
Aleeya keluar dari kamar dan melihat rumah buk Rodiah sepi. Ia mencari buk Rodiah ke dapur namun tidak ada. Setelah itu, Aleeya pergi keluar dan mendapati Andra tengah duduk di bawah pohon jambu sambil merokok.
"Buk Rodiah gak ada, dia keluar." Kata Andra agak berteriak.
"Terus kalau Pak Safar?" Tanya Aleeya lagi.
"Keluar juga." Jawab Andra.
"Jadi cuman kita berdua saja dirumah ini?" Tanya Aleeya dengan ekspresi tidak percaya.
"Menurut kamuu???" Andra balik bertanya.
"Ya.. Sepertinya gitu." Kata Aleeya kemudian duduk dikursi teras tersebut.
"Oya, besok pagi aku pulang ya. Tugas aku sudah selesai, memastikan kamu sampai dengan selamat dan tinggal disini. Jadi aku gak akan didesak-desak lagi oleh Mama" Ujar Andra tanpa memandang Aleeya.
"Ya, terimakasih sudah bersusah payah mengantarkan aku sampai disini ya. Maaf sudah banyak merepotkan kamu." Kata Aleeya.
"Ya sama-sama." Sahut Andra dengan cuek.
"Tapi, Ndra..." Aleeya menggantungkan kalimatnya seakan sedang berpikir keras. Aleeya menimbang-nimbang, apa perlu dia menceritakan ke Andra tentang firasatnya terhadap buk Rodiah itu. Tapi, setelah Aleeyaa berpikir keras akhirnya ia memutuskan untuk tidak bercerita kepada lelaki itu.
"Ngak jadi, Ndra." Kata Aleeya akhirnya.
"Lah kenapa gak jadi? padahal aku sudah tungguin lo apa yang mau kamu bilang itu." Kata Andra.
"Ngak, ngak jadi aja.. Bukan apa-apa kok." Lanjut Aleeya lagi.
"Ya suDan kalau gitu, aku gak akan maksa." Kata Andra akhirnya.
Untuk beberapa saat hening, Aleeya juga Andra masih duduk ditempat mereka masing-masing. Mereka Menunggu kepulangan tuan rumah yang entah pergi kemana. Aleeya merasa tidak enak harus menunggu didalam sedangkan tuan rumahnya tidak ada didalam. Ditambah lagi dia malah ditinggal berdua saja dengan Andra. Untung saja lelaki itu cukup tahu diri juga dengan tidak masuk kedalam rumah saat Aleeya ada didalam kamar tadi. Jika dia masuk, entahlah.. Dia sudah berkhalwat namanya. Meskipun tidak disengaja.
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Aleeya sudah rapi dengan seragam hitam putihnya, ia akan mengikuti apel pagi dikantor camat.
Aleeya munuju ke dapur dan mendapati Buk Rodiah sedang menyiapkan sarapan didapur. melihat kesibukan Buk Rodiah tersebut, Aleeya langsung saja berinisiatif untuk membantunya.
"Ngapain kamu?" Tanya buk Rodiah dengan sinis saat Aleeya membantu menyusun piring dan gelas di meja makan. Nyali Aleeya langsung menciut saat ditanya seperti itu.
"Aleeya mau bantu ibu.." Jawab Aleeya dengan suara yang pelan.
"Gak usah dibantu-bantu, kamu duduk aja disana. Kan tamu.." Ujarnya seraya memonyongkan mulutnya kearah kursi makan.
"Ya gak apa-apa buk, cuman bantu sikit aja kok." Sahut Aleeya dengan tersenyum, tapi bukannya membalas senyuman Aleeya, Buk Rodiah malah memasang wajah masam.
"Maaf ya buk, sudah merepotkan." Lirih Arsyila dengan merada tidak enak hati.
Beberapa saat kemudian, Pak Safar dan Andra datang dan bergabung bersama Aleeya. Mereka menikmati sarapan pagi itu dengan lahap.
"Apel paginya jam berapa, Lya?" Tanya Pak Safar.
"Jam 7.30 pak," Jawab Aleeya dengan tersenyum tipis.
"Kantor camatnya jauh dari sini gak pak?" Tanya Aleeya.
__ADS_1
"Oo tidak, dekat dengan pelabuhan kok. Kemarin Kita melewatinya cuman bapak lupa beri tahu kamu" Ujar Pak Safar. Aleeya menanggapinya dengan senyuman.
"Hhmm.. Pak Safar, Buk Rodiah. Sekalian saya mau pamit setelah ini, karena tugas saya sudah selesai. Saya diutus Mama saya untuk mengantarkan Aleeya, untuk selanjutnya saya titip Aleeya disini ya Pak, Buk.." Kata Andra dengan sopan.
