
Tanpa aku sadari aku telah banyak cerita kepada ibu tentang Mahesa. Pria masa kecil yang selalu menolongku dari anak-anak yang nakal, bahkan sampai sekarang pun dia masih mempertahankan kebaikannya untuk menolong diriku.
"Ibu perhatikan sejak tadi kamu terus membicarakan Mahesa, apakah kamu suka sama dia?" kata ibuku di iringi pertanyaan.
"Tidak.. Aku tidak menyukainya, bu!" ujar ku sambil merapihkan piring yang berantakan.
"Kamu jujur saja, kalau memang kamu menyukai dia."
Ibuku terus saja meledek diriku, sampai aku salah tingkah sendiri.
"Tuh, sekarang kamu tidak karuan! Itu buktinya kalau kamu menyukai dia. "
"Apaan sih bu? Sudah ah, aku mau cuci piring dulu."
Saat aku sedang mencuci piring, aku terus mengingat perkataan ibuku barusan. Apakah mungkin aku ini sedang jatuh cinta sama Mahesa? Atau ini hanyalah rasa persahabatan semata saja?.
"Kalbu, kamu tidak usah pikirkan kata ibu, fokus saja sama tujuan kamu." Aku melanjutkan mencuci piring.
Semenjak kedatangan Mahesa kedalam duniaku, seakan mengembalikan sebuah kenangan yang nyata dalam hidupku. Berkat dirinya aku bisa mengingat semua masa-masa indah bersama almarhum ayahku.
"Kalbu! Ibu mau pergi ke sungai, kalau kamu sudah mencuci piringnya---jangan lupa pintu kunci!" teriak ibuku dari dalam rumah.
"Baik, bu!" sahut ku kembali.
Usai mencuci piring aku kembali merapihkan rumah yang berantakan, dari mulai menyapu sampai mengepel lantai yang masih plesteran semen itu.
"Alhamdulillah, semua pekerjaan rumah akhirnya selesai." sejenak aku membaringkan tubuhku di atas kasur.
Saat membaringkan tubuhku, lagi dan lagi aku teringat Mahesa. Semua pertemuan kami sungguh unik, dulu kami di pertemukanpertama kalinya saat aku sedang di buli oleh anak-anak kampung. Sekarang kami di pertemukan kembali dengan cara yang sama pula, Tuhan memang selalu tau cara mempertemukan kami. Meskipun ada sedikit perbedaan dan di sayangkan, karena setelah bertahun-tahun kami tidak di pertemukan----aku malah tidak mengenalinya sama sekali ketika pertemuan itu kembali.
"Seandainya pada saat itu pula aku mengenalimu, mungkin hatiku tidak ada penyesalan. "
Krek!
Suara pintu terbuka, aku lupa mengunci pintu.
"Astaga, aku lupa mengunci pintu! Kira-kira itu siapa yang membuka pintu?" Aku pun memeriksanya, aku khawatir dia bukan ibuku melainkan orang lain.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Kalbu!"
Aku menarik nafas lega, ternyata itu ibu yang baru pulang dari sungai---aku pun keluar dari tempat persembunyian-ku.
"Wa'alaikumsalam, ibu! Aku kira siapa? Aku sudah takut saja."
"Mangkanya kunci pintu! Ibu sudah menyuruh kamu, kan?"
"Iya, bu! Kalbu lupa."
"Lupa dan lupa saja." marah ibu.
"Maaf, yang pentingkan tidak terjadi sesuatu pada diriku, bu!"
"Kitakan harus jaga-jaga, sudah siapkan ibu air hangat."
"Baik, bu!"
Ketika ibu membutuhkan air hangat, aku harus terlebih dahulu memasak airnya.
🥀
"Ibu, biarkan lukanya aku kasih salep ya!"
"Tidak perlu, nak!" kebiasaan ibu selalu saja menolak ketika ingin di olesi salep.
