Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
2. Ketika Kalbu Bercerita


__ADS_3

...Hallo sahabat KKB, aku mau ajak teman-teman membaca cerita KKB, cerita yang akan selalu menghadirkan kisah yang menarik. Mungkin disini teman-teman juga bisa berbagi pengalamannya, KKB insyaAllah siap mendengarkan pengalaman teman-teman. ...


...Oh iya, ...


...Teman-teman jangan lupa follow dulu ya sebelum baca, sudah follow, kemudian baca, selesai baca vote dan comen ya, dukungan  teman-teman sangat memberikan semangat. ...


...Semoga teman-teman selalu menyukai cerita KKB. ...


...Happy Reading...


...*...


...*...


...Jangan kau jadikan suatu ujian sebagai bebanmu, tapi jadikanlah ujian itu sebagai penguatmu....


...🥀...


Gadis manja yang tak terlihat dalam diriku, gadis kuat yang tak terlihat pula dalam diriku. Gelap pilu terus melintasi hati yang masih belum mengenal apa itu kuat, apa itu menerima segala ketetapan Tuhan.

__ADS_1


Aku Kalbu gadis sederhana yang memiliki nama unik, kalian juga pasti tau apa arti nama dari Kalbu, ya----Kalbu artinya hati. Hati yang akan menjadi penggerak pikiran, hati yang selalu menjadi penguat tubuh di saat pilu mendarat dalam kehidupan.


Harapan penuh harapan dengan nama Kalbu, agar setiap apa yang aku lakukan harus berasal dari hati. Kata ibu sesuatu yang di lakukan dari hati akan sampai pula ke dalam hati, kata ibu jika hati kita kuat menerima cercaan dari bangsa manusia yang tak ingin kehidupan kita bahagia, maka aku akan bisa menerima cercaan itu dengan ikhlas.


Saat ibu berkata seperti itu, aku hanya bisa diam tanpa berkata, meskipun hatiku ingin sekali mengatakan ini, " Ibu, meskipun namaku Kalbu dalam artian adalah hati, tapi aku tidak bisa sekuat namaku, aku tidak bisa melakukan sesuatu selalu dengan hati. Seandainya ibu tau, jika kita sudah melakukan sesuatu dengan hati tapi tak bisa sampai ke hati lagi---bahkan tidak bisa di hargai sama sekali, bagiku itu percuma dan sia-sia bu. Arrrggghhh.... Itu hanya bisa ku bayangkan saja. "


Sejak kecil aku selalu di ajarkan ibu, agar bisa bangun sendiri saat terjatuh, ibu juga mengajarkan aku agar tidak terbang saat pujian membanjiri diriku, bahkan ibu juga mengajarkanku agar aku tidak tumbang saat hinaan datang padaku.


Ajaran yang akan selalu aku ingat sampai mati, ajaran yang tak akan pernah bisa pudar meskipun beberapa orang mencoba menghilangkannya. Bagiku setiap apa yang di katakan ibu semuanya benar, meskipun sesekali aku mencoba menolak, namun hatiku kadangkala menerimanya.


Nama adalah doa, mungkin ibu memberi namaku Kalbu agar aku selalu melakukan sesuatu dengan hati, karena sesuatu yang di lakukan dengan pikiran kadangkala tidak sesuai dengan harapan. Maka dari itu Tuhan menciptakan hati, pikiran dan logika untuk saling melengkapi, untuk saling menyatukan sesuatu yang boleh di katakan dan yang tidak boleh untuk di katakan. Ternyata bukan manusia saja di ciptakan Tuhan untuk saling menyempurnakan, ternyata hati dan anggota tubuh yang lainnya di ciptakan Tuhan untuk saling menyempurnakan juga.


Kami hidup dalam keterbatasan, kami hidup dalam tinta hinaan, kami hidup dalam kekuatan diri sendiri. Setiap harinya ibu bekerja di sungai untuk mengambil pasir, sedangkan ayahku sudah meninggal saat usiaku 7 tahun.


