
Setelah melaksanakan salat Subuh, aku langsung membersihkan rumahku yang sangat berantakan seorang diri. Dari mulai mengepel, menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, pokoknya semua pekerjaan rumah tangga aku lakukan hari ini. Sekarang aku merasa sudah seperti perawan rumah tangga, bukan lagi ibu rumah tangga.
Semua kegiatan pagi ini cukup merepotkan aku, jam 07:00 pagi aku harus pergi kuliah, dan jam 02:00 siang aku harus pergi bekerja. Setelahnya aku harus merapihkan rumah, itu semua aku lakukan setiap harinya. Kadang jika belum sempat merapihkan, habis salat Subuh baru aku merapihkan rumah. Inilah resiko merantau, jauh dari siapapun, harus berjuang sendiri dan menghidupi diri sendiri pula.
Ini seperti permainan waktu, permainan waktu yang masih belum terlihat hasilnya. Aku percaya apapun hasil dari permainan waktu ini, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik.
"Selagi kepercayaan diriku masih ada dalam hati, aku pasti akan mampu meraih sebuah keberhasilan. "
Akhirnya pekerjaan rumah selesai, aku harus pergi mandi lagi. Karena keringat yang terus menempel di tubuhku yang di sebabkan oleh pekerjaan rumah. Aku mandi tidak butuh waktu yang cukup lama, hanya beberapa menit saja aku sudah selesai mandi. Seperti biasa, aku selalu menggunakan pakaian sederhana setiap kali pergi ke kampus.
Setiap kali aku pergi ke kampus, aku selalu menaiki angkutan umum yang berwarna merah, dan terdapat nomor 01 di belakang angkot itu. Di kampus aku baru mendapatkan teman satu, aku harap----aku bisa menemukan teman lagi, atau bahkan teman satu SMA yang sudah aku kenali. Siapapun itu aku akan menyambutnya dengan sangat gembira.
Dulu aku pernah meminta suatu harapan kepada Tuhan, agar Tuhan selalu menyertai hidupku dengan penuh kedamaian, kesibukan yang bermanfaat. Mungkin salah satu harapan itu akan segera terpenuhi, yaitu sebuah kesibukan yang sebentar lagi akan datang dalam hidupku. Tapi, kesibukan yang tidak akan pernah menganggu ibadahku kepada Allah.
Meski sibuk, ibadah tetap nomor satu dan harus di utamakan---itulah pesan dari almarhum kedua orangtuaku.
...🥀...
Setibanya aku di kampus, aku mendengar kabar bahwa hari ini tidak ada kelas. Karena semua dosen sedang mengadakan pertemuan dengan pihak kampus, alias pemilik kampus ternama ini.
"Hari ini tidak ada kelas, pasti akan membosankan!" keluh ku, dari dulu aku paling sering mengeluh ketika mendengar kabar, jika sekolah mendadak libur.
"Kalbu!" panggilan diberikan kepadaku.
Aku menoleh, "Malika, kenapa kamu berlari?"
"Aku tidak berlari, aku hanya berjalan sedikit cepat." katanya.
"Berjalan sedikit cepat, tapi seperti berlari mengejar sesuatu yang ketinggalan. "
"Baiklah, sebenarnya aku berlari karena mau kasih tau informasi sama kamu. "
"Informasi apa?" tanyaku.
"Kalau hari ini tidak ada kelas!" jawabnya dengan gembira.
Dengan datar aku menjawab, " Aku sudah tau dari anak-anak, "
"Hem... Kamu sudah tau, kalau begitu aku tidak perlu capek-capek berlari. " keluh nya.
"Sudah, jangan di permasalahkan! Lagian, mumpung tidak ada kelas aku akan pergi ke kedai, "
__ADS_1
"Ke kedai? Mau ngapain kamu pergi ke sana? Mau nongkrong? Aku kira kamu orang yang tidak suka nongkrong. "
"Bukan nongkrong, tapi aku kerja di sana," jawabku dengan senyuman.
"Kerja, di kedai? Kedai apa?"
"Kedai kopi atuh, kamu mau ikut enggak? Sekalian aku mau promo. Hehehe.... "
"Boleh juga, itu ide yang bagus! Kebetulan aku suka kopi, eh... Tapi, kedai kopinya jauh tidak?"
"Tidak, kok! Kedainya tidak jauh dari kampus. Jalan kaki juga bisa kok, "
"Masa? Apakah aku harus percaya sama kamu?"
"Tidak perlu mempercayai diriku, cukup mempercayai dirimu saja."
"Yasudah, kita let's go!"
