
Seorang Wanita bergamis pink tua berlari kecil dari Ruangan Pemeriksaan di sebuah Rumah Bersalin menuju ke bagian belakang. Ia melewati tangga menuju keatas kamar yang terletak dilantai dua. Dengan mengangkat sedikit baju gamisnya ia melangkah dengan langkah yang lebar dengan maksud agar segera sampai ketempat tujuannya.
“Ka, Aku Lulus… Nama aku keluar….!!” Ucapnya dengan nafas yang masih naik turun.
“Maksudnya apa?” Tanya Siska bingung.
Wanita yang sedang baring-baring sambil menonton TV itu langsung bangkit ketika melihat teman kerja sekaligus teman satu kuliahnya dulu datang dengan nafas tersengal-sengal dan dengan ekspresi wajah yang menegangkan.
“Aku lulus Tes PNS…” Jawabnya dengan suara yang masih bergetar.
“Apa…?” Teriak Siska dengan ekpresi wajah yang seakan tidak percaya.
“Serius Lah Lya…” Ucapnya lagi yang berharap sahabat dekatnya itu cuman sekedar mengerjai dirinya.
Aleeya, Wanita bergamis pink tua itu mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar memancarkan sinar kebahagiaan yang tiada tara.
“Serius Ka, Tadi Selfi nelpon… Dia yang lihatkan nama aku di situs Internet… Alhamdulillah ka… Nama aku ada… aku lulus…” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Siska yang tadi masih duduk di pinggir ranjangnya langsung berdiri dan berjalan mendekati Aleeya.
“Alhamdulillah Lya, aku ikut senang… Lya lulus…. aku kapan nyusul ya…. hiks..hiks” Ucap Siska terisak-isak setelah itu langsung memeluk Aleeya.
“Tapi, berarti kamu ngak kerja disini lagi lah…. dibalik kebahagiaan ada kesedihan ternyata” Ujarnya lagi dan kembali memeluk erat sahabat dekatnya itu.
__ADS_1
“InshaAllah… Mudah-mudahan ada rezeki kamu juga jadi PNS Tahun depan ya…” Kata Aleeya menenangkan sahabatnya itu.
“Aamiin ya Allah.”Jawab Siska.
Aleeya tak pernah menyangka dia bisa lulus tes PNS yang sudah diikutinya setahun yang lalu itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya namanya bakal keluar, padahal yang mendaftar saat itu ratusan orang sedangkan yang diterima hanya 12 orang. Awalnya ia mengikuti Tes hanya iseng belaka yang akhirnya malah jadi berbuah kenyataan. Ini merupakan anugerah yang tak terduga dari Allah.
Aleeya tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati. Mungkin inilah yang dinamakan rezeki yang tak terduga. Rezeki yang sudah diatur oleh Allah untuk jalan hidupnya kedepan, Karena tidak dipungkiri saat ini menjadi seorang PNS adalah sebuah Anugerah dan kebanggaan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi Aleeya dan keluarganya. Dan Aleeya tidak sabar untuk segera memberi tahu kabar bahagia ini kepada kedua orang tua dan Juga saudara-saudaranya dirumah.
***
Aleeya berjalan keluar dari KLinik Bersalin tempat ia bekerja menuju ke persimpangan jalan raya untuk menunggu angkot yang akan membawanya pulang kerumah. Kebetulan hari ini adalah hari liburnya. Aleeya sengaja belum mengabari orang tuanya lewat telpon tentang kelulusannya. Alleya berfikir bahwa memberitahu Orang tuanya secara langsung akan lebih baik.
Aleeya menunggu angkot di trotoar jalan dengan sedikit gelisah, sudah hampir 15 menit dia berdiri disana tapi tak satu pun angkot yang lewat. Tiba-tiba hp didalam tas Aleeya berdering yang membuatnya sedikit kaget.
"Walaikumusalam, kak Widi.. Lya lagi dijalan nunggu angkot kak.." Jawab Aleeya.