"Kok buru-buru sekali, Ndra? Kenapa gak nginap 2-3 hari lagi disini." Kata Pak Safar memberi saran.
"Ya gak bisa pak, saya ada kesibukan lain soalnya." Kata Andra beralasan.
"Kamu tenang saja, Ndra. Aleeya aman kok tinggal disini bersama kami." Ujar Buk Rodiah dengan tersenyum penuh arti. Pak Safar dan Andra mungkin bisa tenang dengan ucapan dati buk Rodiah tersebut, tapi tidak dengan Aleeya. Ia merasa tidak yakin dengan senyum pura-pura yang diberikan oleh buk Rodiah itu.
Setelah selesai sarapan, Pak Safar mengantarkan Aleeya kekantor camat dan sekaligus mengantarkan Andra ke pelabuhan.
Pak Safar menyuruh Aleeya membawa motor yang satu lagi dan diiringinya hingga sampai kekantor camat.
"Nah, ini kantor camatnya Nak Aleeya. Itu orang-orang Puskesmas sudah pada ngumpul disana." Ujar Pak Safar sambil menunjuk kearah sana.
"Oh, Iya. Terimakasih banyak ya pak, sudah diantarin. Maaf Aleeya sudah merepotkan Bapak." Kata Aleeya.
"Ngak merepotin kok, Bapak senang bisa membantu kamu. Nantik kalau ada perlu apa-apa kami bisa hubungi nomor bapak ya. Ini nomornya.." Kata Pak Safar dnegan menyebutkan nomor hpnya. Aleeya langsung menyimpannya didalam hpnya.
"Bapak duluan ya, Aleeya. Mau ke kebun." Pamit pak Safar.
"Iya, pak. Hati-hati dijalan." Ucap Aleeya dan setelah itu Pak Safar berlalu dari sana.
Kemudian, Aleeya berjalan masuk kedalam halaman kantor camat. PerAsaan Aleeya agak gugup, karena dia harus berhadapan langsung dengan teman-teman barunya di Puskesmas ini. Saat Aleeya sudah hampir dekat ditempat kerumuman tersebut, semua mata langsung tertuju ke Aleeya. Aleeya juga melihat Fauzal sudah ada diantara mereka semua.
"Assalamualaikum, kakak-kakak... Abang-abang.. Perkenalkan nama saya Aleeya, Saya CPNS baru yang akan orientasi di Puskesmas Tasik ini." Kata Aleeya memperkenalkan dirinya dengan tersenyum hangat.
"Wa'alaikumussalam, Hai Aleeya. Selamat datang dan bergabung bersama kami." Kata seorang wanita berkulit putih dan berbadan mungil.
"Nama saya Yuli," Sambungnya lagi seraya mengulurkan tangan kearah Aleeya. Aleeya langsung menyambut uluran tersebut dan disusul dengan yang lainnya. Mereka mengenalkan diri mereka masing-masing sampai akhirnya, saat seOrang lelaki akan mengulurkan tangannya ke Aleeya, Aleeya tidak menyambut uluran tersebut. Ia tampak melipatkan kedua tangannya didepan dada. Lelaki tersebut langsung nyengir dan merasa salah tingkah.
Aleeya sudah lumayan akrab mengobrol dengan Yuli yang lebih tua 3 tahun di atas nya. Oleh karena itu, Aleeya memanggilnya kakak. Ia seorang bidan juga, sudah 5 tahun menjadi pegawai di Puskesamas Tasik tersebut.
Setelah itu, mereka semua berbarengan pergi menuju Puskesmas. Aleeya mengikuti mereka dari belakang karena dirinya memang sama sekali tidak tahu jalan. Namun, sebelum itu.. Fauzal datang menghampirinya.
"Aleeya nebeng donk. Kamu bawa motor sendiri kan? Aku ditinggalin nih sama Bang Ferli." Kata Fauzal.
"Apa? Aduh.. Maaf, Fauzal. Apa gak sebaiknya kamu cari tebangan yang lain saja. Sesama cowok gitu, itu masih banyak yang kosong juga." Tunjuk Aleeya kearah sana.
"Aku belum kenal betul dnegan mereka, segan aku. Sudah lah dengan kamu saja. Boleh ya?" Bujuk Fauzal lagi, namun Aleeya tetap menolaknya.
"Maaf Fauzal, gak bisa." Kata Aleeya lalu berlalau dari sana meninggalkan Fauzal dengan wajah kesal.
Sesampainya di Puskesmas, Aleeya langsung bisa berbaur dengan teman-teman yang lain
Staf di Puskesmas tersebut tidak terlaku ramai, sekitar 20an saja. Mereka semua cukup ramah dan menerima Aleeya dengan sikap yang positif.
