
Sudah hampir 3 tahun lebih aku kuliah, dan kini kesibukan terus saja datang dalam waktu juga hari-hariku. Hari-hariku di penuhi dengan tugas dan tugas dari kampus, bahkan setiap harinya aku terus bermain dengan buku, dengan laptop yang selama ini aku beli dari hasil kerja keras ku.
Tidak hanya itu saja, sekarang aku sedang berfokus untuk membuat skripsi ku yang harus selesai dalam waktu dekat ini. Untungnya aku mempunyai pembimbing yang baik dan pengertian, jadi aku harus bisa pandai membagi waktu ku antara bekerja, tapi tetap bisa menyelesaikan semua tugasku dengan baik.
Semenjak semua itu terjadi, sekarang aku sering bergadang, tidurku terus di jam yang tidak menentu. Makan yang sudah tidak beraturan, karena rasa capek yang membuatku malas.
"Kal, kenapa wajah kamu pucat sekali? Kamu sakit?" Dafa menghampiri dengan sebuah pertanyaan, saat itu aku sedang mencuci gelas kotor di dapur.
"Dafa, kamu! Ngapain kemari?"
"Aku sedang mengontrol semua karyawan ku, dan aku memperhatikan kamu sedari tadi sepertinya kamu sedang sakit. "
"Tidak, aku baik-baik saja, sudah sana pergi! Enggak enak di lihat karyawan lain. "
"Biarin, aku ini bos! Jadi bebas mau ngapain aja. "
"Jangan seperti itu, kita kan harus menjaga perasaan orang lain. "
Tidak lama salah satu karyawan memanggil Dafa.
"Pak Dafa!"
Dafa menoleh, " Iya, kenapa? Apakah ada masalah? "
"Tidak, Pak! Di luar ada yang mencari Bapak. "
"Siapa?"
"Saya juga tidak tau,"
Dafa pun pergi keluar, aku sedikit penasaran sebenarnya. Siapa yang sudah mencari Dafa? Tapi apalah daya, aku tidak berhak untuk mengikuti setiap langkahnya. Karena aku bukan siapa-siapa disini.
Dafa keluar dan menemui yang sudah mencari dirinya, baru saja dia keluar beberapa detik----dia langsung kembali menghampiri diriku dan menyuruhku untuk membersihkan tangan yang masih banyak busanya.
"Kal, sebaiknya kamu bersihkan tangan kamu! Aku mau ajak kamu keluar. "
Aku menolak, " Aku enggak mau, ah! Ngapain harus ikut kamu?"
Dafa menarik paksa lenganku yang masih ada sedikit bisa, saat kami berjalan aku terus memperhatikan genggaman yang di berikan Dafa. Entah kenapa hatiku berdegup kencang saat tangannya ada pada tanganku.
"Perasaan apakah ini? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada dia!" batinku.
...🥀...
__ADS_1
Mataku tidak bisa mengedipkan mata, mulutku antara harus mangap dan menutup. Semuanya hening, semuanya terus menatapku. Mereka yang berdiri tempat di depanku, aku tidak pernah menyangka bisa melihat sosok mereka lagi.
"Maryam, Laela!"
"Kalbu!"
Mereka adalah sahabatku, mereka datang bersama dengan yang lain. Ini seperti reuni yang sedang tidak di rencanakan, aku terharu sekaligus tidak pernah menyangka jika mereka datang ke kota ini.
Kami pun langsung duduk berbincang banyak tentang kehidupan kami yang berbeda alur ini. Mahesa, Jojo dan Komar pun datang.
"Kenapa kalian bisa kemari?" tanyaku.
"Hadeuh.... Ternyata kebiasaan kamu itu tidak pernah hilang, " kata Laela.
"Benar kamu, La! Setiap kali kita berjumpa selalu pertanyaan yang mengawali setiap kedatangan kamu. " kata Maryam.
"Tapi..... " Jojo memotong perkataan.
"Tapi apa Jo?" tanyaku.
"Kenapa kamu bisa ada di kedai milik Dafa?" tanya Jojo, tidak hanya Jojo mereka semuanya bertanya tentang hal yang sama.
"Iya, betul itu! Sedari tadi gue penasaran kenapa lo bisa disini? Gue mau tanya tapi malu. " kata Komar.