"ohh.. Mau pulang ya, oiya..kakak mau ngabarin halaqoh kita dimajukan jadi jam 1 siang dirumah kakak ya.. Jangan telat ya Lya, kak juga sudah ngabarin yang lainnya. Ya sudah hati-hati dijalan, Assalamu'alaikum.."Ucap Kak Widi dengan buru-buru mengakhiri perbincangan mereka lewat telpon.
Untuk sesaat Aleeya tertegun. Mendengar kata Halaqoh membuat hatinya tersentak. Tidak dipungkiri juga tiba-tiba ada sekelebit rasa ngilu yang Merasuki hatinya. Aleeya menelan ludahnya. Dalam hati ia berfikir akankah ia bisa tetap istiqomah dengan rutinitas pengajiannya ini jika ia nantinya akan pergi meninggalkan kota ini? dan mengabdi sebagai seorang Bidan Desa yang jauh dari Kota? Karena saking senangnya tadi tak terlintas dipikiran Aleeya akan hal ini. Dia pasti akan jauh dari para musrifah-musrifah yang telah menjadi penyemangat dalam hijrahnya 2 tahun belakangan ini.
Aleeya sudah sangat nyaman dan terbiasa berkumpul dengan mereka. Para pejuang dakwah yang tak kenal kata lelah.
Jika meniti lagi kebelakang sebenarnya tidaklah mudah bagi Aleeya untuk sampai dititik ini. Perjuangan dirinya dalam menjemput hidayah yang ia temukan dari tangan seorang lelaki yang pernah diam-diam ia sukai dulu sewaktu berseragam SMA. Lelaki tampan berwajah arab dengan alis yang tebal itu bernama Al-Mukhlis. Teman-teman SMAnya biasa memanggilnya Aal. Aal yang ia kenal di SMA dulunya adalah sosok lelaki yang humoris, sedikit jail dan selalu memberikan perhatian lebih ke dirinya. Tapi, setelah tamat SMA Aal yang melanjutkan kuliah di Pulau Jawa itu menjadi berubah. Aleeya bisa tahu itu karena dia selalu mengikuti perkembangan lelaki itu di sosial medianya.
__ADS_1
Aleeya mendapati Aal berubah menjadi sosok yang alim dan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berbau islami. Aleeya semakin merasa kagum meskipun dirinya belum mampu untuk mengikuti jejaknya saat itu.
Seiring dengan berjalannya waktu, Aleeya yang Saat itu masih berada didalam dunia kelamnya, Yang menjalani hubungan pacaran dengan seorang laki-laki, akhirnya tiba pada satu titik yang membuat dirinya merasa patah hati, galau dengan segala kegundahan hati yang berdampak pada kesehatan jiwanya. Jiwanya jadi tak tenang, pikirannya kacau dan segala Kenekatan yang bersifat bodohpun sampai ia lakukan demi lelaki itu. Ya.. Dulu... Aleeya memang pernah diposisi yang memperihatinkan. Saat hatinya kosong.. Dirinya lemah.. Disitu lah ia merasa membutuhkan sesuatu yang bisa memberikan kekuatan dan ketenangan untuk dirinya.
Sesuatu yang bersifat kekal dan abadi. Aleeya mulai merasa membutuhkan Allah. Tapi dia Belum tau harus memulai dari mana saat itu. Sampai akhirnya, ia memberanikan diri menghubungi Aal. Aleeya curhat dan menceritakan segala kegundahan hatinya kepada lelaki yang sudah duluan hijrah itu.
Akan tetapi, bukannya dukungan ataupun motivasi yang ia dapati saat bercerita ke Aal mengenai masalahnya. Aal yang mungkin tau saat itu dirinya lagi patah hati malah mengenalkannya dengan kakaknya. Ia menyuruh Aleeya ntuk menghubungi beliau dan menyarankan untuk bercerita permasalahannya ke kakaknya, yang bernama kak Hilmi, seorang pengemban dakwah yang sangat berpengalama. Wanita sholeha yang membuat perlahan-lahan hatinya terbuka untuk belajar mengkaji islam secara Kaffah.
