Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
37. sudah terlewat


__ADS_3

Sidang skripsi ku sudah selesai, begitu pula dengan sidang Malika. Tahun ini kami berdua akan lulus bersama, wisuda bersama dan gembira bersama.


Aku tidak menyangka akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik, dan tanpa adanya halangan sedikitpun. Meski aku harus bekerja keras untuk membiayai semua kebutuhanku, alhamdulillah aku mampu memenuhinya karena kerja keras ku dan niatku yang begitu tinggi.


Seandainya ibu dan ayah bisa menyaksikan kebahagiaan ini dengan nyata dan di dunia nyata. Ibu dan ayah pasti sangat bangga pada diriku, saat wisuda ku nanti aku akan hadir tanpa sosok pahlawan yang selama ini selalu mendukungku dari mula perjalanan ini. Tanpa almarhum kedua orangtuaku mungkin saja aku tidak akan pernah bisa menggapai semua gelar ini, mungkin tanpa mereka aku ini bukan siapa-siapa. Dulu yang mengenal Kalbu hanya seorang anak pengambil pasir, seorang anak yang terlahir miskin. Tapi sekarang Allah menunjukan hadiahnya atas segala kesabaran ku di masalalu yang sangat menyakitkan.


Semoga aku bisa menghargai setiap apa yang aku dapatkan hari ini, semoga aku tetap menjadi sosok gadis yang rendah hati. Bukan masalah kita terlahir dari rahim orang sederhana, yang masalah itu ketika kita tidak mampu menerima segala kesederhanaan itu sendiri, sehingga menimbulkan rasa tidak syukur dalam keadaan yang kita dapatkan.


"Kal, aku enggak sangka kalau akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik."


"Sama aku juga, ya.... Selagi hati kita masih ada niat untuk menyelesaikannya, InsyaAllah semuanya pasti akan selesai. "


"Iya, benar apa kata kamu Kal!"


"Biasanya, kalau sidang seperti ini suka ada yang datang, tapi kali ini semua keluargaku tidak ada yang bisa datang mengucapkan selamat. " keluh Malika.


"Jangan sedih, aku juga sama kayak kamu tapi aku tetap senang. Mungkin keluarga kamu tidak bisa datang karna mereka sibuk, " kataku.


"Iya sih, mereka bilang ada hal penting yang harus di lakukan. "


"Mending kita pergi ke kantin saja, biar kamu happy dan perut kamu juga happy. "


Aku mengajak Malika ke kantin, karena aku tidak ingin melihat teman yang satu ku ini merasa sedih dan kesepian karna keluarganya yang tidak bisa datang.


Ketika kami ingin berjalan kearah kantin, tiba-tiba anak kecil perempuan memanggil nama diantara kami.

__ADS_1


"Tante Malika!" teriak anak kecil itu, kemudian Malika menolah.


"Ratu, keponakan tante!" teriak Malika kembali, dan keduanya saling berlari dan memeluk satu sama lain. Malika beruntung sekali di berikan kejutan oleh keluarganya, mulanya keluarga Malika tidak bisa datang karna mereka sedang berbohong demi rencana ini.


Aku hanya bisa melihat dari jarak beberapa meter saja, aku tersenyum haru sekaligus sedikit iri. Rasanya aku ingin di berikan kejutan seperti itu oleh keluargaku, tapi sayang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


Tak lama Malika mendekatiku dan membawaku kepada keluarganya, dia memperkenalkan diriku pada ayah dan ibunya. Entah kenapa aku langsung akrab dengan keluarga Malika, mungkin karna mereka terlalu baik juga ramah. Sehingga membuat siapapun yang pertama kali mengenal mereka akan merasa sudah kenal lama.


Malika menatap wajahku sambil diiringi senyum di wajahnya, "Kal, kamu disini tidak sendirian! Ada aku dan keluargaku yang akan menjadi keluargamu juga. Jadi, kamu tidak perlu cemas dan sedih kalau kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi."


Malika terus menguatkan diri aku.


"Iya, makasih ya Malika, "


"Sama-sama, " peluknya.


Sebentar lagi persiapan wisudaku, akankah semua teman-teman datang ke acara wisudaku? Aku tidak tau itu, aku hanya bisa berharap saja mereka bisa datang.


Ingin aku hubungi melalui chat, tapi rasanya aku sedikit tidak enak. Aku takut jika akan merepotkan mereka.


"Kenapa sih hidupku ini penuh dengan ketakutan? Dasar Kalbu!"


Tring....


Nada handphone berdering, Dafa mengirim pesan kepadaku bahwa dia akan menemui ku di kedainya. Aku pun harus bersiap pergi ke sana dengan pakaian biasa, karena hari ini aku libur bekerja.

__ADS_1


"Tumben banget sih, dia mau ketemu sama aku!"


Tidak perlu berlama-lama untuk bersiap-siap, aku langsung pergi ke kedai dengan balutan gaun sederhana, dengan rambut ter-kepang dan aku pergi ke sana dengan taksi.


Ketika di dalam taksi aku terus melihat layar ponselku, aku terus membaca pesan yang di kirim Dafa.


Sebuah pesan yang menyuruhku agar cepat sampai di kedai. Sedangkan perjalanan aku penuh dengan halangan, di jalan begitu macet dan tidak seperti biasanya.


"Dia terus saja mengirimkan pesan, sampai handphone ku ramai oleh dirinya. "


"Ternyata dia pria yang tidak sabaran, kenapa aku baru menyadari itu sih?"


Pria itu terlalu pandai menyembunyikan segalanya dari aku, sampai aku baru tahu kalau dia itu pria yang pemarah dan tidak sabaran. Dalam hidupnya selalu di penuhi ketidak sangkaan, karena selalu ada sifat yang tak terduga.


Aku membuka pintu kedai dengan sisa nafas, " Maaf aku telat!" kataku seraya melihat ke penjuru kedai.


"KEJUTAN!"


Aku sangat terkejut setelah mendengarkan kata itu, aku langsung meluruskan tubuhku dan merapihkan rambutku yang sedikit berantakan ini. Lagi dan lagi aku di kejutkan oleh mereka, aku yakin ini salah satu rencana Dafa.


"Kal, kamu mau diam di situ aja? Ayo masuk!"suruh Maryam.


" Kenapa kalian bisa ada disini? Kenapa kalian tidak memberiku kabar, kalau kalian akan ke Jakarta lagi? Dan kamu Mahesa, kenapa kamu tidak kasih tau aku? Aku juga kesal sama kamu Daf, kamu terus saja membuat nada di handphone ku menyala."


Huff!!

__ADS_1


Semua sahabatku malah menjawab dengan tarikan nafas yang sangat panjang, mungkin mereka sudah bosan dengan sifat ku ini yang selalu memberikan pertanyaan terlebih dahulu setiap kali bertemu.


__ADS_2