Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
18. Perasaan apakah ini?


__ADS_3

"Ah, ban sepedaku kempes lagi. "


Saat perjalanan pulang ban sepedaku mendadak kempes, aku-pun terpaksa mendorongnya karena di dekat sekolahku tidak ada bengkel yang terlihat. Matahari yang begitu menyengat membuat tubuhku seperti terbakar, perjalanan rumah yang masih jauh harus aku tempuh.


"Nasib-nasib, aku ini memang gadis malang,"gumam ku


Tak lama seorang pria turun dari motor vespanya, saat pria itu membuka helm ternyata dia Mahesa.


"Kal!"


Aku menoleh, " Mahesa, "


Senyum Mahesa, " Apa yang terjadi sama sepeda kamu?"


"Biasa, ban sepedaku mendadak kempes."


"Kalau begitu aku anterin kamu pulang, gimana?"


"Aku mau saja, tapikan sepeda aku gimana?"


"Tidak perlu khawatir, nanti aku yang bawa sepeda kamu."


"Gimana caranya?" tanyaku.


"Kamu bisa bawa motor nggak?"


"Bisa, " jawabku.


"Oke, kalau begitu aku dorong sepeda kamu, dan kamu bawa motor ku."


"Tapi.... "


"Hus.. Jangan tapi-tapian."


Aku pun membawa sepeda motor Mahesa, kemudian Mahesa mendorong sepedaku. Kami saling berjalan berdampingan dengan cara yang berbeda, aku sempat berpikir kalau Mahesa tidaklah asing bagiku. Namanya saja sama dengan nama teman masa kecilku, akan tetapi aku takut salah dalam hal berpikir sehingga menimbulkan rasa malu.


"Apakah mungkin dia adalah Mahesa teman masa kecilku? Kalau memang benar, kenapa dia tak mengenaliku sama sekali?"


Hari ini aku hanya bisa bertanya dalam pikiranku, aku tidak bisa menanyakan semuanya secara langsung. Aku ingin dia lah yang mengatakan segalanya----jika memang benar dia adalah Mahesa kecilku yang cengeng.


Ting ting ting


Mahesa membunyikan lonceng di sepedaku, menandakan agar aku menghentikan sepeda motor.

__ADS_1


"Ada apa Mahesa?"


"Maaf, aku menghentikan perjalanan ini."


"Kenapa kamu harus minta maaf? Aku tau kamu pasti kelelahan, sebaiknya kita bergantian saja."


"Tidak.... Tidak, bukan maksudku seperti itu."


"Lalu apa?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. "


"Yaelah, silahkan katakan saja!" suruh ku dengan polos.


"Kal, apakah kamu sudah melupakanku? Apakah kamu benar-benar tidak ingat namaku?"


"Katanya kamu ingin mengatakan sesuatu, kenapa jadi pertanyaan?"


"Kal, aku serius! Jawab pertanyaan ku, apakah kamu sudah benar-benar tidak ingat siapa aku? Waktu kecil kita sering bermain kelereng, dan kamu selalu mengalahkan-ku. Bahkan kamu juga selalu membuat aku menangis karna kelereng ku kamu habiskan."


Baru saja aku memikirkan, Tuhan sudah menjawabnya.


"Ya Allah, jadi benar!"


"Benar apa Kalbu?"


"Jadi, kamu masih mengenaliku. "


"Iya, dong! Mana mungkin aku bisa melupakan pria kecil yang cengeng seperti kamu, kamu sekarang sudah besar dan gagah."


"Sama kamu juga sudah besar dan makin cantik, tapi sayang kamu gampang kena buli."


"Hem... Kamu ini, baru saja kita berjumpa sudah buat aku sebal saja."


"Heran aku sama kamu, selalu saja mudah marah."


"Hehe, biarkan! Aku suka seperti ini, kadang jadi pemarah mudah di kenang oleh orang tertentu."


"Masa sih, "


"Iya, dong! Oh iya ... Aku mau bertanya, kenapa kamu bisa kembali lagi ke desa ini? Aku kira kamu sudah melupakan aku dan desa ini."


"Mana mungkin aku bisa melupakan kalian semua, ini adalah tanah kelahiran ku. Aku kembali kemari karena aku..... " Mahesa menghentikan perkataannya.

__ADS_1


"Karena apa? Atau jangan-jangan kamu kembali karena aku!" tebak ku asal sambil bercanda.


