
The goal of all death ialah sebuah skill yang ia dapatkan dari sistem beberapa hari yang lalu. Sihir atau skill tersebut tidak di berikan begitu saja, melainkan Daniel menyelesaikan dua buah misi yang ia dapatkan, yaitu pertama mengambil alih kerajaan Rasril dan yang kedua adalah mengambil alih organisasi Dark light.
"The goal of all death." Ketika Daniel berkata seperti itu.
Lingkaran jam yang memiliki ukuran sangat besar pun terbentuk di belakang nya, dengan tiap angka jam yang berbentuk angka Romawi serta memiliki warna coklat keemasan yang sangat indah.
Lingkaran jam tersebut sangat besar sehingga menutupi hampir semua langit ibukota, hal itu tentu saja membuat orang-orang yang ada di ibukota mata nya langsung tertuju ke atas langit karena penasaran. Semua orang yang melihat nya pun hanya bisa terkagum-kagum.
"Apa itu sangat indah."
"Apakah itu sebuah keajaiban?"
"Dewa sedang memperhatikan kita."
Semua orang pun memuji hal tersebut. Akan tetapi mereka tidak tahu jika ada seseorang yang sedang terbang di atas langit mereka dan merapalkan sihir tersebut sehingga terbentuk lah fenomena itu.
Jarum jam pun mulai bergerak, dari angka satu dan perlahan bergerak ke angka 12.
Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 12, sebuah suara yang sangat tinggi tercipta. Mereka yang mendengar itu pun langsung berteriak kesakitan, bahkan ada beberapa orang yang menutupi telinga mereka dengan tangan, hingga tanpa sadar membuat telinga mereka berdarah.
Seluruh ibukota Ghama dapat mendengar itu, bahkan tenda pasukan Dracania yang jarak nya 10 Km dari ibukota juga dapat mendengar suara tersebut, meskipun tidak separah yang ada di ibukota.
Tidak hanya itu, setelah suara yang nyaring dan mengerikan itu mulai memelan, jam yang ada di belakang Daniel pun pecah seperti sebuah kaca serpihan.
Lalu muncullah sebuah sinar putih yang sangat terang, bahkan membuat semua orang yang melihat nya buta seketika, tidak hanya itu bangunan-bangunan pun mulai terkikis lalu terangkat ke atas langit.
Semua orang panik, mereka berlarian dengan mata yang sudah buta. Raja dan para bangsawan yang meremehkan ancaman dari Daniel pun sekarang menyesali akan perbuatan mereka yang tidak mendengar kan peringatan Saniel.
Untungnya Saniel sudah menjauh dari ibukota di ikuti beberapa orang yang percaya akan peringatan tersebut.
Dengan sinar putih yang sangat silau serta suara tinggi yang tidak henti-hentinya, membuat orang-orang yang ada di ibukota menderita. Tidak hanya itu, secara perlahan pendengaran mereka juga mulai rusak, dengan mata yang sudah buta dan telinga yang tidak dapat mendengar lagi.
__ADS_1
Hanya ada rasa putus asa di hati mereka.
Beberapa orang mulai menjadi gila, namun ada beberapa orang juga masih berusaha untuk bertahan hidup. Tetapi apa pun yang mereka lakukan saat ini, tidak akan ada hasil nya karena sebentar lagi hanya ada sebuah kematian yang akan menjemput mereka.
Sungguh siksaan yang sangat kejam.
Di saat suara tinggi itu mulai memelan dan menghilang , di situ lah cahaya putih itu mulai membesar dan menyinari seluruh ibukota membuat ibukota kerajaan Ghama di selimuti cahaya putih dan tidak bisa di lihat lagi dari kejauhan.
Para prajurit Dracania yang melihat kejadian itu pun hanya bisa tercengang melihat apa yang sedang di lakukan oleh kaisar nya sekarang.
Kejadian tersebut pun berlangsung beberapa detik saja.
Sebelum ibukota Ghama menjadi sebuah padang pasir atau padang gurun. ribuan orang yang mendiami kota tersebut pun berubah menjadi sebuah pasir tanpa menyisakan tubuh mereka sedikit pun, begitu juga dengan bangunan-bangunan yang menghiasi nya. Suara teriakan orang yang kesakitan pun menghilang di ganti dengan suara hembusan angin yang membuat pasir tersebut berterbangan.
