
Setelah selsai sholat dan membaca Al-quran beberapa lembar, Aleeya mendengar sebuah ketukan dari luar. Tanpa menanggalkan mukenanya, Aleeya langsung saja berlari kecil kearah luar untuk membukakan pintu. Aleeya pikir itu pasti kak Ovi yang datang.
Ceklek...
Pintu terbuka, seraut wajah lelaki langsung saja nongol dari balik pintu. Wajah itu sudah dihiasi sebuah senyuman dibibirnya.
"Halo, kamu orang baru ya disini?" Tanya lelaki itu dengan memandang Aleeya dari ujung kaki ke ujung kepala. Aleeya lalu menganggukkan kepalanya.
"Kamu siapa ya? Dan mau cari siapa ya?" Tanya Aleeya akhirnya yang memang tidak pernah melihat lelaki itu sebelum nya.
Lelaki yang berpenampilan agak amburadul itu tidak langsung menjawab pertanyaan Aleeya. Dia tampak memamerkan senyuman sengitnya yang semakin lama semakin lebar dan menyeramkan bagi Aleeya sehingga membuat Aleeya hanya bisa menelan salivanya.
"Kamu cantik juga ternyata ya" Desis lelaki itu dengan tatapan liarnya. Aleeya yang takut ditatap seperti itu lalu menutup pintu rumah nya namun ditahan oleh lelaki tersebut.
"Loh, kok ditutup? Kamu gak mau nyuruh aku masuk dulu?" Tanyanya yang masih menahan gagang pintu tersebut dengan kuat.
"Maaf, saya cuman sendiri di rumah. Kalau mau bertamu nantik saja kalau kak Ovi sudah pulang." Jawab Aleeya masih memandang takut-takut kearah lelaki aneh menurutnya itu.
"Malahan bagus donk kalau kamu sendiri dirumah. Kita akan lebih leluasa berdua-duaan sayang." Ucapnya yang kemudian akan menyentuh tangan Aleeya. Tapi, untung Aleeya cepat menarik tangannya sehingga tidak tersentuh oleh lelaki kurang ajar itu.
"Jangan macam-macam ya. Kalau kamu macam-macam, aku akan teriak" Ancam Aleeya berusaha untuk garang.
"Hahahahah..." Lelaki itu malah tertawa keras menanggapi perkataan Aleeya. Suara tawanya Yang keras menggelegar itu membuat telinga Aleeya seakan sakit. Melihat gelagat lelaki yang sangat aneh itu, membuat keyakinan dihati Aleeya bahwa si lelaki pasti sedang mabuk. Ucapan yang keluar dari mulutnya pun terdengar rada ngelantur tidak jelas, seakan meracau-racau mengatakan sesuatu yang terdengar tidak masuk akal.
Kini Aleeya kembali mendorong pintu yang masih ditahan oleh lelaki aneh itu, namun tenaganya kalah kuat dengan tenaga lelaki itu. Ia masih menahan pintu dengan kuat sehingga sedikitpun Aleeya tidak berhasil untuk menutup pintu.
Lelaki itu masih menatap Aleeta dengan mata yang sangar sehingga mampu membuat Aleeya menjadi sangat takut
__ADS_1
"Ayoklah kita senang-senang Rayya.. Aku sangat-sangat mencintaimu." Ucap lelaki itu dengan sekali-sekali matanya terpejam. Mendengar nama Rayya yang disebut, membuat Aleeya yakin si lelaki mabuk ini sedang berhalusinasi dengan menganggap dirinya sebagai seorang Rayya. Entah siapa Raya yang dimaksudnya. Apakah pacarnya atau siapa?? Aleeya pun tidak tahu jawabannya.
Kendatipun demikian, AleeYa berdoa dalam hati semoga ada siapapun yang datang menolongnya dari lelaki mabuk itu.
"Aku bukan Rayya, lebih baik kamu pergi dari sini. Sebelum aku teriak memanggil orang-orang." Ancam Aleeya lagi.
"Rayya sayang, kamu kok garang sekali.. Aku.." Ucapnya lalu mendorong pintu dengan kuat sehingga membuat pintu yang setengah terbuka tadi kini terbuka sempurna. Lelaki mabuk itu kini sudah masuk kedalam rumah. Merasa keselamatannya terancam, maka Aleeya dengan sigap langsung berteriak mIntak tolong.
Suara teriakan mintak tolong Aleeya di dengar oleh Bang Ojik juga Fauzal yang untungnya mereka berdua itu ada di rumah dinas. Mereka lalu menghampiri Aleeya dan juga lelaki mabuk itu.