"So.... Inggris deh!"
Haha......
"Kalbu, tumben dateng sepagi ini?!" tanya salah satu karyawan di kedai.
"Iya, kebetulan aku sedang tidak ada kelas, jadi aku gunakan waktuku untuk bekerja."
"Oh gitu, yasudah! Ini adalah waktu yang tepat kamu masuk kerja, karena hari ini bos baru itu akan tiba di sini. Jadi, kamu cepat ganti pakaianmu dengan seragam!" suruh karyawan itu.
"Apa? Mengapa mendadak seperti ini? Aku belum ada persiapan sama sekali. "
Malika terlihat kebingungan, " Kamu kenapa kaget seperti itu? Kedatangan bos saat bekerja itu, bukankah sudah biasa?"
"Iya, memang! Tapi, kata semua karyawan di sini bos barunya itu galak. "
"Memangnya kamu sudah melihat langsung? Itu kan baru perkataannya saja, bukan kenyataannya. Bagaimana kalau bos baru kamu itu baik, ganteng, dan hangat? "
"Ah... Sepertinya itu tidak akan mungkin! Udah ah, aku tidak ingin banyak bicara dulu. Aku harus pergi mengganti pakaianku, sebaiknya kamu duduk di sana yang anteng. "
...🥀...
Tak lama seorang pria berjas biru telor asin turun dari mobil berwarna hitam, di padu padan kan ke-camata hitam yang menutupi matanya. Semua karyawan yang melihat pria itu turun, langsung berbaris menyamping dengan rapih seperti anak paskibra yang sedang latihan. Kami semua tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. Kecuali diriku seorang, bagiku bos itu sama seperti diriku manusia biasa. Yang membedakan hanya satu yaitu; kedudukannya, dan dia memiliki nama di kedai ini, wajar saja mereka menjaga kedisiplinan dan kepatuhan kepada bosnya.
__ADS_1
Salah satu karyawan memukul lenganku," Kalbu, ayo tundukan kepala kamu!"
"Apaan sih, aku tidak mau terlalu menuruti kalian semua! Dia itu sama kayak kita, jadi enggak perlu bersikap berlebihan kayak gitu."
"Emangnya kamu mau kena omel!" bisik-nya.
Langkah kakinya membuat semua pelanggan termasuk karyawan, cukup terkesima dengan wajah ketampanannya terlihat----ketika pria itu membuka kecamatanya.
"Waw..... Ganteng, banget!"
"Ah.... Siapa dia?"
"Kok, keren!"
Teriakan demi teriakan terdengar dari telingaku, aku penasaran langsung menatap pria itu. Setelah di perhatikan, aku seperti mengenal orang itu. Orang yang sangat tidak asing di mataku, setalah pria itu mendekati karyawannya yang sedang berdiri di dekat pintu kedai. Aku langsung memberanikan diri untuk menatap wajahnya.
"Kenapa kalian menunduk? Ayo tegakkan kepala kalian, aku suka sama gadis yang tidak menundukkan kepalanya." katanya.
" Apa dia suka aku?" tanyaku heran.
"Tidak perlu geer, " pria itu mendekatkan wajahnya, dan setelah itu---keyakinan ku semakin sempurna bahwa dia orang yang aku kenal.
"Dafa! Apakah kamu Dafa? Teman SMA ku," setelah aku mengatakan ini, semua Karyawan menoleh ke arahku dan menatapku dengan tajam.
"Gadis bodoh, kenapa baru mengenali temanmu ini?"
"Hehe... Maaf! Se.... " Dafa memotong perkataan ku.
"Stop... Kita lanjutin pembicaraannya nanti, sekarang kalian semua kerja! Terkecuali gadis ini, dia harus ikut aku ke ruangan. "
Dafa menarik lenganku, dan dia membawaku ke dalam kantornya. Dia langsung mengintrogasi ku layaknya bos yang sedang memarahi karyawannya.
"Kalbu, kenapa kamu tidak cepat menyadari, kalau itu aku?"
"Sebenarnya, sejak kamu membuka kecamata kamu itu, aku mulai menyadari kalau kamu orang yang aku kenal. Hanya saja, aku takut salah orang."
"Ketakutan kamu tidak pernah hilang dari dulu,"
"Hem... Kok gitu, baru bertemu setelah beberapa bulan, kamu sudah membuat hari menyebalkan untuk aku. "
"Maaf, oh iya, kenapa kamu bisa bekerja disini? Aku enggak nyangka, jika pertemuan ini begitu terlihat telah di rencanakan Tuhan. "
__ADS_1