
Tidak terasa semester akhir akan tiba, dimana menentukan sebuah kelulusan. Semester akhir yang menjadi jawaban setiap nilai kita selama belajar, aku akan berusaha untuk mendapatkan nilai yang terbaik agar bisa masuk ke Universitas terbaik di kota Jakarta.
Aku sangat ingin pergi ke kota sejak dulu, aku ingin mengetahui ada apa saja di sana. Kata orang hidup di kota itu keras, kita harus membutuhkan mental yang kuat. Namun, di sana juga kita bisa menemukan sebuah gudang pekerjaan. Mungkin inilah saatnya aku harus mengumpulkan mental yang kuat, agar kelak aku tidak berhenti di tengah jalan.
Aku akan membuktikan semua kerja keras ku selama ini pada ibu, aku akan membuktikannya bahwa aku mampu hidup di kota orang dengan kakiku sendiri. Aku melakukan ini semua hanya untuk ibuku yang tercinta.
"Kal, semangat ya!" Dafa memberiku semangat.
"Kamu juga semangat, semoga kita semua bisa mendapatkan nilai yang terbaik. "
"Aamiin, "
Tak lama kami bercakap, Bu Kiran masuk kedalam kelas sambil membawa tumpukan kertas yang berisi pertanyaan. Hati ku berdegup kencang setelah melihat isi soalnya, aku sangat gugup dan takut dengan hasilnya.
Namun setelah aku membayangkan wajah ibu rasa gugup ku hilang begitu saja, bahkan rasa takut ku juga hilang. Kini hanya ada keyakinan saja dalam diri ku, kalau aku akan mendapatkan nilai yang terbaik.
Kelas mulai hening, semua murid mulai berfokus mencari jawaban dari setiap pertanyaan. Resa dan kawan-kawan nya tidak bisa mengikuti semester akhir ini, karena mereka sudah di keluarkan. Entah bagaimana nasibnya sekarang, rasanya aku ingin berjumpa dengannya.
"Kenapa aku tiba-tiba memikirkan Resa? Kalbu, kamu harus fokus dengan soalnya. "
Ada-ada saja pikiranku ini, aku malah memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan aku sama sekali.
"Anak-anak, waktunya tinggal 5 menit lagi!" ujar Bu Kiran.
Waktu tinggal sedikit lagi berakhir, soal ku yang belum terjawab tinggal satu. Semua teman-temanku mulai sibuk mempercepat pertanyaannya, mereka berusaha semampu mereka untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Waktu sudah selesai, silahkan kalian kumpulkan tugasnya!" suruh Bu Kiran.
"Baik, bu!"
Kamipun mengumpulkan tugas di atas meja Bu Kiran, kami harus menunggu hasilnya dua minggu kemudian. Tidak hanya menunggu hasilnya juga, kami juga menunggu pengumuman kelulusan terbaik di tahun ini.
...🥀...
Sekolah di bubar kan, aku dan teman-teman ku berkumpul di sebuah cafe untuk pertama kalinya. Awalnya aku akan menolak ajakan mereka, tetapi mereka sangat memaksaku sampai aku tidak bisa menolak mereka.
Tibalah kami di sebuah cafe tempat nongkrong anak-anak. Saat aku memasuki cafe itu---rasanya aku sedikit nora, aku tidak tau ada apa saja makanan di sana, minuman apa saja di sana. Aku sangat tak pandai dalam hal ini.
__ADS_1
"Kal, kamu mau pesan apa?" tanya Dafa.
"Aku terserah saja deh," jawabku.
"Kok terserah, " ujar Dafa.
Mahesa merebut menu makanan dari tangan Dafa, "Sini, biar aku yang pesan kan saja!"
Mahesa pun memesan makanan beserta minumnya.
"Mbak, saya pesan kentang goreng sama jus jeruknya."
Itulah pesanan yang di ajukan Mahesa, aku tidak tau lagi harus ngapain, mereka begitu beradaptasi dengan tempat ini. Rasanya aku harus mulai terbiasa dengan pergaulan ini.
Pesanan kamipun datang, saat aku melihat makanan yang sudah ada di atas meja tempat kami makan. Semua makanan itu lezat, aku belum pernah memakannya selama ini.
"Makasih, mbak!"ujar Maryam.
"Kal, kenapa kamu melamun saja? Ayo, makan!"
