Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
14. Hanya sebatas mendengar


__ADS_3

...Sebuah ilusi kebencian telah menghancurkan sebuah kenyataan seseorang, sebuah ilusi kebencian hanya akan mendatangkan sebuah mala petaka pada orang lain dan pada dirinya sendiri. ...


... 🥀...


Dalam kesunyian malam aku menatap seragam putih abu-abuku yang tergantung di dinding kamarku yang sederhana. Dengan luka yang terus membekas karena sebuah fitnahan kejam yang di lontarkan pada diriku, aku benar-benar tidak habis pikir pada mereka yang terus menganggu diriku, yang terus menjatuhkan nama baikku di depan semua orang.


Sebuah percobaan terus aku lakukan agar hatiku tetap utuh teguh, kuat dan sabar ketika menghadapi mereka yang kejam. Kata yang selalu terngiang di telingaku, saat ibu mengatakan, " Ketika fitnahan itu jatuh pada dirimu, maka fitnahan itu juga jatuh pada diri ibu. " Kata itu yang sesekali membuat aku sedih, kata yang sesekali membuat diriku bersalah. Karena diri ini ibu merasakan sebuah fitnahan itu yang seharusnya hanya untukku, akan tetapi itu juga jatuh pada ibuku.


"Aku yang selalu menjaga nama baik keluarga, aku pula yang menghancurkannya, aku memang anak yang sering mengundang kebencian pada orang lain."


Kata itulah yang sedang aku hindari, sebab bila aku melontarkannya, maka aku sudah kalah dari mereka yang membenciku, aku sudah kalah dalam keadaan ku, aku juga sudah kalah melawan nafsuku, jika itu terjadi maka diri ini akan semakin terpuruk dan terpuruk.


Dalam kondisi seperti ini aku jadi teringat pada Laela dan Maryam, aku sangat merindukan tentang mereka, rindu bercerita pada mereka, rindu genggaman mereka, rindu tawa dan senyuman mereka, pokoknya aku sangat merindukan mereka.


Rasanya aku ingin sekali berjumpa dengan mereka, biasanya saat aku sedih seperti mereka akan selalu datang ke rumahku bukan sekedar bertamu melainkan untuk memberiku semangat.


"Apa kabar kalian? Aku sangat merindukan kalian, sudah mau hampir tiga hari kita tidak berjumpa Laela, Maryam, "


Arah jarum jam terus berputar, mata aku masih saja belum terpejam, suara ibu tidak terdengar menandakan ibu sudah tertidur. Pikiranku sedang berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan, kapan aku bisa kembali sekolah? Rasanya menunggu satu minggu begitu lama, aku semakin tidak sabar ingin segera mengenakan seragam, mendengar materi yang akan di berikan oleh guru.


"Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Aku bingung dengan kondisiku yang sekarang ini, "


Kebingungan terus saja datang dalam pikiranku, aku bingung harus bagaimana lagi mencari cara agar semuanya cepat pulih membaik, agar semua fitnah ini segera musnah dari kehidupanku. Mungkin di sana Resa sedang tertawa melihatku semakin sengsara, apalagi setelah kejadian tadi pagi, meskipun ada bukti aku yakin kalau Resa masih belum merasa resah. Karena aku sangat tau dirinya, dia tidak akan merasa resah jika video itu belum di tunjukan ke semua guru, sebab dia masih belum tau bahwa pria yang sudah menolongku akan sekolah di tempat yang sama.


Bila berbicara tentang pria itu, entah kenapa hatiku seakan sudah mengenal dirinya berabad-abad.


"SIAPAKAH PRIA BAIK HATI ITU?"


"MENGAPA HATI INI TERUS MEMIKIRKANNYA?"


"KENAPA KETIKA DIA MENDENGAR NAMAKU, SEPERTI TAK ASING DI TELINGANYA?"


"AKU JADI PENASARAN DENGANNYA!"

__ADS_1


...🥀...


Sekitar pukul 06:00 pagi, rumahku sudah kedatangan tamu dengan wajah memerah karna marah, dengan mata memerah karna kesal, dengan tangan gemetar seperti ingin menamparku. Aku tidak tau kenapa dia bisa seperti itu? Kenapa dia begitu marah padaku? Dia adalah seorang ibu yang berumur 30 tahun, dia datang ke rumahku bersama putrinya yang sepantaran denganku.


