Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
5. Jangan bergantung pada manusia


__ADS_3

...Bergantung pada manusia hanya akan memberikan sebuah kekecewaan datang dalam diri. ...


.... ...


...🥀...


Matahari perlahan menghilang, senja perlahan hadir, entah mengapa ibu masih saja belum pulang dari sungai?


"Aku harus menyusul ibu ke sungai, aku takut pria mata keranjang itu menganggu ibuku juga." curiga ku.


Perlahan kakiku melangkah, melewati beberapa rumah di gang sempit untuk sampai ke sungai. Setibanya aku di sungai, aku melihat ibu yang sedang memasukan pasir ke dalam karung.


"Ibu!"


"Kalbu, kenapa kamu kemari?" tanya ibuku dengan kaget.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa ibu lama sekali pulangnya? Hari semakin sore Bu, sebentar lagi Magrib tiba. Ibu kan belum salat Asar, "


"AstagfiraAllah, ibu hampir saja lupa!"


"Yasudah, ibu tunda saja! Sekarang kita pulang, sebelum waktu Asar habis. "


Kami bergegas pulang ke rumah, ibu yang merasa cemas akan tanggung jawabnya kepada Allah. Karena ibu tidak biasanya meninggalkan salat, ibu selalu tepat waktu saat Allah memanggil dalam suara Adzan yang amat sangat merdu itu.


"Ibu pelan-pelan saja, nanti ibu jatuh!"


"Tidak, nak! Ibu tidak bisa berjalan pelan lagi. Hati ibu tidak begitu tenang, sampai ibu bisa melaksanakan salat. "


"Kalbu tau, bu! Tapi ibu juga harus jaga keselamatan, jalanan-nya terlalu banyak kerikil dan tidak rata yang ada nanti kaki ibu sakit. "


"Ibu kan pakai sandal, mana mungkin sakit Kalbu. "


"Sandal itu sudah tipis, pasti akan terasa sakitnya, bu!"


"Ibu tidak merasa sakit, nak! Ayo, sebaiknya kamu lebih percepat lagi jalannya. "


"Baik, bu!" Aku hanya menuruti semua kata ibu, aku paling tidak bisa menolak semua kata-katanya.


Tanpa sadar percakapan kami saat perjalanan pulang begitu banyak, sampai rasa lelah tidak hadir dalam tubuhku ini. Setibanya kami di rumah, ibu langsung membersihkan diri dan langsung melaksanakan salat Asar.

__ADS_1


...🥀...


Malam yang cukup mencekam dan dingin, angin yang terus masuk melalui sela bilikan rumahku. Maklum rumahku tidak memiliki jendela, lantai rumahku juga masih terbuat dari semen yang di plester, sedangkan lampu di rumahku masih terlihat gelap dan berwarna kuning.


Lembaran demi lembaran buku pelajaran aku baca, sesekali aku merangkum tulisan yang ada di dalam buku. Namun di balik keseriusan ku saat belajar, seringkali memikirkan kejadian tadi siang bersama pria mata keranjang itu, pria yang tidak memiliki akhlak itu. Aku benar-benar takut jika pria itu akan melakukan hal yang lebih membahayakan akan diriku, aku benar-benar bingung, rasanya aku ingin meluapkan semua isi hatiku pada ibu, isi hatiku yang amat sangat ketakutan ini.


"Tuhan, hanya engkau yang bisa melindungi ku dari pria tak berakhlak itu. "


Aku hanya bisa meminta perlindungan pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menjagaku dari pria itu. Dalam doaku juga terselip agar Allah kirimkan perantara yang akan selalu menjagaku di muka bumi ini.


"JIKA AKU BERTEMU DENGAN PRIA ITU, APA YANG AKAN DIA LAKUKAN LAGI?"


"AKU TAKUT JIKA YANG AKU BAYANGKAN TENTANGNYA TERJADI!"


"KENAPA DI DUNIA INI ADA PRIA SEMACAM ITU?"


"KAPAN SEMUANYA AKAN BERAKHIR?"


"ARRRGGGHHH... PIKIRANKU BENAR-BENAR KACAU!"


Dalam pikiranku begitu banyak sekali beban hidup yang tersimpan, rasanya kepalaku ingin meledak jika harus mencampur ramuan kehidupan ini dengan masalah-masalah baru yang terus datang.


.... ...


...🥀...


...Allah lebih paham apa yang sedang kamu alami saat ini, mangkanya Allah percayakan masalah baru itu datang kepadamu, karena Allah tau kalau kamu bisa menghadapinya dengan lapang dada. ...


.... ...


...🥀...


Kehidupan-lah yang akan memberikan kita sebuah pelajaran baru, agar kita bisa memahami betapa sulitnya hidup di dunia ini, betapa banyaknya sebuah perjuangan yang akan kita temukan untuk mendapatkan kebahagiaan, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.


