedang di pikirkan Mahesa, dia malah mengajak teman-temanku untuk bergabung. Dia tidak hanya mengajak Laela ataupun Maryam, tapi dia juga malah mengajak Dafa, Jojo dan Komar.
"Assalamualaikum, " dengan bersamaan teman-temanku mengucapkan salam.
Mahesa menjawab dan menghampiri mereka, "Wa'alaikumsalam, kenapa kalian semua baru dateng?"
"Kamu, kayak yang tidak tau cewek saja." jawab Dafa.
"Kenapa mereka juga ada, Sa? Kamu yang merencanakan ini semua," tanyaku pada Mahesa.
"Iya, mereka aku yang ajak! Kenapa, nggak boleh?" tanya balik Mahesa.
"Bukannya tidak boleh, tapi kenapa kamu merencanakan ini semua sendiri, tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Sekarang kamu sudah melibatkan banyak orang, tau!"
Maryam menjawab pertanyaan Mahesa," Jangan berdebat dengan Mahesa, Mahesa tidak salah! Justru Mahesa benar untuk mengajak kami. Sekarang aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu merahasiakan hal yang besar ini dari kami? Kami ini kan sudah menjadi keluarga, aku ataupun Laela tidak ingin melihat kamu terus tersiksa." aku baru melihat Maryam sebegitu marahnya pada diriku.
"Aku tau, solidaritas kalian itu sangat tinggi, tapi aku tidak ingin melibatkan banyak orang. Aku mohon mengertilah, " tak berdayanya aku.
Dafa mendekatiku, " Kami mengerti, kalau kamu tidak ingin melibatkan kami, karna kamu tidak ingin melihat kami dalam bahaya. Tetapi jika kami bersatu untuk melawan ketidakbenaran, semua bahaya itu tidak akan pernah berani mendekati kami."
Sambung Jojo, " Iya, Kalbu! Lo itu jangan sembunyikan masalah lo sendiri. Sedangkan kita ada bersama lo. "
"Tumben Jo, bijak!" ujar Komar.
"Gue bijak karna ada Laela, iya kan sayang?"
"Apaan sih, lo? Jijik dengernya."
"Jijik, tapi cinta---iya kan?"
Laela bergidik kemudian masuk kedalam rumah aku, mereka selalu saja saling benci tapi saling cinta satu sama lain.
"Yasudah, kita bahas di dalam rumahku saja, jika kalian memaksa. Apalah dayaku yang tidak berdaya ini, "
__ADS_1
"Nah, gitu dong! Kalau lo tidak mau di kreyok kita." ujar Komar.
"Kok, Komar jahat, sih!" keluh ku pada dirinya.
Dafa ini pertama kalinya dia datang ke rumahku, kita sudah bertahun-tahun satu kelas----satu teman. Tetapi dia tidak pernah mengunjungi rumahku, mungkin itu terjadi karna rasa malu yang dia punya, dan mungkin pada saat itu kita tidak terlalu dekat sama sekali.
...🥀...
Rencana sudah kami susun, mereka menyuruhku untuk berjalan kaki ketempat yang sering pria itu lewatin. Seperti biasa nanti meraka akan merekam semua kelakuan pria itu, mereka akan merekam setiap perkataan yang akan dia katakan.
Sedangkan rencana-ku, setelah aku bertemu dengan pria itu. Aku akan menyusun setiap perkataan-ku dengan baik, agar dia mau mengatakan segalanya bahwa aku memang tidak bersalah.
Aku pun berjalan kaki, sedangkan teman-temanku mengikuti-ku dari belakang. Mereka khawatir jika akan terjadi sesuatu pada diriku, kali ini rencana aku dan teman-temanku tidak boleh gagal lagi. Inilah saat dimana nama baikku kembali, dan semua warga di sini bisa mempercayai diriku.
"Kemana pria itu? Kenapa pria itu tidak kelihatan? Kalau begini jadinya, bisa-bisa rencana ini akan gagal."
Aku masih bingung kenapa belum ada batang hidungnya yang terlihat, setiap kali tak di harapkan di muncul. Setiap kali di harapkan malah tak kelihatan.
"Neng gelis, kata abang juga apa? Kita itu memang jodoh. "
"Apa jodoh? Kamu mengatakan itu kesekian kalinya, "
"Memang kita jodoh, abang sengaja setiap kali ada neng... Abang akan berhenti, karena abang sangat cinta sama neng. "
"Maaf, ya! Saya tidak pernah cinta, anda itu pantasnya jadi bapak aku. Bukan jadi suami saya, sebaiknya anda teh jujur saja sama istri dan anak anda. Kalau anda yang sudah merayuku, bukan saya yang merayu anda."
"Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya ilang,"
"Saya bilang dan peringatkan satu kali lagi, jangan pernah sentuh saya sedikitpun! Anda paham tidak?"
"Cuih..... Dasar gadis murahan! Inget ya, saya akan membuat kamu semakin jelek di mata istri dan anak saya. Bahkan saya akan kembali memfitnah kamu di hadapan semua warga di sini, agar kamu di usir dari kampung sini. "
"Silahkan, saya tidak akan pernah takut! Saya akan membuat anda menyesal, karna sudah memfitnah saya. Dari dulu memang saya sudah curiga sama anda, kalau andalah dalang dari semua permasalahan ini. "
__ADS_1
"Hahaha... " tawa hinaan terdengar, " Hei... Mulut kamu itu wajib saya hancurkan, kamu jangan sesekali berbicara dengan nada tinggi kepada saya. Ingat! Saya akan kembali menjelek-jelekkan kamu di hadapan keluarga saya, agar kamu kembali di labrak oleh mereka. "
"Saya bilang, silahkan! Jika anda berani, dan setelah itu saya pun akan melaporkan anda kepada mereka. Bahwa andalah yang sudah merayu saya, bukan saya yang merayu anda. "
"Mereka tidak akan pernah percaya dengan perkataan kamu, dan saya tidak akan pernah berhenti merayu kamu. "
"Kita liat saja, siapa yang menang?" ujar ku dengan percaya diri.
Brem...
Pria itu kembali menyalakan motornya lalu pergi, hatiku begitu gemetar setelah mengatakan ini semua kepada dia.
Prok prok prok
"Kalbu, kamu keren! Kamu bisa menghadapi dia dengan tegas. Sampai dia mengatakan apa yang akan menjadi bukti kuat kita, " ujar Laela.
Semua teman-teman ku datang untuk memberiku dukungan, dan aku sangat bersyukur sebentar lagi permasalahan ini akan segera berakhir. Sepertinya aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, mungkin rekaman itu akan segera kami berikan kepada keluarga pria itu.
"Sekarang, kamu memiliki buktinya! Kalau memang kamu tidak bersalah. "
"Iya, terimakasih semuanya! Berkat kalian aku bisa selamat dari pria itu. Tapi.... "
"Tapi apa?"
"Kapan kita akan memberikan rekaman ini?"
" Besok, kita akan memberikan rekaman ini bersama-sama. Saat kita memberikan rekaman ini, jangan sampai pria itu ada di rumahnya. "
"Aku setuju, kalau misalnya kita menunjukan rekaman ini ada pria itu. Maka pria itu tidak akan membiarkan rekaman ini bisa jatuh ke tangan istrinya."
"Aku tidak menyangka ada orang seperti itu, " ujar Maryam.
"Pasti ada, aja! Manusia itu beragam, ada yang baik, ada juga yang jahat." sambung Laela.
__ADS_1