
"Karena tidak asik jika kalian langsung mati, bagaimana kalau satu pertanyaan untuk satu orang, dan orang yang tidak mau menjawab, maka akan ada hukuman nya." Ujar Daniel yang mulai berjalan ke arah para komandan yang sedang berdiri.
Salah satu komandan yang saat ini berdiri di dekat Daniel, langsung mengeluarkan pedang nya lalu berlari ke arah Daniel dan ketika ingin menebas nya.
"Bullet light." Hanya mengucapkan seperti itu, perut orang tersebut pun mendadak mengeluarkan darah yang tanpa dia sadari. Meskipun bullet light sendiri memiliki ukuran seperti jari kelingking manusia saja, namun itu tetaplah sangat mematikan dengan kecepatan nya.
"A-ada apa ini." Orang yang terkena serangan itu pun akhirnya merasakan rasa sakitnya.
Dia memegangi perut nya dan melihat jika tangan yang ia gunakan untuk memegang perut nya tersebut, sudah penuh dengan darah. Seketika rasa pusing dapat ia rasakan dan mulai tergeletak lah ia di tanah tepat di depan para komandan dan Daniel.
"Healing." Daniel pun merapalkan mantra tersebut dengan tangan di atas orang yang perut nya terluka.
Aura kehijauan menerangi seluruh tubuh nya, dan darah yang ada di perut nya tersebut mulai menghilang. Juga rasa sakit yang dirasakan oleh orang tadi pun sontak menghilang begitu saja.
"Asal kalian tahu, meskipun aku membunuh kalian beberapa kali atau kalian bunuh diri, aku akan terus menghidupkan kalian, hingga aku ingin kalian mati, jadi jawablah pertanyaan ku jika kalian ingin mati dengan tenang." Ujar Daniel dengan senyuman nya lagi.
"A-apa yang kau bilang, semua nya serang!" Komandan yang duduk di tengah pun marah mendengar semua perkataan Daniel. Karena dia merasa sangat kesal di rendahkan oleh seorang pria muda.
Puluhan orang yang berada didalam tenda tersebut pun, serentak mengeluarkan pedang mereka dan berlari ke arah Daniel. Daniel saat ini hanya bisa tersenyum dengan kelakuan bodoh para komandan tersebut.
"Arc lighting."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV DANIEL.
Setelah mengintrogasi para komandan yang aku temukan secara tidak sengaja di tenda besar ini, dapat aku simpulkan memang dari awal mereka berencana untuk melakukan penghianatan kepada raja Awami yang sudah aku eksekusi.
Akan tetapi, hal yang mereka tidak duga pun muncul, yaitu ibukota Dracania sudah aku kuasai lebih dahulu dari mereka. Itulah yang membuat raja mereka sangat marah dan langsung menyerang kota Nassel tanpa ada informasi lanjut tentang kekuatan yang aku miliki.
"K-kumohon bunuh saja aku." Ujar salah satu komandan, dia sendiri sudah berpuluh-puluh kali ku bunuh lalu ku hidupkan kembali membuat nya seperti orang yang sudah putus asa akan kehidupan.
Begitupula dengan yang lainnya, awal nya mereka sangat kuat dengan pendirian nya yang tidak mau berbagi informasi tentang apapun itu. Namun, setelah aku bunuh beberapa kali, akhirnya mereka mau berbicara jua.
"Baiklah, karena kalian sudah tidak berguna, jadi lebih baik kalian semua mati." Kata ku.
Lalu aku pun mengeluarkan Sword of devil ku dan menebas mereka yang membuat para komandan itu mati dalam sekali serangan saja tanpa ada perlawanan nya sedikitpun.
__ADS_1
"Ter apakah di luar sana sudah selesai?"
"Beberapa orang kabur ke hutan tuan, apakah saya perlu mengejar nya?"
"Bunuh siapapun itu, kejar mereka ke manapun, jangan biarkan mereka lolos, mereka semua adalah level yang sangat berguna untukku."
"Saya mengerti tuan."
"Aku baru ingat, sisakan satu prajurit untuk hidup, agar dia bisa menceritakan pada warga di sana akan kengerian kekuatan kita."
"Saya paham tuan."
