
Tubuh raja Rasril tersebut pun langsung terbelah menjadi dua bagian setelah tebasan Ter yang sangat kuat menggunakan sabit ungu nya itu, tepat mengenai perut raja tersebut dengan posisi yang masih bersujud.
Anak dari raja itu pun langsung berteriak histeris kemudian menangis begitu nyaring sampai-sampai terdengar satu ruangan singgasana setelah melihat kematian ayah nya tepat di depan kedua mata ia.
"Hm... Attuning time "
Tidak lama setelah Daniel menyuruh Ter untuk membunuh raja Rasril. dia pun mengucapkan sihir tersebut sembari menaruh tangan nya di atas kepala raja Rasril itu.
Dalam sekejap, tubuh raja tersebut tumbuh kembali dengan sendiri nya membuat anak dari raja kerajaan Rasril itu terdiam seketika menyaksikan proses kejadian terbentuk nya kembali tubuh ayah nya hingga ayah nya itu bangun kembali.
"B-bagaimana bisa?" Ujar raja tersebut sambil melihat sekelilingnya, "S-saila." itulah yang di katakan oleh raja Rasril setelah melihat anak nya yang sedang mematung melihat ayah nya hidup kembali.
"Ayah!" Saila atau anak dari raja Rasril itu bergegas menghampiri ayahnya lalu memeluknya.
Mereka berpelukan tidak lah lama, karena raja Rasril langsung melepaskan pelukannya dari Saila setelah menyadari jika dia masih berhadapan dengan Daniel dan belum tentu bila dia di berikan sebuah kehidupan lagi, serta menyuruh pada anak nya untuk menjauh.
"M-maafkan atas ketidak kesopanan saya yang mulia, serta terima kasih telah menghidupkan kembali saya." Ujar nya dengan posisi yang sudah bersujud di depan Daniel begitu pula dengan Saila atau anak nya yang di belakang ia.
"Aku tidak perlu terima kasih mu, lagi pula hukuman mu masih berlanjut," Daniel berkata seperti itu dengan jari nya menunjuk ke arah Ter yang berdiri tepat di samping raja Rasil lalu mengarahkan nya lagi ke raja tersebut, "Lakukanlah hukumannya."
"T-tunggu apa y-yang anda lakukan lagi." Tutur Saila dengan menengok ke arah Daniel dan mulut yang sudah gemetaran melihat sabit ungu Ter terangkat di atas tubuh ayah nya.
"A-akan saya terima yang mul—"
"Tidak!!!"
Hukuman yang paling mengerikan pun mulai, raja Rasril terus menerus di bunuh oleh Ter menggunakan sabit nya, dia pasti merasakan betapa sakitnya sabit tersebut. Namun saat dia sudah mati dia di hidupkan kembali oleh Daniel. Bahkan Saila, putri dari raja tersebut tidak henti-hentinya menangis melihat kejadian itu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
POV DANIEL
"Sepertinya ini sudah cukup." Pikir ku setelah melakukan beberapa kali sihir Attuning time kepada raja yang ada di depan ku ini.
__ADS_1
Jika di hitung, sudah lebih dari 10 kali lebih ia di bunuh oleh Ter menggunakan sabit yang di tinggalkan oleh pria berambut ungu sialan itu. Dan sepertinya raja tersebut paham akan situasi nya, jadi dia hanya pasrah dengan apa yang ku lakukan.
Sedangkan Saila atau anak raja yang ada di depan ku ini. Awal nya dia terus menangis melihat ayah nya di perlakukan begitu, namun lama-kelamaan ia berhenti menangis setelah beberapa waktu berlalu. Kemungkinan air mata milik nya sudah habis.
"Berhenti Ter, aku masih memerlukan nya," Setelah aku berkata seperti itu, aku pun melihat ke belakang lebih tepatnya ke arah Grias dan Zeril, "Kalian berdua bawa raja tersebut ke ruangan manapun dan kurung dia, sedangkan anak nya itu bawa ke kamar ku nanti."
"Saya mengerti yang mulia." Jawab mereka serentak dengan membungkuk badan nya.
"Dan kau, lakukan tugas mu." Kata ku sambil melihat ke arah pria berambut coklat yang menunjukkan kami letak ruangan singgasana sebelumnya dan sepertinya dia sudah hapal dengan semua letak istana ini.
"Baik yang mulia." Balas nya dengan penuh semangat sambil membungkukkan badan nya.
Pria berambut coklat itu pun dengan sopan meminta ku agar mengikuti nya, barisan pasukan yang ku bawa mula nya tersusun rapi di belakang langsung terbelah menjadi dua bagian untuk membukakan jalan bagi ku dan Ter serta pria berambut coklat tersebut.
"Mungkin aku perlu memeriksa status ku nanti." Pikir ku setelah berjalan keluar dari ruangan singgasana.
