Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
31. Universitas ternama


__ADS_3

Waktu begitu cepat mempertemukan diriku dengan impianku, mungkin bukan impianku saja---- tapi impian semua orang. Aku tidak menyangka aku sudah berada di Universitas ternama ini, begitu banyak orang asing yang berlalu lalang melewati diriku.


"Ya Allah, apakah ini sebuah mimpi?" tanyaku dengan penuh keharuan.


"Ini bukan sebuah mimpi, ini adalah dunia nyata!" bisik seseorang di telinga kananku, aku pun menoleh.


"Kamu siapa?" tanyaku.


Orang itu mengulurkan tangannya, " Kenalin, aku Malika, kamu siapa?"


Aku membalas uluran tangan itu, meskipun aku sedikit kerepotan karena sebuah buku yang aku bawa dalam pelukanku, " Aku Kalbu, aduh.... Maaf ya, aku sedikit rempong. "


"Nama yang bagus, iya gapapa." katanya dengan penuh hangat.


"Nama kamu juga bagus, seperti yang ada di iklan!" candaku.


"Aku suka iklan itu, karena sudah mengenalkan namaku di seluruh dunia. " candanya balik, aku kira dia akan marah dengan perkataan ku. Tapi ternyata dia juga malah menanggapinya.


Aku tidak pernah menyangka, aku akan secepat ini mendapatkan teman baru. Malika sangat cantik, rambutnya panjang lurus dan hitam, senyumnya begitu manis. Aku senang berkawan dengannya, dia begitu ramah.

__ADS_1


"Oh iya, Kal! Apakah kita satu jurusan?"


"Memangnya, kamu jurusan apa?" tanyaku sambil berjalan.


"Aku spesialis anak, "


"Sama, dong!"


Aku senang dia adalah orang yang satu jurusan denganku, bahkan tidak hanya itu saja. Dia juga satu kelas dengan diriku, rasanya hatiku tidak perlu terlalu cemas tinggal di kota ini. Karena begitu banyak orang yang sangat baik, dan aku sudah menemukan orangnya, yaitu Malika.


Tidak terasa kami terlalu banyak bicara saat perjalanan menuju kelas, kami begitu langsung akrab----padahal kami baru saja saling mengenal. Ternyata menjadi orang yang ramah itu tidak terlalu sulit mencari sahabat, aku jadi teringat sama Maryam dan Laela, apa kabar ya mereka? Seandainya kami satu Universitas, pasti akan lebih mengasyikan. Ya.... Tapi mau gimana lagi? Ini sudah menjadi pilihan kami masing-masing, kami memiliki mimpi yang berbeda dan tujuan yang berbeda, meski tak bersama bukan berarti akan berpisah. Kami seperti ini karna waktu, dan waktulah yang hanya bisa menjawab pertemuan kami nantinya.


Menjadi Dokter spesialis anak adalah salah satu mimpi dari orangtuaku yaitu-----ibuku, ibu sangat ingin melihat aku merawat dan menolong anak-anak kecil yang sedang sakit. Karena dulu sewaktu aku masih kecil, ibu pernah bercerita---bahwa di kampung sangat kesulitan mencari Dokter khusus anak. Ketika kami ingin pergi ke Dokter spesialis anak, kami harus menempuh perjalanan berjam-jam itu pasti akan sangat menyulitkan semua orang di kampung. Maka dari itu, ibu sangat ingin putrinya kelak menjadi seorang Dokter spesialis anak untuk meringankan orang-orang di kampung. Agar kelak jika putra atau putri mereka sakit, mereka tidak perlu pergi ke jauh untuk bisa di periksa ke Dokter khusus anak.


Mana mungkin impian mereka akan merusak masa depanku, karna aku percaya bahwa setiap mimpi yang di lakukan orang tua kita akan selalu memberikan dampak baik selagi kita mau menerimanya dengan tulus. Akan tetapi, jika kita tidak mampu menerimanya dengan tulus, maka hanya akan menghadirkan rasa beban yang akan memberatkan kita untuk melaksanakannya.


Mimpi adalah sebuah pilihan, memilih antara mimpi orang tua atau mimpi diri sendiri. Kita tidak ada salahnya memiliki mimpi sendiri dan mewujudkannya, tapi kita juga tidak ada salahnya untuk mewujudkan mimpi orang tua kita. Kita berhak memilih, manakah mimpi yang harus di wujudkan dan tidak di wujudkan? Atau bahkan kita akan mewujudkan keduanya? Dan aku sendiri memilih untuk mewujudkan mimpi kedua orangtuaku selagi aku mampu.


Mewujudkan mimpi jangan sampai ada keterpaksaan dari seseorang, lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan hati. Agar mimpimu terwujud dengan sangat baik, jika kamu tidak mampu mewujudkan mimpi orang tuamu---maka kamu harus mewujudkan mimpi kamu sendiri. Karena aku yakin, ketika seorang anak bermimpi---maka orang tua akan membantu mewujudkannya dalam doanya.

__ADS_1


Bagiku percuma saja, ketika kita ingin mewujudkan mimpi orang tua kita dengan tidak tulus. Maka kita hanya akan mendapatkan sebuah beban semata, pada akhirnya kebaikan tidak ada dalam diri kita. Nanti yang ada kita hanya mendapatkan sebuah pemikiran yang sulit, pemikiran yang harusnya tidak ada dalam otak. Maka dari itu, kita harus bisa memantapkan diri untuk memilih mimpi siapa yang akan di wujudkan dari sekarang. Agar tidak adanya sebuah kekeliruan di hari kemudian.


...🥀...


Usai pulang kuliah, aku harus pergi ke kedai kopi untuk bekerja. Sekarang aku harus bisa membagi waktuku antara kuliah dan bekerja. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil seorang diri, meski kecil yang terpenting bisa melindungi ku dari terik matahari, dan dinginnya malam.


Hidup sendiri dan merantau adalah kali pertamaku, biasanya ibu selalu melarang ku berpergian jauh. Karena ibu tidak akan pernah bisa jauh dariku, ibu selalu ingin ada di sampingku. Ibuku begitu lucu, ibuku begitu unik, ibu selalu membuatku tersenyum sendiri melebihi orang yang sedang kasmaran.


"Kalbu, kenapa kamu melamun saja? Ayo bekerja!"


Kebiasaan-ku kembali lagi, aku melamun di jam bekerja. Sampai aku di tegur oleh manager kedai.


"Maaf, Pak! Saya tidak akan mengulanginya lagi, "


"Baik, sekarang kamu kembali bekerja. "


"Iya, Pak!"


Ini adalah kali pertamaku bekerja di kedai kopi, aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Kalau sampai aku melakukan kesalahan lagi, mungkin akan langsung di pecat hari ini juga. Aku pernah mendengar sebuah kisah tentang bos kami, kata karyawan yang sudah lama bekerja---mereka pasti tau akan sifat bos pemilik kedai yang baru ini. Katanya bos baru ini cukup disiplin, sedikit pemarah, tampan, dingin dan cukup menegangkan wajahnya. Itu adalah salah satu ciri bos mereka yang baru, dulu kedai kopi ini di kelola oleh ayahnya---sekarang kedai ini akan di kelola oleh keturunannya.

__ADS_1


Aku jadi penasaran tentang bos baruku ini, aku sih tidak merasa aneh setelah mendengar sifat bos itu. Karena aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti itu, dan orang seperti itu sudah tidak terlalu asing bagiku.


...🥀...


__ADS_2