Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
34. keramaian


__ADS_3

Keramaian tidak hentinya memenuhi bumi ini, keramaian tidak hentinya terus menebar tawa di setiap penjuru dunia. Pagi ini kantin kampus begitu ramai, semua anak-anak saling bercerita, menebar semua isi hati masing-masing. Setiap kali aku pergi ke kantin, aku selalu menemukan hal-hal baru, dan juga tingkah baru.


Karena tidak semua anak kuliahan itu orangnya serius, dan kalau kumpul selalu membicarakan soal belajar. Anak kuliahan juga tidak semuanya seperti itu, mereka bisa menempatkan waktu dan kondisi dengan baik. Dimana saatnya mereka bercanda? Dimana saatnya mereka berbicara tentang pelajaran? Dan dimana saatnya mereka tidak membicarakan pelajaran? Semuanya pasti paham batasan waktu yang di tentukan. Jadi, anak kuliahan juga mengasyikan orang-orang nya. Bahkan tingkahnya kadang jauh menggemaskan.


"Hai.... Hai guys, hari ini gue bakalan teraktir kalian semuanya!!" teriakan salah satu mahasiswa telah membuat kondisi kantin semakin gembira.


"Wah.... Keren!" teriak kembali penghuni kantin dengan cara mengacungkan jempol.


"Emangnya lo punya uang?" tanya salah satu penghuni kantin.


"Tenang saja, Ujang lagi banyak duit! Ujang bingung mau habiskan uang ini seperti apa? Jadi, Ujang memutuskan untuk mentraktir penghuni kantin yang sedang membutuhkan gizi!" Ujang lah namanya, anaknya rese, sedikit sombong.


"Haha.... Gue, kagak percaya sama lo!"


Ujang pun mengeluarkan uang dalam sakunya, namun anehnya dia malah merahasiakan jumlah uang yang di milikinya.


"Liat, ini uang Ujang! Dari pada kalian banyak bicara, silahkan pesan dari sekarang! Ujang bakal hitung sampai angka yang Ujang mau, berhitung mulai dari langkah kaki!!"


Semua anak-anak pun bergembira menyabut teriakan Ujang yang mau mentraktir mereka makan, mereka terus bergegas bangun dari tempat duduknya masing-masing. Namun, baru saja mereka melangkahkan satu kakinya untuk menuju meja pesanan, Ujang langsung menghentikan hitungannya.


"Berhitung di mulai!! Satu....... Waktu kalian habis!!" teriaknya dengan tertawa menggelitik, " Hahaha.... Kalian semua memang mata gratisan, gue cuman bercanda kali mau traktir kalian, orang uangnya cuman 50 ribu, masa harus di korbankan untuk kalian makan. Ogah banget!"


"Sialan, lu Jang! Ngerjain kita-kita, emangnya lu itu harus di kasih pelajaran!"


Teriakan para pasukan gadis yang sudah menanti traktiran itu saat ocehan terjadi dari mulut Ujang. Mereka melempari Ujang dengan kertas yang sudah di remas, sampai ketiga cewek mendekati Ujang dengan kesal. Ketika cewek itu berbagi tugas, yang dua bertugas memegang tangan Ujang, dan yang satu bertugas untuk menyumpel mulut Ujang.


"Nih, makan! Kertas ini, jangan harap lu bisa dapet ampun dari kita bertiga. "


"Iya, benar! Mulutnya yang suka boong dan sombong ini memang pantas di kasih pelajaran seperti ini."

__ADS_1


Ketiga cewek ini begitu puas saat mengerjai balik Ujang, aku dan Malika hanya bisa menyaksikan kelakuan mereka yang membuat aku tertawa geli. Kalau di lihat kelakuan mereka saat ini, sudah seperti anak SMA yang baru keluar centilnya.


"Kal, kamu enggak ikutan kayak mereka?" tanya Malika.


"Ngapain aku ikutan, mending kamu saja! Kayaknya kamu cocok kalau ngambil peran dalam drama musikal mereka itu. " kataku.


"Haha... Bukannya drama Korea? Kan sekarang lagi hits banget!" kata Malika seraya memasukan bakso kecil kedalam mulutnya, dengan mata yang terus memperhatikan keributan yang telah menjadi tontonan itu.


