Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
30. kenyataan yang harus di ikhlaskan


__ADS_3

Kenyataan ini cukup menyakitkan bagiku, tapi aku juga harus bisa mengikhlaskannya. Semakin aku terpuruk, semakin lama pula untuk memulihkan rasa sedihku. Aku masih belum percaya akan kepergian ibu yang begitu cepat, aku masih belum sempat membahagiakan ibu. Aku belum sempat membuktikan cita-citaku pada ibu, aku belum sempat membeli rumah yang bagus untuk kami tinggali bersama.


Tapi..... Tuhan telah berkata lain, Tuhan terlalu cinta pada ibuku, Tuhan terlalu sayang pada ibuku, sehingga Tuhan lebih cepat mengambil ibu dalam pelukan aku.


Bendera kuning menghiasi rumahku, lantunan yasin terdengar di setiap penjuru rumahku. Seluruh teman-teman ku silih berganti datang untuk mendoakan kepergian ibuku, mereka semua tiada henti memelukku dan memberiku semangat. Namun, aku tidak bisa membalas perkataan mereka. Bibirku terlalu kaku untuk menjawab, mataku terlalu sembab karna terlalu banyak mengeluarkan air mata.


Kebisuan yang cukup menyedihkan, antara harus menerima dan tidak. Jika aku tidak menerima kenyataan ini, aku adalah orang yang paling egois di dunia ini. Dan aku akan menjadi orang yang tidak Allah sukai, aku tidak ingin melakukan itu. Meski sakit kita harus ikhlas, meski sulit kita harus menerima segala ketetapannya.


Karena setiap ketetapan Allah selalu benar dan demi kebaikan hambanya, Allah akan selalu memberikan petunjuk. Petunjuk yang akan memberikan sebuah kebaikan terus mendatangi, petunjuk yang mampu memberikan pelajaran hidup. Pelajaran yang selalu teringat dan terkenang, pelajaran yang mampu menyadarkan diri. Bahwa hidup jangan terlalu sering memikirkan yang belum pasti adanya, jangan terlalu menggenggam sesuatu terlalu erat, karna kelak semua genggaman itu akan terlepas.


Semakin kamu menggenggam dunia terlalu erat, maka akan semakin sulit pula untuk melepaskannya. Pada akhirnya ketidak ikhlasan akan hadir dan menghancurkan diri.


...🥀...


La.... Illahaillah.... La.... Illahaillah

__ADS_1


Hanya baju terakhir ibu yang bisa aku peluk, mencium aroma terakhir dalam baju itu. Aku mengantarkan ibu ketempat peristirahatannya yang terakhir, meski berat aku melangkah aku harus bisa melakukan ini semua demi ibu. Demi ibu tenang di sana, demi surganya Allah untuk ibu.


Tidak pernah aku sangka, kini aku seorang gadis yatim piatu. Kedua orangtuaku lebih dulu meninggalkan diriku seorang diri di dunia ini, dua orang yang aku cintai telah kembali kepada penciptanya.


Ibu di kuburkan di dekat almarhum Ayah, mataku seakan tidak bisa menoleh saat ibu akan di masukan ke liang lahat. Suara adzan di kumandangkan, membuat hatiku semakin sesak menahan air mataku. Maryam dan Laela mencoba memberiku ketenangan, akan tetapi dia tidak bisa melakukan itu.


"Ibu.... Maafkan Kalbu!"


Tanah mulai menutupi jasad ibu yang sudah terbujur kaku, membuat mataku memejamkan diri. Aku tak kuat melihat ibu yang sudah tertutup tanah Merah itu, perlahan semua orang pergi setelah mendoakan ibu dan memakamkan ibu. Sedangkan aku masih memandangnya, kemudian memeluk pusaran ibu, mengelus nisan yang terdapat nama ibu.


"Kal, kita pulang! Biarkan ibu kamu tenang di sana." kata Dafa


"Aku tidak mau pulang, aku mau di sini. "


Sambung Mahesa, " Kalau kamu seperti ini, ibu kamu akan semakin sedih, ibu kamu sudah tenang di surga. "

__ADS_1


"Apakah kamu mau memberatkan langkah kaki ibu kamu untuk menuju surganya Allah?" tanya Dafa.


Setelah pertanyaan itu mendarat, aku langsung menghapus air mataku. Aku pulang bersama dua pemuda ini, mereka terus memegang tanganku, pundak-ku, mereka terus berusaha membuat aku tidak bersedih lagi.


...🥀...


Hari demi hari aku lalui, 40 hari sudah kepergian ibu. Inilah saat dimana aku harus mengikhlaskan kepergiannya, sudah cukup aku meratapi kepergian ibuku. Sudah cukup aku menangis, sudah cukup aku marah pada diriku sendiri. Tuhan sudah terlalu banyak menyaksikan air mataku, jangan sampai air mataku yang jatuh telah memberatkan hisab ibuku.


Aku tidak perlu marah pada Tuhan yang sudah mengambil kedua orangtuaku. Mungkin, Tuhan sudah merasa bahwa aku sudah cukup menjaga ibuku selama ini. Mungkin inilah saat dimana Tuhan yang harus menjaga ibu, aku percaya bahwa Tuhan jauh lebih mencintai ibu dari pada diriku sendiri. Aku memang mencintai ibu, tapi cinta Tuhan lebih baik daripada cinta manusia.


Saat ikhlas menyapa diriku, saat itu pula kehidupan baru akan segera aku mulai. Aku telah meninggalkan tanah kelahiran ku untuk sesaat, aku pergi sementara untuk menggapai cita-citaku sebagai penulis dan seorang Dokter. Aku membawa semua kenangan bersama ibu, aku membawanya bukan berupa barang, melainkan berupa bayangan yang selalu tersimpan dalam jiwaku. Bayangannya yang selalu mengikuti arahku, mengikuti kemanapun aku berkelana.


Aku akan hidup di kota, hidup di tanah orang---di sana aku tidak memiliki siapapun yang aku kenal, mereka adalah orang-orang baru. Tabunganku mungkin belum cukup untuk membiayai kehidupanku di kota dan untuk membiayai kuliahku nantinya. Namun, aku percaya bahwa Allah akan selalu mudahkan segalanya. Aku tidak mungkin menunda kuliahku lagi, inilah saat dimana aku harus melanjutkan kuliahku.


Tak begitu banyak persiapan yang aku lakukan, aku hanya menyiapkan barang-barang yang nantinya akan berguna. Separuh sayap ku sudah hilang, akankah aku sanggup menjalani kehidupan ini tanpa malaikat tanpa sayap ku? Sebab aku masih belum terbiasa hidup seorang diri, aku belum terbiasa bila harus menjalani hidup ini tanpa bantuan seorang ibu, Karena selama ini aku selalu hidup dengan ibu, apa-apa ibu yang membantu, tapi sekarang tidak ada lagi yang akan selalu mendukungku, memelukku dan mengusap air mataku.

__ADS_1


"Semoga aku bisa tegar, semoga aku bisa menjalani hidup ini meskipun tidak bersama ibu di bumi ini. Aku percaya, ibu akan menyaksikan perjalananku di atas sana. Ibu akan tersenyum padaku, setelah aku menemukan kesuksesan. "


__ADS_2