Tok tok tok


Ketukan pintu yang sangat keras tanpa salam terucap dari mulut mereka, begitu pula bibir mereka tidak terlihat sedikitpun senyum.


"Kalbu, buka pintunya!" teriakannya begitu keras.


"Ibu, siapa mereka? Kenapa mereka berteriak?"tanyaku heran.


"Coba kita keluar dulu, nak!"


Krek


Ibu membuka pintu, setelah membuka pintu wanita itu langsung membentak ibuku.


"Sabar dulu, kenapa kalian panggil anakku dengan nada keras seperti itu?"


"Terserah saya dong, situ tidak bisa melarang saya mau berbicara dengan nada tinggi. "


Keributan semakin brutal, dia terus membentak ibuku yang masih belum tau urusan mereka datang ke rumahku. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar, gara-gara keributan ini semua tetangga keluar dan mendengarkan apa yang kami bicarakan.


"Stop! Ibu jangan membentak ibu ku lagi."


Tiba-tiba anak dari ibu itu, " Mak, itu dia gadis perusak hubungan mama sama bapak. "


"Apa maksud kamu?" tanyaku.


"Alah, kamu tuh jangan pura-pura polos!" tegas gadis yang seumuran aku.


"Aku benar-benar tidak paham maksud kamu,"bingung ku.

__ADS_1


" Kamu tuh udah rebut suami mamaku, gara-gara kamu mereka ribut. Jadi orang itu harus pinter jaga kehormatan, jangan murahan kayak gitu dong, bisanya jadi penggoda pria kaya aja. "


Aku mulai paham dengan perkataannya, ternyata mereka adalah keluarga pria brengsek itu. Pria yang sudah menghancurkan perlahan kehidupanku, pria yang hobinya menggoda wanita lain.


"Kamu, kalau ngomong di jaga! Aku tidak pernah menggoda bapakmu yang mata keranjang itu. "


"Eh... Anak kecil, jangan sembarangan mengatakan itu pada suami saya!" sambung ibu itu.


"Sumpah demi Allah, aku tidak pernah menggoda suami ibu, yang ada suami ibu yang menggoda saya."


"Alah.. " ujarnya seraya menarik tangan aku.


"Jangan tarik putri saya!" teriak ibuku dengan lantang.


"Kenapa? Mangkanya anda kalau didik anak itu yang bener, biar enggak jadi anak murahan seperti ini. "


Ibuku sesekali menahan marah, " Anda, jangan pernah hina anak saya dengan kata-kata itu, anak saya tidak murahan. "


"Haha.. " tawa kesal di berikan ibu itu, " Ibu mana yang tidak akan menyembunyikan aib putrinya, semua ibu pasti akan mengatakan itu. Tapi anda tidak bisa menyembunyikan itu dari kami. "


Tetesan air mata mulai jatuh, tak bisa ku bendung lagi dari mataku, semua orang sudah percaya kalau aku ini wanita murahan. Semua orang mulai membenciku, semua orang mulai menjauhi keluargaku, dan semua orang mulai menghujat-ku dengan kata-katanya yang paling kasar, dengan kata-katanya yang sangat menyakiti hatiku.


Setelah ibu dan putrinya puas menghinaku, puas memarahiku tanpa adanya penjelasan dari aku, mereka mulai pergi dari rumahku dengan meninggalkan jejak luka dan penghinaan terhadap keluargaku. Saat kepergian mereka ibu terus memelukku dengan sangat erat, kami berdua menangis bersama.


Ibu mengelus punggungku, " Yang sabar nak, ini adalah ujian yang Allah berikan pada kita."


"Aku sedih, bu! Kenapa mereka sangat membenciku? Padahal aku tidak salah, dan kenapa mereka mudah percaya sama orang lain? Padahal aku tidak melakukan hal yang membuat kehormatan-ku hilang, kenapa bisa mereka begitu merendahkan-ku? Kenapa bu?"


Mereka hanya sebatas mendengar saja tanpa mengetahui kenyataannya, mereka yang memfitnah ku telah di buta kan api kebencian yang tiada habisnya. Kadang kala mendengar saja bisa memberikan sebuah kehancuran, bisa membuat kepercayaan itu sendiri hancur.


...🥀...


...Mendengar tanpa mencari tau buktinya, sama saja seperti menggenggam pasir yang perlahan jatuh melalui sela jari. ...

__ADS_1


__ADS_2