Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
20. Salah paham


__ADS_3

Kesalahpahaman terus saja terjadi di lingkungan ku, mereka terus saja memanggilku dengan sebutan pelakor. Padahal aku tidak terbukti menggoda pria brengsek itu, pria yang sudah menghancurkan kepercayaan orang lain pada diriku. Mungkin bagi mereka yang sudah lebih awal membenciku, mereka pasti akan sangat membenciku.


"Hus.... Kalbu!" panggil ibuku pelan.


"Iya, bu!"


"Kenapa kamu diam saja? Apakah ada yang sedang mengganggumu lagi?" tanya ibuku.


"Kalbu sudah oleskan salepnya, Kalbu ijin ke kamar ya, bu!" aku menghiraukan pertanyaan ibuku.


"Eh.... tunggu dulu!" Ibu menahan tanganku, " Ayo, katakan sama ibu! Apa yang terjadi sama kamu?"


"Tidak ada, bu! Aku baik-baik saja." jawabku dengan bohong.


Ibu menjewer telingaku dengan pelan, " Ayo, katakan!!"


"Aw... Ibu sakit, lepaskan!!"


Ibu melepaskan tangannya dari telingaku dan mengulang pertanyaannya beberapa kali. Sampai aku sendiripun harus terpaksa menceritakan semua yang aku dengar dari tetangga, bahwa mereka masih saja membahas diriku sebagai wanita murahan. Pergosipan itu terjadi setiap kali aku ingin pergi keluar, aku selalu mendengar berita tidak sedap itu.


Ibu langsung menasehati ku, agar aku menganggap mereka sebagai angin yang sedang lewat saja kemudian hilang lagi. Mungkin saja untuk beberapa waktu aku bisa melakukan itu semua, namun setelahnya aku pasti akan kembali memikirkan masalah itu.


Berusaha untuk tidak menjadi beban ibuku begitu sulit aku lakukan, karna selalu saja permasalahan baru datang pada kehidupanku. Jika seperti itu aku harus bagaimana lagi melepaskan semua rasa beban yang ada dalam hati ibuku.


"Rasanya aku ingin melepas semua rasa beban yang ada dalam hati ibu. Aku ingin sekali menjadi obatnya di kala kesedihan datang menyapa ibu, namun aku belum bisa menjadi obat ibu, aku hanya bisa menambah beban saja dalam hati ibu."


...🥀...


Malam ini aku memindahkan semua catatan yang di berikan Dafa padaku, semua materi yang tertinggal beberapa hari lalu.


"Ya ampun....Baru saja beberapa hari aku tak masuk sekolah, tugasku sudah begitu banyak. Untungnya Dafa berinisiatif sendiri untuk meminjamkan catatannya pada aku, kalau sampai tidak ada yang mau meminjamkan catatannya---mungkin saja akan lebih banyak lagi dari ini. "


Gumam ku, "Ternyata dia pria yang perhatian juga,"


Aku kembali melanjutkan tulisanku, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan tulisanku pun akhirnya selesai juga.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga," aku kembali merapihkan buku-ku.


...🥀...


Adzan Subuh telah berkumandang, aku dan ibu segera bersiap untuk melaksanakan salat bersama, dan sajadah pun kami bentang kan, ayat demi ayat ibu bacakan. Suara ibu sangatlah merdu saat membacakan ayat suci Al-Quran, aku selalu terbuai dengan suara ibu. Rasanya aku tidak ingin ibu berhenti mengaji, aku ingin selalu mendengar suara ibu yang sangat lembut.


Tibalah kami di salat terakhir, kami dengan bersamaan mengucapkan salam. Kemudian aku mencium tangan ibu, mencium kening ibu dan memeluknya.


"Anak ibu manja sekali, " kata ibuku.


"Ibu, " lirih ku.


Aku sangat senang bermanja-manja dengan ibu, aku sampai tidak bisa melepaskan pelukanku ini dari tubuh ibu.


"Kalbu, lepaskan pelukan kamu ini, ibu sangat pengap tau. "


"Biarin... Kalbu akan terus peluk ibu, biar ibu tidak bisa ke mana-mana. "


"Kalau kamu terus peluk ibu, siapa yang akan buat sarapan untuk kamu? Memangnya kamu mau pergi ke sekolah dengan perut kosong?"


