
Hari ini Allah kembali mengabulkan segala harapanku. Aku pernah meminta harapan kepada Allah, agar Allah mempertemukan aku kembali dengan teman-teman SMA di kota ini, kota yang belum sepenuhnya aku bisa beradaptasi. Dan kini Allah kirim Dafa sebagai harapanku, akhirnya aku tinggal di kota ini ada beberapa orang yang aku kenali.
Saat pertemuan kami di kota ini untuk pertama kalinya, kami begitu banyak berbincang. Sehingga aku hampir lupa, jika di luar ada Malika yang sedang menungguku. Bahkan aku tidak enak sama semua karyawan yang sedang bekerja disini, sedangkan aku malah mengobrol bersama Dafa di kantor pribadinya. Dafa sekarang tidak hanya kuliah disini melainkan dia juga sekarang sudah menjadi bos di usianya yang masih tergolong muda, tapi sayang kami beda Universitas.
"Aku bangga sama kamu, kamu ternyata sudah sukses terlebih dahulu dariku, "
"Hahaha... Jangan berkata seperti itu, kesuksesan ini belum ada apa-apanya, karena kedai ini masih dalam pengawasan orang tuaku. Jadi, aku belum sepenuhnya campur tangan di kedai ini. "
"Jangan suka rendah hati di depanku, aku sudah tau kalau kamu orangnya tidak pernah sombong dan tidak suka di puji, oh iya, aku mau kembali kerja dulu! Aku enggak enak sama semua karyawan disini, terus di depan ada teman kampusku juga. "
"Padahal, aku masih merindukan kamu! Tapi yasudah lah, nanti kita bisa berbincang banyak setelah pekerjaanmu selesai. "
"Siap, pak bos!" senyum kecilku, kemudian pergi meninggalkan Dafa untuk kembali bekerja dan menemui Malika. Aku benar-benar merasa canggung dengan semua keadaan ini, aku tidak pernah menyangka jika Allah begitu mendadak memberikan pertemuan ini. Di tambah pertemuan ini terjadi di kedai milik keluarga Dafa, terus sekarang kedai ini telah di serahkan kepada Dafa meskipun belum sepenuhnya.
Ketika aku keluar dari ruangan Dafa, semua orang terus memperhatikan aku dari bawah sampai atas. Aku takut mereka akan marah, dan akan membicarakan aku dengan Dafa.
"Kira-kira mereka akan membicarakan aku tidak, ya! Kalau di lihat dari tatapan mereka, sepertinya mereka sedang membicarakan aku. AstagfiraAllah..... Kalbu, kamu tidak boleh berpikiran buruk seperti itu!" Aku melanjutkan langkahku kembali dengan senyum di wajahku. Aku tidak perduli mereka akan membicarakan aku seperti apa.
Kedai kopi ini memiliki 5 karyawan, diantara lima ini terdapat satu laki-laki sebagai kasir di kedai kopi ini. Dan 4 karyawan ini adalah perempuan sebagai pengantar kopi.
"Buat teman-teman maaf, ya!"
"Maaf untuk apa, Kalbu?" tanya Lala karyawan di kedai ini.
"Karena aku terlambat bekerja, sumpah aku tidak bermaksud melalaikan pekerjaan ini. "
"Yaelah, selow aja kali! Kita juga memaklumi pertemuan kalian, kalian pasti saling merindukan satu sama lain. Jadi, kalian cukup lama berbincang di dalam sana."
"Hehe... Jadi, kalian tidak marah!"
"Tidak, kami tidak marah sama kamu, dan kami senang telah mengetahui kalau bos kami ternyata baik. "
"Ah.... Makasih, kalau begitu aku akan menemui temanku dulu di sana!"
__ADS_1
"Iya, sana pergi! Kasihan temanmu sedari tadi menunggu kedatangan kamu. "
"Oke, muach..... Muach... Aku sayang kalian semua!" semangatku.
Malika terlihat serius saat duduk di dekat jendela kedai, dia terus menatap layar handphonenya seraya di iringi senyuman di wajahnya.
"Dor.... "
Dia terkejut, dan hampir melempar handphone yang sedang di genggam tangannya.
"Astaga, Kalbu! Kenapa kamu kagetin aku? Hampir saja kan, handphone ku jatuh. "
"Hehe... Iya, maaf deh! Aku tidak sengaja, lagian sih----kamu sedari tadi aku perhatikan terus saja menatap layar handphonemu. Memangnya sedang memperhatikan apa sih?"