"Kalau drama Korea kejauhan, inikan drama versi Indonesia yang sangat berbeda dari yang lainnya. "


"Sudah, hentikan ah! Nanti ada yang ke singgung. " kata Malika.


"Baiklah, baik!" aku pun melanjutkan untuk menghabiskan bakso yang tersisa dua lagi.


...🥀...


"Kal, apakah kamu hari ini mau ke kedai lagi?" tanya Malika seraya merapihkan buku ke dalam tasnya.


"Iya, Mal! Kenapa memang?"


"Tadinya, aku mau ajak kamu ke rumahku."


"Ngapain ke rumah kamu, memangnya ada apa? Terus kalau aku main ke rumahmu mau kasih apa?" pertanyaan candaan ku terucap.


"Aku mau kasih kamu air putih, kalau bisa aku akan jodoh kan kamu dengan duren!"


"Apa, duren?" kaget ku.


"Iya, duren! Duda keren..... " tawanya meledek," Gimana, mau enggak?"

__ADS_1


"Enggak mau, ah! Mending buat kamu aja. " aku langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Malika. Namun, Malika terus mengejar dan meledek ku.


"Kal, gimana nih? Dia keren, ganteng, punya anak 5, kaya pula!" kata Malika, sambil menyodorkan kelima jarinya.


"Ya ampun, itu-mah bukan duda lagi, tapi udah om-om. Apa nanti kata orang-orang? "


"Haha.... "


"Udah ah, aku mau pergi kerja dulu nanti terlambat!"


"Kal.... Kal!! Kalau kamu mau sama duren itu, nanti aku jodohkan!" teriaknya kembali.


Hari ini Malika terus saja menganggu ku, dia terus saja berbicara ngawur tentang hal yang sangat tidak penting. Meskipun aku mengetahui ia hanya bercanda, tapi rasanya aku tidak ingin mendengar hal itu. Untung saja di kampus sudah sepi, jadi tidak ada yang mengetahui candaan Malika yang bisa saja orang lain percaya.


Sambil berjalan pun aku masih terngiang perkataan Malika, gadis itu sudah membuat aku salah fokus dan terus membayangkan. Jika itu terjadi pada diriku, aku pasti akan hilang konsentrasi ku setiap saat.


"Masa aku harus menikahi duda yang sudah punya anak lima, nanti apa pikiran mereka tentangku. Nanti mereka akan mengejekku, udah kayak anak sama bapak aja! Ah... Malika, gara-gara kamu aku malah membayangkannya!"


...🥀...


Hari ini kedai sangat ramai pengunjung, sampai Dafa harus turun tangan untuk membantu para pekerjanya. Dafa sangat terlihat keren, saat celemek terpasang di setengah bagian tubuhnya. Maklum saja, dia harus tetap menjaga kebersihan dan menjaga namanya sebagai bos.


Setiap pengunjung di kedai terus memperhatikan ketampanan Dafa, saat berjalan menuju meja pelanggan tiada hentinya mereka memotret wajah Dafa yang terus di iringi senyuman itu. Dia sekarang tumbuh menjadi orang yang sangat berbeda, saat SMA Dafa sangat cuek, bahkan senyum pun dia tidak ingin di berikan.


Di balik ketampanan dan kesempurnaan Dafa, dia memiliki kekurangan tersendiri yang tidak orang lain ketahui. Dafa memiliki trauma besar akan hal kegelapan, saat kecil dia pernah terkurung di sebuah tempat yang sangat gelap, tidak ada orang lain yang menolong dirinya meskipun dia terus berteriak.


Pintu yang terus di gedor sekeras mungkin, masih saja tidak ada orang di rumah mewahnya. Setelah beberapa jam kemudian baru pembantunya menyelamatkan Dafa dari tempat itu, hanya saja mereka terlambat . Wajah Dafa sudah di penuhi keringat ketakutan, wajahnya sangat pucat, dan tubuhnya sangat gemetar.


Dafa memberitahukan setiap kisahnya padaku setelah lulus SMA. Aku juga sempat tidak menyangka, dia telah memilihku sebagai teman curhatnya. Karena setahu aku, dia tidak pernah bercerita kepada siapapun.

__ADS_1


__ADS_2