
"Ok, Kalbu! Jangan dengarkan perkataan mereka, kamu tidak boleh terpancing dengan pembicaraan mereka. Anggap saja mereka angin yang sedang mengerjakan tugasnya, setelah pekerjaannya selesai angin itu akan segara pergi."
"SEMANGAT, KALBU!"
"KAMU HARUS BISA MELEWATINYA!"
"ALLAH SELALU BERSAMA KAMU, "
Aku-pun kembali mempercepat langkah kakiku, karena jam sudah menunjukan pukul 06:30. Untuk melihat waktu aku hanya bermodalkan jam tangan yang sudah hampir rusak ini, jam ini adalah kado terindah dari ibuku saat ulang tahunku yang ke 16 tahun. Dan kini umurku sudah 18 tahun, umur yang terus berkurang dan waktu yang terus bertambah.
07:00 tibalah aku di sekolah dengan nafas yang terengah-engah. Dafa yang melihatku sangat kelelahan dia langsung memberiku minum, aku sempat menolaknya namun dia memaksaku.
"Nih... untukmu!" Dafa menyodorkan air mineral tepat di hadapanku.
"Tidak perlu, aku sudah minum tadi." tolak ku halus.
"Sudah, jangan berbohong! aku tau kalau kamu belum minum. Sekali lagi jangan tolak aku, " dia membuka tutup botolnya, kemudian memberikannya padaku, "Jangan sampai kamu itu kekurangan ion, nanti yang ada tubuh kamu akan semakin lemas. Kamu itu harus minum air putih yang banyak, aku tau kalau kamu pasti berjalan kaki dari rumahmu. "
"Ternyata kamu lebih bawel dari ibuku, " aku mengambil minuman yang di berikan Dafa. Di saat aku minum Dafa terus saja memperhatikanku.
"Katanya tidak haus, tapi habis satu botol air." ledek nya.
"Aku beneran tidak haus, hanya saja tenggorokanku kering." candaku sedikit.
"Bisa saja kamu, Kal!"
"Tapi.. Aku mau ngucapin terimakasih sama kamu, kamu sudah memberiku air dan meminjamkan buku catatan kamu. Dan sekarang aku akan mengembalikan buku catatan kamu."
Aku membuka tas ransel ku dan mengambil buku catatan Dafa.
__ADS_1
"Nih, makasih sekali lagi! Berkat kamu aku tidak ketinggalan pelajaran. "
"Sama-sama," jawabnya, " Kal!"
"Iya, ada apa Dafa?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
"Sesuatu apa?"
"Kalau aku nyesel baru mengenal kamu, sejujurnya dari dulu aku ingin banget bisa akrab sama kamu. Hanya saja gengsi-ku terlalu tinggi."
"Iya, aku tau kok!"
"Jadi kamu tau, dari siapa?"
"Iyalah aku tau dari diriku sendiri, kalau kamu itu orangnya gengsian. Mana ada orang kayak kamu berteman denganku, aku kan miskin dan kumuh." kataku.
"Ya Allah, Dafa! Mana mungkin aku akan menolak orang yang mau berteman denganku. Kamu ini ada-ada saja."
"Hihi... kan, bisa saja kamu akan menolakku!"
"Tidak akan mungkin, aku akan berteman dengan siapa saja. Asalkan dia mau menerima segala kondisiku, segala kekuranganku." aku sedikit memperjelas kan keadaanku pada Dafa.
"Aku siap menerima segala kekurangan kamu, karna tidak hanya kamu saja yang memiliki kekurangan. Akupun juga memiliki kekurangan, bahkan semua orang yang ada di muka bumi ini memiliki kekurangan juga. "
Tidak sadar kami terlalu banyak bicara, sampai aku tidak menyadari ketiga temanku sudah tiba di belakangku.
"Sudah ngobrolnya!" tegur Mahesa.
__ADS_1
"Mahesa? sejak kapan kamu tiba?"
"Sejak berabad-abad, " jawabnya dengan menyebalkan.
Sambung Laela, " Mangkanya kalau ngobrol itu jangan terlalu fokus, jadi hilang kesadaran-kan."
"Laela, Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sadar. Habisnya kalian tidak menegur aku sih, saat kalian semua masuk kedalam kelas."
"Bagaimana mau menegur-mu? Pandangan kamu saja hanya sama Dafa."
"Maaf, karna aku---Kalbu jadi hilang fokus." ujar Dafa.
"Sudah... ih, kalian ini kok malah berantem, ini itu hanya hal sepele saja." Maryam menjadi penengah ku.
"Tuh... Hal sepele!"
"Iya, maaf!" ujar Laela.
"Apaan sih, kayak anak kecil saja! Dalam persahabatan tidak perlu ada kata maaf, karna tanpa kamu mengatakan itu pun aku pasti sudah memaafkan kamu." ujar ku.
"Tapi, aku sudah melakukan kesalahan sama kamu."
"Laela, menurutku itu bukanlah sebuah kesalahan. Itu hanyalah untaian kata saja, jadi kamu tidak perlu cemas dan merasa bersalah gitu, ih! Aku tidak menyukai itu. "
Aku kurang menyukai ketika teman-teman ku terus meminta maaf pada diriku, walaupun aku tau kadang maaf itu di perlukan, tapi dalam persahabatan maaf adalah mereka yang sudah melakukan kesalahan yang cukup besar. Karena bagi diriku sendiri, sekalipun mereka tidak meminta maaf pada diriku. aku akan selalu memaafkannya.
Aku dan kedua sahabatku, selalu berusaha menjaga persahabatan kami. Kami berusaha agar persahabatan kami tetap utuh selamanya, sekalipun kami sudah lulus sekolah---kami akan tetap saling mengabari satu sama lain, itu adalah kunci agar kami bisa selalu bersama.
Maryam dan Laela, mereka adalah kedua sahabatku yang paling aku sayangi. Mereka berdua selalu ada dalam sukaku dan dalam dukaku, mereka juga selalu ada untuk mengusap air mataku. Mereka tidak hanya sahabatku, tapi mereka juga adalah keluargaku.
__ADS_1
...🥀...