Ibu telah menjadi sosok ayah, ibu telah mengorbankan segala hidupnya hanya untuk aku putri tunggalnya. Matanya yang selalu mengatakan lelah, bibirnya yang terus bergetar ingin mengatakan, "Nak, ibu tidak akan gentar meski badai mencoba meruntuhkan. Ibu akan tetap berusaha untuk menjadi sosok yang kuat, agar kelak ibu bisa menjadi panutan untuk kamu, bahwa badai tidak selamanya mampu meruntuhkan sebuah kekuatan yang selama ini kita bangun. "


Aku yakin, jika ibu ingin mengatakan itu---sebab ibu sering kali mengulangnya di saat diri ini merasa terpuruk, di saat diri ini merasa tidak ada gunanya, di saat diri ini sudah lelah menerima hinaan dari mereka yang tidak menyukai kemiskinan ku, saat itulah kata-kata ibu keluar dan mampu menjadi pengobat hatiku.


...🥀...

__ADS_1


Mata yang lelah mulai terpejam sesaat, mengkhayal kan sebuah kenyataan di masa depan.


"Aku akan merubah segalanya, sebuah kebahagiaan akan aku ciptakan bersama ibu. Aku Kalbu yang akan menebarkan cinta di setiap penjuru Dunia, kelak semua orang bangga padaku, kelak semua orang tak berani lagi mengukir hinaan dalam hatiku. Aku Kalbu, akan membuat ibu selalu tersenyum, aku yang akan menahan air mata ibu, tidak akan aku biarkan ada air mata yang melintasi pipi ibu. "


Mataku kembali terbuka, mengakhiri sesaat khayalanku, mengakhiri sesaat bayanganku di masa depan kelak aku akan menjadi seperti apa? Masa depan yang masih menjadi tanda tanya, masa depan yang masih menjadi rahasia umum bagiku.


Kini hanya sabar yang selalu aku tanam dalam hati, ikhtiar yang masih bertahan membakar diri agar terus berjuang demi masa depan yang cerah. Karna Tuhan mengajarkan kita, agar kita terus berikhtiar meraih segalanya, kemudian Tuhan kembali mengajarkan dengan doa, karna doa dan ikhtiar bagaikan kunci dan gebok yang saling berpasangan, keduanya saling melengkapi untuk membuka sesuatu yang terkunci. Anggap saja masa depan adalah rumah yang masih terkunci, rumah yang masih belum menemukan kuncinya dimana?


Hidup di suatu Desa tidaklah mudah, terlalu banyak orang yang lebih suka membanggakan diri, terlalu banyak orang yang meniru gaya anak kota. Sehingga lupa dengan jati diri mereka yang sebenarnya, padahal kita hidup di bumi yang sama, kita tercipta dari tanah yang sama, kita pula sama-sama makan nasi, kita juga di ciptakan dari Tuhan yang sama, yang membedakan kita terlahir dari rahim ibu yang berbeda, untuk apa kita sombong, untuk apa kita saling menghina, untuk apa kita saling membanggakan diri.


Usiaku yang semakin bertambah di setiap tahunnya, aku masih saja menyusahkan ibu, aku masih saja meminta uang kepada ibu yang seharusnya aku yang memberi. Walaupun aku masih sekolah, rasanya aku sedikit malu jika terus menerus meminta kepada ibu. Kini aku kelas 3 SMA, semua biaya sekolah ibuku yang menanggung dari hasil menjual pasirnya.


Rasanya sedih melihat ibu yang terus kelelahan, ibu selalu berangkat dari pagi yang masih buta sampai sore hari, itu ibu lakukan setiap harinya. Mungkin seorang perempuan di Desaku yang masih mengambil pasir hanya ibuku seorang, selebihnya yang mengambil pasir adalah laki-laki.


Tubuhnya yang pasrah saat air mulai menutupi dirinya, rambut yang pasrah ketika air selalu membasahi nya setiap saat, tangan yang pasrah saat harus mengkeruk pasir dari dalam air, itu harus mereka lakukan setiap harinya.


Jika ingin berteriak, ya---aku ingin sekali berteriak kepada Tuhan, " Tuhan, kenapa engkau memberiku kehidupan yang sangat berat? Kenapa engkau memberiku kehidupan yang sangat pahit? Sampai ibuku harus bekerja sekeras ini, sampai ibuku tidak bisa tertidur nyenyak, sampai kapan engkau melakukan ini kepada keluargaku?"


Sungguh rasanya aku berdosa mengatakan itu, sungguh rasanya aku orang yang paling lemah dan tak berdaya di antara mereka yang jauh lebih berat cobaan hidupnya. Betapa payahnya diriku, betapa kejamnya aku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal yang Tuhan benci, seharusnya aku tidak terlalu banyak bertanya, tugasku hanya satu menjalankan setiap skenario yang sudah Tuhan buat untukku dan ibuku.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rabbku,"


__ADS_2