Begitulah awalnya Aleeya bisa bergabung dengan para muslimah-muslimah yang menjadi penguat ikatan keimanannya. Meskipun pernah terbesit Harapan dihatinya untuk bisa belajar islam melalui Aal tapi Segera ditepis oleh Aal.
"Akhwat belajar mengkaji islam dengan akhwat, begitupun ikhwan belajar mengkaji islam pun dengan ikhwan.."Ucapnya saat itu yang Aleeya pahami bahwa dia memang ingin menjaga hatinya dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya ke sesuatu yang tidak baik.
Setelah itu Aleeya pun mulai aktif mengkaji islam setiap minggunya, mengikuti acara-acaran tabliq akbar dan kegiatan keagamaan lainnya. Aleeya merasa beruntung berada dilingkungan yang mengajarkan dirinya menjadi pribadi yang lebih sabar dan ikhlas. Dan juga merasa bahagia di kelilingi oleh Muslimah-muslimah yang selalu peduli dan tak mengenal lelah dalam membimbingnya.
"Tetap Istiqomah ya Lya, apapun yang terjadi semoga kamu jangan sampai kembali lagi pada kesesatan yang dulu. Tetap berada dalam jamaah karena mereka lah yang akan memperkuat keimanan kamu dan semangat juang mu dalan berdakwah nantinya." Ucap salah satu musrifah Aleeya yang masih kental didalam ingatannya hingga saat ini.
Sampailah hingga saat ini, lebih kurang 2 tahun dia bergabung bersama Mereka. Dan saat ia tamat kuliah dan mulai memasuki dunia kerja, sungguh ia merasa selalu diberi kemudahan oleh Allah untuk tetap istiqomah dalam ketaatannya. Seperti dari segi pakaian, Aleeya mendapatkan izin dari pimpinan klinik untuk menggunakan pakaian syar'i saat bekerja karena padahal untuk seorang Nakes sebenarnya mengharuskan mereka untuk berpakaian yang mudah bergerak seperti bercelana. Tapi Aleeya bisa menyakinkan pimpinannya bahwa pakaian syar'inya tidak akan menganggu ruang lingkupnya dalam bekerja.
Setahun yang lalu Aleeya iseng-iseng ikut salah satu teman kuliahnya untuk mengikuti test PNS disebuah kabupaten yang baru berkembang, kabupaten yang berada di kepulauan. Tak pernah terbayang oleh Aleeya yang niat awalnya cuman iseng saja akhirnya berbuah hasil yang tak terduga. Aleeya lulus. Dia diterima sebagai CPNS di kepulauan itu. Lantas Aleeya merasa bahagia, karena dengan itu ia bisa mengangkat derajat kedua orang tuanya yang pasti bangga dengan kelulusannya. Meskipun penempatannya berada didesa yang terpencil. Dia akan menjadi seorang Bidan Desa.
Tapi, Aleeya menjadi bimbang ketika kembali mengingat Aktifitas pengajiannya. Dia akan pergi jauh, meninggalkan kota dan mengabdi disebuah desa yang masih terpencil. Dia akan jauh dari jamaahnya, dia tidak tahu apakah di desa nantik ada juga pengajian seperti di kota ini? Jika tidak ada, bagaimanakah dirinya bisa tetap istiqomah untuk mengkaji islam sedangkan dirinya jauh dari mereka, para muslimah pejuang dakwah?
Kepala Aleeya seakan berputar-putar memikirkan ini semua. Ternyata dibalik kebahagiaan tersimpan sejuta kegaluan yang merasuki hatinya. Aleeya pun menjadi bertanya-tanya didalam hati, apakah ini suatu anugerah yang diberikan oleh Allah untuk dirinya?Ataukah sebuah ujian? Ujian yang menguji keimanan dan ketaatannya apakah bisa tetap istiqomah dalam mengkaji islam Nantiknya meskipun ia akan pergi jauh mengabdi sebagai seorang Bidan Desa di desa terpencil. Aleeya kembali merenungi setiap hal yang terlintas dipikirannya. Sampai akhirnya sebuah angkot berhenti dan ia langsung bergegas masuk kedalam angkot yang akan membawanya pulang kerumah.
__ADS_1
Bersambung...