Sambung Mahesa, " Punya malu kamu? Biasanya juga malu-maluin."
"Sial... "
"Stop! Kalian mau jawabannya tidak, kenapa aku bisa bekerja disini?" tanyaku pada mereka.
"MAU, LAH!"
Aku pun menjelaskan semua tentang kehidupan aku disini, dari mulai yang menyenangkan, menyedihkan semuanya aku ceritakan tanpa aku sembunyikan lagi.
"Awalnya, aku juga tidak tau kalau kedai ini milik Dafa, yang aku tau hanya akan ada bos baru yang datang kemari. Dan ternyata bos barunya seorang Dafa. "
"Oh gitu, gue kira lo udah tau kalau pemilik kedai ini adalah dia, " kata Jojo.
"Enggaklah, aku juga sama awalnya tidak tau kalau Kalbu bakal kerja disini. "
Sambung Mahesa, "Wis, mulai sekarang kalian berdua bisa saling bertemu dong. "
"Iyalah, hampir setiap hari kita selalu bertemu, bahkan aku senang gangguan Kalbu. " kata Dafa.
__ADS_1
Aroma-aroma kecemburuan telah tercium dari Mahesa, karena aku sedikit paham soal rasa yang sedang di sembunyikan Mahesa kepadaku. Tapi untungnya aku bisa mengendalikan semuanya.
"Udah, ah! Jangan bahas ke mana-mana, mending kita bahas dan bercerita tentang alur kehidupan kita masing-masing. Dan aku tidak akan bertanya, kenapa kalian bisa ada di kota ini? Karena jawabannya aku sudah tau, kalau Dafa yang mengundang kalian semua kemari. "
Ada beberapa banyak cerita yang di awali dari mulut, dan ada beberapa cerita yang di awali oleh hati. Dan cerita dari setiap kehidupan kami ini akan di awali dengan hati, kami menceritakan apa yang sudah kami alami selama berpisah, dari mulai yang sedih dan bahagia. Karena kami disini tidak hanya melepas rindu semata, tapi kami juga disini sedang berbagi pengalaman satu sama lain.
Tawa dan candaan terus kami berikan, hampir semua yang melihat kami ikut serta tertawa. Dari mulai pelanggan, dari mulai semua karyawan disini.
...🥀...
Hari semakin sore, akhir perjumpaan mulai terlihat, saatnya kami kembali berpisah untuk beberapa waktu ke depan. Setelahnya, biarkan waktu yang memulai pertemuan kami lagi. Ketika yang lain sudah masuk mobil, Mahesa terus memandangi ku.
"Mahesa! Kenapa kamu terus berdiri dan memandangku? Sudah sana pergi!"
"Aku tidak akan pernah pergi, sebelum mataku mulai bosan melihatmu dan sebelum matamu menyuruhku untuk pergi. "
"Mahesa, ayo cepat sana! Nanti yang lain mulai marah sama kamu. "
Teriakan Komar, " Mahesa! Ayo cepatan pergi!"
"Bentar!" teriak lagi Mahesa.
"Cepat sana!"
Sambung Dafa, " Mungkin dia masih belum puas bertatap muka dengan kamu."
"Mungkin saja, "
"Mahesa, ayo pulang!" suruh ku lagi.
"Aku akan pulang, dan aku akan meninggalkan pesan untuk kamu. "
"Pesan apa? " tanyaku.
"Jangan lupa makan, badan kamu semakin kurus dan kering. Aku tidak tega melihat kamu sakit," kata Mahesa, " Daf! Aku titip Kalbu ya, jaga disini. "
"Siap,"
Meski sudah berjalan, Mahesa terus menatap kearah ku seakan-akan dia tidak ingin berpaling dariku.
Begitu singkat pertemuan kami, padahal rasa rindu ini semakin membeludak saat kepergian ini terjadi. Mereka harus kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Kal, ayo masuk! Jangan berdiri di luar aja, mending kamu bantuin aku bersih-bersih kedai ini. Karena semua karyawan sudah pulang.
__ADS_1
"Iya, aku pasti bantuin kamu! Ini kan sudah menjadi tanggung jawab aku, "
Semua karyawan sore ini pulang dengan cepat karena Dafa yang menyuruh, dia ingin menjaga perasaan semua karyawannya biar enggak ada kecemburuan saat aku mulai tidak bekerja.