Mahesa mendekati wajahnya, " Kenapa tebakan kamu bisa benar? Jangan-jangan kamu sekarang jadi peramal!"


Aku mendorong wajahnya, " Mahesa, jauhkan wajahmu."


"Aku serius, aku kembali karena kamu! Tapi aku menyayangkan, ketika berjumpa untuk pertama kalinya aku harus melihat kamu terluka. Bahkan aku juga menyayangkan ketika kamu tidak mengenaliku sama sekali, padahal pada saat itu aku sengaja tidak memberitahu namaku pada kamu, karna aku berharap kamu bisa mengenaliku dari caraku berbicara ataupun bertindak."


"Bagaimana aku bisa mengenalimu? Perubahan terlalu cepat pada dirimu, Mahesa! Dan salah kamu juga, kenapa kamu bermain teka-teki sama aku?"


"Sekarang kamu nyalahin aku nih?"


"Iyalah, semuanya salah kamu! Kamu selalu saja bermain rahasia sedangkan aku tidak menyukai itu."


"Aku tidak ingin berdebat, rasanya perutku sudah lapar. Aku ingin memakan masakan ibu kamu, "


Kami berdua melanjutkan perjalanan bersama, Mahesa tidak mengetahui perubahan dalam keluargaku. Mahesa hanya tau bahwa dulu ibuku tidak pernah bekerja sama sekali, mungkin saja saat melihat kondisi keluargaku Mahesa akan merasa iba juga kasihan melihat ibuku yang bekerja sebagai pengambil pasir di sungai.


Setibanya kami di rumah,Mahesa langsung pergi ke dapur dan menemui ibuku. Dia tiada henti berbicara dengan ibuku, menceritakan segalanya tentang dirinya dan keluarganya saat hidup di kota. Sampai aku sendiri bingung harus mengambil peran sebagai apa, Mahesa terlalu banyak mengambil peran dari menyiapkan makanan, dan sebagainya.


Aku kira ibu sudah lupa dengan Mahesa, ternyata ibuku sangat mengenali Mahesa. Ingatan ibuku dan diriku sangat berbeda, mengapa aku begitu sulit dalam mengingat? Sudahlah, aku tidak ingin membahas kesitu---yang penting hari ini aku bahagia bisa bertemu dengan Mahesa. Sudah lama sekali aku memimpikan dia datang mengisi hari-hariku yang kosong ini.


Tibalah dimana pertanyaan itu mendarat di kepala Mahesa, ia bertanya apa saja yang sering dilakukan diriku dan ibuku. Ibuku pun menjawab semua pertanyaan Mahesa, kami tidak menyembunyikan apapun dari dia. Kami mengatakan dengan sangat jujur, kami mengatakan kondisi kami, apa saja yang sering kami alami semuanya kami ceritakan pada Mahesa. Pria itupun merasa sedih dan terluka, saat mendengar semua masalah yang sering kami hadapi.


Mahesa memegang tangan ibu, " Sungguh, Mahesa sangat kagum sama kalian. Kalian wanita hebat dan kuat, kalian bisa hidup dalam keadaan apapun. Mungkin saja kalau Mahesa dalam posisi ini, Mahesa tidak akan pernah kuat dan bisa setegar ini."


"Kami tegar karena keadaan, keadaan lah yang membuat kami kuat dan sabar." kataku.


Mahesa memandangku, " Kal, jika terjadi sesuatu, aku ingin kamu tidak sungkan untuk meminta bantuan ku."


"Aku tidak mau punya balas budi sama siapapun."


"Dasar gadis bodoh, kenapa kamu mengatakan itu? Memangnya aku tidak tulus membantu kamu? Aku ini tulus, tidak butuh balas budi kamu. "


"Mahesa, kamu bilang aku bodoh! Ibu...." rengek ku.


"Sudah... Kalian ini malah berantem, habiskan makanan kalian sekarang."


Mahesa kembali menghabiskan makanannya, kemudian bergegas pulang ke rumah lamanya. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa aku deskripsikan, semuanya seakan mimpi bisa bertemu dengannya.


"Ibu, Kalbu! Aku pamit dulu ya, dan makasih makanan yang lezatnya."


"Iya, sama-sama! Ibu senang bisa melihatmu lagi dalam wujud dewasa mu."

__ADS_1


Mahesa mencium tangan ibuku, " Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, nak!"


__ADS_2