
Kabar akan kekuatan Daniel sendiri belum sampai ke telinga raja Rasril, membuat nya tidak berpikir untuk menyerah begitu saja dan langsung menolak mentah-mentah surat yang dia dapatkan dari Daniel tersebut.
Jika saja dia sudah tahu tentang kekuatan yang Daniel miliki, maka ini merupakan keputusan terbodoh yang pernah ia lakukan selama hidup nya.
Setelah eksekusi pada raja Awami selesai.
Raul langsung mengumumkan kepada semua orang yang berkumpul waktu itu, kalau kerajaan Rasril menolak tawaran yang di berikan oleh Daniel. Mendengar hal itu, membuat orang-orang yang di sana kesal dan mengutuk akan keputusan yang di lakukan oleh raja Rasril.
"Tenanglah rakyat ku, karena malam hari ini, aku akan membuat mereka merasakan apa itu nama nya putus asa." Ujar Daniel yang ikut berdiri di samping Raul.
Teriakan-teriakan pujian pun di terima oleh Daniel selepas dia berkata seperti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV DANIEL
Setelah melihat hukuman mati tersebut, aku pun kembali ke ruang kerja kaisar sebelum nya. Di sana aku terus mempelajari peta peta dunia Vulcan, ternyata dunia yang ku tinggali sekarang tidak lah kecil, namun sangat besar. Jika di bandingkan dengan Bumi maka Vulcan 3 kali lipat lebih besar dari nya, itu lah yang aku kira kira sekarang.
Aku sendiri sekarang sedang menunggu Elora.
"Ada apa yang mulia?" Tanya Elora yang sekarang sudah berada satu ruangan dengan ku.
"Panggil aku seperti biasa saja di saat kita berdua, lagipula kamu adalah teman pertama yang aku temui waktu itu."
"Hahaha... merupakan sebuah kehormatan bagi ku."
"Sebelum itu, bagaimana kau duduk dulu di sana."
"Baiklah..." Dia pun berjalan ke arah bangku yang berada di depan ku dengan sebuah meja sebagai pembatas antara kami berdua, "Jadi apa yang ingin kau inginkan sekarang Daniel?"
"Aku punya tugas penting untuk mu."
"Apa itu?"
"Apakah kamu mengenal Cathrine?"
"Tentu saja aku mengenal dia dasar bodoh." Jawab Elora dengan tersenyum, "Jadi apa kau ingin aku menjaga nya untuk mu?"
"Benar, apakah itu memungkinkan untuk mu?"
"Jika itu mau mu, maka akan aku lakukan, tapi ada bayarannya kan? Jika tidak ada maka aku akan menolak nya sekarang."
"Itu semua dapat di atur dengan mudah."
__ADS_1
"Dan aku memiliki satu pertanyaan penting untuk mu."
"Apa itu?"
"Apa Cathrine dan kamu sudah menjadi sepasang suami istri sekarang?"
Aku yang mendengar itu sedikit terkejut akan pertanyaan Elora. Namun aku pun langsung menjawab nya, jika aku dan Cathrine memang sudah menjadi sepasang suami istri, namun itu semua demi kepentingan penduduk Licanara agar mereka memiliki pemimpin baru.
Elora yang mendengar itu hanya menjawab baiklah saja.
Setelah itu, kami berdua pun hanya mengobrol sebentar sebelum ada seseorang yang mengetuk dari luar. Aku pun menyuruh orang tersebut masuk, dan ternyata Ormas lah sesosok orang yang mengetuk pintu tersebut.
Dia cukup terkejut melihat ada Elora sedang duduk dihadapan ku.
"Katakan apa keperluan mu?" Tanya ku setelah Ormas berdiri tepat di samping Elora.
"Pengintai yang berada di perbatasan kerajaan Rasril melaporkan, kalau ada 200.000 prajurit dari kerajaan tersebut sedang berkemah tidak jauh dari benteng perbatasan kita." Ujar Ormas.
"Sepertinya, mangsa ku datang dengan sendirinya."
Sudah lama juga aku tidak panen level lagi pikir ku dengan tersenyum kecil membuat kedua orang yang di depan ku kebingungan melihat ekspresi ku.
"Dan menurut prediksi ku, kemungkinan malam ini juga mereka akan menginvasi kota Nassel dan menjadikan kota tersebut sebagai markas besar mereka untuk melakukan serangan berikutnya."
"Paling cepat 3 hari yang mulia."
"Kalau begitu, kamu pimpin lah pasukan untuk berangkat ke sana, aku akan sendirian ke sana sekarang juga, mungkin akan sempat untuk ku menjaga kota tersebut."
"A-apakah anda serius yang mulia?"
