King Of System

King Of System
ch.19 Kehancuran Licanara ³


__ADS_3

Tenda-tenda yang di pasang oleh pasukan pertama, kini mulai kelihatan di mata orang-orang yang di pimpin oleh Daniel. Itu berada di tengah-tengah kota lebih tepatnya di alun-alun yang sering lalu lalang orang.


Air mancur dengan patung Dierez berada di tengah-tengah nya, berada tepat di tengah dengan simpang empat di tiap sisi nya. Ribuan tenda sudah terpasang di sana, beberapa orang terlihat menggunakan perban di salah satu bagian tubuh mereka, menandakan jika mereka sedang terluka.


"Pasukan kedua telah datang!" Teriak orang yang sedang bertugas untuk menjaga kelompok nya.


Daniel dengan kuda nya pun kini langsung turun, Adler yang menyadari itu pun berinisiatif untuk membawa kan kuda nya Daniel. Tidak ada penolakan sama sekali dari nya, sehingga Adler yang menarik kuda itu tepat di belakang Daniel.


"Tunjukkan dimana tenda para komandan." Kata Daniel kepada orang yang berteriak sebelumnya ketika sudah ada di depan nya.


"Silahkan ikut dengan saya tuan." Balas orang tersebut.


"Adler, suruh mereka untuk beristirahat, setelah ini kita akan langsung menuju Istana."


"Baik." Jawab nya dengan tegas.


Setelah itu, Daniel pun mengikuti orang tersebut dari belakang. Tenda para komandan sendiri berada di dekat air mancur, juga dia memiliki ukuran yang lebih besar dari lainnya membuat itu lebih gampang untuk di temukan.


"Disinilah letaknya, silahkan langsung masuk saja tuan." Ujar pria tersebut setelah menunjukkan jalan nya.


Tanpa berterimakasih, Daniel hanya melangkahkan kaki nya masuk ke dalam. Namun, di saat ia masuk, hanya ada tiga komandan saja yang dia lihat, tidak hanya itu saja, Raul terlihat sedang terluka dengan tangan serta kaki yang sudah berbalut dengan perban.


Melihat kedatangan Daniel, tentu saja ketiga orang itu langsung berdiri tak terkecuali Raul yang masih terluka.


"Dimana Daser?" Tanya Daniel sebagai pembuka pembicaraan.


"Dia mati." Ujar Ormas dengan nada yang sedikit sedih dengan menundukkan wajah nya.


Daniel tidak mau menjawab langsung, itu membuat suasana di sana menjadi sedikit haru akan kepergian Daser. Walaupun begitu Daniel tidak memperdulikan itu semua, hanya demi rencananya lah dia juga ikut berakting sedih.


"Aku harus membalaskan dendam nya, kalian bertiga masih kuat untuk bertarung kan?" Tanya Daniel yang memecahkan keheningan tersebut.


"Tentu saja kami masih bisa." Balas Ormas dengan semangat.


"Duduklah, aku ingin memiliki beberapa pertanyaan untuk kalian." Kata Daniel sembari duduk di bangku yang ada sudah ada di depan nya.


Mereka berempat pun juga ikut duduk dengan meja segi empat yang berada dihadapan mereka semua.

__ADS_1


Daniel pun langsung menanyakan seputar pertempuran yang terjadi waktu itu kepada mereka semua.


Ormas pun mulai berbicara, dia menjelaskan betapa kacau nya ibukota. Bau busuk dan darah dapat tercium di hidung mereka, organ tubuh ada di mana mana, bahkan dia menyaksikan kawan seperjuangan nya di makan hidup hidup oleh orge dengan kedua mata nya.


Untungnya mereka semua dapat bertarung dan membuat para monster itu mundur ke istana.


Meski begitu, 21.000 orang telah mati dalam penyerangan kali ini, dan jarak mereka dengan istana sendiri masih terbilang jauh tidak hanya itu saja, monster yang di panggil oleh Daniel sendiri masih berkeliaran bebas di ibukota.


"Baiklah, kita harus melanjutkan nya, kali ini aku yang mengambil alih pasukan, kalian tidak perlu terlalu serius dengan pertarungan yang kali ini." Daniel berkata seperti itu setelah berdiri lalu mengakhirinya dengan tersenyum.


Dia pun berjalan keluar dari tenda.


"Sepertinya orang yang ku temui satu bulan lalu sudah menjadi sekuat ini." Ujar seorang elf dengan paras yang sangat cantik berdiri sembari tersenyum tepat didepan pintu tenda yang keluar nya Daniel.


"Elora?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV DANIEL.