"Ibu, jangan pernah menolak aku." Aku pun memaksanya.
"Baiklah... Baik, kamu selalu saja memaksa ibu," lirihnya.
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum, " Aku memaksa karna aku sayang sama ibu."
"iya, ibu paham!"
Aku terus mengoleskan salep di telapak kaki ibu dengan merata, ibu terlihat kesakitan saat lukanya tersentuh.
"Hati-hati dan pelan-pelan, nak!" ringis ibuku.
__ADS_1
"Iya, bu! aku pelan-pelan mengoleskannya, ini pasti sangat perih dan sakit ya, bu!"
"Iya, ini lebih perih dari kemarin yang ibu rasakan." ujarnya seraya meringis.
"Sebentar lagi selesai, bu! Jangan dulu kena air, sampai lukanya kering. Kalau bisa jangan dulu ke sungai." ujar ku.
"Mulai lagi, ibu sampe bosan mendengar perkataan kamu yang itu. Rasanya kalau di hitung, mungkin 100 kali kamu bilang kayak gitu."
"Habisnya, aku gereget sama ibu, enggak pernah nurut."
"Ada juga kamu, yang harus nurut sama ibu."
"Ibu, sesekali orang tua harus nuruti anaknya! Kalbu bicara kayak gitu demi kebaikan ibu."
"Ibu, selalu memahami setiap peringatan kamu itu! Tapi, ibu melakukan ini demi kamu, demi kehidupan kamu. Lagian pekerjaan ini halal, meski terlalu lelah."
"Mungkin inilah saatnya aku menyerah saja, aku tidak akan mengatakan itu lagi. " ujar ku.
Ibu mengambil tanganku sambil berkata, " Nak, saat kecil ibu selalu memperingati mu ketika kamu melakukan kesalahan. Tapi, setelah kamu dewasa---kamu juga berhak untuk memperingati ibu, ketika ibu melakukan kesalahan. Jadi, pertanyaan ibu. Apakah ibu telah melakukan kesalahan, sampai ibu harus menuruti kamu?"
"Aku mengerti, ibu tidak pernah melakukan kesalahan. Kalbu tidak bermaksud ibu harus menuruti perkataan Kalbu, Kalbu hanya tidak tega melihat ibu. Kalbu berkata hanya demi kesehatan ibu saja. "
"Ibu memahaminya, yasudah! Sebaiknya segera selesaikan saja, "
"Baik, bu!"
Pembicaraan kamipun berhenti di sini, aku langsung melanjutkan untuk mengoleskan salep di kaki ibu dengan merata.
...🥀...
Ketika kecil orang tua yang memperingati anaknya, tapi setelah dewasa anak berhak untuk memperingati orangtuanya ketika kebenaran sudah hilang dalam dirinya.
Kaki ibu semakin memutih dan memerah, kulitnya sedikit terbuka hingga menyebabkan rasa perih itu terjadi. Ibu begitu banyak menahan rasa sakit selama ini, rasanya diriku ingin segera melihat ibu bahagia dan tidak pernah menahan rasa sakit lagi.
Mengambil pasir ini adalah pekerjaan yang hanya ibu harapkan, karena warga di kampung ini banyak yang tidak menyukai keluargaku. Jadi, untuk mendapatkan pekerjaan baru itu minim sekali bisa mendapatkannya.
Sekarang aku sudah tidak bisa lagi menjual keripik singkong milik tetangga, karena ibu melarang diriku. Aku paling tidak bisa melawan apa yang sudah ibu putuskan, bila aku tak menurutinya ibu akan berdiam tanpa berkata kepada diriku. Aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin ibu menghentikan pembicaraannya pada diriku meski sesaat.
__ADS_1
Karena aku sangat menyukai ibu ketika---ibu berbicara tiada hentinya, ibu itu orang yang sedikit cerewet tapi memberi kebenaran. Meski sering banyak bicara, tapi setiap perkataannya itu mampu menenangkan hati.