Saat aku ingin menyentuh makanannya, aku mendadak teringat ibu. Mana mungkin aku bisa makan tanpa tau ibu, apakah sudah makan? Atau belum, makan apa hari ini? Aku tidak mungkin makan enak, tapi ibuku sendiri tidak merasakannya. Aku pun memutuskan untuk pergi duluan, aku harus pulang dari sini. Biarkan makananku Mahesa yang makan.
"Teman-teman, maaf ya! Sepertinya aku harus pulang duluan."
"Kal, ayolah! Jangan pulang dulu, masa lo tinggalin kita begitu saja. " ujar Jojo.
"Iya, lo engga asyik! " sambung lagi Komar.
"Maaf, ya! Aku harus mengurus sesuatu dulu di rumah." Aku pun langsung mengambil tas yang ada di atas kursi ku, kemudian aku pergi menggunakan sepeda ontel ku.
Aku yakin setelah aku pulang duluan, Maryam ataupun Laela akan menceritakan aku. Kenapa aku bersikap seperti ini?
Mereka pasti akan mengatakan, " Kalbu, tidak akan mungkin makan enak seorang diri, sedangkan ibunya di rumah tidak merasakannya. "
Mereka pasti sudah hapal dengan sikapku ini, aku masih belum terbiasa melakukan hal itu. Aku tidak mungkin senang seorang diri, sedangkan ibuku tidak senang.
Setelah aku sampai rumah, aku melihat ibu yang sedang duduk di kamarnya. Saat itu aku melihat ibu sedang memijat kepalanya sendiri, aku pun langsung mendekati ibu dan memijat kepalanya.
__ADS_1
"Ibu sakit lagi kepalanya? Biar, Kalbu pijat."
"Iya, kepala ibu sedikit pusing. "
"Sebaiknya, ibu jangan dulu pergi ke sungai, ya! Sekali saja ibu nurut sama Kalbu. Kalbu melakukan ini semua demi ibu, lagian sebentar lagi pengumuman kelulusan. Kalbu akan bekerja ke kota."
"Apa ke kota?" tanya ibuku dengan terkejut.
"Iya, Bu! Kalbu akan kuliah sambil bekerja di sana, Kalbu akan mendapatkan beasiswa."
"Tapi... Ibu tidak begitu mengijinkan-mu, kenapa kamu tidak kuliah dan bekerja di sini?"
"Bu, Kalbu ingin mencari sesuatu yang baru. " jawabku.
"Tapi..... "
Aku memotong perkataan ibu, " Maaf, Kalbu potong! Kalbu hanya ingin ibu mengijinkan Kalbu. "
"Mana mungkin ibu bisa jauh dari kamu, nak! Selama ini kita selalu hidup bersama. "
"Bu, insyaAllah nanti Kalbu akan sering pulang! Kan kalau nanti Kalbu lulus kuliah, bisa ajak ibu tinggal di sana. Nanti Kalbu akan belikan ibu rumah yang bagus, " ujar ku penuh dengan keyakinan.
"Nak, ibu tidak menginginkan rumah yang bagus ataupun yang lainnya. Yang ibu inginkan hanya kamu, ibu ingin kamu selalu ada di dekat ibu, kamu selalu sehat. Itu yang ibu inginkan!"
"InsyaAllah, setelah lulus Kalbu akan tinggal bersama ibu. Kalbu tidak akan pernah meninggalkan ibu, " pelukku dari belakang.
Ibu mengelus tanganku, " Ibu, percaya kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan ibu, ataupun meninggalkan ibu."
"Jadi, apakah ibu mengijinkan Kalbu untuk pergi ke kota?"
"Iya, ibu akan ijin kan kamu ke kota."
"Terimakasih, Kalbu sayang sama ibu."
Walau berat aku harus mengatakan semua ini, aku berharap dengan perginya aku ke kota nanti. Aku bisa menggapai semua impianku, aku bisa mengangkat derajat ibu ku.
Selama ini aku selalu mendampingi ibu, dan ibu selalu mendampingi aku. Di saat aku bersedih ibu selalu mengusap air mata ku, ibu selalu dekap aku dalam belaian. Tapi nanti, aku harus sudah terbiasa hidup mandiri, aku tidak boleh cengeng. Harus bisa mengusap air mataku sendiri, aku harus melakukan semuanya seorang diri. Maka dari itu aku harus mempersiapkan hatiku dari sekarang.
__ADS_1