Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
27. Pengumuman kelulusan


__ADS_3

Semua orang tua sudah kumpul di aula sekolah, menanti pengumuman kelulusan putra dan putri mereka. Hatiku dan hati kami terus bergetar, kami tak duduk anteng sebelum pengumuman itu selesai.


Aku terus melihat ke arah kanan, ke arah kiri, belakang, depan, semuanya aku lihat dan perhatikan.


"SIAPA DI ANTARA KAMI YANG MENJADI SISWA BERPRESTASI?"


"SIAPA DI ANTARA KAMI YANG MENDAPATKAN NILAI YANG TERBAIK?"


Pertanyaan yang semua orang lain pikirkan, pertanyaan yang semua orang lain ingin ungkapkan. Namun, mereka tidak bisa mengutarakan pertanyaan itu. Karena mereka ataupun aku telah berpikir hal yang sama, jadi untuk apa kami saling bertanya----padahal jawaban itu sendiri kami yang punya.


Tiada henti doa aku panjatkan, menutup mata, bahkan telinga. Bukannya aku tak ingin melihat ataupun tak ingin mendengar---hanya saja aku belum siap jika harus mendengar kabar yang tidak sesuai dengan ekspetasi ku. Ibu selalu menggenggam tanganku, meyakinkan bahwa aku tidak akan mengecewakan dirinya.


"Nak, kamu kenapa? Kenapa tanganmu dingin?"


"Aku takut hasilnya akan mengecewakan ibu." jawabku.


"Nak, ibu tidak perduli jika nilai kamu belum sesuai keinginan kamu. Ibu tidak akan pernah malu dan memaksakan, kita hanya manusia biasa yang memiliki kapasitas terbatas, dan tidak semua harapan bisa terpenuhi. Jadi, apapun hasilnya nanti kamu harus bisa menerimanya. Mungkin hari ini belum bisa baik, suatu saat nanti bisa saja baik. Yang penting itu ilmunya, bukan nilainya. "


"Ibu, jangan bikin aku sedih. "


Ibu memukul pelan tanganku, " Dasar, kamu ini!"


"Ibu, sakit. "


"Uhh... Sakit, ya!" Ibu mencium tanganku.


Tibalah akhir dari pengumuman, inilah saat dimana guru mengumumkan siswa berprestasi tahun ini. Siswa yang mendapatkan nilai yang terbaik, aku tidak berpikir jika aku yang masuk siswa seperti itu. Namun, Tuhan telah berkehendak.


"Yang mendapatkan, nilai terbaik di tahun ini adalah----- Kalbu!"


Aku sempat berpikir, dan bertanya sesaat, "Ibu, apakah itu nama aku?"


"Itu bukan nama kamu, tapi itu nama anak dari tukang pasir! Yaitu, putrinya Ibu Aminah, " ujar ibuku dengan bahagia.


"Ibu, aku serius! Apakah itu namaku atau bukan?"

__ADS_1


"Iya, itu nama kamu! Ayo sana!" suruh ibuku.


"Alhamdulillah, ibu! Aku.... tidak bisa berkata apapun lagi! Allah, sudah mengabulkan doaku."


Bu Anggun memanggilku, "Kalbu, silahkan ke depan. "


Rasa syukur yang tak terhingga, aku tidak percaya jika aku yang mendapatkan sebuah kehormatan itu. Ucapan selamat dan doa terus di berikan guru-guruku, teman-teman ku, dan termasuk ibuku.


Semoga dengan prestasi ini aku di mudahkan untuk bisa masuk ke Universitas ternama di kota Jakarta nantinya. Semoga dengan ini pula aku bisa mengambil jurusan yang aku inginkan.


"Selamat ya, Kalbu! Semoga kamu bisa mengamalkan ilmu yang selama ini kamu dapatkan. Oh iya, sejujurnya penghargaan kamu tidak sampai di sini saja. Ibu sudah menyiapkan beasiswa untuk kamu, agar lebih mudah kamu masuk Universitas yang kamu mimpikan. "


Kejutan bertambah lagi, ternyata guruku sudah menyiapkan beasiswa untukku masuk Universitas ternama. Allah telah menunjukkan kebesarannya lagi, aku tidak akan melupakan momen ini selamanya. Akan aku ingat dan catat dalam hati ku.


Mahesa menghampiriku untuk mengucapkan selamat, " Selamat ya, anak berprestasi!"


"Kalian semua lah yang berprestasi, karena kita semua sudah berjuang bersama."


"Jangan suka merendah, kalau kita semua berprestasi kenapa tidak mendapatkan apa yang kamu dapatkan?"


Mahesa sangat sering membuat pertanyaan jebakan untuk diriku, dia sangat suka ketika aku terjebak dalam pertanyaannya sendiri.


"Aku benci sama kamu!" tegas Mahesa.


"Benci kenapa?"


"Benci, karna kamu selalu bisa menjawab pertanyaan ku."


"Aku kira, kamu benci kenapa? Ternyata karena itu, ya.... Kalau aku bisa jawab, aku akan jawab. Tapi, kalau aku tidak bisa jawab---kamulah yang harus menjawabnya."


"Eh, enak saja! kenapa harus aku yang jawab?" tanyanya dengan meledek.


"Kan kamu yang sudah kasih pertanyaannya sama aku, kan biasanya orang yang sudah memberi pertanyaan. Mereka pasti sudah menyiapkan jawaban itu dengan sendirinya." ujar ku.


Saat kami sedang asyik berbincang, Dafa menghampiri.

__ADS_1


"Sepertinya perbincangan kalian begitu seru, " ujar nya.


"Dafa, sejak kapan kamu kemari?"


"Tidak begitu lama kok, aku kemari! Aku hanya ingin mengucapkan selamat sama kamu, semoga kamu tetap menjadi Kalbu yang apa adanya." ujar Dafa.


"Aamiin, terimakasih! Aku pasti akan menjadi sosok Kalbu yang selalu kalian semua kenal. "


Saat aku berbincang dengan dua lelaki itu, tak lama semua temanku datang menghampiri ku dan mengucapkan selamat serta mendoakan-ku. Aku begitu senang bisa berbagi kebahagiaan kepada seluruh teman-teman ku.


...🥀...


Tidak pernah aku sangka, aku pulang membawa begitu banyak penghargaan. Inilah perjuangan yang sesungguhnya ketika aku menyelesaikan semua study ku. Dimana aku harus mengamalkan apa yang sudah di dapatkan selama aku belajar, aku juga harus bisa menjaga didikan yang sudah di berikan orangtuaku dan guru-guruku di sekolah.


"DENGAN SEGALA HORMAT, AKU SERAHKAN SEMUA PENGHARGAAN INI UNTUK IBU DAN ALMARHUM AYAH." aku berlutut di hadapan ibu, namun ibu membangunkan aku.


"Nak, kamu jangan seperti itu! Ayo, bangun!"


Tetesan air mata ibu, telah aku jadikan sebuah tetesan air mata kebanggaan. Ibu begitu bahagia, senyumnya yang terus terpancar dari wajah ibu. Ibu selalu mengingatkan aku ketika aku mendapatkan sesuatu yang membanggakan.


"Nak, tetaplah Rendah Hati! Jangan kamu sombong-kan apa yang sudah Kamu dapatkan di Dunia ini. Dan ibu percaya jika kamu tidak akan terlena dari kebanggaan yang sesaat Ini, karna kebanggaan ini bisa menjadi sebuah ujian bukan sebuah pujian. "


"InsyaAllah, aku akan selalu mengingat setiap nasehat ibu."


Pelukan hangat ibu berikan padaku, setelah nanti aku pergi ke kota. Pelukan hangat ini sudah pasti jarang sekali aku dapatkan, maka aku akan memutuskan bisa lebih sering memeluk ibu, dan mencium ibu.


...🥀...


Kebanggaan dunia hanya akan membutakan mata hati manusia, sehingga menghadirkan sebuah kesombongan dalam hati. Maka syukur dan rendah hati adalah salah satu obat dari setiap kebanggaan yang ada dalam diri.


Saling mengingatkan sesama adalah salah satu kunci kebijakan seseorang hadir, aku percaya dan meyakini itu. Ketika kita mampu mengingatkan seseorang yang hampir saja jatuh ketempat yang salah, ketika itu pula kita perlahan membangunkan kebaikan dalam hati orang itu.


Mengingatkan itu lebih baik dari pada menjatuhkan dari belakang, mengingatkan itu lebih baik dari pada harus menjudge seseorang yang belum tentu melakukan sebuah kesalahan.


Jika kita berbicara tentang kesalahan, pasti semua orang pernah melakukan kesalahan. Hanya saja, kesalahan yang mereka buat dan aku buat pasti berbeda. Maka dari itu berusahalah agar kita tidak melakukan kesalahan yang membuat diri kita rugi, ataupun orang lain rugi.

__ADS_1


__ADS_2