
...Selagi bisa ku tahan, akan ku tahan sampai akhir kesabaran ku....
.......
...š„...
Saat sekolah sudah di bubarkan, semua anak-anak berlomba-lomba pergi ke keluar, pergi ke parkiran untuk mengendarai kendaraan mereka masing-masing. Aku juga harus mengambil kendaraan ku, kendaraan tanpa mesin otomatis, kendaraan sehat tanpa polusi, apalagi kalau bukan sepeda ontel kesayanganku. Sepeda ontel yang penuh kenangan bersama Ayah, ibu mewariskan nya kepadaku.
"Sepeda kesayanganku, kang ontel-ku saatnya kita pergi. Go go!!"
Aku seperti orang gila saja yang suka bicara sama barang kesayangannya, rasanya aku tidak bisa kalau tidak berbicara dengan kang ontel-ku. Dia sudah seperti sahabat terlama ku, semua anak-anak di sekolahku sudah mengetahui tentang diriku. Iyalah, tiga tahun aku sekolah di sini---masa iya mereka masih saja tidak mengenalku, gadis yang sering di ejek kumuh ini.
Di balik ejekan kumuh itu terkadang aku selalu mendapatkan pertanyaan dari teman-teman sekolah, apakah kamu tidak marah di bilang kumuh? Kenapa kamu diam saja saat sebutan itu di lontarkan untuk kamu? Apakah sekuat itu hati kamu menerimanya? Aku jawab saja semua pertanyaan itu dengan hatiku juga.
"Aku tidak marah dengan sebutan itu, toh semua perkataan mereka memang nyata adanya, aku itu kumuh. Jadi untuk apa aku marah, marah hanya akan membuang waktuku saja, dan aku tidak suka itu!"
Jawaban simpel yang selalu aku berikan kepada mereka, karena aku tipikalĀ orang yang tidak ingin membuang waktu begitu saja. Apalagi marah karna hanya sebutan sepele saja, kecuali mereka sudah membawa nama ibuku, bisa saja aku akan marah dan tidak akan bisa menahan kesabaran ku lagi. Kalau masih bisa di terima oleh hatiku, aku akan tetap berusaha untuk menyambut sebutan kumuh itu dengan senang hati.
Saat perjalanan pulangĀ ke rumahĀ pria tak ada akhlak itu menghentikan sepedaku dengan cara mengklakson.
Tet tet tet.....
"Neng neng... Ayo berhenti!"
"Ee.... Siapa sih?" Sepeda aku pun mendadak hilang keseimbangannya, sedikit lagi saja aku akan terjatuh ke solokan.
"Neng, berhenti!" teriak lagi pria itu.
Aku menghentikan sepedanya, dan menoleh ke belakang, " Apa? Dia lagi, aduh bagaimana ini?"
Aku benar-benar bingung dan takut harus bagaimana menghadapi pria mata keranjang itu. Padahal pria itu sudah menikah, bahkan dia sudah punya anak perempuan seumuran denganku. Apa kata orang-orang nantinya? Tuhan, tolong bantu aku menghadapi pria yang tak bermoral seperti dia.
"Ari si eneng, di panggilnya diem wae!" Pria itu mencolek lenganku.
"Ih, apaan sih? Awas, saya mau lewat!"
"Sombongnya kok nggak ilang cantik, mending ikut sama abang aja naik motor. "
"Ogah, dari pada saya harus naik motor sama kamu! Lebih baik saya naik sepeda ontel. "
Lama kelamaan pria itu semakin merajalela, dia menarik tanganku dengan kencang.
"Ayo neng!"
"Lepasin saya, kalau tidak saya akan teriak!"
__ADS_1
"Ayolah, masa sama abang kayak gitu!"
"Lepasin!" aku mengigit lengan pria tak berakhlak itu.
"Aw, sialan!"
Aku langsung menggoes sepedaku dengan kencang, aku harus bisa berlari dari pria itu.
"Ya Allah, jangan sampai aku di pertemukan dengan pria itu lagi!"
Tubuh yang masih gemetar karna takut, wajah yang masih terlihat pucat karna takut, itu semua terlihat dalam diriku. Setibanya di rumah aku langsung mengurung diri, menenangkan hati aku yang sedang panik.