Malika langsung menunjukkan isi handphonenya padaku, dia begitu senang.
"Sini deh, duduk! Aku mau menunjukan sesuatu sama kamu. "
Aku pun duduk di samping Malika, di bangku berwarna coklat tua yang di buat dari kayu jati yang sangat indah. Dia menunjukan sebuah foto pria yang cukup tampan, pria yang barusan datang ke kedai kopi.
Aku terkejut setelah mendengar perkataannya itu, Malika sangat menyukai Dafa. Padahal, dia baru saja bertemu tanpa saling menatap, tanpa saling menyapa dan tanpa saling mengenal. Pertanyaan ku saat ini, apakah cinta datang secepat ini?
"Malika, kamu sudah jatuh cinta sama seseorang yang belum kenal sama sekali, padahal kamu belum sempat saling menatap ataupun saling menyapa. Apakah cinta kamu secepat itu?"
Angguk ya, "Iya, ini adalah cinta pada pandangan pertama. Aku terhanyut akan tatapannya itu, kamu tau tidak?"
"Mana mungkin aku tau, kamu kan belum memberitahuku. "
"Oh iya, aku mau kasih tau sama kamu, kalau cinta itu kadang datang secepat kilat. Dia tidak perduli pada waktu, dia juga tidak akan perduli pada siapa yang ingin dia kehendaki. Cinta itu memang sangat unik, tidak perduli dimana dan sedang apa hati kita. "
"Aku belum paham apa yang kamu maksud? Terlalu rumit dan sulit di pahami. "
"Anak kecil kayak kamu itu, tidak akan pernah paham soal cinta. "
__ADS_1
"Semakin aku meladeni mu, semakin aku gila akan cinta kamu. Sudahlah, aku mau pergi bekerja dulu! "
"Sana, pergi saja! Aku tidak perduli. "
Cinta bisa membuat orang lain terlalu hanyut akan permainannya, sekarang Malika sedang dalam kondisi seperti itu. Aku hanya bisa berdoa, kalau cinta yang sedang di rasakan Malika tidak akan membawa rasa kecewa nantinya.
...🥀...
Setiap pukul 22:00 malam, kedai kopi ini mulai di tutup. Aku pulang ke kontrakan selalu menaiki taksi, karena angkot sering kali sulit di temukan saat malam hari.
Cukup membosankan menunggu taksi yang belum juga datang, kakiku hampir saja keram karena terlalu lama berdiri, aku seperti patung jalanan seorang diri di pinggir jalanan yang sepi.
Aku memijat kakiku seraya menggerakkannya," Kenapa taksi begitu lama? Tulang ku rasanya sudah tak mampu berdiri lagi. "
Aku memutuskan untuk duduk di pinggiran jalan, kalau taksi tak kunjung datang aku terpaksa akan berjalan kaki-----perjalanan yang akan menempuh selama 2 jam lamanya.
Saat keluhan aku sampai memuncak, akhirnya taksi datang juga.
"Taksi!" aku melambaikan tangan.
Sopir taksi itu membuka kaca mobilnya, " Mau kemana neng? Malam-malam gini baru pulang kerja?"
"Mau pulang pak, boleh saya masuk sekarang Pak?!"
"Iya.... Iya, boleh neng! Maaf, Bapak malah langsung bertanya saja. "
"Tidak masalah Pak, " kataku.
Wajar saja sopir taksi itu langsung memberiku pertanyaan karena aku pulang terlalu malam, di tambah aku seorang gadis remaja.
Jika aku pulang dengan kendaraan, aku tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk tiba di kontrakan ku. Ya, minimal satu jam lebihan tergantung yang membawa kendaraannya, dan juga tidak adanya macet di jalanan.
Saat di dalam taksi, mataku sudah hampir mengantuk. Rasa-rasanya malam ini sungguh melelahkan untukku, sepertinya setelah tiba di kontrakan aku akan langsung tidur dan menunda pekerjaan rumah ku. Mulanya aku ingin tidur di dalam taksi, akan tetapi aku takut jika kontrakan aku akan kelewatan. Di tambah aku kan orang baru di kota ini, jadi aku harus lebih berhati-hati dengan orang-orang disini.
__ADS_1
...🥀...