Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
17. Kembalinya Kalbu


__ADS_3

"Ibu, bangun! Sarapan sudah siap, "


"Iya, ibu bangun."


Pagi yang sangat membahagiakan, yang biasanya aku di bangunkan ibu, kini aku yang membangunkan ibu, yang biasanya ibu menyiapkan sarapan, kini aku yang menyiapkan.


"Sepertinya anak ibu sedang bahagia." sapa ibuku.


"Iya, dong! Aku sangat bahagia, karena hari ini aku bisa kembali sekolah. Ah.... Rasanya seperti mimpi, aku bersyukur libur ku di rumah tidak sampai satu minggu."


Ibu mencubit pipiku, " Yang semangat belajarnya, kamu tidak boleh nakal."


"Siap, bos-ku!" senyumku.


"Sudah, sekarang kamu habiskan sarapannya, jangan sampai kamu telat."


"Baik, ibu!"


Aku-pun menghabiskan sarapan dengan cepat, aku tidak ingin pergi ke sekolah terlambat karena aku terlalu lama berbincang di rumah. Aku seperti siswa baru saja datang ke sekolah SMA Nusantara.


"Alhamdulillah, sarapan sudah habis, " kataku,"Aku berangkat sekolah dulu ya, bu!"


Aku langsung beranjak dari tempat duduk seraya mencium tangan ibu.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan putri ibu."


Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum, mungkin disini bukan aku saja yang sedang bahagia. Akan tetap kang ontel-ku juga pasti sedang berbahagia, karna setelah sekian lamanya aku tak menggunakannya sekarang aku kembali menggunakannya.


"Semoga, perjalanan kita lancar, kang ontel-ku!"


Saat di perjalanan aku tidak bisa berhenti menebarkan senyumku pada mereka yang melihatku. Hari ini aku seperti orang yang kehilangan akal, karena aku terus senyum-senyum sendiri.


"Aku ini memang aneh, kemarin aku menangis dan sekarang aku tidak bisa berhenti tersenyum."


"Jangan sampai aku lupa pada kesedihan ketika kebahagiaan datang, aku harus bisa mengendalikan kebahagiaan ini agar tidak memberi kekecewaan nantinya." sadar ku.


...🥀...


"Selamat pagi, pak satpam!"


"Pagi kembali, neng!"


Setibanya aku di sekolah, aku menatap gedung sekolahku dengan setetes air mata haruku. Baru di tinggal beberapa hari saja, sudah banyak sekali perubahan di sekolahku ini.


"Begitu banyak perubahan dari sekolahku," kataku, kemudian melanjutkan langkahku ke dalam kelas. Semua teman-teman di sekolah menyapaku dengan hangat, mereka mengucapkan selamat atas kembalinya diriku.


"Kal, selamat datang kembali ya."


"Iya, terimakasih."


"Kal, akhirnya kamu kembali sekolah lagi."


Aku sampai bingung ingin menjawab apalagi ketika mereka menyapaku, aku hanya bisa menjawab mereka dengan senyuman. Dan ketika kaki kananku mulai melangkah ke dalam kelas, Maryam dan Laela memanggilku seraya berlari kemudian memelukku sangat erat.


"Kalbu!!"

__ADS_1


"Kalbu!!"


Aku membalikan tubuhku.


"Kami sungguh rindu padamu, " Maryam meneteskan air mata.


"Maryam, kamu jangan menangis!" Aku mengusap air mata Maryam.


"Air mataku sudah tidak bisa menahan lagi, dan inilah saat dimana ia harus menunjukannya."


Haruku, kembali memeluk kedua sahabat sekaligus keluarga kedua ku. Tanpa aku sadar pria yang telah menolongku ternyata dia sedang memperhatikanku dari jarak 2 meter. Pada saat itu aku hanya melihat bentuk bibirnya yang sedang melukis senyum untukku, perlahan-lahan dia berjalan untuk mendekati diriku.


Entah kenapa dengan perasaanku ini saat pria itu mendekatiku!.


"Hai, apakah kamu masih ingat denganku, Kalbu?"


Aku melongo saat dirinya memberikan pertanyaan.


"Hello... Masih ingatkah kamu denganku? Kenapa kamu bengong?" tanyanya lagi dengan mengagetkan ku.


"Eh.... I... Ya, aku masih ingat kamu."


"Em... Syukurlah kalau kamu masih ingat,"


Sambung Laela, " Kal, kamu tidak mengucapkan terimakasih sama dia."