"Bagaimana ini? Pria itu terus mengejar ku, kalau sampai ibu tau---ibu pasti akan mencemaskan ku setiap saatnya. Ah, aku benar-benar takut Tuhan!"
Uring-uringan itu yang sedang aku lakukan, baju seragam sekolah masih menempel di tubuhku, tas kecil hitam masih aku gendong. Sesekali aku duduk di ranjang, sesekali pula aku terbangun dari ranjang.
"Bagaimana?"
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu terus saja menghantuiku, tidak lama ibu pulang dari sungai.
"Assalamualaikum, Kalbu apakah kamu sudah pulang?"
"Kamu tumben banget, baju seragamnya masih menempel di tubuhmu!"
Dugaan-ku benar, ibu pasti bertanya akan hal itu, " Oh iya, Kalbu lupa!"
"Lupa atau memang di sengaja?!"
"Serius bu, Kalbu lupa! Mana mungkin di sengaja,"
"Baiklah, ibu percaya sama kamu."
"Sebaiknya kita masuk, ibu ganti baju dan kalau bisa hari ini ibu harus istirahat. Tidak boleh pergi lagi ke sungai, Kalbu tidak ingin ibu semakin kelelahan. "
"Tidak bisa nak, ibu harus kembali lagi ke sungai setelah salat dan makan. "
Aku hampir lupa tidak memasak hari ini, semua ini karna pria itu.
"Ya ampun, aku lupa bu!"
"Lupa apa?"
"Aku belum masak, ibu pasti sangat lapar yaya?!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, biarkan kali ini ibu saja yang masak. Ngomong-ngomong stok beras kita masih ada kan?"
Aku bingung harus bilang apa pada ibu, ibu sudah menanyakan stok beras.
"Nak, kenapa kamu diam saja?"
"A.. Nu... "
"Anu apa? Ngomong saja sama ibu. "
"Stok beras kita sudah habis, bahkan bahan makanan kita juga sudah habis. "
"Em... Kalau begitu, ibu akan pergi ke warung. "
"Emangnya, ibu ada uang?"
"InsyaAllah ada nak. "
"Yasudah, sekarang ibu mandi dan salat."
"Jangan lupa kamu juga salat!"
"Aku kan lagi nggak salat. "
"Oh iya, ibu lupa!"
Ibu pergi ke kamar mandi yang masih berantakan, kemudian ibu melaksanakan salat Dzuhur.
...š„...
"Kalbu, ibu pergi ke warung dulu ya!"
"Iya, ibu!"
Aku tidak pernah tau, apakah ibu benar-benar ada uang untuk membeli beras? Ataukah ibu hanya sedang berpura-pura saja? Daripada otakku di penuhi dengan pertanyaan, aku memutuskan untuk mengikuti ibu ke warung. Setelah aku mengikuti ibu ke warung, ternyata ibu benar-benar ada uang.
"Alhamdulillah, ternyata ibu tidak sedang berbohong. "
Meskipun kami miskin, kami sedang berusaha agar tidak memiliki hutang kepada siapapun, kami berusaha untuk hidup apa adanya dan tidak mengikuti gaya mereka. Kebanyakan orang sering kali rela berhutang ke sana kemari untuk memenuhi gaya hidup yang glamor, tanpa melihat kondisi dirinya yang memang sedang membutuhkan perhatian, bukan sedang membutuhkan tatanan hidup yang mewah.
Kita boleh saja bergaya sesuka hati, akan tetapi kita juga harus melihat kondisi dompet dan kantong kita. Apakah sudah mencakupi segalanya? Ataukah belum bisa mencakupi segala kebutuhan? Kalau memang belum, sebaiknya segera menahan diri untuk tidak terpengaruh oleh mereka yang hidup glamor sejak lahir.
Semakin besar kita mengikuti nafsu kita untuk terlihat keren di mata manusia, semakinĀ besar pula tanggung jawab yang akan kita dapati nantinya. Jadi, hiduplah sederhana, tapi memenuhi segala kebutuhan tanpa harus berhutang.
Kita harus bisa belajar mensyukuri segala nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita, semakin kita bersyukur kepadanya InsyaAllah segala nikmat akan Allah berikan pula kepada kita, bahkan segala nafsu kita InsyaAllah kita akan bisa menahannya.
__ADS_1