
Kepala prajurit yang memegang bendera putih itu pun langsung di potong oleh Daniel menggunakan Falcon sword milik nya. hanya dalam sekali tebasan saja, kepala prajurit tersebut sudah terpisah dari badan nya.
"Kamu pikir aku akan menerima hal itu." Ujar Daniel dengan melangkahkan kaki nya ke depan dan menginjak bendera putih yang di pegang oleh prajurit tadi.
Melihat raja mereka sudah berdiri tepat di depan gerbang istana. prajurit yang berdiri di belakang Daniel bergegas untuk membuka kan gerbang istana tersebut.
Mulailah terbuka pintu istana yang mencapai 6 meter dengan dua pintu itu.
Ketika pintu itu sudah terbuka lebar. ada ratusan prajurit yang sudah berdiri tidak jauh dari Daniel berada. Armor hitam yang menutupi seluruh tubuhnya serta perisai yang melindungi barisan depan terlihat di pandangan Daniel di waktu pintu itu sudah terbuka.
"Seperti nya kalian pasukan terakhir, Ter habisi mereka."
Ter sendiri dari tadi sudah mengikuti Daniel dari belakang, itulah salah satu alasan mengapa para warga tidak ada yang berani keluar dari rumah mereka ketika melihat ada seekor minotaur yang memiliki ukuran sangat besar dengan sabit berwarna ungu di bahu nya.
"Baik tuan." balas Ter sambil berjalan ke arah prajurit Rasril yang sedang tertutupi dengan perisai mereka.
Dia mulai menurunkan sabit ungu yang di berikan oleh Daniel ketika pria misterius berambut ungu itu kabur dengan meninggalkan senjata nya itu.
*Swush*
Angin yang sangat kencang terbentuk di belakangnya ketika berlari ke gerombolan prajurit tersebut dengan sabit ungu yang mulai terangkat. Gerakan nya sangatlah cepat meskipun memiliki tubuh yang sangat besar.
Di saat jarak nya sudah dekat, Ter menghentikan lari nya dengan menginjakkan kaki ia ke tanah sehingga tercipta lah cekungan di bawah kaki nya itu.
*Srek*
Tebasan secara horizontal di luncurkan oleh Ter menggunakan sabit nya itu, kerena dia memiliki ukuran tubuh yang tinggi, serangan nya itu pun mengenai semua kepala para prajurit yang sedang bersembunyi di balik perisai. Ketajaman sabit itu tidak bisa di remehkan, karena ia dapat memotong besi bagaikan kertas.
Puluhan orang mati seketika di saat terkena serangan pertama Ter itu, walaupun mereka sudah berlindung di balik perisai. Namun itu tidak akan berguna di hadapan sabit yang di genggam oleh Ter sekarang.
__ADS_1
Barisan prajurit Rasril itu menjadi kacau di waktu barisan depan mereka di hancur lebur kan oleh Ter dalam hitungan detik saja. Ada 18 orang yang sudah mati di tangan Ter dalam waktu kurang dari 30 detik dan dalam sekali serangan saja.
Para prajurit Rasril yang sudah di ujung kematian, masih memiliki nyali untuk melawan balik ke Ter. Daniel pun memuji nyali mereka yang tidak takut akan kematian nya.
Sayangnya, ketika mereka menyerang tubuh Ter, pedang yang mereka genggam malah hancur di saat terkena tubuh nya Ter, itu menunjukkan betapa keras nya kulit yang di miliki oleh nya.
"Dasar lemah." Ter menyikut orang yang menyerang nya tadi. Prajurit itu pun langsung terlempar cukup jauh dari ia berdiri sebelumnya setelah mendapatkan serangan Ter yang bisa di bilang sangat keras.
Setalah itu, Ter pun mulai menyerang secara membabi buta, satu serangan dari sabit nya sama saja dengan satu nyawa manusia yang melayang. Sungguh kombinasi yang mengerikan antara Ter dan sabit nya.
Tubuh nya yang besar di tambah dengan kecepatan yang tidak bisa di lihat oleh manusia biasa itu membuat dia bagaikan monster yang bisa membawa sebuah bencana bagi kota kecil, tidak bahkan kota besar pun dia bakal mampu melakukan itu.
Pembantaian itu pun terjadi dalam beberapa menit saja.
Bagian-bagian tubuh manusia ada di mana-mana. Perisai yang sebelumnya di gunakan oleh prajurit Rasril untuk melindungi diri mereka, kini sudah terbelah beberapa bagian.
