King Of System

King Of System
ch.10 Duel?


__ADS_3

...POV DANIEL...


"Untuk apa aku masuk ke sebuah akademi, jika aku saja sudah memiliki sebuah sistem dan itu membuat diriku kuat dalam beberapa hari saja." Pikir ku setelah menolak tawaran ayah Rine.


Semua orang yang di sana lagi-lagi terkejut, kecuali Catherine, sepertinya dia sudah terbiasa dengan sifat ku yang selalu menolak sebuah tawaran dan mungkin dia sekarang berpikir seperti "Ayolah kalian semua pasti akan terbiasa pada akhirnya."


"Apakah alasan mu sehingga menolak tawaran sebesar ini?" Tanya Dierez sembari menatap serius ke arah ku.


"Sebenarnya saya dari kecil sudah memiliki sebuah impian untuk menjelajahi tiap tempat yang ada di dunia Vulcan ini, sehingga saya harus menolak tawaran tersebut dan menjalani apa yang saya inginkan."


Cathrine yang mendengar itu tertawa, membuat semua orang melihat nya. Mungkin dia berpikir itu semua hanyalah kebohongan yang aku bicarakan, karena aku sudah memberitahu kepada dia alasan ku untuk balas dendam sehingga aku ingin berpetualang, namun itu juga sebuah kebohongan. Sepertinya aku terlahir untuk berbohong pikir ku sambil tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa begitu Cathrine." Ujar ibu Rine yang berada di samping nya.


"Tidak apa ibu, aku hanya teringat sesuatu yang lucu." Balas nya sambil menatap ke arah ibu nya.


"Itu tidak sopan anak ku tertawa ketika seseorang berbicara serius, minta maaflah ke Daniel."


"Baik bu, dan maafkan aku Daniel." Kata nya sambil tersenyum melihat ke arah ku.


"Tidak perlu meminta maaf seperti itu, aku bukan lah siapa siapa." Balas ku sambil membalas senyuman nya.


"Baiklah kembali ke topik," Ayah Cathrine pun memulai pembicaraan lagi, " Apa kamu tahu bakal banyak monster yang bahaya tak terhitung di luar sana, bahkan seekor iblis sekali pun ada."


Mendadak suasananya menjadi serius kembali setelah Dierez atau ayah Cathrine mengatakan hal demikian.


"Benar saya tahu resiko itu semua. Namun, saya yakin akan kekuatan saya untuk menghadapi itu semua."


"Kalau begitu lakukanlah duel dengan anak ku yaitu Antonio, jika kamu kalah, maka kamu harus ikut dengan Cathrine untuk masuk ke akademi, dan jika kau menang maka aku akan membiarkan mu dan memberikan sebuah bekal untuk mu di luar nanti."


"Tapi buk—"


"TIDAK ADA PENOLAKAN!." Dierez pun berdiri setelah mengatakan itu yang membuat semua orang terkejut. Dia pun langsung meninggalkan kami berempat tanpa mendengarkan pendapat ku lagi.


"Astaga, dia benar-benar marah seperti nya, maafkan atas kelakuan suami ku yang seperti itu ya, dia sebenarnya orang yang sangat baik dan perhatian kok" Ujar Andiana ibu dari Cathrine dan Antonio sembari tersenyum ke arah ku.


"Tidak usah di pikirkan, lagipula aku terlalu egois tanpa memikirkan tawaran nya terlebih dahulu." Jawab ku sambil membalas senyuman nya.


Ratu tersebut pun berpamitan untuk menemui suaminya, menyisakan kami bertiga saja lagi di ruang makan. Aku pun mulai menatap ke arah Cathrine sambil berpikir, "Jika saja sistem tidak memberikan quest tersebut mungkin kau sudah tiada."


"Hmm... ada apa Daniel?" Tanya Rine setelah menyadari jika aku memandang nya sembari tersenyum.


"Tidak apa apa." Balas ku.


