
"Tidak, aku tidak ingin kamu melakukannya!"
"Kenapa Kalbu? Mana tega aku melihatmu seperti ini, aku mohon kamu jangan pernah menghalangi aku untuk mengumpulkan semua bukti. Saat semua bukti ini terkumpul, setidaknya aku bisa mengurangi semua beban dalam dirimu."
"Tapi aku tidak ingin kamu terkena masalah, aku tidak ingin kamu terluka karna membela diriku. Sudah cukup kamu membantuku saat masalahku dengan Resa."
Mahesa terus saja memaksa untuk menolongku kembali, dia sudah terlalu banyak membantu diriku. Sehingga aku merasa bahwa aku sudah terlalu banyak harus membalas budi pada dirinya, sedangkan aku belum mampu untuk itu. Dia benar-benar pria yang keras kepala, dia terlalu baik sampai aku sendiripun tak bisa berkutik sedikitpun. Di tambah ibu terus saja mendukung Mahesa, itu sudah membuktikan ketidakberdayaan ku saat di depan mereka.
"Ibu, sangat berterimakasih kamu sudah mau membantu kami."
"Ibu, jangan pernah sungkan! Aku ikhlas melakukan ini semua. Tapi, saat kita ingin melakukan ini semua---kita harus punya rencana terlebih dahulu. Sekarang aku sedang menunggu dukungan dari kamu Kalbu!"
"Baiklah, kalau memang kamu mau membantu aku---aku akan menerimanya dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Aku akan ikut serta dalam rencana-mu, sebab pria itu hanya akan mengincar diriku saja, maka dari itu aku yang akan memberikan rencana untuk kamu."
"Kalau memang kamu sudah memiliki rencana, baik aku akan mendukung rencana kamu."
"Besok aku akan kabari kamu, " ujar ku.
🥀
__ADS_1
"Assalamualaikum, Kalbu!"
"Wa'alaikumsalam, siapa sih pagi-pagi gini datang ke rumahku?" tanyaku heran.
Hari libur telah tiba, Mahesa kembali datang ke rumahku---ia menagih janji yang aku buat, bila aku akan memberitahukan sebuah rencana untuk menjebak pria mata keranjang itu. Masalah ini tidak ada yang mengetahui lagi kecuali Mahesa, aku tidak ingin semakin banyak orang yang tau masalah aku, maka akan semakin banyak pula rasa iba yang di tunjukkan pada diriku ini.
Krek!
"Mahesa, kenapa kamu kemari sepagi ini?"
"Ya... Aku kemari mau minta janji kamu, sudah ah aku mau langsung masuk saja." tanpa sungkan lagi Mahesa langsung memasuki rumahku.
"Ibu, " Mahesa langsung mencium tangan ibu.
"Mahesa, tumben datang sepagi ini!"
"Tentu masih ingat dong,"
"Syukurlah.. " katanya, " Oh iya, bu! Tadi pas aku datang ke rumah ibu, masa Kalbu langsung memberiku pertanyaan. Kan itu tidak sopan sekali, bahkan anehnya lagi dia itu tidak pernah mengingat masa kecil aku, ingatan dia memang payah sekali!!"
"Terus saja kamu jelek-jelekan aku di depan ibu, lagian siapa yang melupakan masa kecil kamu yang cengeng itu, tenang saja aku masih mengingat segalanya tentang dirimu."
"Wah... Bagus, dong! kalau kamu masih mengingat segala tentang diriku. Ya, meskipun masa kecilku itu tidak terlalu menyenangkan untuk diriku."
__ADS_1
"Kenapa? tapi menurutku itu sangat-sangat menyenangkan, tau.... "
"Masa, sangat menyenangkan?"
"Iya, karena adanya kamu dalam cerita masa kecilku, jadi sangat menyenangkan."
"Jangan bikin baper aku, Kalbu!"
"Hahaha.... Kamu baper sama aku, ibu lihat pria ini! Pria ini baper sama aku."
Ibuku tersenyum, " Kalbu, jangan ledek Mahesa! kasihan dia."
"Biarin, aku senang." ujar ku.
Aku sangat senang menganggu Mahesa, sekarang perubahan dalam diri Mahesa begitu banyak. Dia sekarang sudah menjadi pria yang dewasa, mandiri dan bertanggung jawab. Sifat cengeng nya sudah hilang dalam dirinya.
Pria itu juga selalu membuat aku tertawa dengan tingkahnya, tingkahnya yang konyol, selalu melakukan keinginannya. Dia juga kadang sangat menyebalkan, karena dia selalu ikut campur masalah kehidupanku. Meskipun aku tau kalau niatnya baik, tapi dia selalu membuat aku merasa tidak enak. Aku merasa bahwa tidak semuanya dia harus ikut campur, dia juga pasti punya masalahnya sendiri.
"Mahesa, aku selalu berharap kalau kamu jangan terlalu sering membantu masalahku! Aku merasa tidak enak, dan kamu juga pasti memiliki masalah. Kenapa kamu tidak urus masalah kamu saja?"
"Kal, tenang saja! Aku melakukan ini semua itu ikhlas, dan kamu tidak perlu mencemaskan masalahku. InsyaAllah aku bisa menghadapinya seorang diri. "
"Kenapa kamu kerasa kepala, sih? Kamu selalu saja membuat aku merasa tidak enak."
__ADS_1
"Udah, sih! Enakin aja, lagian aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Hanya saja diriku ini yang terlalu bandel, terus ingin membantu dirimu." ujar Mahesa.
Apapun yang aku katakan dia selalu menghiraukan, dia selalu bisa meyakinkan diriku, dia juga selalu bisa meredakan kemarahan ku. Mungkin memang dia adalah pria yang Allah kirim untuk membantu masalahku, untuk mengurangi masalahku. Aku selalu berdoa agar kelak aku pun juga bisa membantu masalah dirinya, biasanya orang yang sering membantu masalah orang lain. Dialah orang yang sudah tidak memperdulikan masalahnya sendiri, Mahesa sangat baik.