
...Aku tidak khawatir jika harus di benci oleh manusia, yang aku khawatirkan ketika aku di benci oleh Tuhanku sendiri. ...
...🥀...
Kini tinggal jejak kedukaan yang mereka berikan kepadaku dan ibuku, mereka yang sudah mencaci ku habis-habisan, mereka pula yang tidak mau mendengar setiap kebenaran. Aku rela mati di atas kebenaran dari pada aku harus mati di atas penderitaan orang lain dan di atas kebencian orang lain.
Mereka telah tertipu akan perkataan seseorang yang melebihkan tentang diriku, entah siapa mereka yang telah berani menghancurkan segala kehormatan-ku di mata semua orang. Mungkin saja orang itu sangat membenciku, sehingga mereka telah tertipu oleh seseorang yang sudah menceritakan sebuah kisah menyedihkan ini untuk kehidupanku.
Tidak ada sebuah kisah yang menyedihkan yang Tuhan tuliskan, pada kenyataannya sebuah kisah menyedihkan itu tertulis dari tangan manusia itu sendiri. Saat keyakinan ku masih ada dalam jiwaku untuk mengubah kisah ini, maka aku masih percaya pada diriku sendiri untuk memperbaiki segala kisah ini, bukan berarti aku akan mengubah alur yang sudah di garis-kan untukku dan ibuku. Aku hanya ingin merubah kisahnya, aku juga ingin merubah nasibku.
Hidup di dunia ini tidak lah mudah laksana dunia khayalan, yang bebas memikirkan hal yang kita mau dengan mudah. Tapi ini adalah dunia nyata, kita harus hidup dengan perjuangan juga pengorbanan untuk menggapai sesuatu yang selama ini kita harapkan.
Menghadapi dunia layaknya perahu yang sedang terombang-ambing di tengah lautan, yang masih belum mengetahui nasibnya akan seperti apa, akankah tenggelam dari ombak yang dahsyat atau terbebas dari amukan ombak itu----semua hanya Tuhan yang tau, hidup ini adalah rahasia---tidak bisa kita tebak ataupun kita sangka-sangka, hidup ini adalah tujuan---sebuah tujuan yang akan kita pilih entah itu baik ataupun buruk. Tanpa tujuan kita tidak akan pernah tau akan singgah dimana, tanpa ada tujuan hidup kita akan terlihat bimbang dan sangat membingungkan. Maka dari itu jadikanlah hidup ini sebuah tujuan bukan sekedar pilihan, agar kita tau mana tempat yang akan di tuju dan akan memberikan kita sebuah kebaikan juga kedamaian.
"Nak!" Ibu memegang pundak-ku.
"I... Iya, bu!"
"Kenapa sedari tadi ibu perhatikan kamu terus melamun saja?" tanya ibuku heran.
"Aku masih kepikiran kejadian tadi pagi bu, kenapa masih ada orang yang melebihkan kisah-ku ini? Kenapa pula mereka begitu mudahnya percaya pada dia yang berbicara tidak sesuai dengan fakta? Sekejam itukah mereka padaku, bu?"
"AstagfiraAllah, kamu tidak boleh berkata bahwa mereka kejam, " Ibu memarahiku, sepertinya aku salah bertanya dan berbicara, " Nak, namanya hidup pasti seperti ini, tidak semuanya bunga menebarkan keharuman, tidak semua manusia pula menebarkan kebaikan. Jadi, kamu harus bisa memaafkan mereka sekalipun kamu benar. Ibu yakin, suatu saat nanti mereka akan menyesali perbuatan mereka kepadamu, dan ibu juga yakin mereka yang membencimu akan segera meminta maaf padamu. "
"Lalu sampai kapan kesabaran ini aku tahan bu?"
"Sampai kapanpun kesabaran itu harus kamu miliki, sebab dari kesabaran itu kita bisa belajar dan mengenal artinya tegar. Kamu harus bangga dengan diri kamu sendiri, karena rasa sabar itu kamu bisa menahan amarah kamu. Dan kamu juga harus tau, karena kesabaran itu juga kamu bisa lebih dekat dengan Allah."
Pelukku, aku tidak bisa berkata apapun---mulutku langsung terkunci tak bisa berkutik ketika ibu mulai berkata mengeluarkan jurus hokage-nya.
