
Aku memang gadis bodoh, gadis yang seharusnya tidak perlu ikut campur dengan urusan orang lain yang tidak akan pernah bisa berubah ataupun bisa mencelakai ku. Seharusnya aku tidak perlu mengikuti Resa dan teman-temannya ke gudang, seharusnya aku tidak perlu tau urusan mereka saat di dalam gudang. Seharusnya aku juga tidak perlu mengetahui mereka akan berbuat apa, mereka memang gadis licik yang hanya bisa membalikan sebuah fakta dan perkataan yang cukup menghinakan.
Di saat aku berusaha keluar dari gudang, mereka selalu menahan-ku dengan sangat erat hingga tanganku memerah perlahan karena cengkraman mereka yang begitu keras.
"Resa, biarkan aku pergi dari sini! Tanganku benar-benar sakit, kenapa kalian begitu jahat sama aku? Aku salah apa?"
"Gue tidak akan lepasin tangan lo, sampe lo bisa tutup mulut untuk tidak melaporkan kita bertiga. Kalau lo masih keukeuh melaporkan kita, lo bakalan nyesel seumur hidup lo! Kalau misalnya, lo tanya apa salah lo--- gue bakal jawab."
"Gue jahat, karna gue benci sama lo! Karna gue enggak suka liat wajah lo yang kumel, jelek dan miskin."
"Jadi, hanya karena keadaanku kamu harus membenciku, segitu hina kah kemiskinan ku? Segitu hina kah keadaanku?"
"Yah, keadaanmu lebih hina dari apapun."
"AstagfiraAllah, bagiku sebuah keadaan yang aku dapatkan tidaklah hina, miskin ataupun kaya di mata Allah kita tetap sama. Kita sama-sama manusia, kita tercipta dari Tuhan yang sama, kita sama-sama tercipta dari tanah---untuk apa membanggakan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi hak kita, untuk apa membenci sesuatu padahal tidak harus untuk di benci. Justru kehinaan itu datang karena hati kita yang selalu di penuhi ke-sirikan, mereka yang sering menghina seseorang karna suatu keadaan, sesungguhnya mereka lebih hina dari orang yang sudah mereka hina."
"Jadi maksud lo, gue lebih hina dari lo!"
"Ya, kamu lebih hina dari ku! Saat kamu menghinaku dan keluargaku, saat itu pula kamu sedang menghina dirimu dan sedang menghina keluargamu. Saat kamu membenciku, saat itu pula sebenarnya kamu sedang membenci dirimu sendiri. Sehingga kamu melampiaskan nya pada orang lain, aku sudah tau semua tentang kamu."
"Haha.... Lama kelamaan kata-kata lo membuat hati gue geram!"
"Maaf Resa, aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu! Hanya saja aku ingin kamu lebih paham dan lebih menghargai perbedaan seseorang. Aku ingin agar kamu tidak terus membandingkan seseorang dengan kekayaanmu ataupun dengan sesuatu yang kamu miliki. Toh, kita di ciptakan Tuhan untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain."
Resa tetap saja bertahan dengan pendiriannya," Kalbu, gue saranin sama lo ya! Semua kata-kata lo itu enggak bakalan mempan di otak gue, enggak bakalan gue terima ataupun bisa meluluhkan hati gue. Jadi percuma saja lo berkata banyak, tapi enggak bisa gue terima! Bes..... Hempas semua perkataan lo itu jauh-jauh!"
"Aku memang bodoh, berbicara pada orang yang sedang di penuhi amarah dalam hatinya, bagaikan kendi yang berlobang meskipun berkali-kali membawa air di dalamnya, air itu akan perlahan berjatuhan dan tak akan pernah bisa penuh. Layaknya kamu yang tak akan pernah bisa menerima setiap perkataan-ku yang perlahan membuangnya dari otakmu."
Prok prok prok....
__ADS_1
"Kalbu, sang gadis bijaksana! Gadis yang selalu membuat hati Resa murka, gadis yang selalu ingin terlihat keren." Resa melepas cengkraman nya seraya membalikan tubuhnya sesaat, dan memberikan sebuah tepuk tangan yang tak membuat hatiku bangga sama sekali. Aku masih terdiam memegang tanganku yang merah, menahan sakit dari bekas cengkraman mereka. Mungkin suatu saat merah yang ada di tanganku akan hilang, namun bekasnya tak akan pernah hilang dan tak akan pernah aku lupakan.