"Kalau begitu, aku tinggalkan kalian berdua di sini..." Ujar Antonio sambil berdiri kemudian menatap ke arah ku, "...dan Daniel, kemungkinan besok kita akan melakukan duel itu jadi persiapkan lah semuanya."


Dia pun meninggalkan ruangan makan tersebut yang meninggalkan aku dan Catherine. Aku pun terus melihat ke arah nya tanpa menunjukkan emosi apapun.


"Kalau begitu aku akan keluar juga." Cathrine terlihat sangat panik saat aku menatap nya terus menerus, dia pun berdiri setelah mengatakan itu dengan nada yang kecil.


"Bukankah aku mengatakan mu untuk bersabar dahulu."


"T-tap—"


"Keluarlah."

__ADS_1


Cathrine pun bergegas keluar setelah itu dengan wajah yang murung di wajah nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...POV AUTHOR...


Kabar akan duel antara Daniel dan Antonio pun tersebar hampir ke semua bangsawan dalam beberapa jam saja. Duel itu pun di putuskan akan di laksanakan besok hari.


Keesokan hari nya, di sebuah lapangan yang berada di dalam istana, ada dua orang pria sedang berhadapan dengan pedang di tangan mereka, jarak antara mereka berdua saat ini adalah 10 meter, itu adalah Daniel dan Antonio. Raja, ratu, dan Cathrine berada di samping untuk menonton nya serta beberapa prajurit menjaga di sana.


"Tolong jangan menahan diri mu." ujar Antonio.


"Tentu saja." Jawab Daniel.


"Baiklah pertarungan di mulai." Kata kaisar menunjukkan jika duel mereka sudah di mulai.


Antonio yang mendengar itu pun langsung berlari ke arah Daniel, sedangkan Daniel, dia hanya berdiri berdiam diri di sana menunggu kedatangan Antonio.


"Haste aktif"


Melihat jarak nya sudah dekat, Daniel pun mengaktifkan skill andalan nya yaitu Haste. Dia pun bergerak ke samping Antonio untuk menghindari serangan nya.


Gerakan Daniel sangatlah cepat, Antonio bahkan terkejut akan gerakan nya tersebut. Melihat Daniel yang berada di samping nya, dia pun menebas pedang nya ke sana.


*Tang*


Daniel pun menahan serangan itu, dia sebenarnya dapat dengan mudah menghindari serangan tersebut, tetapi dia sengaja hanya menahan serangan itu agar duel ini menjadi lama dan tidak membuat Antonio terlalu malu.


"Haste matikan." gumam nya.


Pedang mereka berdua pun saat ini saling berdempetan karena saling menahannya satu sama lain, namun Daniel yang tidak ingin berlama lama lagi langsung melepaskan pedang nya, dan menghindari pedang milik Antonio yang menyasar ke kepala nya.


Dia mundur beberapa langkah ke belakang, lalu langsung berlari ke arah Antonio. Antonio yang menyadari jika Daniel tidak menggunakan senjata, hanya berdiam diri dengan kuda kuda bertahan nya.


Namun, hal tidak terduga terjadi. Daniel tiba tiba berhenti tepat di depan Antonio, dia pun langsung menendang kaki nya Antonio, sayangnya gerakan Daniel sangat cepat bahkan tidak sempat untuk menahan nya.


Antonio merasakan rasa sakit yang luar biasa setelah di tendang tersebut, dia langsung terlutut dengan satu kaki. Melihat Antonio tidak bisa apa apa lagi, Daniel mengambil pedang nya dan mengarahkan ya ke Antonio


"Aku menyerah." Ujar Antonio sambil membuang pedang nya dan mengangkat kedua tangan nya


"Tidak aku kira dia bakal selemah ini sampai sampai hanya dengan satu serangan langsung menyerah."


Dierez yang melihat itu pun langsung pergi dari tempat nya tanpa mengatakan satu patah kata pun dan di ikuti oleh Andiana di belakangnya, beberapa prajurit pun juga mengiringi nya dari belakang menyisakan kami bertiga saja dengan 2 prajurit.