Setelah mendapatkan jawaban dari Ter, aku pun berjalan keluar dari tenda. Ribuan mayat manusia dapat di lihat di manapun aku memandang, hanya ada satu kata yang dapat aku sampaikan sekarang yaitu 'Pembantaian'.
"Entah kenapa, rasa kasihan ku pada manusia mulai menghilang." Pikir ku yang saat ini berjalan di antara ribuan mayat tersebut.
Sepanjang jalan aku dapat melihat berbagai mayat manusia dalam keadaan hampir tidak utuh, Grias sang penjaga tembok bagian timur yang melihat kehadiran ku dari kejauhan, langsung berlari menghampiri ku.
"S-saya tidak menyangka anda bisa menghabisi ini semua yang mulia." Kata nya dengan penuh kekaguman pada ku.
"T-tapi saya ingin memban—"
Aku pun memukul tepat di bagian perut nya membuat ia tidak bisa menyelesaikan perkataannya dan terlutut akibat pukulan ku tersebut. Orang-orang yang di bawa Grias pun hanya bisa melihat itu tanpa berbicara sedikitpun.
"Ingat, jangan pernah melanggar perintah ku." Ujar ku dengan menatap tajam ke arah nya.
"B-baik s-saya akan mengingat nya y-yang mulia." Balas nya yang masih terlutut didepan ku serta nada yang menahan rasa sakit.
"Healing." Selepas dia berkata seperti itu, aku pun memutuskan untuk menyembuhkan nya, lagipula dengan melakukan ini reputasi ku akan bertambah dihadapan mereka.
"Apa yang terjadi padaku..." Grias pun bertanya-tanya pada dirinya ketika perut nya tidak merasakan sakit lagi, dia terlihat tidak mengalami apapun tadi."...Terimakasih atas kemurahan nya yang mulia." Ujar nya setelah merasa jika sihir ku lah yang menyembuhkan nya tadi.
"Lupakan itu, aku memerintah ku mu untuk mengumpulkan prajurit yang tersisa sekarang, karena besok kita akan berangkat menuju kerajaan Rasril."
"Saya mengerti yang mulia."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ini sudah malam hari dan Ter masih mengincar para prajurit Rasril yang kabur dari perang, beberapa ada yang sudah pasrah dan hanya duduk di tanah menunggu Ter untuk menjemput ajal nya.
Tetapi, ada juga beberapa yang masih berusaha kabur namun pada akhirnya tetap di temukan oleh Ter.
"K-kumohon jangan bunuh ak—"
"Jangan keja—"
"Dasar monster sialan."
Akhirnya, kelompok terakhir dari para prajurit Rasril yang kabur dari peperangan di temukan Ter. Jumlah nya ada 14 pria, awal nya mereka menyerang Ter ketika bertemu dengan nya, tapi setelah melihat kekuatan Ter yang sangat mustahil untuk di kalahkan, para prajurit itu pun berlarian meskipun itu hanyalah sesuatu yang sia-sia.
"Kau, beritahu pada raja mu, jika yang mulia Daniel akan menghancurkan kalian semua." Ter pun berucap seperti itu setelah menyisakan satu pria yang masih hidup.
Keringat dingin, tubuh yang gemetaran serta hawa yang mencekam lah yang hanya dapat di rasakan oleh pria itu sehingga dia tidak mampu untuk menjawab pernyataan Ter, dan hanya terduduk di depan nya.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Ter hanya meninggalkan pria itu sendirian di hutan.
"Apa kamu sudah selesai dengan urusan mu?" Tanya Daniel melalui kemampuan summon nya yang bisa saling terhubung dengan monster summon ia.
"Saya sudah selesai tuan." Jawab nya.
"Kalau begitu kembalilah, besok akan ada banyak yang harus di lakukan."
"Saya mengerti tuan."
Dan begitulah akhir dari percakapan mereka yang singkat, Ter sendiri dapat dengan mudah kembali ke kota Nassel. Karena mahluk summon dengan tuan nya saling terhubung satu sama lain sehingga mereka dapat merasakan keberadaan nya.
*
*
*
Keesokan harinya, ribuan prajurit yang berada di kota Nassel sudah berkumpul tepat di depan tembok bagian timur, Daniel sendiri sudah menaiki kuda yang di siapkan oleh Grias.
"Apakah waktunya untuk membeli skill baru."
__ADS_1