Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
12. Tidak Menduga


__ADS_3

Plak!


Tamparan keras telah mendarat di pipiku, karna Resa yang begitu marah padaku, bagi Resa perkataan-ku adalah sebuah penghinaan untuknya. Padahal itu hanya kata-kata sederhana yang mampu mengingatkan seseorang akan perbuatannya, sebab apa yang kita perbuat di dunia ini entah itu kebaikan ataupun bukan kebaikan, maka perbuatan itu akan menghasilkan buah entah itu manis ataupun pahit---semua itu tergantung kita yang ingin melakukan perbuatan yang mana.


"Kenapa kamu menamparku? Apakah kamu tidak menerima setiap perkataan-ku?"


"Ya, gue tidak menerima setiap perkataan lo! Lo sudah banyak bicara, dan lo sudah banyak nyumpahin gue. Gue merasa terhina dengan perkataan lo!" tegasnya kasar.


"Aku tidak menghina kamu, itu memang kenyataannya, bukankah ada pepatah yang mengatakan, apa yang kamu tanam---itulah yang akan kamu tuai. Dalam artian kamu akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kamu lakukan selama hidupmu. Bisa saja hari ini kamu menghinaku, bisa pula esok kamu yang akan di hina orang lain, meskipun itu bukan aku orangnya. "


Melihat wajah Resa, sepertinya sedang di kuasai roh jahat, dia seakan ingin memakan ku.


"Aku tau kalau kamu sangat marah padaku, tapi percayalah Resa aku tidak ada maksud untuk menghinamu sama sekali. Jika kamu merasa aku telah menghinamu, maka kamu harus melihat dirimu terlebih dahulu, mungkin diri kamu telah salah menilai setiap perkataan-ku. "


Jambakkan rambut yang sangat kencang di berikan Janet kepadaku, rasanya pada saat itu hatiku ingin sekali mengamuk, membalas setiap perlakuan kasar yang di berikan oleh mereka.


"Aw, Janet! Lepaskan tanganmu dari rambutku, kenapa kamu ikut campur urusanku dengan Resa?"


"Karena gue dan Resa adalah sahabat, kita sudah memiliki ikatan satu sama lain, meskipun kami tidak sedarah. " ujar Janet dengan wajah yang kesal.


"Tapi.... Kamu tidak pantas mengikuti perlakuan kasar yang di berikan Resa."


"Diam lo! Pantas atau tidaknya itu urusan gue."


Dengan baju yang masih dalam keadaan kotor aku di kepung oleh ketiga penyihir kejam, aku tidak di biarkan pergi sama sekali oleh mereka.


"Resa, tolong biarkan aku pergi!"


"Lo enggak akan mudah pergi dari gue, dan lo jangan harap bisa lolos secepat kilat. " kata Resa seraya mendekatkan wajahnya kepadaku.


"KATA SIAPA?!" pertanyaan yang mendadak terdengar, entah siapa orang yang berteriak seperti itu.


"Suara siapa itu?" tanya Resa heran.


Pada saat itu aku tidak berani menegakan kepalaku ke arah sumber suara itu. Aku hanya bisa tertunduk menahan rasa sakit bekas jambak-kan Janet dan bekas tamparan Resa.


"Elo.... Si.... Siapa?" sepertinya Resa sudah melihat orang yang berteriak itu.


"Kalian tidak perlu tau siapa saya? Yang saya inginkan, kalian harus membebaskan wanita itu. " suruh orang yang belum aku ketahui, jika mendengar dari suaranya---dia seperti seorang pria. Siapapun pria itu, dia adalah malaikat yang di kirim Allah.

__ADS_1


"Apa? Lo mau dia, silahkan ambil. " jawab Resa.


Saat pria misterius itu ingin meraih ku, Resa menghentikan tangan pria itu.


"Eits... Lo enggak bisa semudah itu menginginkannya."


"Oke, gini saja! Saya akan memberikan kalian kesempatan agar kalian jauh dari masalah, maka kalian harus melepaskan perempuan itu. Tapi jika kalian tidak mau melepaskannya, maka masalah baru akan kalian dapatkan dan lebih kejam. " kata pria itu, aku tidak memahami apa yang sedang dia maksud.


"Kenapa lo bilang seperti itu?" tanya Resa dengan suara gemetar. Sepertinya pria itu berhasil menakut-nakuti gadis kasar itu.


"Karna saya mempunyai semua bukti kelakuan kalian yang jahat, kelakuan kalian yang kotor dan sangat menjijikan. "


Aku tercengang mendengar perkataan pria itu yang telah mendapatkan sebuah bukti begitu mudahnya, aku masih belum percaya akan hal itu. Otakku benar-benar banyak sekali pertanyaan untuk pria itu, tapi payahnya aku---aku belum berani menegakan kepalaku.


"Hei, gadis payah!" panggil pria itu entah kepada siapa.


"Hei, gadis payah! Yang sedang menunduk, tegakkan kepalamu!!" panggilnya yang kedua kali membuat aku semakin gemetar mendengar suaranya melebihi suara Resa.


Perlahan-lahan aku memberanikan diri menegakan kepalaku, kemudian aku perlahan membuka mataku dan langsung menatap pada pria itu dengan tajam.


"Kamu tidak perlu menatapku seperti itu, "


"Kemana perginya mereka? Kenapa aku tidak begitu menyadari setelah perginya mereka?"


"Jawaban itu kamu punya sendiri, "


"Aku serius bertanya, "


"Bahkan saya lebih serius dari pertanyaan kamu, "


"Baiklah, aku sangat berterimakasih kamu sudah membantuku!"


Pria yang belum aku tau namanya mengeluarkan tangannya!.


"Itu apa?" bodohnya aku malah bertanya.


Pria itu mengangkat tangannya, kemudian dia memperhatikan tangan-nya, " Ini tangan, bukankah semua orang tau ini adalah tangan! Kenapa wanita ini malah bertanya? Oh, mungkin saja otaknya mulai rusak karna gumpalan terigu di rambutnya. "


Pria itu menyebalkan, " Ya, aku tau itu tangan! Bahkan anak tk saja tau itu tangan, maksud aku---kenapa kamu memberikan tanganmu padaku. "

__ADS_1


"Tadinya sih, aku mau gandeng tangan kamu! Berhubung kamu terlalu banyak bicara, jadi aku ragu menggandengnya."


Wajahku langsung berubah, antara ingin marah antara harus tersipu malu.


"Kenapa kamu diam saja? Ayo kita pergi! Emangnya kamu mau disini terus sama nyamuk, "


"Tidak.... Ayo kita pergi!"


Aku dan dia pergi keluar bersama, saat tiba di depan gerbang pak satpam sangat kaget melihatku yang sudah kotor di lumuri segala bahan campuran.


"Neng Kalbu! Apa yang terjadi?" tanya pak satpam itu, saat aku ingin mengambil sepeda.


"Tidak ada apa-apa, pak!" jawabku dengan senyuman.


Pak satpam mengira jika pria yang bersamaku-lah yang melakukan ini semua.


"Jangan-jangan pria itu yang melakukan ini semua. "


"Tidak, pak! Ini bukan salah dia. " ucapku sambil melirik pada pria yang masih menungguku itu.


"Oh, bapak kirain neng! "


"Yasuda, aku pergi dulu bersama kang ontel ku."


"Baik neng, hati-hati!"


Aku mendorong sepedaku dalam keadaan baju yang masih kotor, dalam keadaan wajah yang tidak berupa, mataku terasa sakit dan merah karena air yang perlahan masuk kedalam mataku. Dan pria itu masih terus mengikuti-ku dari belakang, aku pun harus menghentikan perjalananku.


"Kenapa kamu berhenti?" tanya pria itu, aku pun menengok ke belakang.


"Karena aku tidak nyaman kamu ikutin, kenapa sih kamu tidak pergi saja?"


"Mulanya saya juga ingin pergi, tapi saya tidak ingin meninggalkan kamu seorang diri. Emangnya kamu mau pulang dalam keadaan kotor seperti itu, nanti apa kata ibu kamu?"


Aku menghela nafas, " Apa yang kamu katakan itu benar? Sepertinya aku harus membersihkan diri terlebih dahulu, tapi disini tidak ada air bersih. " Pria itu malah meninggalkan aku saat aku berbicara.


"Dasar pria aneh, tadi dia baik---dia juga kasih saran! Sekarang dia malah pergi begitu saja, dia itu orang apa jin sih? Datang semaunya pergi pun semaunya. " kesal ku, aku paling tidak suka saat bicara---aku malah di tinggalkan. Aku pun berniat melakukan perjalanan lagi, saat aku ingin menggowes sepedaku, lagi dan lagi ada yang memanggil.


"Hei, tunggu! Hentikan!" teriaknya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2