"Ibu dong, ibu yang akan membuat sarapan untuk Kalbu. "


"Baiklah.... Nih, sudah aku lepaskan."


Aku melepaskan pelukanku dari tubuh ibu, dan kamipun berbagi tugas saat di pagi hari. Saat pagi ibu selalu menyiapkan sarapan, dan aku selalu merapihkan rumah. Sarapan kami sederhana tidak muluk-muluk, kami juga tidak pernah pilih-pilih makanan.


Sarapan-pun tiba, aku tidak sabar ingin segera menyantapnya. Nasi goreng lah yang menjadi menu utama ku pagi ini, nasi goreng buatan ibu sangat lezat tidak ada yang bisa menyaingi masakan ibu yang sangat luar biasa.


"Nasi goreng buatan ibu, memang paling enak. Kalbu selalu suka apa yang di masak oleh ibu."


"Iya, dong! Ibu akan berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan tubuh kamu."


"Ini semua sudah sangat cukup, bu! Kalbu tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun, ibu selalu memberikan seluruh hidup ibu kepada Kalbu. Dan inilah saat dimana Kalbu harus memberikan seluruh hidup Kalbu pada ibu, Kalbu janji kalau Kalbu akan membahagiakan ibu. Ibu mau kan menunggu Kalbu sampai saatnya tiba?"


Ibu memegang tanganku, " Tentu saja ibu mau, ibu mau anak ibu ini selalu bahagia. Apapun mimpimu ibu akan mendukung dan tidak akan pernah memaksamu harus jadi apa, "

__ADS_1


"Makasih ya, bu! Sudah menjadi ibu yang terbaik."


"Iya, sayang! Sudah habiskan makanannya."


Aku pun menghabiskan sarapan ku dengan cepat, aku harus lebih cepat sampai di sekolah----sebab ban sepedaku masih kempes, belum sempat aku pompa.


"Ibu, Kalbu berangkat sekolah dulu!"


"Kenapa kamu sepagi ini pergi ke sekolah?" tanya ibuku.


"Iya, bu! karna aku harus berjalan kaki ke sekolah, kan ban sepedaku masih kempes." jawabku.


"Kemarin bukannya pompa dulu, "


"Aku lupa, bu!"


"Kebiasaan kamu selalu saja lupa, yasudah... Sebaiknya kamu naik angkot saja, nanti ibu berikan ongkosnya."


"Tidak... bu! Aku akan berjalan kaki saja, lagian tidak terlalu jauh juga jika aku harus berjalan kaki."


"Menurut kamu tidak jauh, sekolahan kamu itu cukup jauh, Kalbu!"


"Tapi, menurut Kalbu itu sangat dekat."


"Terserah kamu deh, ibu menuruti semua perkataan kamu. Tapi kami harus menerima uang ini, ibu khawatir nanti uang kamu tidak cukup. "


"Baik, bu! Kalbu akan menerima uang ini. " Aku paling tidak bisa menolak ibu, kalau ibu sudah memaksaku---berarti aku harus mengambil pemberiannya itu.


Usai berpamitan untuk pergi sekolah, aku-pun mulai berjalan kaki di pukul 06:25 pagi. Saat di pertengahan jalan aku bertemu dengan beberapa warga di desaku, tanpa ada kerjaan mereka berhenti dengan sengaja hanya untuk membicarakan semua keburukan aku.


"Tingali... Si Kalbu teh, meuni teu aya isinna!"


"Enya, budak eta teu nyangka bisa murahan kitu, nya!"


"Amit-amit lamun gaduh anak kos kitu, teu tiasa ngajaga kehormatan indungna."

__ADS_1


Beberapa kalimat yang menyatakan aku adalah gadis murahan itu, mereka perlahan membuka kembali lukaku. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku sesekali, sesekali juga aku menyapa mereka dengan senyuman. Walaupun senyumanku hanya di balas acuh, bahkan aku seperti tak di anggap sama sekali oleh mereka.


Aku menarik nafas untuk menenangkan diriku yang terus bergejolak karna rasa marah yang hampir saja menguasai diriku. Aku terus memberi semangat pada diriku sendiri, agar tidak terpancing oleh perkataan mereka yang cukup menyakitkan.


__ADS_2