"Dari pada kamu melamun terus, mending kamu ikut ibu mengambil pasir, " rayuan maut ibuku.
__ADS_1
"Ayo!" tanpa pikir panjang lagi, aku mengiyakan ajakan ibu.
"Ok, ibu akan ambil peralatannya di dapur, "
Usai salat Dzuhur kami berniat untuk pergi ke sungai, ibu sengaja mengajakku bersamanya agar aku tidak terlalu dilema memikirkan kejadian tadi pagi. Mungkin jika aku pergi ke sana, rasa sedihku akan hanyut bersama sungai yang mengalir perlahan. Sesudahnya aku membuka pintu---aku di kejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Kalian! Ngapain kalian kemari?" tanyaku pada mereka.
"Sebelum kamu memberikan pertanyaan, ijinkan kami mengucapkan salam terlebih dahulu. "
"Assalamualaikum, sahabatku"
"Wa'alaikumsalam" haruku, mereka adalah Maryam dan Laela, aku tidak pernah menyangka jika mereka akan datang menemui-ku setelah beberapa hari ini kami tidak bercengkrama. Mungkin baru saja mereka ingin mengetuk pintu rumahku, aku sudah keluar terlebih dahulu dan melihat mereka sudah ada di depan rumahku yang sederhana ini.
Ada sebuah ke ganjalan di wajah mereka, aku tidak tau ke ganjalan apa yang ingin sekali mereka katakan, aku tidak ingin terlalu menebak begitu saja, karena aku khawatir jika tebakan aku itu hanyalah sebuah harapan yang semu.
"Sebenarnya kalian sedang menyembunyikan apa?" tanyaku dalam hati.
"AstagfiraAllah, maafkan aku! Ayo masuk!" suruh ku, ibu yang melihatku menggelengkan kepala.
"Kamu ini, nak! Sampe lupa gitu enggak nyuruh temanmu masuk." sambung ibuku.
"Eh... Ibu sehat?" Laela dan Maryam langsung mencium tangan ibuku.
"Alhamdulillah ibu sehat, kalian kumaha damang?"
"Alhamdulillah, damang, " jawab keduanya dengan kompak.
Aku menyuruh mereka duduk di tikar, sedangkan aku pergi ke dapur untuk mengambilkan minum. Dan pada akhirnya aku dan ibu tidak jadi pergi ke sungai, kami tidak mungkin meninggalkan tamu di rumah kami.
"Maaf ya, aku hanya bisa memberikan air putih,"
__ADS_1
"Kamu ini Kalbu, seperti sama siapa saja, "
Aku hanya tersenyum setelah mereka mengatakan itu, kami perlahan saling berbicara, saling menghibur diri masing-masing. Kami melepas rindu, dan pada akhirnya pembicara kepada intinya telah tiba.
"Kal, sebenarnya kami datang kemari ingin mengatakan sesuatu, "
"Sesuatu? Apakah itu? Sudah ku duga sejak awal kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku. "
"Kamu memang cerdik, sudah bisa menebak apa yang kami pikirkan. " ujar Laela.
"Aku serius, Laela!"
"Baiklah, kami juga serius kalian ini. "
"Yasudah, apa yang ingin kalian katakan padaku? Aku harap apa yang akan kalian katakan itu baik. "
Situasi di rumahku semakin mencekam, bagaikan film horor yang sudah tayang di televisi. Aku benar-benar begitu berlebihan, saat menghadapi kedua sahabatku yang semakin saja memasang wajah serius.
Laela mengejutkan ku, " Woy, ngelamun bae! Bae-bae ke sambet. "
"Ih, kamu Laela! Ngagetin aja. "
"Habisnya, ari kamu teh melamun saja. " ujar Maryam, " Kenapa sih kamu? Tenang aja sih padahal mah, tidak perlu pasang wajah yang menegangkan seperti itu. " Maryam mendekati wajahnya ke wajahku.
Aku memalingkan, " Maryam, aku seperti ini karna kalian, aku khawatir kalian akan membawa berita buruk tentangku. "
Hahahaha.....
"Kok, kalian berdua malah tertawa sih!"cemberut ku.
" Habisnya, kalian lama sekali mengatakan apa yang ingin kalian katakan padaku. Jadinya, aku semakin--- dag dig dug jer... "
__ADS_1
Maryam mengacak rambutku seraya meledekku, " Anak bungsu kita degdegan, toh!"