King Of System

King Of System
ch.30 Kota Jaizen ²


__ADS_3

Kini ada ribuan prajurit yang berada di barisan paling depan, mereka semua menggunakan sebuah perisai besar yang hampir melindungi semua tubuh mereka. Mereka semua adalah orang orang yang akan menjaga pendobrak kayu hingga menuju gerbang kota Jaizen.


"Semuanya, lindungi pendobrak kayu kalian sampai gerbang tembok kota Jaizen telah roboh, meskipun bayaran nya adalah nyawa kalian" Teriak Grias dengan penuh semangat.


"Baik!" Jawab mereka serentak yang terdengar sampai didalam kota Jaizen.


Jangkauan mereka dengan anak panah pun masih terbilang cukup jauh, sehingga prajurit prajurit yang sedang berjaga di tembok hanya bisa bersiap-siap saja akan serangan tentara Dracania dengan panah yang sudah ada di tangan mereka semua.


"Serang!" Karena merasa semangat para tentara nya meningkat, Grias pun memerintahkan mereka untuk menyerang kota Jaizen.


Para tentara kota Nessel pun memulai serangan tersebut dengan teriakan jantan mereka. Setiap mereka berjalan, hentakan kaki dari pasukan tersebut pasti terdengar hingga dalam kota Jaizen dan itu memang di sengaja oleh mereka agar mental para prajurit Rasril yang mendengar nya akan menurun.


"Angkat perisai kalian!" Ujar salah satu orang yang memimpin pasukan pemegang perisai.


Mendengar perintah itu, ribuan prajurit tersebut pun bergegas untuk mengangkat perisai mereka agar terlindungi dari puluhan anak panah yang akan menghujani mereka semua.


Meskipun begitu, ada saja beberapa orang yang tetap mati akibat anak panah tersebut, anak panah itu sendiri memang sebagian nya bukan anak panah biasa melainkan anak panah yang sudah di perkuat dengan sihir sehingga dapat menembus besi sekalipun.


Tetapi, itu tidak akan membuat para pasukan yang di pimpin oleh Daniel menyerah.


Walaupun puluhan orang mati tiap menit nya karena anak panah sihir tersebut, keyakinan atas kemenangan mereka tidaklah reda begitu saja.


Daniel sendiri saat ini sedang berdiri dari kejauhan sambil menonton rencana tersebut dan tidak ada niatan sama sekali untuk membantu pertempuran gelombang pertama ini. Jika saja dia ingin mengakhiri invasi ini dengan mudah, maka dia hanya perlu menggunakan Chaos meteor untuk menghancurkan tembok itu dan kalah lah kerajaan Rasril dengan mudah nya.


Akan tetapi, dia sengaja untuk berdiam diri agar pertempuran kali ini lebih keliatan realistis untuk nya dan menjadi hiburan juga untuk nya.


"Sepertinya pendobrak kayu sebentar lagi akan sampai tujuannya yang mulia." Ujar Zeril yang berdiri di belakang Daniel dengan tujuan menghancurkan keheningan yang tercipta beberapa menit setelah mereka berdiri di sana.


"Aku pikir ini semua terlalu mudah.*


"Saya pikir, seperti yang di prediksi oleh Grias sebelumnya, prajurit yang sedang menjaga kota Jaizen bukanlah pasukan utama mereka, melainkan hanya sebuah pasukan cadangan yang belum terlatih, sehingga sangat mudah untuk di kalah kan oleh prajurit yang anda pimpin sekarang." Kata Zeril.

__ADS_1


"Bukankah rencana mereka waktu itu sangat buruk, bagaimana menurut mu?" Tanya Daniel dengan melihat puluhan prajurit Rasril mulai berguguran akibat di panah oleh para prajurit nya.


"Mungkin mereka waktu itu terlalu percaya diri atas kemenangan mereka ketika menyerang kota Nassel, sehingga tidak berpikir untuk menyisakan sedikit pun pasukan utama mereka untuk menjaga kota Jaizen, dan melakukan serangan habis ke kota Nessel." Balas nya


"Jadi, apa lebih baik kita mengakhiri nya malam ini juga?" Tanya Daniel dengan sambil menengok ke arah Zeril yang berada di belakang nya.


"Jika itu perintah yang mulia, maka saya akan sangat bersedia melaksanakan nya." Balas nya dengan nada yang penuh bangga.


"Jika begitu, apalagi yang perlu di tunggu, mari kita habisi semua orang yang sudah berani menantang kita semua" Tutur nya seraya melakukan peregangan otot tangan nya.


"Baik yang mulai" Jawab nya dengan tegas lalu meninggalkan Daniel sendirian di sana.


Beberapa menit pun berlalu, gerbang kota Jaizen kini sudah ambruk. Prajurit prajurit yang di pimpin oleh Daniel pun langsung membabi buta ke setiap arah, mereka terus mengincar prajurit Rasril berada.