Resa perlahan membangkitkan jiwaku yang masih tertidur, jiwa yang selama ini hanya bisa terdiam dan tak berkutik sama sekali, jiwa yang hanya bisa pasrah saat mereka mencoba menyakiti diriku.
"Resa, hari ini kamu boleh puas tertawa! Tapi, suatu saat nanti aku yakin---jika sebuah tawa yang kamu lontarkan padaku, akan menjadi sebuah tangisan yang di sebabkan oleh ulah mu sendiri. Jadi aku sarankan sama kamu, berhentilah dari sekarang untuk tidak menyakiti hati seseorang, sebelum kamu menyesal di kemudian harinya."
"Tidak akan ada kata menyesal dalam kamus gue!"
"Kalau begitu, biarkan aku hancurkan saja kamus mu yang tidak bermutu itu. Agar kamu bisa menyesal dan merasakan apa yang sedang aku rasakan."
" Jika ada orang yang mencoba menghancurkan kamus gue, maka gue akan kembali menghancurkannya."
Ada ketidaksadaran yang terjadi pada diriku, saat aku dan Resa saling melemparkan sebuah kata, ternyata kedua temannya sudah pergi keluar untuk memanggil kepala sekolah. Resa sengaja mengajak aku berdebat, agar memalingkan pandanganku dari rencana buruknya itu.
Aku kembali menidurkan jiwaku yang hanya bangkit sesaat ketika kepala sekolah datang ke gudang bersama Jelita dan Loli. Kepala sekolah yang cukup disiplin, telah murka padaku.
"Kalbu!"
"I... Ibu!"
"Sedang apa kamu di mari?"
"A... Aku... "
Aku tidak bisa berbicara banyak, mendadak mulutku kaku, tak bisa berkutik sedikitpun.
"Jawab Kalbu! Sedang apa kamu di mari?"
Aku mencoba menjelaskan apa yang aku lihat tadi, akan tetap sebuah penjelasan ku tidak di terima. Karena Jelita dan Loli sudah meracuni pikiran Bu Anggun sekaligus kepala sekolah.
__ADS_1
"Resa! Apakah benar kalau kamu merokok di gudang sekolah?"
"Tidak bu, aku dan teman-teman tidak merokok! Sebenarnya, kamilah yang melihat Kalbu merokok. Kami yang mengintip Kalbu merokok di balik pintu, kemudian kami masuk dan menghentikan Kalbu agar dia tidak merokok. Tetapi Kalbu malah marah dan mengancam kami."
Pembohong besar, Resa terus memojokkan-ku dia terus membalikan setiap perkataan-ku sehingga dia baik di mata Bu Anggun.
"Itu tidak benar bu, aku tidak melakukan itu!"
Tiba-tiba Bu Anggun melihat sebuah bukti kebohongan, sebuah bukti yang akan memberatkan aku bersalah dalam hal ini.
"Seharusnya aku yang tidak bersalah, seharusnya kalianlah yang bersalah. Kenapa semesta mempermainkan ku? Aku benar-benar takut Tuhan!"
Sebuah nada tinggi Bu Anggun di berikan padaku, " Kalbu! Ayo katakan! Apakah kamu benar-benar melakukan itu?"
"Aku tidak melakukan itu, bu!"
"Kalau begitu, ibu ingin melihat tas kamu!"
Bu Anggun membuka tasku, saat di bagian kecil tasku Bu Anggun menemukan satu batang rokok.
"Kalbu sekarang kamu tidak akan bisa mengelak lagi, kamu harus mempertanggung jawabkan kesalahan kamu. Sekarang kamu ikut ibu ke kantor!"
"Bu, tapi itu bukan milik Kalbu! Itu milik mereka ini pasti sudah menjadi rencana mereka, bu! Kalbu mohon percaya sama Kalbu, ibu jangan mudah percaya sama mereka. Mereka pembohong besar!"
"Sudah hentikan, ibu tidak menyangka murid secerdas kamu menjadi seperti ini."
"Bu, demi Allah aku tidak merokok! Jika ibu tidak bisa percaya sama aku, maka aku harap ibu bisa percaya sama Allah. "
Sepanjang jalan aku terus mengatakan dan membela diriku yang tidak bersalah ini, mencoba meyakinkan Bu Anggun untuk tidak menghukum ku.
__ADS_1
"Bagaimana Ibu bisa percaya sama kamu? Sedangkan saksi saja tidak ada, ibu sudah tidak ingin berdebat lagi. Sebaiknya kamu ikut ibu ke kantor. "