Beberapa menit kemudian, Fauzalpun datang. Lelaki itu menebeng dengan salah satu staf disana juga. Fauzal melihat Aleeya masih dengan wajah yang kesal, namun Aleeya seakan tidak mempedulikannya karena sebenarnya Aleeya merasa tidak nyaman saja terus diganggu dan didekati oleh lelaki itu
Sesaat kemudian, Aleeya dan Fauzal pergi keruangan Kepala Puskesmas. Mereka mendapatkan pengarahan yang cukup lama juga dari Kepala Puskesmas yang berwajah Chines itu. Kepala Puskesmasnya seorang wanita yang memiliki sifat tegas dan berwajah dingin. Aleeya sangat merasa segan dengan sikap wibawanya itu.
Setelah mendapat pengarahan dari Kepala Puskesmas tersebut, Aleeya kembali berbaur dengan teman yang lainnya. Untuk hari pertamanya ini, Aleeya langsung ditempatkan didalam ruanh KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Aleeya banyak mendapatkan ilmu baru dalam pelayanan di Puskesmas. Karena memang ia basicnya bekerja di klinik yang mana ilmu dan pengalaman ya sangat berbeda dengan di Puskesmas.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Aleeya yang lagi mencatat buku register, tiba-tib saja teringat akan Andra yang sudah pulang.
__ADS_1
[Assalamualaikin, AnDra, maaf aku lupa bilang terimakasih. Dan hati-hati dijalan.]
Aleeya mengirim pesan singakt tersebut, selang beberapa menit kemudian. Andra membalasnya.
[Yups, sama-sama]
Balasan dari Andra. yang singkat itu membuat Aleeya sedikit kecewa. Padahal dia ingin mengadu pada Andra tentang perlakuan dingin Buk Rodiah terhadapnya. Namun, Aleeya langsung menepis perasaan seperti itu. Tidak seharusnya dia memiliki niat untuk curhat dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
"Aleeya, kekantin yuk." Ajak Yuli setelah memastikan tidak ada lagi pasien yang berobat pagi itu.
"Yuk kak, kantinnya dimana kak?" Tanya Aleeya.
"Ada didepan Puskesmas." Jawab Kak Yuli. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kantin tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sudah waktunya mereka untuk pulang. Namun, maslaahpun muncul. Aleeya benar-benar tidak ingat jalan pulang.
"Kenapa, Lya??" Tanya kak Yuli yang melihat Aleeya seperti kebingungan diparkiran.
"Lya lupa jalan pulang kerumahnya Pak Safar kak." Jawabnya dengan mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tinggal dimana tadi?" Tanya Kak Yuli karena kurang mendengar.
"Rumah Pak Safar, kak." Aleeya menjawabnya lagi.
"Hhmmm.. Pak Safar yang istrinya ibuk Rodiah iu bukann ya?" Tanya Yuli lagi. Aleeya langsung mengangguk mantap.
"Kak tau kok rumahnya, ya sudah.. Biar kakak antarkan" Kata Yuli menawarkan yuli.
"Benar kak? Apa gak merepotkan kak?" Tanya Aleeya dengan mata yang berbinar-binar.
"Ya gak donk, kebetulan arah rumah kakak juga disana." Katanya lagi.
"Terimakasih ya kak," lirih Aleeya akhirnya.
Setelah itu, tidak butuh waktu lama akhirnya Aleeya sampai dirumah Pak Safar. Kemudian, Yuli pamit pulang.
"Sekali lagi terimakasih ya kak, maaf sudah merepotkan." Kata Aleeya.
"Iya, sama-sama Aleeya." Sahut Yuli dan kemudian berlalu dari sana.
Setelah kepergian kak Yuli, dengan langkah ragu Aleeya masuk kedalam rumahnya. Namun, ia tidak jadi melangkah saat terdengar deringan Hpnya dari dalam tas. Aleeya langsung mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Andra.
"Assalamualaikum,.." Kata Aleeya memulainya dengan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumusalam, Aleeya.. Bagaimana sudah pulang dari Puskesmas?" Tanya Andra tiba-tiba yang membuat kening Aleeya langsung berkerut bingung.
"Iya, sudah. Ini baru sampai dirumah pak Safar. Ada apa ya Ndra?" Tanya Aleeya.
"Gak ada apa-apa. Sudah dulu ya. Bye." Ujarnya lalu memutuskan panggilan tersebut. Aleeya benar-benar terheran-heran dibuatnya dengan gelagat anehnya Andra. Lelaki itu terkadang bersikap dingin dan ada juga beberapa kali bersikap seperti perhatian kepadanya. Entahlah.. Aleeya langsung menepis pikirannya tentang itu semua.
Kemudian, Aleeya masuk kedalam rumah dengan sebelumnya mengucap salam. Pintu rumah terbuka, dan seraut wajah langsung nongol didepan pintu. Wajah sangar, dingin dan Cemberut langsung menyambut kedatangan Aleeya..
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG..