Ketika Kalbu Bercerita

Ketika Kalbu Bercerita
16. Haru


__ADS_3

"Panggilan baru apa lagi ini?"


"Lebih baik panggilan bungsu, dari pada panggilan yang di buat Resa."


"Kalian datang kemari bukan untuk menggibah, kan?" tanyaku langsung.


"Ah... Kamu Kal, kayak yang tidak tau saja, dimana ada perkumpulan pasti pergibahan terjadi. " jawab Laela.


"Hahaha.. Ampun, aku sama kamu La!" ujar Maryam.


"Kita sudah terlalu banyak bicara, gimana sekarang kita langsung ke inti pembicaraan saja?"


"Aduh, maaf kami yang sulit mengontrol diri kalau udah berjumpa." ujar Maryam.


...🥀...


Maryam dan Laela menjelaskan semua yang ingin sekali mereka katakan, dari maksud mereka datang ke rumahku, semua itu tidak lain ada alasannya. Mereka datang ke rumahku hanya ingin untuk berbagi berita, sebuah berita yang membuat aku bahagia dan bersyukur.


"Laela, Maryam! Apakah benar yang di katakan kalian berdua? Kalian tidak bohong, kan?"


"Iya, kami tidak berbohong Kalbu! Memang benar, sekarang semua tuduhan itu terlepas dari kamu. Sekarang kamu bisa kembali sekolah lagi, " kata Maryam dengan wajah bahagia.


Aku sangat terharu ketika kabar yang mereka bawa adalah baik, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, bibirku sangat kaku.


"Apa? Kalbu bisa masuk sekolah lagi?" Ibuku langsung menghampiri kedua temanku, beliau sangat terkejut mendengarnya.


Tengok Laela, " Iya, bu! Besok Kalbu bisa masuk sekolah lagi, semuanya telah terbongkar. "


"Terbongkar?" tanya ibuku lagi pada kedua temanku.


"Iya, bu!" Laela beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri ibuku yang sedang berdiri, " Sekarang Resa dan teman-temannya yang di skor, dan Kalbu bisa kembali masuk sekolah lagi. Kemarin kan Kalbu sudah di fitnah sama mereka, masa ibu tidak tau? Oh, jangan-jangan Kalbu tidak cerita, parah kamu Kal!"


Jawabku, " Aku sudah menceritakan semuanya sama ibuku. Mungkin maksud ibuku itu, kenapa bisa terbongkar secepat ini?"


"Oh, itu! Aku kira kamu tidak menceritakan segalanya pada ibumu."


"Mana tahan aku menyembunyikan masalah ini dari ibuku, "


"Pastilah, kamu kan anak yang jujur." kata Laela.


Rasa penasaran yang terlihat dalam diri ibuku telah di tunjukkan, ibu sangat ingin bertanya siapa yang telah membongkar kejahatan Resa? Pertanyaan itu tidak hanya ada dalam diri ibuku, pertanyaan itu juga telah ada dalam diriku.


"Tapi... . Ibu masih penasaran, "

__ADS_1


"Penasaran kenapa bu?" tanya Maryam.


"Siapa yang telah membongkar semua ini? Pasti orang itu sangatlah baik, ibu jadi ingin berjumpa. "


Gumam ku, " Apa yang ingin aku tanyakan, telah di wakilkan ibuku. "


"Kalbu, apakah kamu mengatakan sesuatu?"tanya ibu.


" Tidak, bu!"


Ibuku terus saja mendesak agar mereka mengatakan siapa yang telah menolongku dari Resa.


" Maryam, Laela! Ayo, jawab pertanyaan ibu! Siapa yang telah menolong putri ibu yang malang ini?"


"Em..... "


"Kenapa Em? Bukan jawaban itu yang ingin ibu dengar, ibu hanya ingin berterimakasih saja sama dia,"Ibuku terus saja memaksa.


"Kami ingin jawab pertanyaan ibu, akan tetapi dia melarang kami untuk bercerita tentang dirinya, sebelum dia mengatakannya sendiri pada Kalbu." ujar Maryam.


"Kenapa harus padaku? Memangnya dia siapa?"


"Katanya, dia pernah bertemu denganmu di bawah pohon mangga di halaman sekolah. Apakah yang di katakan dia itu benar?" tanya Laela.


"Dia seorang pria, Kal! Apakah kamu mengenalinya?"