Lumayan lama berjalan mengikuti pria berambut coklat yang ada di depan ku ini, akhirnya aku dan Ter sampai juga di sebuah kamar yang bisa di bilang sangat besar serta megah. Namun itu semua tidak bisa di bandingkan dengan kamar milik ku yang ada di ibukota.
"Silahkan yang mulia, ini merupakan ruangan kamar yang sering di tiduri oleh raja di istana ini." Kata pria itu yang masih berdiri tepat di depan pintu kamar.
"Saya mengerti yang mulia."
"Dan panggil perempuan itu ke sini."
"Akan saya lakukan yang mulia, jika begitu saya pamit, terlebih dahulu."
Setelah Ter keluar dari ruangan ku, pria berambut coklat itu pun menutup pintu yang tinggi nya mungkin bisa mencapai 7 meter dengan perlahan, bahkan tanpa ada suara yang masuk ke telinga ku. Dia terlihat sangat ahli dalam menutup sebuah pintu.
Aku sendiri saat ini berniat untuk mengecek layar status ku dengan masih duduk santai di sofa, dan setelah melihat layar status tersebut. Entah kenapa aku menjadi kesal sendiri.
Bagaimana tidak, aku sudah mengalahkan 100.000 orang lebih dalam beberapa hari ini. Akan tetapi, level ku hanya naik hingga level 529 saja, bukankah itu sedikit rendah. Padahal aku sendiri setiap kali ingin melakukan sebuah pertarungan pasti meminum double Potion XP.
[ Di sarankan untuk anda berpetualang lebih jauh, karena kemampuan anda sudah di luar batas manusia biasa, sehingga jika anda hanya membunuh sesuatu yang level nya jauh di bawah dari anda, maka anda kemungkinan naik level sangat lah lama. ]
__ADS_1
"Setelah satu kerajaan lagi, mungkin waktunya berburu monster lagi." Pikirku setelah mendengar ucapan Ai.
Setelah itu, aku pun terhanyut dengan memikirkan rencana-rencana kedepannya. Bagaimana pun juga aku memiliki sebuah ambisi untuk menguasai dunia yang baru ku diami ini, tapi mendengar raja iblis yang memiliki level mencapai 90 ribu membuat ku harus berkerja keras di atas semua orang di dunia ini.
Lumayan lama terhanyut dengan pemikiran itu. Akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu kamar ku.
Tanpa perlu menjawab, perempuan dengan rambut merah serta mata berwarna coklat dengan kulit seputih salju memasuki ruangan ku. Itu adalah Saila, dia memiliki rambu pendek yang terlihat cocok di wajah nya, namun dari yang aku dengar dia sudah dewasa tapi tubuhnya berkata lain dari yang aku dengar.
"Kemarilah." Ujar ku setelah melihat sesaat ke arah nya lalu menghadap ke depan lagi lebih tepatnya ke lukisan besar yang terus ku pandangi dari tadi.
"Baiklah." Dia menjawab perkataan ku dan terdengar sedang berjalan ke arah ku.
"Kamu tahu, akan percuma jika menusukkan sebuah pisau itu ke kepala ku." Kata ku setelah merasakan ada bahaya dari belakang lalu berdiri.
Suara pisau terjatuh pun terdengar.
"Sepertinya kamu cukup nakal." Aku pun berjalan menghampiri nya dengan terus menatap ke arah nya.
Sedangkan Saila, terlihat tidak bergerak sama sekali, karena sepertinya rencana untuk membunuh ku itu gagal ia lakukan, membuat dia syok berat.
Aku sekarang sudah berdiri tepat di hadapannya, terlihat tubuhnya gemetaran. Aku pun mulai memegang rambut nya itu lalu memainkan rambut merah yang sangat lembut tersebut, hingga tangan ku turun menyentuh pipi nya.
"Jangan bunuh aku jangan bunuh aku jangan bunuh aku." Itulah yang dia ucapkan dari tadi, meskipun pelan aku dapat mendengar nya. Karena suasana saat ini sangat lah hening.
"Ayolah aku tidak akan membunuh mu." Kata ku dengan memegang bibir nya tersebut, lalu memajukan kepala ku tepat di telinga nya membuat bau harum dari rambut nya dapat tercium.
"Yang aku inginkan hanyalah pantau semua pergerakan ayah mu dan laporkan kepada ku tiap minggu nya, jika aku melihat ayah mu melakukan sesuatu yang akan mengkhianati ku, maka aku akan menghukum mu, "
"Dan jika laporan yang kamu berikan itu palsu, maka kematian yang tidak henti-hentinya akan mendatangi mu, jadi lakukan tugas mu yang benar dan buatlah diri mu bermanfaat bagi ku."
"Saya paham yang mulia." Balas nya dengan pelan.
__ADS_1
"Baiklah, karena tadi kamu hampir membunuh ku, maka akan ada hukuman buat mu."
"Apa maksud mu."