"Sejak kapan aku suka bercanda."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekian lama tidak bertemu, akhirnya Daniel menyuruh Ter untuk menemui nya tidak jauh dari gerbang kota Yeriner, dan betapa terkejutnya Daniel di saat melihat wujud Ter yang sudah berevolusi.
Dia memiliki tubuh yang sangat berotot dengan tinggi mencapai 4 meter membuat nya terlihat seperti seorang raksasa di mata manusia. Bahkan, tanduknya pun sekarang bertambah menjadi tiga dengan satu yang berada di tengah-tengah nya.
"Sepertinya kamu tadi sangat menarik perhatian." Kata Daniel.
Ketika Daniel bertemu dengan Ter, beberapa prajurit yang menjaga tembok sudah memasang anak panah mereka di panah dan sudah siap untuk menembakkan nya, karena saat itu Ter terlihat sebagai monster yang sangat berbahaya untuk mereka.
Untung saja Daniel saat itu sempat untuk menyuruh mereka untuk berhenti. Jika saja mereka sudah melakukan hal tersebut, maka mungkin saja kekacauan akan di lakukan oleh Ter.
__ADS_1
"Sepertinya begitu tuan." Ter yang tidak pernah berbicara sedikitpun dari awal ia di summon, mendadak berbicara kepada Daniel yang ada di hadapannya.
"Bahkan kamu bisa berbicara sekarang, sepertinya banyak peningkatan telah terjadi pada mu." Kata Daniel dengan perasaan sedikit kagum pada Ter.
"Ini semua berkat anda tuan." Balas nya dengan nada yang sangat sopan pada orang di hadapannya.
"Baiklah, kita sudahi saja basa basi nya," Kata Daniel yang merubah raut muka nya menjadi serius setelah berucap seperti itu, "Aku berencana membawa mu untuk mengalahkan 200.000 orang manusia, apa menurutmu?"
"Maaf tuan, saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi ada satu hal yang harus tuan tahu, jika saya akan mengikuti anda kemanapun itu, meskipun suatu saat nanti anda akan melawan seorang dewa."
"Kalau begitu, ayo kita habisi para manusia itu terlebih dahulu lalu menghabisi para dewa yang di atas." Ujar Daniel dengan tersenyum lebar membayangkan berapa banyak level nya yang akan bertambah.
Ter pun hanya memandangi ekspresi tuanya tersebut.
Daniel pun selepas itu langsung mengaktifkan Haste nya dan berlari menuju kota Nassel di ikuti dengan Ter yang berada jauh di belakangnya.
Bahkan, Daniel sendiri sekarang sudah menghapal tiap denah yang ada di kekaisaran Dracania, sehingga dia tahu tiap letak kota yang berada di wilayah kekaisaran.
Burung-burung yang sedang berdiri di sebuah rating pohon, berterbangan ketika Daniel melalui nya.
Kecepatan Daniel sendiri seperti sebuah pesawat terbang yang sedang melaju, membuatnya ke kota Nassel tidak membutuhkan waktu yang lama. Yang seharusnya membutuhkan waktu 3 hari 2 malam, Daniel hanya perlu 2 jam saja, Tembok kota Nassel sudah terlihat di mata nya.
Dia pun berhenti tepat di gerbang kota tembok.
Beberapa prajurit yang sedang menjaga tembok melihat sang raja nya mendatangi mereka tanpa pengawal sedikitpun hanya bisa terkejut, salah satu prajurit dengan inisiatif bergegas memanggil komandan yang bertugas menjaga tembok sisi barat tersebut.
Dua pintu kayu setinggi 8 meter tersebut pun mulai terbuka yang di dorong dari dalam.
Seorang pria memakai armor di badan nya saja berlari menghampiri Daniel setelah pintu itu terbuka, lalu membungkuk kan badannya ketika berhadapan tidak jauh dari Daniel.
"Perkenalkan saya adalah Grias komandan dari tembok bagian barat yang mulia." Ucap nya yang masih membungkukkan badan nya.
"Bangunlah, dan jelaskan secara singkat keadaan sekarang." Balas Daniel.
"Kalau begitu silahkan ikut saya yang mulia." Kata nya dengan badan yang sudah tegak kembali.
"Tunggu sebentar, aku sedang menunggu teman ku."
"Baik, saya paham."
Tidak cukup lama, kemunculan Ter dari balik hutan pun terlihat, dan itu lagi-lagi mengejutkan semua orang yang melihat nya. Lagipula, di lihat darimana pun Ter adalah seorang minotaur yang perlu puluhan orang untuk mengalahkan nya, akan tetapi waktu itu Daniel hanya perlu seorang diri untuk mengalahkan nya.
"Sekarang jelaskan kepada ku keadaan kalian sekarang." Kata Daniel yang saat ini sudah berada di sebuah ruangan cukup luas di dalam tembok dengan Grias berada di depannya.
__ADS_1