Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
22. Membuka luka lama


__ADS_3

Saat sekolah di bubarkan, Dafa terus mengajakku pulang bersama. Tetapi aku tidak bisa menerima tawarannya, karna aku tidak ingin merepotkan seseorang--Dafa sudah sangat terlalu baik pada diriku.


"Kal, pulang bareng aku yuk!" ajak Dafa.


"Tidak, Daf! Aku pulang sendiri saja, makasih tawarannya."


"Kenapa sih kamu tolak aku?"


"Bukan maksud aku seperti itu, aku tidak ingin merepotkan siapapun." ujar ku, " Sudah, ya! Aku duluan."


Aku pun meninggalkan Dafa, aku pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ketika di perjalanan aku kembali di pertemukan dengan pria mata keranjang itu lagi, pria yang paling aku benci. Mungkin ini adalah kesempatan aku, agar dia mau mengakui kesalahannya pada istri juga anaknya.


"Wah.. Kita memang jodoh, kita di pertemukan lagi!"


"Kita satu kampung pasti di pertemukan-lah." ketus ku.


"Heran abang mah, naha neng masih so jual mahal. Padahal neng cewek murahan, semua orang tau itu."


"Jaga ya, omongan kamu itu! Saya teh bukan cewek murahan. Ini semua teh gara-gara kamu, saya di fitnah sama orang-orang satu kampung di sini. Pokoknya saya mau kamu teh bisa memperbaiki nama baik saya lagi, paham!" tegas ku.


"Maaf ya, abang tidak mau melakukan itu! Abang sengaja menjelekkan kamu di depan istri abang dan anak abang. Ini semua balasan atas kesombongan kamu, "


Sekarang aku paham kalau dialah dalang semua ini, dialah yang sudah menceritakan tentang diriku sebaliknya pada keluarganya. Agar mereka berpikir disinilah aku yang salah, dan dialah yang benar. Ternyata pria itu sengaja melakukan ini semua agar lebih bebas merayu diriku.


"Saya tidak akan pernah tinggal diam, saya akan membuktikan semuanya kalau memang saya tidak bersalah. "


"Silahkan saja, kalau memang situ bisa!" pria itu terus saja mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan, dan bahkan dia melukai tanganku dengan kukunya yang tajam. Tak lama kemudian Mahesa melewati jalanan yang sama, dia melihatku sedang menahan rasa sakit karna kuku pria itu terus saja menekan lenganku.


"Hentikan!" teriak Mahesa.


Pria mata keranjang itupun melepaskan kukunya dari lenganku, " Siapa dia? Anak bau kencur saja sudah berani."

__ADS_1


"Apa yang anda lakukan, saya bisa laporkan anda pada polisi dan berteriak."


"Sial... Beraninya anak bau kencur seperti kamu itu ini mengancam! Hahaha... Silahkan saja kalau kamu berani, bocah! Karna seluruh warga di sini sudah tidak percaya lagi sama gadis murahan ini, apalagi kamu anak baru di sini!"


Aku melihat Mahesa mengepal tangannya, menahan rasa marah dalam jiwanya. Namun, aku mencoba menenangkan Mahesa dengan caraku.


"Mahesa, kamu harus tenang! Kamu tidak boleh terpancing oleh perkataannya itu, kamu harus bisa menahan amarahmu demi aku, aku mohon Mahesa!"


"Hari ini anda beruntung, lain waktu saya akan pastikan anda akan menyesali perbuatan anda. Sekali lagi saya peringatkan, anda jangan pernah berani menganggu Kalbu lagi!" Mahesa menarik tanganku, " Ayo, Kalbu! Kita pergi dari sini, aku akan antar kamu sampai rumah. Dan aku akan meminta penjelasan dari kamu, kenapa kamu bisa di bilang seperti itu."


"Aku tidak ingin menjelaskan apapun untuk saat ini, jika aku menjelaskannya itu cukup menyakitkan."


"Yasudah, sekarang kamu naik! Aku tidak akan pernah memaksamu untuk menceritakan setiap masalah kamu."


