Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
3. Membisu Demi Kedamaian


__ADS_3

...Saat mereka mulai mencaci ku, saat mereka mulai menertawakan-ku, saat itu pula aku hanya terdiam membisu demi kedamaian tercipta. ...


.... ...


...🥀...


Ku kenakan baju sekolah yang sudah tidak berwarna putih lagi, seragam yang menjadi saksi pilu perjalananku, yang menjadi bahan olokan teman-teman di sekolah.


"Hallo, gadis kumel!" kata Resa dan kawan-kawannya.


Aku hanya memberikan senyum termanis ku kepada mereka, dan aku selalu mengatakan," Ah, hinaan sudah menjadi makanan sehari-hariku."


Kata itu seringkali terlontar dari mulutku, aku pikir jika aku meladeni mereka, berarti aku sama saja kayak mereka dong, aku tidak menginginkan itu. Lagian di saat mereka mencoba mencemooh ku, ada sahabatku yang selalu membelaku yaitu, " Laela" Dia adalah sahabat karibku sejak di bangku SMP. Alhamdulillah, Allah pertemukan kita kembali di bangku SMA, betapa baiknya Allah.


"Laela!"


"Kalbu, sejak kapan kamu datang?"


"Sejak tadi pagi, "


"Kenapa aku baru lihat kamu?"


"Biasalah, aku harus mendapatkan sarapan gratis terlebih dahulu. "


"Ah, bisa saja kamu! Pasti sarapan itu sebuah cacian yang di berikan Resa dan kawan-kawannya. "


"Hehe... Iya, betul itu!"


Sebenarnya masih ada lagi sahabat aku, yaitu " Maryam" Gadis berkerudung yang baik, kami di pertemukan Allah saat di bangku SMA.


"Kal, tumben banget Maryam belum datang."


Baru saja di tanyain, Maryam tiba di kelas.


"Itu, Maryam!"


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, panjang umur kita! Baru aja kamu di tanyain, eh---udah nongol aja. "


"Hehe.. Kalian pada rindu sama aku ya!"


"Enggak juga sih, biasa saja! Untuk apa rindu kitakan sering ketemu di sekolah. "


"Kalbu, jawabannya membuat hatiku kecewa tau, "

__ADS_1


"Aduh, maafkan aku! Aku hanya bercanda, tapi sedikit serius. "


"Tuh, kebiasaan lama kamu kambuh lagi. "


Hahaha.....


Kedua temanku sudah sangat mengenalku seperti apa orangnya, aku kadang sulit di tebak orangnya. Aku juga memiliki perasaan yang mudah rapuh, kata mereka aku terlalu lembut.


...🥀...


Mata pelajaran pertama di mulai, matematika mata pelajaran yang lumayan sulit bila tak dipelajari, lumayan mudah bila kita mempelajarinya. Semua tanpa kita pelajari akan terlihat sulit, cuman satu yaitu kehidupan, kehidupan bukan untuk di pelajari melainkan untuk di hadapi.


Bu Ratna guru matematika yang baik, setiap kali beliau menerangkan materi, sangat mudah untuk aku pahami. Jujur saja aku tidak begitu lihai dalam mata pelajaran satu ini, mungkin di antara kedua sahabatku yang jago matematikanya ialah Maryam gadis penguasa rumus. Pokoknya dia itu pinter banget, dia selalu bersaing dengan Dafa yang ahli rumus juga.


Dafa adalah pria tampan yang menjadi idaman para gadis, kulitnya yang putih, matanya yang bersinar, alisnya yang hitam, tubuhnya yang tinggi dan senyumnya yang manis. Ah, kata anak-anak dia pria yang paling sempurna yang telah lahir ke muka bumi ini.


Sedangkan kata aku, " Kesempurnaan hanya milik Allah, tidak ada manusia yang memiliki kesempurnaan melainkan sebuah kekurangan. Maka dari itu Allah menciptakan kita untuk saling menyempurnakan. " Aduh, aku jadi so bijak banget ya. Tapi memang itu yang ibuku ajarkan, kata ibu, " Nak, carilah pasangan yang mampu bertanggung jawab, soal harta, tahta, ketampanan, semua itu banyak di temukan. Tapi orang yang bertanggung jawab, akhlaknya baik, soleh dan setia itu sulit di temukan. "


Kata-kata yang menusuk hatiku, kata-kata yang penuh dengan kebenaran. Rasanya aku ingin segera menemukan sosok pria yang ibu bilang itu, tapi sayang untuk saat ini aku tidak begitu memikirkan hal itu. Untuk saat ini aku lebih fokus untuk membahagiakan ibu dengan usahaku sendiri.