"Oh iya, aku hampir saja lupa!"


Di depan kelasku kami saling berbicara, mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Aku sangat berterimakasih sama dia, dia sudah menjadi pahlawanku. Baru saja aku ingin menanyakan siapa namanya, Bu Anggun datang.


Kamipun masuk kedalam kelas, semua teman sekelas-ku menyambut-ku dengan senyum--begitu pula dengan Bu Anggun. Bu Anggun merasa bersalah karna tidak mempercayai diriku, beliau pun sampai meminta maaf di depan anak-anak. Tapi aku merasa sedih ketika beliau meminta maaf, rasanya disini akulah pelaku yang sebenarnya.


"Ibu, sudah hentikan! Ibu tidak perlu meminta maaf, aku tau ibu melakukan ini semua karena ibu adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Ibu tidak salah!"


Peluk Bu Anggun dengan erat, " Ibu janji, suatu saat ibu akan menjadi orang yang lebih teliti sebelum membenarkan kesalahan orang lain."


Aku menganggukkan kepala dengan senyum,"Aku percaya, kalau ibu akan menepati janji. "


"Ini semua berkat Mahesa, ibu jadi tau kebenarannya."


"Mahesa?"


"Iya, Mahesa kemari!" Bu Anggun menyuruh pria yang bernama Mahesa ke depan.


"Jadi, dia Mahesa!" kataku dalam batin.


Pada akhirnya aku-pun mengetahui namanya dengan sendirinya. Aku terus menatap pria itu, ada apa dengan hatiku? Kenapa hatiku begitu mendengar namanya, aku teringat seseorang?


"Dialah Mahesa, murid baru yang telah memberikan bukti bahwa kamu tidak bersalah." kata Bu Anggun.


"Jadi, namamu Mahesa?"


"Iya, aku Mahesa, " Dia mengulurkan tangan.


"Aku Kalbu, "


"Aku sudah tau, kok!"

__ADS_1


Ini adalah perkenalan kami yang kedua kalinya, ini adalah perkenalan kami yang sah.


"Sudah, sekarang kalian boleh kembali lagi ke tempat duduk masing-masing. Dan ibu akan kembali ke kantor, karena hari ini kita bebas belajar karna guru-guru harus rapat."


"Hore!"


"Hore!"


Saat yang lain senang karna hari ini tidak belajar, saat itu pula aku mengeluh. Baru saja aku masuk sekolah, sudah tidak belajar lagi.


"Hem.... Baru saja masuk, sudah tidak dapat materi." keluh ku.


"Hayo! Kenapa kamu bengong?" Mahesa mengejutkan ku.


"Kamu, "


"Kenapa sih kamu?" tanya Mahesa.


Laela menjawab, " Kamu ini, dia itu lagi sedih karena hari ini tidak dapat materi."


"Kamu tidak perlu sedih, Kal! Kamu bisa meminjam buku catatan-ku." sambung Dafa pria dingin yang tiba-tiba menyambung obrolan kami. Tidak biasanya dia bersikap hangat padaku, ya... Meskipun dia baik, tapi dia jarang sekali menyapa.


"Ada angin darimana, kamu menyapa Kalbu?"tanya Laela.


" Memangnya kenapa? Apakah aku tidak boleh menyapa dia?"


"Hentikan! Kenapa kalian jadi melempar pertanyaan sih?"


Untuk menghargai kebaikan Dafa, aku menerima buku catatannya.


"Gimana Kal?" tanya lagi Dafa.


"Gimana apanya?"


"Kamu mau tidak kalau aku pinjamkan buku catatan?"


"Iya, aku mau!"


"Kal, kok...."Laela mencoba menghentikan.


"Sudah, nggak baik menolak kebaikan orang lain. "


Dafa pun memberikan catatannya dengan ramah dan penuh perhatian.


"Nih.. Kalau misalnya ada yang tidak paham, kamu bisa tanya-tanya sama aku."


"I... Ya, makasih, "


"Sama-sama," Dafa pun langsung meninggalkan kelas. tapi anehnya dia malah membalikan badan ke arah ku, "Kal!"


"Ada apa lagi Dafa?"


"Mulai sekarang kita adalah teman baik, aku tidak mau bersikap dingin lagi sama kamu." ujarnya lalu pergi.


Hari ini sikap Dafa begitu aneh, dia sangat terlihat menyenangkan dari pada Dafa sebelumnya.


...🥀...

__ADS_1


__ADS_2