
Di hari kedua ini berada di rumah aku memutuskan untuk pergi ke sekolah, walaupun sekolah belum menerima keberadaan-ku, tapi setidaknya aku bisa melepas rindu dengannya walaupun dari jarak satu meter.
"Bu, pagi ini aku akan pergi ke sekolah,"
Ibuku sangat terkejut, " Pergi ke sekolah? Untuk apa? Bukankah kamu masih di skor?"
"Iya, memang aku masih di skor, bu! Akan tetapi aku ingin melepas rinduku walaupun sebatas memandang."
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati. "
"Iya, bu! Aku akan hati-hati."
Aku mencium pugung tangan ibu dan ku ucapkan salam, " Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Aku pun mulai mengambil sepeda ontel ku, aku pergi ke sekolah tidak mengenakan baju seragam melainkan baju biasa yang mungkin menurut orang lain jelek. Baju biasa yang hampir tidak berupa warnanya, baju biasa yang sangat sederhana, namunĀ aku senang mengenakannya. Apapun bentuk pakaianmu, janganlah kamu malu untuk mengenakannya selagi pakaianmu menutup seluruh tubuhmu, dan mampu melindungi-mu dari dinginnya malam, dari panasnya siang, dan dari kejahatan mata manusia. Meskipun aku belum mengenakan hijab, ibu selalu melarang-ku agar tidak mengenakan pakaian yang mampu mengundang sahwat manusia, sebab pakaian bisa menjadi pelindungmu, bisa juga menjadi musuh-mu. Maka dari itu kita harus bisa memilih pakaian yang akan mampu menjadi pelindung kita, bukan yang akan menjadi musuh kita.
...š„...
Setibanya aku di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup, aku tidak terasa meneteskan air mata kerinduanku. Otakku begitu rindu akan materi-materi yang di berikan guru, aku begitu banyak ketinggalan materi.
Huf!!
Helaan nafas terus aku lakukan menahan rasa sesak karena sakit hati akan perbuatan Resa padaku.
"AstgafiraAllah, aku tidak boleh sakit hati berlebihan, aku takut jika nanti hatiku menjadi keras seperti Resa. Ya Allah, maafkan aku, "
Dari pada pikiranku menjadi ngelantur, aku memutuskan untuk berkeliling sekolahan, meskipun aku harus melewati jalan pintas agar aku bisa sedikit melihat keindahan sekolahku, yaitu jalan pintas belakang sekolah yang hampir dekat dengan kantin. Aku bagaikan pencuri yang sedang mengincar sesuatu di sekolahan ini, memang aku sedang mengincar sebuah bukti dari sekolahan ini.
"Pokoknya, aku harus bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah, sepertinya juga aku harus menyusun sebuah rencana agar mereka bisa mengakui kesalahannya dari mulut mereka sendiri. Mungkin itu akan menjadi bukti yang kuat dan bisa membuat Bu Anggun percaya. "
Rencana yang hanya ada dalam otakku saja, bagaimana caranya aku bisa melaksanakan rencana-ku seorang diri tanpa adanya bantuan dari orang lain? Sambil berjalan aku terus memikirkan rencana itu, sedangkan sepedaku ku titipkan ke Pak Satpam yang sangat baik padaku.
Saat perjalananku sudah hampir sampai kantin, aku merasa ada seseorang yang mengikuti-ku, sepertinya juga orang itu sudah tau sedari tadi aku menyusup ke sekolah melalui halaman belakang sekolah yang hanya di kelilingi pagar kecil, sehingga orang lain bisa masuk.
Aku mencoba berjalan cepat, namun langkahku terhenti setelah orang itu menarik lenganku dan menutup mataku.
"LEPASKAN AKU!"
"KALIAN SIAPA?"
__ADS_1
"KENAPA KALIAN MENUTUP MATAKU?"
"LEPASKAN JUGA TANGANKU! TANGANKU SAKIT. "
Kemudian mereka membuka mataku yang di tutup oleh tangan mereka, begitu pula mereka melepaskan tanganku yang di pegangin mereka. Setelah aku membuka mata, aku berada di pohon mangga besar yang tumbuh di belakang sekolah, tidak hanya itu saat aku membuka mata mereka malah bersembunyi dan bermain denganku.
"KENAPA AKU DI BAWA KEMARI?"
"SEBENARNYA KALIAN SIAPA?"
"JANGAN BERMAIN DENGANKU, AKU TIDAK SUKA! AYO KALIAN KELUAR!"
"KALIAN JANGAN SEMBUNYI, KALIAN SEMUA MEMANG PENGECUT!"
"KALIAN SEMUA HANYA BERANI DI BELAKANGKU SAJA!"