Tanpa adanya sebuah perjuangan, kita tidak akan mungkin bisa meraih segalanya, sekalipun kita bisa melakukan itu tanpa berjuang, rasanya pun akan berbeda. Karna berjuang kita bisa mengenal sebuah kesulitan, karna kita berjuang kita bisa mengenal apa artinya sabar dan ikhlas, karna kita berjuang kita bisa lebih mengerti, betapa indahnya mendapatkan sesuatu karna berjuang.


Mereka yang hidupnya selalu bergantung kepada Allah, maka merekalah yang paling beruntung bisa mendapatkan cinta dari Allah lebih banyak, maka merekalah yang paling beruntung bisa mendapatkan setiap ridonya Allah, bahkan mereka tidak akan pernah mengenal apa itu di kecewakan? Apa itu di sakiti? Mereka hanya akan mengenal sebuah kebahagiaan yang kekal di dunia maupun akhirat.


...🥀...

__ADS_1


Semakin lama aku menanti sebuah kebahagiaan datang, semakin lama pula rasa kecewa hilang. Di sini di buminya Allah aku sedang berusaha untuk tetap tegar, di sini di buminya Allah aku berusaha untuk menghadapi dan tidak lari dari permasalahan yang sedang aku alami.


Bagiku berlari dari sebuah permasalahan ataupun berlari dari sebuah kenyataan hanya akan mendapatkan sebuah kerugian. Berlari tak akan menyelesaikan segalanya, berlari hanya akan menambah permasalahan baru datang. Masalah ada untuk di hadapi, masalah ada untuk memberikan sebuah kedewasaan kepada kita, apapun masalah itu kita tidak perlu berlari ataupun menghindarinya, sebab semakin kita berlari dari masalah, maka masalah itu akan terus mengejar kita.


Layaknya kita berperang, jika kita berlari dari peperangan itu maka musuh akan terus mengejar kita untuk membunuh. Akan tetapi jika kita menghadapinya, maka salah satu di antara kita akan mati ataupun akan gugur, anggap saja masalah sebagai musuh kita yang harus kita hancurkan. Sekuat apapun musuh kita, kita harus menang dari mereka, sampai mereka luluh lantak tak berdaya, bahkan tak berani untuk kembali menyerang kekuatan yang ada dalam diri kita.


Bangkit dari masalah adalah cara yang terbaik, percaya pada diri sendiri pula itu juga yang terbaik. Sebab jika kita percaya pada orang lain untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi, aku yakin penyelesaian itu tidak akan sama dengan penyelesaian yang sudah kita hadapi.


...Sebuah pohon membutuhkan akar yang kuat untuk menjadi pohon terkuat, sedangkan manusia membutuhkan Allah untuk memperkuat hati yang lemah. ...


...🥀...


Aku melihat mata terpejam yang penuh kelelahan, mata terpejam yang sedang mengatakan segala isi hati, semua perasaan itu terlihat dalam tidur lelapnya ibu.


"Ibu, maafkan Kalbu yang masih belum bisa membahagiakan ibu. "


Batinku setiap saatnya sering kali merasa sesak, sesak yang hampir saja menggerogoti hati yang masih lemah ini. Bukan karna aku tidak bisa menerima setiap keadaan yang aku alami, hanya saja aku merasa diri ini masih saja terus menyusahkan ibu.


Malam ini sepertinya aku akan tidur bersama ibu, tidur di samping ibu, tidur dalam pelukan ibu. Rupanya ibu menyadari kedatanganku kedalam kamarnya, sampai ibu terbangun dari lelapnya.


"Kalbu! Kenapa kamu berdiri di situ?"


Aku mendekati ibu, " Kalbu boleh tidak tidur sama ibu." jawabku dengan cepat.


"Tentu boleh sayang, masa tidak boleh! Ari kamu teh gimana?"


"Hehe... Takutnya ibu kesempitan gitu---kalau tidur sama Kalbu." kataku dengan logat Sunda.


Ibu menepuk kasur dan menyuruhku segera tidur, " Yasudah, kamu sini! Tidur sama ibu, tidur dalam pelukan ibu. "


"Ah, ibu tau saja apa yang ada di hati Kalbu. "


Aku pun tertidur dalam hangatnya pelukan ibu, aku tertidur dengan menatap wajah ibu yang berseri.


"Ibu tetap cantik meskipun sedang tidur. " ujar ku pelan.


"Ibu masih bisa mendengar-mu, Kalbu!" ibu kembali membuka matanya, aku kira ibu sudah benar-benar tidur.


"Ibu, aku kira sudah tidur nyenyak. Ternyata masih saja mendengar suaraku, "

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak bicara! Sebaiknya kamu tidur, besok kan sekolah."


__ADS_2