"Ada apa ini? Kenapa kamu teriak Aleeya?" Tanya Bang Ojik dengan wajah yang cemas. Begitu juga dengan Fauzal yang terlihat panik.
Aleeya Tidak langsung menjawab, namun matanya langsung melirik takut - takut kearah lelaki mabuk tersebut.
"Bang Ferdi ngapain disini?" Tanya Ojik yang ternyata kenal dengan lelaki mabuk itu.
"Bukan Bang, dia bukan Rayya. Abang salah orang" Jawab Bang Ojik yang sadar bahwa Ferdi tengah mabuk dan juga berhalusinasi dengan menganggap Aleeya sebagai Rayya.
"Ya dia bukan Rayya, namanya Aleeya." Fauzal ikut menimpali. Kemudian Bang Ojik merangkul Bang Ferdi untuk keluar dari rumah tersebut dengan sebelumnya Memberi kode kepada Aleeya dan Fauzal untuk menutup pintu.
Setelah Bang Ferdi dan Bang ojik keluar dari rumah. Aleeya langsung mengehembuskan nafas dengan lega.
"Alhamdulillah, syukurlah.." Ucap Aleeya dengan penuh rasa syukur.
"Kamu gak diapa-apain sama lelaki mabuk itukan, Lya?" Tanya Fauzal yang ternyata masih ada didalam rumah juga. Aleeya langsung tersentak setelah menyadari Fauzal ada didalam rumah bersama dirinya sedangkan pintu sudah tertutup.
"Kamu.. kamu kenapa ada di dalam? Keluar kamu, tolong keluar sekarang." Usir Aleeya dengan garang yang membuat Fauzal terheran - heran. Tapi, ia tetap membuka pintu juga dan keluar dari rumah dinasnya Aleeya.
__ADS_1
####
Keesokan harinya, Aleeya mendapat kabar dari Kepala Puskesmas bahwa sekitar 2 hari lagi Aleeya akan diantarkan untuk menetap didesa Dedap, tempatnya sesuai SK yang sudah keluar.
Ada perasaan sedih yang merasuki dirinya, Aleeya merasa belum siap untuk ditempatkan didesa seorang diri. Meskipun dia sudah menyiapkan mentalnya jauh-jauh hari tapi tidak dipungkiri terkadang rasa takut dan ragu itu tetap ada juga.
"Polindes kamu didesa sudah diupahkan ke orang sana untuk dibersihkan Aleeya. Jadi, sampai sana kamu gak perlu bersih-bersih lagi karena maklumlah yang namanya tempat yang sudah ditinggalin berbulan-bulan pastilah kotor dan berdebu." Ucap kak Zubaidah, staf di Puskesmas tersebut dan seorang Bidan juga yang merupakan orang asli didesa dedap tersebut.
"Besok Aleeya pergi dengan siapa kak?" Aleeya bertanya lagi dengan Kak Zubaidah.
"Sama kepala Puskesams, kakak dan satu lagi entar.. biar kepala puskesamas saja yang menentukan. Yang penting kamu siap-siap aja lha dulu" Jelas Kak Zubaidah.
Aleeya hanya manggut-manggut mendengar penuturan dari kak Zubaidah tersebut.
"Jadi, Aleeya besok itu langsung pindah kesana ya kak?" Tanya Aleeya lagi dengan wajah yang datar.
"Seharusnya gitu, Aleeya. Tapi itu sih terserah kamu, apakah besok itu cuman perkenalan aja Terus kamu kembali lagi kerumah dinas atau mungkin kamu ingin langsung saja nginap disana." Kata Zubaidah.
"Oh, ya nantik Aleeya pikirkan dulu kak." Jawab Aleeya akhirnya yang padahal didalam hati Aleeya belum siap untuk ditempatkan ke desa secepat ini. Padahal baru saja ia menikmati bekerja di Puskesmas dan tinggal bersama kak Ovi yang baik hati juga kak Yuli yang selalu perhatian. Aleeya masih ingin bersama kakak-kakaknya tersebut. Namun, kenyataan berkata lain. Cepat atau lambat dia harus menginjak desa juga. Bertugas disana seorang diri tanpa ditemani seperti bertugas Di puskesmas.
#
#
#
Bersambung...
__ADS_1
"Penasaran bagaimana perjalanan Aleeya selanjutnya di Desa?? Yuk.. Tetap ditunggu kelanjutannya."