Prajurit Dracania sangat bersyukur kalau Ter merupakan bawahan dari Daniel. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka ada di posisi prajurit Rasril. Perasaan akan putus asa, ketakutan, panik, apapun itu pasti bercampur acak satu sama lain.
"Kembali lah." Perintah Daniel kepada Ter selepas melihat pasukan terakhir Rasril sudah rata dengan monster summon nya itu.
"Baik tuan." Jawab nya singkat sembari menaruh sabit pemberian Daniel ke bahu nya kemudian berjalan ke arah tuan nya dengan darah yang terus menetes di sabit nya.
"Dengarkan semua nya, cek di setiap ruangan yang ada di istana ini, bunuh siapapun itu, kecuali raja ataupun istri beserta anak-anaknya. Karena mereka adalah mangsa aku."
"Mengerti yang mulia!" Balas mereka serentak.
Setelah itu, para prajurit tersebut pun langsung bergerak secara terpisah meninggalkan Daniel, Grias, Zeril, Ter serta pria yang menunjukkan jalan menuju istana, dan beberapa prajurit lainnya untuk menjaga Daniel meskipun mereka tahu itu tidak akan berguna untuk raja nya.
"Apakah anda ingin saya menunjukkan pada anda menuju ke ruangan singgasana yang mulia?" Tanya pria berambut cokelat itu dengan posisi yang masih membungkuk tepat di belakang Daniel.
__ADS_1
"Tunjukkan lah." Jawab Daniel tanpa menengok ke pria tersebut.
"Baik yang mulia." Mendengar jawaban itu, pria tersebut pun entah kenapa tersenyum lalu bergegas untuk memimpin jalan menuju ruangan singgasana.
Prajurit Dracania kini terus menelusuri tiap sudut yang ada di istana. Mereka semua membunuh siapapun itu yang tidak terlihat seperti seorang raja ataupun ratu. Berbagai teriakan terus bergema. Terdengar kejam namun begitulah kenyataannya.
Para pelayan, koki, atau apapun itu, berlarian kemana-mana untuk menyelamatkan diri mereka. Padahal itu adalah hal sia-sia untuk mereka. Karena pada akhirnya mereka akan mati juga di tangan prajurit Dracania.
Tidak ada kata ampun di kamus mereka sekarang, siapapun yang mengkhianati Kekaisaran di anggap musuh oleh mereka. Para prajurit yang di pimpin oleh Daniel mungkin berpikir itu perbuatan yang salah, tapi itu adalah perintah nya sehingga tidak ada pilihan lain.
Namun, aneh nya hingga sekarang mereka semua belum menemukan sama sekali sang raja ataupun orang yang menggunakan pakaian bangsawan.
Di sisi lain, Daniel serta bawahan nya sudah berdiri tepat di depan ruangan singgasana yang di tunjukkan oleh pria berambut coklat itu.
Mulanya ada dua penjaga berbadan besar dengan memakai full body armor serta tombak yang menjaga di depan sana, tapi Daniel langsung membunuh mereka menggunakan bullet light, belum sempat mereka sadar akan sebuah serangan, kedua prajurit itu sudah mati.
"Yang mulia, seperti nya raja serta keluarganya berada di dalam sini." Tutur Zeril sembari melihat dua prajurit nya yang sedang membuka pintu singgasana yang cukup mewah.
Ketika pintu itu mulai terbuka, puluhan bola api mendadak meluncur ke arah mereka. Ter yang sudah di perintahkan oleh Daniel untuk melindungi prajurit yang di bawa nya, langsung berdiri di depan mereka.
*Swush*
Di saat puluhan bola api tersebut sudah ada di depan nya. Ter langsung menebas tersebut dengan sangat cepat sehingga puluhan bola apa itu terbelah menjadi dua lalu menghilang begitu saja.
"Baiklah waktu nya aku." Ujar Daniel sembari mengeluarkan dua pedang milik nya serta mengaktifkan Striker shadow serta Haste, juga skill yang baru ia beli tadi yaitu Bionic shield.
Ketika Bionic shield aktif, cahaya putih keluar dan mengelilingi tubuh nya Daniel seperti sebuah perisai yang transparan.
Tidak lama kemudian, cahaya putih itu menghilang begitu saja dan tidak terjadi apa-apa di mata orang lain, tapi di mata Daniel berbeda, karena ia bisa melihat ada sebuah barrier berwarna emas yang sedang melindungi badan nya saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, berapa lama kalian akan bertahan."