Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
LIMA BELAS


__ADS_3

Aleeya dan Windy yang merasa penasaran langsung saja menghampiri kerumunan orang-orang tersebut.


"Sedang lihat apaan sih?" Tanya Windy kepada mereka semua.


"Pengumuman" Sahut seorang lelaki.


"Pengumuman apa?" Windy bertanya lagi.


"Tempat tugas kita dan tanggal kapan mulai kesananya" Sahut yang lainnya


"Oya, sudah keluar ya? Lya, yuk kita lihat. Aku penasaran ditempatkan dimana. Semoga saja masih dekat-dekat kota, jangan sampailah ke pelosok desa" Kata Windy dengan penuh harap.


Lalu Aleeya dan Windy menyelip diantara mereka, dari jarak yang lumayan dekat Aleeya mencari namanya. Dan.. tidak butuh lama ia mencari namnya yang ternyata tertulis dengan berdasarkan abjad. Kemudian Aleeya membaca dengan lirih nama sebuah tempat dimana dirinya akan mengabdi.


"Bidan Desa di Desa Dedap..." Desis Aleeya dengn wajah yang datar.


Windy yang sudah tahu penempatannya dimana langsung bersorak dan menarik tangan Aleeya menjauh dari kerumunan orang-orang.


“Alhamdulillah, Lya.. penempatan aku masih di Puskesmas Kota” Kata Windy dengan histeris bahagia.


“Alhamdulillah, ya Win. Aku ikut senang” Jawab Aleeya seadanya.


“Kamu Bagaimana? Ditempatkan dimana? Gak dipelosok kan?” Tanay Windy bertubi-tubi.


“Disitu tertulis Bidan Desa di Desa Dedap, Win.” Jawab Aleeya.


“Tapi, ya aku mana tahu itu tepatnya dimana” Sambung Aleeya lagi dengan tersenyum tipis.


“Ya udah, kita cari tahu nantik ya” Imbuh Windy akhirnya. Aleeya hanya mennganggukan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mereka kembali keruangan mereka masing-masing untuk melanjutkan orientasinya.


“Lya sudah tau ditempatkan dimana?” Bisik Fauzal saat mereka sedang menyimak pembahasan yang diberikan oleh satu staf disana. Lelaki itu duduk tepat disebelah Aleeya, karena ia ingin berbicara dengan Aleeya maka ia menarik kursinya untuk lebih dekatnya dengan Aleeya agar wanita itu bisa mendengar suaranya yang setengah berbisik itu.

__ADS_1


“Sudah” Jawab Aleeya singkat lalu menggeserkan kursinya menjauh dari Fauzal.


“Dimana?” Fauzal bertanya lagi. Sebenarnya Aleeya malas meladeni kebawelan lelaki itu, karena dia ingin focus menyimak materi yang diberikan oleh staf diruangan tersebut dan juga pastinya dia sangat merasa terganggu oleh sikap Fauzal yang sok akrab dengan dirinya.


“Desa Dedap” Jawab Aleeya tanpa memandang Fauzal sedikitpun, kemudian Aleeya menyibukkan dirinya dengan mencatat dan berharap si lelaki disebelahnya ini tidak lagi banyak bertanya kepadanya. Namun, sepertinya semua tidak sesuai harapannya.


“Kalau tidak salah itu masih kecamatan yang sama dengan penempatan aku lah, Lya” Kata Fauzal terdengar sedikit girang.


“Masak iya?” Selidik Aleeya seakan tidak percaya.


“Iya, kalau kamu gak percaya bisa ditanyain nantik sama orang dinas sini dimana tepatnya Desa Dedap itu” Kata Fauzal. Aleeya kembali diam dan menyibukkan dirinya dengan mencatat. Fauzal yang sadar dicuekin setelah itu menjauh dari Aleeya dan kembali focus menyimak.


***


Pukul 4 sore mereka semua sudah dibolehkan pulang, Aleeya menemui Windy ke ruangannya namun dia lihat tidak ada siapapun disana. Aleeyapun teringat bahwa temannya itu tadi bilang bahwa dirinya akan pulang bersama kenalan barunya dan kenalan barunya itu adalah seoarang lelaki.


Aleeya tidak habis pikir, dia yang biasa berada dilingkungan teman akhiratnya yang jauh dari hal khalwat seperti ini dan terkadang ia merasa canggung sekaligus miris melihat pergaulan antar lawan jenis yang jauh dari aturan islam. Tapi, balik lagi Windy bukan seperti dia yang mungkin belum pernah mendapat kajian tentang hal itu. Ingin rasanya Aleeya menasihatinya seperti yang ia lakukan pada teman-teman dikliniknya dulu. Tapi, apalah daya saat ini dia belum begitu dekat dan mengenal baik teman barunya itu. Walaupun demikian, Aleeya tetap memiliki keinginan kuat jika diberi kesempatan dia kan mendakwahi Windy juga.