Akhirnya mereka terpancing dengan perkataan-ku, mereka keluar di balik pohon mangga besar tempat bersembunyi mereka.
Prok prok prok....
Tengok ku, "Kalian! Mengapa bisa berada di mari? Kalian pasti bolos sekolah?"
Tidak lain mereka adalah sang penyihir kejam yang sengaja bolos sekolah, sungguh perilaku yang tidak pantas untuk di ikuti oleh siapapun.
"Kalian, mengapa kalian berada di luar sekolahan? Sedangkan materi sedang berlangsung, apa jangan-jangan kalian bolos?!"
"Iya, gue bolos sekolah, sekarang puas dengan jawaban gue. "
"Kalian tidak kasihan sama orang tua kalian yang sudah membiayai sekolahan kalian, orang tua yang bela-belain kerja keras demi menghasilkan selembar kertas berharga hanya untuk kalian semua. Apakah kalian tidak melihat ke arah sana?"
"Hadeuh.... Gadis ini, selalu saja cermah!"
"Resa, seharusnya kamu cepat sadar sebelum Tuhan memanggil kamu dalam kondisi seperti ini. "
Loli mengompori, " Wah, Res! Ini sih parah banget, masa dia nyumpahin lo mati. "
"Tidak! Bukan maksud ku seperti itu, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, kita tidak tau umur kita sampe kapan? Mending kalian segera tobat, dan segera mengembalikan nama baik aku di sekolah. "
"Hahaha.... "
"Kenapa kalian tertawa?"
__ADS_1
"Nih bocah, emang banyak tanya! He... Kalbu, dengerin gue ya! Lo itu nggak punya nama baik, nama lo itu udah jelek sejak lahir, sejak orok, lo paham nggak?!"
"Resa, tidak ada nama yang jelek bila tidak ada orang lain yang mencemarkannya. Aku bisa saja melaporkan semua perilaku kamu ke aku, aku juga bisa saja membongkar semua fakta tentang kamu. Hanya saja, aku tidak inginĀ sama jahatnya kayak kalian. "
"Apa? Lo bilang gue jahat!"
"Ya, kalau memang kalian merasa seperti itu! Sudahlah, aku malas berdebat dengan kalian semuanya. Sekarang lebih baik kalian ijinin aku lewat agar aku bisa pergi. "
"Silahkan, kalau lo mau lewat. "
Saat aku ingin melewati mereka, mendadak mereka kembali menarik lenganku dan mendorong aku hingga jatuh secara duduk. Setelah aku terjatuh, mereka malah semakin agresif menyiksaku dengan cara menyiram ku dengan tepung terigu yang di campur air got, bahkan di dalamnya ada telur. Jadi sedari tadi Resa mengajakku banyak bicara, Resa sudah mempersiapkannya.
"Lo bisa pergi, setelah lo bisa menikmati hadiah dari gue. "
Bum!
Suara dari mulut ketiga sahabat itu membuat aku semakin terhina, yang mulanya aku ingin melepas rindu, malah menemukan sebuah penghinaan baru.
"Hahaha.... "
"DIAM KALIAN!" tegas ku.
"Burung-burung pun tidak akan pernah sudi mendengar tawa hinaan dari kalian, tawa kebusukan dari kalian, apalagi aku---aku sangat jiji mendengar tawa kalian. "
"Apa lo bilang? Sekarang lo berani melawan kita!"
"Ya, hatiku menggerakkan ku untuk melawan kalian semua, jadi untuk apa aku takut lagi terhadap kalian semua. "
"Tapi, lo enggak akan pernah bisa melawan gue!"
"Kenapa enggak bisa? Tidak ada alasan buat aku tidak bisa melawan kalian semuanya. "
"Karena lo tidak mempunyai bukti. "
"Kenapa lo diam saja? Omongan gue benarkan?!" tanya Resa.
"Aku akui, omongan kalian itu benar! Tapi kalian jangan terlalu tenang, sebab aku percaya kalau Tuhan sedang merencanakan sesuatu hal yang lain, agar semuanya segera terungkap."jawabku seraya bangkit dari ketidakberdayaan ku setelah tubuhku di selimuti tepung terigu yang sudah di campur beraneka bahan.
Jelita mencoba mengeluarkan kata kasar, " Hei, gadis yang tidak pernah tau malu! Gadis ****** yang sok bijak. Jangan pernah lo berani mengatakan hal yang akan membuat kami jatuh. "
"Aku tidak ada maksud untuk menjatuhkan kalian, tapi kenyataannya kalian akan jatuh dengan sendirinya akibat dari perlakukan kalian semuanya. "
__ADS_1