Mata pelajaran pertama hampir selesai, tugas yang di berikan Bu Ratna sudah aku selesaikan dengan baik.


"Alhamdulillah, selesai juga. " banggaku.


Teng teng teng ....


Bel istirahat sudah di pukul, Anak-anak sangat gembira bertemu waktu yang sudah di nantikan. Apalagi bagi mereka yang memang malas bertemu materi, bagi mereka yang hobinya tidur saat mata pelajaran di mulai, setelah bertemu dengan jam istirahat mata yang kantuknya kembali segar.


"Hore... Hore... Istirahat tiba."


"Guys, ayo kita serbu kantin!" teriak Komar, pria koplak yang selalu jadi sasaran anak-anak untuk di jahili.


"Komar, apakah kamu siap?!" teriak lagi Jojo, pria yang sering kena marah.


Dengan sinis Komar menjawab, " Siap apa Jo? Gue kagak paham, maksud lo!"


Aku hanya tertawa melihat mereka bertingkah, Jojo dan Komar mereka sahabat Dafa, mereka bagaikan lem kalau sudah dekat, mereka lengket banget.


"Plis, Komar jangan bikin gue malu!"


"Ah, itu perasaan lo aja kali---sejak kapan gue bikin malu lo?"


"Kalian berdua, gitu aja di bikin ribut." kata Dafa.


Kadangkala aku merasa risih dengan tingkah Komar dan Jojo yang suka tidak jelas itu. Mereka selalu melakukan hal yang kadang membuat orang lain menjadi malas tertawa.

__ADS_1


"Kalbu!" panggil pelan Maryam.


"Iya, Maryam, "


"Kenapa sih kamu diam saja? Dan tumben banget kamu liatin tingkah Komar sama Jojo, biasanya juga kamu paling malas liat mereka."


"Ti... Tidak, aku tidak melihat siapapun." jawabku dengan terbata-bata.


"Kalau begitu, kita ke kantin saja yuk!" ajak Laela, tapi aku menolak.


"Maaf, kali ini aku tidak bisa pergi ke kantin bersama kalian."


"Kenapa Kal? Ayolah pergi!" paksa Laela.


"Aku tidak bisa La, lain waktu saja kita perginya."


"Kamu mah, selalu menolak ajakan-ku saja."


Mendadak Resa menyahut dengan sinis, " Jelas lah, Kalbu menolak ajakan kalian! Orang dia tidak punya uang buat makan di kantin, seharusnya lo lo pada paham dengan kondisi kemiskinan yang di dapati Kalbu. Ups, maksudnya cewek kumuh itu. "


"Hahaha.. Hahaha... " Janet dan Loli mulai menertawakan-ku.


Sambung Laela, " He..Resa! Cewek sombong, jangan sesekali kamu mengatakan hal itu lagi kepada Kalbu. "


"Sudah La, tidak apa-apa."


"Tapi, aku tidak bisa liat kamu terus di hina sama mereka. "


"Kamu ini, aku saja bisa menerima hinaan mereka. Masa kamu sendiri tidak bisa menerimanya, biarkan saja mereka mau berkata apa? Yang penting mereka tidak mengatakan sesuatu tentang ibuku."


"Hati kamu baik banget sih, seharusnya aku juga bisa seperti kamu."


"Udah, sebaiknya kalian pergi ke kantin saja! Nanti makanannya keburu habis."


"Tidak jadi, kami di sini akan menemani kamu. Oh iya, biasanya kamu bawa kripik singkong ke sekolah, tapi kenapa aku tidak melihat kamu membawanya ke sekolah?"


"Iya, aku libur jualan dulu. "


"Kenapa?" tanya penasaran Maryam.


"Ibuku melarang, ibu menyuruhku untuk fokus sekolah dulu."


"Ibu kamu baik banget sih. "


...🥀...

__ADS_1


__ADS_2