"Makasih kamu sudah mengerti aku, aku tidak menyangka kamu selalu menjadi pahlawanku."


"Ini sudah menjadi tugasku, aku tidak akan pernah tau apa yang terjadi sama kamu kalau aku tak datang." ujarnya saat di perjalanan.


...🥀...


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, Kalbu! Kamu sudah pulang. Eh... Ada Mahesa juga, ayo masuk!"


Aku dan Mahesa masuk ke dalam rumah, ibu terus memperhatikan mataku yang sedikit sembab. Pada saat itulah dimana kesempatan aku menjelaskan segalanya.


"Ada apa yang terjadi? Kenapa mata kamu sebab? Kamu habis nangis?"


"Ibu, aku tidak tahan lagi merahasiakan ini semua dari ibu." tunduk ku.


"Kamu kenapa, nak? Ayo katakan sama ibu! Jangan buat ibu semakin mencemaskan dirimu, kamu sudah terlalu banyak menanggung masalah."

__ADS_1


"Aku tidak tahan lagi dengan pria itu, pria itu selalu saja menganggu dan menghina kehormatan-ku. Aku sudah tidak bisa menerima setiap perkataannya yang sangat melukai hatiku, aku ingin sekali mengakhirinya, bu!"


Ibu memegang pundak-ku, ibu kembali memberikan kekuatannya pada diriku.


"Nak, begitu sulit jalan kehidupanmu, tapi ibu percaya bahwa kamu bisa melalui ini semua. Sebelum kita mengakhiri segalanya, kita harus mendapatkan bukti terlebih dahulu. Kita tidak boleh gegabah menghadapi orang licik seperti dia, jika dia berani menyakitimu hari ini! Dia juga pasti akan berani menyakitimu di kemudian hari. Ibu tidak ingin itu terjadi!"


"Aku punya buktinya, bu!"


"Apa yang akan membuktikan pria itu bersalah?"


Aku menunjukkan lenganku yang terluka oleh kukunya," Ini bu, dia sudah membuat luka di lenganku. Ini bisa menjadi bukti kita bahwa dia telah mencelakai seseorang."


"Tidak, nak! Ini semua tidak akan pernah bisa mencukupi bukti, sebab tidak ada yang melihatmu di sakiti."


"Ada, bu! Mahesa menyaksikan saat kejadian ini terjadi. "


"Kal, apa yang di katakan ibu kamu itu benar, sekalipun aku melihat kejadian ini. Itu tidak akan pernah bisa menjadi bukti, sebab pria itu akan terus mengelak atau bahkan bisa membalikan semua fakta yang ada."


"Mahesa betul, nak! Sebaiknya kita harus mencari solusi lagi." ujar ibuku.


Kini aku sangat bingung, aku harus bisa mencari solusinya untuk menyelesaikan permasalahan ini.


"Maaf sebelumnya, Mahesa memotong pembicaraan ini! Mahesa hanya ingin tau mula terciptanya permasalahan ini. Apakah kalian bisa menceritakannya?"


"Mahesa, tadi aku sudah bilang bukan! Kalau aku tidak ingin menjelaskan apapun."


"Kalbu! Ibu tidak suka kamu berbicara dengan nada tinggi, nak Mahesa! Ibulah yang akan menceritakan segalanya kepadamu."


Aku hanya bisa terdiam---saat ibu menceritakan segalanya kepada Mahesa. Aku sedikit malu pada dirinya, karna dia terlalu banyak mengetahui kisah diriku. Aku khawatir semakin banyak dia mengetahui kehidupanku dan ibuku, hanya akan memberikan dampak buruk untuk keseharian-ku nantinya.


"Aku tidak menyangka, pria itu begitu kejamnya! Ibu aku berjanji pada kalian. Bahwa aku akan selalu mendukung kalian dan akan membuktikan kalau Kalbu tidak bersalah." ujar Mahesa dengan keyakinan.

__ADS_1


"Terimakasih, Mahesa! Kamu sudah mendukung kami."


"Sama-sama, bu! Mungkin inilah saatnya aku membalas kebaikan kalian." ujar lagi Mahesa.


__ADS_2