Saat ini di atas tembok kota Jaizen terjadi pertempuran yang bisa di bilang pertempuran berat sebelah jika seseorang melihatnya. seorang mantan elit prajurit melawan prajurit yang kurang pengalaman dan terlatih, bukankah itu sudah jelas siapa yang akan menjadi pemenang nya.


Prajurit dari kota Nessel dapat dengan mudah nya mengalahkan ratusan prajurit Rasril.


"Benar, mereka belum pernah melihat kekuatan beliau, bahkan berani menantang yang mulia, jadi inilah yang seharusnya mereka rasakan." Balas teman nya yang berada di sebelah nya dengan melakukan tos tangan.


Ketika mereka sedang asik berbicara di dalam gerbang tembok kota Jaizen. Sesosok yang mereka bicara kan pun muncul, melihat itu tentu saja mereka menepi lalu membungkukkan badannya meskipun masih ada puluhan prajurit Rasril di depan mereka.


"Arc lighting." Melihat ada puluhan prajurit Rasril yang sedang berlari ke arah mereka berdua.Daniel pun langsung merapalkan mantra tersebut membuat tubuh para prajurit Rasril itu hangus seketika dan puluhan orang itu mati hanya dalam hitungan detik saja membuat yang lainnya melihat hal itu langsung kabur untuk menjauh dari Daniel.


"Tidak berguna untuk kalian kabur, arc lighting." Ujar nya seraya menunjuk ke arah orang yang berlarian kabur.


Puluhan aliran listrik berwarna biru keluar dari jari Daniel yang mengarah ke orang-orang yang sedang kabur dan mengejar mereka semua.


Seperti biasa, Daniel tidak akan membiarkan levelnya pergi begitu saja. Sehingga dia pun harus membunuh siapapun itu yang berani melawannya agar level nya terus bertambah, lagi pula dia masih kepikiran dengan pertarungan malam tadi yang menyatakan jika dia masih seorang manusia yang lemah.


Belum sempat berteriak, para prajurit itu pun sudah mati terlebih dahulu tanpa mereka sadari.

__ADS_1


"S-sungguh kekuatan yang luar biasa." Kagum prajurit yang membicarakan Daniel sebelumnya.


Daniel pun mulai melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kota Jaizen. Tidak ada orang yang berani keluar dari rumahnya, para warga sendiri hanya bisa mengintip kecil dari jendela mereka saja.


Beberapa orang yang melihat Daniel terkejut, karena dia masih terbilang cukup muda namun memiliki kekuatan yang begitu kuat. Begitupula dengan perempuan, mereka tidak bisa tidak terkagum-kagum akan paras nya Daniel yang sangat tampan.


Para prajurit yang menjaga tembok pun semua nya sekarang sudah mati tanpa tersisa, untungnya hanya ada beberapa orang saja yang mati di pihak Daniel, jika saja dia dari awal turun tangan mungkin itu semua akan beda cerita.


"Tunjukkan aku jalan menuju istana." Ujar Daniel setelah melangkahkan kaki nya beberapa langkah ke depan.


Mendengar itu, Zeril memanggil salah satu bawahan nya yang bertugas sebagai pengintai dari kota Jaizen sehingga dia tahu setiap sudut kota tersebut.


"Silahkan ikuti saya yang mulia." Tutur pria berambut coklat tersebut dengan nada yang sopan kepada Daniel setelah membungkuk kan badan nya di samping ia.


Daniel hanya menjawab dengan mengangguk kan kepalanya.


Setelah mendapat kan jawaban dari raja nya. Pria berambut coklat tersebut pun bergegas untuk mengarahkan Daniel jalan menuju istana kerajaan Rasril dengan ia yang berada di depan Daniel.


Para penduduk tidak ada yang berani mengganggu sama sekali di waktu rombongan Daniel berada di tengah jalan, lagipula hanya ada kematian yang mereka tuju kalau ada orang yang berani menantang hal itu.


Lumayan lama berkeliling, akhirnya rombongan tersebut dapat melihat sebuah istana berwarna putih yang terletak di dataran tinggi. Meskipun kota Jaizen bisa di bilang memiliki ukuran yang lebih kecil dari kota Licanara, namun dia memiliki sebuah istana yang sebanding dengan istana yang berada di Licanara.


"Seperti nya mereka menyerah." Daniel berkata seperti itu selepas melihat seorang prajurit memakai armor putih berdiri tepat di depan dua pintu istana dengan memegang bendera putih di tangan nya.


"Apakah anda menyetujui hal itu yang mulia?" Tanya Grias dengan mengikuti raja nya dari belakang.


Akan tetapi, Daniel tidak menjawab. dia hanya berjalan ke arah prajurit yang memegang bendera putih itu dengan di ikuti ratusan prajurit milik nya dari belakang.


Rasa takut yang luar biasa dapat di rasakan oleh prajurit yang memegang bendera putih itu melihat ratusan prajurit yang ada di belakang nya. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada nya nanti.


"Kesempatan hanya datang satu kali, menyerah? salahkan raja mu di kehidupan kedua kali mu nanti." Daniel pun memotong prajurit itu dengan tatapan yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2