"Pertarungan yang bagus." Kata Daniel sambil mengulurkan tangan nya pada Antonio.


"Kamu sangat kuat." Balas nya sambil menerima uluran tangan Daniel.


"Apakah kamu tidak apa-apa?" Cathrine berjalan ke arah Daniel lalu memegang tangan nya untuk mengecek apakah ia sedang terluka.


"Oioioi... kakak mu yang kalah loh." Ucap Antonio dengan raut cemberut kepada Cathrine.


"Jadi, apa kamu akan pergi setelah ini?" Tanya Catherine yang menghiraukan perkataan Kakak nya tersebut.


Antonio yang melihat itu terlihat kesal sendiri.

__ADS_1


"Benar, aku akan langsung keluar istana setelah ini, mungkin jika ada waktu aku akan menjenguk mu."


Antonio pun pergi begitu saja karena telah di hiraukan oleh mereka berdua dengan di bantu prajurit yang tersisa.


"Baiklah aku akan menunggu nya." Ujar Cathrine setelah melihat kakak nya sudah pergi sembari berjalan bersama dengan Daniel masuk ke dalam istananya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...POV DANIEL...


"Aku akan pergi sekarang ." Kata ku yang sudah di depan gerbang istana kepada Cathrine dengan dua prajurit yang menjaga di samping nya.


"Apa kamu serius tidak mau mengambil hadiah yang di berikan oleh ayah ku?" Tanya Catherine.


"Aku tidak perlu itu, lagipula aku sudah punya banyak uang di kantong ku saat ini dan aku tidak mau berhutang budi kepada orang lain, itu hal yang sangat merepotkan."


"Semakin aku mengenal mu semakin banyak hal aneh ya." Ujar nya sambil tertawa ke arah ku.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi."


"Jangan sampai mati berjanjilah."


"Aku bukanlah orang lemah seperti kakakmu."


Cathrine yang mendengar itu pun langsung tertawa.


Setelah itu aku pun melangkahkan kaki meninggalkan istana tersebut, sekarang tujuan ku adalah pergi ke guild petualang untuk mengambil beberapa tugas. Lagipula kakek itu menjelaskan jika di ibukota ada banyak tugas yang dapat menaikkan peringkat ku secara singkat.


Setelah menanyakan kepada beberapa orang di mana guild petualang berada, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari saat ini.


"Ini mirip seperti yang di cerita kan oleh Elora."


Pikir ku setelah melihat bangunan besar putih yang berada di depan ku yang terlihat berbeda sekali dengan yang ada di kota Iniel.


Bangunan itu sebanding dengan banyaknya orang yang berkumpul di sana, orang tersebut menggunakan berbagai senjata yang berbeda beda di tangan mereka serta armor yang berbeda beda juga di badan mereka. Suasana di dalam sangat ramai membuat suara yang berada di luar sangat mustahil untuk di dengar.


Aku pun berjalan ke meja resepsionis yang berada jauh di depan ku, dengan meja dan bangku yang sudah di duduki oleh para petualang, aku pun melalui itu semua, sesekali mereka melihat ke arah ku, namun aku mengabaikan itu semua.


"Selamat datang, ada yang bisa di bantu." Seorang wanita yang menyapa ku di meja resepsionis.


"Aku ingin mengambil sebuah permintaan, apakah bisa?"


"Tentu saja bisa, silahkan tingkat apa yang ingin anda ambil?"


"Tingkat B."


"Apakah anda serius?, jika anda mendapatkan luka parah atau kematian bukanlah tanggung jawab kami."


"Tunjukkan saja."


"Baiklah kalau anda yang memaksa."


Aku pun menerima sebuah permintaan untuk membunuh 50 orge, mereka terletak di sebelah barat desa Wenter. Tidak hanya itu saja, sebuah permintaan dari guild ternyata juga ikut berubah menjadi Quest di sistem.


"Seperti kata pepatah, satu tembakan dua burung."

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2