Aku sedikit terkejut dengan apa yang di hadapan ku sekarang. Cathrine mungkin masih di bilang normal untuk mendatangi ku, bahkan Cathrine sendiri bersikeras untuk mengikuti ku pertempuran kali ini, namun aku tidak mengijinkan tersebut meski awal nya ada perdebatan di antara kami tapi akhir nya dia menyetujui untuk tidak ikut.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya ku.


Saat ini, aku sedang berjalan menuju pasukan dengan Elora yang berada di samping kanan ku.


"Aku hanya ingin bersenang-senang kok, lagipula aku ingin bertemu mu." Jawab nya.


"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan kepada ku? sampai-sampai ingin mendatangi ku?"


"Hah!? Bukankah sudah ku bilang aku hanya ingin menemui mu, apa kamu sekarang sepenting itu sehingga menemui mu saja membutuhkan alasan." Kata Elora yang meninggikan nada bicara nya.


"Sepertinya sikap mu tidak berubah." Balas ku dengan tersenyum kecil.


Kami pun tidak berbicara lagi hingga sampai ke pasukan yang aku pimpin, Elora masih ada di samping ku membuat Adler yang melihat itu terkejut dengan apa yang ku bawa.


"B-bukan kah anda tadi ke tenda komandan, bagaimana bisa cara nya anda membawa seorang perempuan cantik seperti ini di samping anda." Canda Adler setelah aku mengambil kembali kuda ku yang dia jaga sedari tadi.

__ADS_1


"Dia teman ku yang sedikit aneh, jadi perlakuan dia sebaik mungkin."


"A-aneh!? kata mu."


"Kami akan segera berangkat, kalau kamu tidak mau ikut tinggal saja di sini." Ujar ku seraya menaiki kuda dan mengabaikan perkataan nya.


Melihat aku yang sudah menaiki kuda, orang-orang yang sedang beristirahat pun bergegas untuk berbaris kembali, pedang nya pun langsung mereka pasang kembali di pinggang mereka.


Sekarang pasukan yang ku pimpin berjumlah lebih banyak dari sebelumnya, karena pasukan pertama jua ikut serta, ketiga komandan juga sekarang berada di samping ku dengan kuda yang mereka tunggangi.


"Wah, bukankah anda terlalu bermesraan, Padahal ini medan perang." Ejek Bhrail dengan tertawa.


Bagaimanapun aku memang sedang membawa Elora bersama ku di satu kuda, itu membuat ku menjadi perhatian semua orang tak terkecuali para komandan tersebut.


Monster yang aku summon sendiri ku perintahkan sesekali untuk menyerang, tapi, hanya ribuan goblin sajalah yang ku perintahkan untuk menyerangnya, sehingga aku dapat dengan mudah untuk mengalahkan nya.


Pertempuran dengan monster pun terus terjadi, stamina mereka pun mulai terkuras sedikit demi sedikit. Tetapi, semangat mereka untuk bertarung tidak padam sedikit pun.


"Akhirnya selesai juga," Ujar ku setelah menghabisi goblin summon dengan sekali tebasan, "Sepertinya monster yang tidak aku summon juga ikut serta di sini."


Setelah perjalanan ke istana yang cukup melelahkan kan itu, akhirnya kami semua mulai melihat Istana yang sangat megah. Teriakan manusia yang meminta tolong terus terdengar di dalam istana itu, membuat suasana menjadi mencekam.


"Tenanglah, kita harus fokus." Tutur ku yang melihat mereka mulai ketakutan.


Mendengar itu, mereka pun mulai tenang kembali, lagipula mereka semua sudah menyaksikan kekuatan ku sendiri, jadi aku sangat yakin bila mereka percaya kalau aku bisa mengalahkan Ymir.


Di saat sampai di depan Jembatan penghubung gerbang masuk istana, terlihat lah sudah ada puluhan ogre yang ku panggil sudah berdiri menjaga gerbang istana tersebut.


Aku yang melihat itu pun langsung mengeluarkan kedua pedang ku dan mengaktifkan Strike Shadow dan Haster.


*Swush*


Tebasan secara horizontal mengenai perut mereka, 8 ogre mati seketika dengan badan mereka terbelah menjadi dua, orang-orang yang melihat itu tidak bisa tidak terkejut.


Aku pun menerobos maju, gerakan ogre sendiri lumayan cepat. Namun, gerakan ku lebih cepat dari mereka, tangan yang ingin menangkap ku langsung ku serang dan langsung terpotong bagaikan kertas.


Tidak membuang-buang waktu lagi, aku langsung menggunakan Arc lighting setelah 10 ogre ku bunuh menggunakan pedang ku, dan habislah mereka semua tidak sampai 1 menit.

__ADS_1


Sorakan pun terdengar di telinga ku dari belakang.


"Kalau begitu ayo kita masuk." Ujar ku sembari menaikkan Sword of devil seperti gaya seorang pahlawan.


__ADS_2