Setelah itu, Aleeya berdiri menunggu didepan Dinas. Ia mencoba menghubungi nomor becak yang mengantarkan dia tadi pagi. Tapi, malang sekali.. Nomor Handphone si tukang becak malah tidak aktif. Aleeya mencoba beberapa kali tapi tetap sama. Aleeya langsung mendengus kesal. Mau tidak mau dirinya harus mencari becak yang lain untuk mengantarnya pulang.


Tiga kali Aleeya mencoba menghubungi nomor tante Murni, tapi tidak diangkatnya sama sekali.


“Tante Murni kemana ya? Kok ngak angkat telpon dari aku sih?” Aleeya bertanya gusar kepada dirinya sendiri.


“Hei, belum pulang?” Sebuah suara dari arah belakangnya membuat Aleeya langsung tersentak kaget. Aleeya langsung menoleh kebelakang dan mendapati Fauzal sudah berdiri dibelakangnya. Dalam hati Aleeya tidak berhenti menggerutu, Mengapa dirinya selalu dipertemukan dengan cowok bawel ini?


“Kamu lagi nunggu siapa?” Fauzal kembali bertanya.


“Lagi nunggu becak.” Jawab Aleeya dengan singkat dan kemudian ia  mengalihkan pandangannya kekanan dan kekiri untuk mencari keberadan becak yang lewat.


“Jam segini biasanya gak ada becak lagi, Ya” Ujar Fauzal dengan sok tahu.


“Loh, kok gitu?” Tanya Aleeya seakan tidak percaya.

__ADS_1


“Kata orang-orang sih gitu, batas becak beroperasi sampai jam 3 atau 4 sore gitulah” Jelas Fauzal.


“Oohh..” Desis Aleeya. Dalam hati ia berujar, bahwa Tante Murni lah harapannya saat ini.


Aleeya kembali menghubungi nomor Tante Murni. Tapi kali ini nomor Tante Murni malah tidak aktif sama sekali. Wajah Aleeya semakin panik.


“Mau aku antar gak? Rumah Lya dimana? Mana tau saja kita searah” Tawar Fauzal tiba-tiba. Ia bisa melihat gurat kegelisahan yang tergambar diparas wanita manis  yang ada dihadapannya saat itu.


“Ngak usah, Fauzal. Aku dijemput sama tante aku aja. Maksih ya sudah nawarin” Tolak Aleeya dengan halus.


“Tapi, aku dengar nomor yang kamu hubungi itu gak aktif. Jadi, masih tetap menunggu juga? Sudah mau maghrib ini Lo” Kata Fauzal mengingatkan Aleeya.


Aleeya terdiam dengan pikiran berkecamuk dibenaknya. Jika tidak mengingat akan hukum berboncengan dengan lawan jenis itu bagaimana didalam islam, pasti Aleeya akan langusng menerima tawaran dari Fauzal tersebut.  Karena dia sudah merasa kelelahan sekali hari ini , dan ingin istirahat dirumah. Belum lagi besok jam 7 pagi mereka sudah harus ada datang lagi ke Dinas. Tapi, tidak semudah itu bagi Aleeya untuk mengatakan iya. Masih banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Dia memang harus mempertahankan Izzahnya dan juga tetap istiqomah dengan apa yang sudah ia pertahankan selama ini.


“Hai, Aleeya.. Kok diam? Aku Tanya sekali lagi nih, kamu mau aku antarin tidak?” Tanya Fauzal.


“Ngak” Aleeya langsung menjawab.


“Yakin??” Fauzal bertanya lagi. Aleeya menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah kalau begitu, aku juga gak mau memaksa. Tapi.. Hati-hati ya disini. Agak seram soalnya didalam itu..” Kata Fauzal seperti menakut-nakuti Aleeya. Aleeya tidak menanggapi omongan dari Fauzal namun matanya seakan membesar juga mendengar kata-kata yang menakutinya seperti itu.


“Kalau perlu apa-apa kamu bisa hubungi nomor aku. Mau nyimpan nomor aku gak?” Tawar Fauzal lagi.


“Gak, gak perlu. Maaf ya, terimakasih sebelumnya” Jawab Aleeya dengan cuek.


“Hhmmm… Aku sudah nawarin baik-baik lo, jadi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ya sama kamu...” Imbuh Fauzal lagi yang membuat Aleeya seakan habis kesabaran dengan sifatnya yang bawel itu. Baru saja Aleeya akan mengeluarkan suara protesnya, tiba-tiba saja dari arah depan berhenti 2 buah motor tepat didepan mereka berdua.


Aleeya terpana sesaat ketika melihat 2 orang yang memberhentikan motor didepannya yang ternayata orang tersebut adalah Andra dan Dika.


“Kamu pakai motornya Dika, Ndut.. pindah kesini” Tanpa basa-basi Andra langusung saja  berkata demikian. Dika lalu turun dari motor dan kemudian memberikan kunci motornya kepada Aleeya. Aleeya menerima kunci motor dengan ekspresi bingung. Kendatipun demikian, ia tetap naik keatas motornya Dika dan kemudian meluncur dari sana meninggalkan Fauzal yang terdiam membisu disana.


`

__ADS_1


`


.


__ADS_2