Ibukota kerajaan Ghama akan menjadi bukti sejarah bahwa sekuat apa sihir yang di miliki oleh Daniel.
Hal itu pasti akan tercatat didalam buku sejarah sihir yang akan di ingat oleh umat manusia hingga ratusan tahun tidak bahkan ribuan tahun, juga menjadi sebuah pelajaran bahwa tidak boleh meremehkan lawan sedikit pun.
"Apa yang ku lakukan sudah benar?" Dia pun larut dalam pikiran nya, ada berbagai emosi muncul di dalam hati nya. Tapi, dia juga tidak merasa bersalah karena dia sudah memperingatkan orang-orang tersebut untuk mengevakuasi kan diri mereka.
[ Peringatan sang Creator memperhatikan anda. ]
Dengan kekuatan sihir yang di luar batas manusia, tentu saja itu akan menarik perhatian sang pencipta.
Namun di sisi lain, dewi Adelia sedang tersenyum melihat Daniel melakukan hal tersebut, begitupula dengan seorang dewa yang menggunakan jubah putih yang duduk di sebelah dewi Adelia.
"Mungkin aku perlu beristirahat beberapa hari ini." Ujar Daniel yang mulai turun dari udara. Dia pun langsung berjalan dengan santai di atas padang pasir yang luas tersebut menuju hutan hijau yang lumayan jauh dari nya.
Sebuah keajaiban telah tercipta, padang pasir yang berwana coklat muda di kelilingi oleh hutan hijau yang lebat. Itu merupakan keajaiban yang bukan diciptakan oleh alam namun oleh tangan manusia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
POV DANIEL.
"Kekuatan yang sangat luar biasa tuan." Ujar Ymir yang sudah menunggu ku di dalam hutan.
"Benar-benar petunjukan yang sangat luar biasa tuan." Begitu juga Ter yang berdiri di tepat sebelahnya Ymir.
Aku pun hanya berjalan mengabaikan perkataan mereka, hingga sampai ke tenda pasukan yang ku bawa. Terlihat di sana sudah ada Ormas dan Raul yang sudah menunggu ku beserta kuda putih, mereka masih menggunakan full body armor di badan nya meskipun seperti nya mereka berdua tahu jika aku sudah meratakan ibukota Ghama.
Saat ini hanya Ter yang berjalan bersama ku, karena Ymir adalah seorang iblis atau demon yang ku kalahkan waktu itu, jadi aku tidak membawa nya.
Mereka berdua pun langsung berlari kecil ke arah ku dengan menarik kuda putih nya.
"Benar-benar sihir yang sangat luar biasa." Puji orang tua tersebut yaitu Ormas, Raul pun juga ikut memuji ku.
"Besok kita akan pulang, jadi rayakan lah kemenangan nya sepuas kalian setelah sampai ke ibukota." Kata ku.
"Hahaha... sungguh kehormatan bagi kami bisa merayakan kemenangan anda." Tawa canggung Ormas.
"Dan silahkan menaiki nya yang mulia." Tutur Raul memberikan kuda tersebut dengan sopan.
Aku pun hanya menaiki kuda yang mereka bawa dan menyuruh Ter untuk beristirahat, begitu pula dengan Ormas dan Raul. Pasukan yang ku bawa bisa di bilang banyak, sehingga tenda-tenda tersebut menjadi sebuah desa besar membuat mereka berdua memberikan ku kuda untuk memudahkan diri ku mencari tenda yang ku miliki.
Tenda yang di bangun untuk ku pun sangat berbeda, karena dari ukurannya saja sudah besar, dengan dua penjaga prajurit elit yang menjaga di depan pintu masuk nya.
Para prajurit yang melihat ku pun menyapa diri ku setelah membungkuk kan badan nya, aku pun hanya membalas mereka dengan tersenyum.
"Apa ini waktunya untuk ku berpindah benua?"
Jangan lupa untuk dukung author dengan like dan komen nya, agar saya selalu semangat untuk update chapter selanjutnya.
Bersambung.
__ADS_1