"Oh, sekarang aku mulai ingat siapa pria itu?"pikirku.


Kedua temanku langsung mendekatiku, dan terus bertanya begitu pula dengan ibuku.


"Siapa dia, nak?" tanya Ibuku.


"Jadi kamu tau siapa dia?" tanya Maryam.


Angguk ku, " Iya, aku tau!"


"Terus kamu tau tidak namanya? Kalau kita sih udah tau siapa dia, tapi sayangnya kita tidak boleh sebut namanya dulu. "


"Itu dia yang aku sesali---aku tidak tau siapa namanya, yang aku tau dia akan masuk ke sekolah kita. Dan ternyata memang benar omongannya, dia sudah sah menjadi murid baru SMA Nusantara. "


"Segitu misteriusnya dia, sampai merahasiakan namanya dari kamu."


"Entahlah..."

__ADS_1


Sambung ibuku, " Nama tidak begitu penting, yang penting itu kebaikannya, sebaiknya setalah kamu masuk sekolah besok, kamu harus berterimakasih sama pria itu--kemudian tanyakan deh namanya."


"Tapi, menurutku nama juga penting bu! Kalau misalnya dia tidak jadi murid baru, mungkin saja aku akan sulit mencarinya jika tanpa nama. "


"Ya ya.... Ibu selalu saja kalah sama kamu." ujar ibuku seraya tersenyum.


Saat semuanya sudah selesai di katakan, Maryam dan Laela pergi pamit.


"Sepertinya inilah saatnya kami pamit pulang, hari semakin sore."


"Sekali lagi aku ingin mengucapkan terimakasih ya, kalian sudah membawa berita baik untukku dan ibuku. "


"Iya, sama-sama."


Aku pun mengantarkan mereka sampai depan rumah, mereka terus menoleh kearah ku dengan wajah yang bahagia. Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan hari yang baik ini melalui perantaranya.


Lambaian tangan aku berikan, " Dah.... Sampai bertemu kembali!!"


Dibalik deritaku saat pagi sedikit terobati dengan kedatangan kedua temanku dengan di iringi sebuah berita yang penuh keharuan juga kebahagiaan.


"Tuhan memang benar-benar adil, selalu tau cara agar hambanya bahagia dan bersyukur. "


Kini perasaan sedihku perlahan merontokkan diri layaknya bunga yang sudah kering, seakan ingin mengabarkan bahwa kehidupan baru akan segera tiba.


...🥀...


...Di balik gugurnya bunga, pasti akan ada kuncup bunga yang baru tumbuh. Dan di balik sebuah kesedihan, pasti akan ada sebuah kebahagiaan tumbuh dalam kehidupan. ...


Tuhan selalu adil dalam menciptakan kebahagiaan, karena Tuhan tak akan pernah bisa membuat hambanya terus bersedih karna duka yang terus hadir. Namun untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan itu tidaklah mudah, kita harus berjuang terlebih dahulu dari kesedihan yang akan datang untuk mengembalikan kebahagiaan itu sendiri.


Dari setiap masalah yang terjadi dalam hidupku, aku bisa belajar darinya jika menjadi seorang penyabar dan lembut tidaklah mudah---seperti genangan air yang mudah surut ketika matahari sangat menyorot. Menjadi seorang penyabar layaknya pepohonan yang membutuhkan proses untuk tumbuh dengan baik sehingga menghasilkan buah yang baik pula.


"Kalbu, ibu senang akhirnya kamu kembali sekolah."


"Iya, bu! Kalbu juga senang, Allah telah kabulkan doa Kalbu. " Senyumku kemudian memeluk ibu.


Ibu mengelus punggungku sambil berkata, " Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini."


"InsyaAllah, bu! Kalbu akan menjaga kesempatan ini." senyumku dan melepaskan pelukan ibu. Rasanya aku sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman semuanya, rasanya juga aku tidak sabar mengenakan seragam putih abuku.


Aku membuka gorden kamarku, aku keluarkan baju seragam ku yang sudah berhari-hari di dalam lemari yang berwarna coklat itu.


"Akhirnya, kamu tidak terkurung lagi! Maafkan, atas kebodohan-ku." Aku peluk seragam ku dengan erat, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku Tuhan.

__ADS_1


"Aduh... Rasanya hatiku bahagia. "


__ADS_2