Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
28. Tertunda


__ADS_3

Entah kenapa? Suasana malam ini begitu gelisah, hatiku begitu tidak karuan. Rasanya hatiku ingin menangisi sesuatu yang masih belum tau, apakah itu?


"Mengapa aku begitu gelisah? Semoga kegelisahan yang aku alami ini, hanya sekedar perasaan yang lewat sesaat."


Untuk menghilangkan rasa gelisah ku ini, aku harus mengambil wudhu dan melaksanakan salat Isya. Tadinya, aku akan membangunkan ibu dari tidurnya. Akan tetapi aku merasa tidak tega membangunkannya.


Akhirnya aku memutuskan untuk salat seorang diri, tidak membutuhkan waktu lama untuk ku salat. Ketika salam terakhirku, aku mendengar suara ibu yang sedang batuk.


Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...


Tiga kali suara itu ibu berikan, aku pun langsung pergi ke kamar ibu. Aku bergegas membuka mukena yang ada di tubuhku.


"Ibu, apa yang terjadi? Apakah ibu baik-baik saja?"


"Ibu, baik-baik saja, nak!" jawab ibuku sambil menahan rasa sakitnya. Saat aku menatap ibu, sepertinya ibu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Sepertinya ibu sedang berusaha agar aku tidak mengetahui akan hal yang ibu sembunyikan.


Namun..


Ibu telah salah menilai ku, semakin ibu bersi keras melakukan itu. Semakin bersi keras pula aku telah memahami karakter ibu yang sesungguhnya.


"Ibu, aku tau ibu sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


"Ibu, tidak menyembunyikan apa-apa darimu! Sudah, sana pergi tidur, ibu mengantuk." ujar ibu.


"Aku tidak akan meninggalkan ibu, aku akan tidur bersama ibu."


Tidak lama ibu kembali batuk lagi, dan batuk ibu telah mengeluarkan darah.


"Ibu, coba aku lihat tangan ibu!"


"Tidak, nak! Kamu jangan lihat. "


Aku meraih tangan ibu, " Sini, aku lihat!"


Aku berhasil melihat telapak tangan ibu, dan ternyata penglihatan aku tidak salah. Ibu telah menyembunyikan sakitnya yang begitu besar ini.


"Ibu, kenapa menyembunyikan hal besar seperti ini dari aku? Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit. "


"Ibu tidak akan pergi ke rumah sakit!" tegas ibuku.


"Tidak, ibu harus pergi ke rumah sakit. Aku akan bawa ibu!" tegas ku pada ibu.

__ADS_1


Aku pergi ke kamar untuk mengganti baju, aku tidak ingin keluar menggunakan baju pendek. Apalagi hari semakin malam, pukul sudah menunjukan 20:57 malam.


"Ibu, ayo kita pergi!" ajak ku, "Ibu jangan tolak aku, kalau ibu ingin lihat aku bahagia---ibu harus sembuh dan sehat."


"Tapi... Ibu, tidak ingin pergi ke rumah sakit. "


Aku memasang wajah sedih, dan pasrah, " Ibu, Kalbu mohon! Sekali saja ibu turuti kemauan Kalbu, katanya ibu suka mengambil pasir di sungai. Tapi, kenapa ibu tidak bisa menjaga kesehatan ibu? Kalau ibu saja tidak bisa melakukan itu, Kalbu terpaksa harus menghentikan ibu agar tidak mengambil pasir lagi ke sungai. "


"Baiklah, ibu akan pergi ke rumah sakit! Tapi... Apakah kita ada uang?"


"Kalau masalah itu, ibu tenang saja! Aku ada uang."


"Uang itu kan...?"


Aku memotong perkataan ibu, " Sudah, ibu jangan pikirkan! Yang penting ibu sehat, Kalbu udah senang. Kalau urusan itu, tenang saja!"


Aku mengambil jaket yang tebal di dalam lemari ibu, agar jaket itu bisa menghangatkan tubuh ibu yang sedang menggigil. Kami pergi menggunakan sepeda ontel kami, mirisnya setelah kami ingin menjalankan sepeda ontel nya. Sepedaku mengalami kerusakan pada bannya.


"Ya Allah, ban sepeda aku kempes bu! Bagaimana ini?"


"Sudah ibu katakan, jangan pergi-jangan pergi!"


Aku pergi dengan penuh keyakinan, aku mengetuk semua pintu tetangga di tengah malam. Beberapa tetangga ada yang marah karna kedatanganku di tengah malam, ada pula yang sangat ketus sampai mengeluarkan kata-kata kasarnya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Salah satu tetangga membuka pintu, ibu itu menjawab salam ku dengan ketus, " Wa'alaikumsalam, mau ngapain kamu kemari? Ganggu saja!"


"Maaf, bu! Saya mau minta ijin, agar bisa meminjam motor ibu. Untuk membawa ibu saya ke rumah sakit, apakah boleh?"


"Tidak, saya tidak akan meminjamkan motor saya sama orang miskin kayak kamu!" tegasnya.


"Bu, saya mohon! Bantu saya, dan ibu saya juga, " aku memohon dengan lirih pada ibu itu, tapi mohon ku tidak ibu itu terima.


"Saya, tegaskan lagi! Kalau saya tidak akan pernah pinjamkan kamu motor, lagian udah tau miskin, mau sosoan pergi ke rumah sakit besar!" dorong nya pada diriku, aku sampai terjatuh ke tanah.


"AstagfiraAllah,"


Ibu itu langsung pergi ke dalam, dan menutup pintunya dengan kencang. Sekarang aku sadar dan bisa belajar, dari semua kejadian malam ini. Aku belajar bahwa tidak semua manusia ingin menolong kita, tidak semua manusia baik pada kita, dan tidak semua manusia prihatin pada kita.

__ADS_1


Aku belajar dari ibu itu, aku belajar bahwa hidup membantu adalah sesuatu yang mengindahkan, dan hidup tanpa membantu adalah sesuatu yang tidak indah padahal dia mampu. Selagi kita mampu untuk menolong sesama, kita harus bisa membantunya. Terkecuali, kita memang tidak mampu sedikitpun membantu, setidaknya jangan pernah mengeluarkan kata kasar. Sehingga menyakiti orang yang meminta bantuan, itu adalah hal yang harus di hindari.


Aku kembali berjalan mencari orang yang memang ingin membantuku,


"Kepada siapa lagi aku meminta bantuan, Ya Allah tunjukanlah."


Tidak lama aku melihat satu rumah yang belum aku ketuk, yaitu rumah sederhana.


"Apakah aku harus pergi ke sana? Karna hanya rumah itu saja yang belum aku datangi. "


Aku memberanikan diri pergi ke rumah itu, jika aku tidak bergegas---ibu akan semakin parah sakitnya. Pasti sekarang ibu sedang menungguku di rumah dengan sebuah harapan, putrinya bisa menemukan pinjaman kendaraan.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Krek


Penghuni rumah itu membuka pintu dan menjawab salam ku dengan sangat ramah.


"Wa'alaikumsalam, Kalbu! Kenapa kamu malam-malam ke rumah, Udin?"


Udin lah namanya, teman masa kecilku dan yang sering membantu ibu membawa pasir.


"Din, aku mau minta bantuan kamu, "


"Bantuan apa?"


"Ibu aku sakit, sekarang harus di bawa ke rumah sakit. Tapi aku tidak punya kendaraan, karena ban sepedaku kempes, Apakah kamu mau pinjamkan gerobak kamu?"


Aku tau kalau Udin tidak memiliki motor ataupun sepeda, dia hanya memiliki gerobak yang sering dia gunakan untuk mengangkut pasir. Aku tidak punya pilihan lagi, selain gerobak itu untuk membawa tubuh ibu ke rumah sakit.


"Kamu yakin.... Akan membawa ibu kamu dengan itu?"


"Bagaimana lagi, aku harus bawa ibu ke rumah sakit."


"Yasudah, kamu pakai saja, dan aku akan ikut bersama kamu. Aku akan bantu kamu, membawa ibu kamu ke rumah sakit."


"Terimakasih, Din! Kamu sudah mau bantu aku,"


"Sama-sama, "

__ADS_1


__ADS_2