
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aleeya sudah rapi dengan memakai baju gamis dan kerudung panjangnya. Ia sudah menyiapkan segala hal yang akan dibawanya untuk daftar ulang. Di dapur Tante Murni sudah memasakkan sarapan untuk Aleeya. Aleeya merasa bersyukur karena diperlakukan dengan baik oleh Tante Murni.
"Yok Sarapan dulu Aleeya. Oh ya, Tante bangunkan Andra dulu ya." Ujar Tante Murni.
"Baik tante, Terimakasih" Jawab Aleeya dan setelah itu tante Murni melangkah kekamar Andra.
Beberapa saat kemudian, Tante Murni datang lagi kedapur menemui Aleeya.
"Alhamdulillah.. Andra mau antarin kamu Lya.. Sebentar lagi dia keluar. Ngak apa-apakan tante tinggal ke sekolah." Ucapnya setelah keluar dari kamar Andra. Entah apa yang dikatakan tante Murni sehingga lelaki itu akhirnya mau mengantarkan Aleeya.
"Ngak apa-apa tante." Jawab Aleeya dengan tersenyum hangat.
"Oke, Tante pergi dulu. Kamu hati-hati ya dijalan? kalau ada apa-apa jangan lupa kabari tante" Pesan Tante Murni sebelum ia pergi.
"Baik, Tante" Sahut Aleeya.
Sepeninggalan Tante Murni, barulah Aleeya tersadar. Bahwa Sekrang hanya dirinya sendiri perempuan dirumah ini. Sedangkan kedua lelaki yang ada dirumah ini bukanlah Mahramnya. Aleeya menepuk jidatnya. Kenapa tidak kepikirian olehnya sejak tadi. Tahu gitu lebih baik dia pergi ikut tante Murni saja tadi. Biar lah kepagian Ia sampai disana yang penting dia tidak berada disini bersama mereka. Bersama Kedua laki-laki yang tak Ada hubungan nasab dengan dirinya. Pikir Aleeya didalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Andra terbuka. Laki-laki itu keluar dari kamar dengan mata yang masih merah karena mengantuk dan yang membuat Aleeya agak tersentak yaitu ketika melihat Andra keluar kamar dengan bertelanjang dada, kemudian tanpa rasa malau ia berjalan menuju dapur. Aleeya yang tak sengaja melihat pemandangan itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Ia menunduk sambil memejamkan matanya. Namun, Andra Melewati Aleeya dengan cuek lalu masuk kekamar mandi.
"Jangan Geer kamu ya. Aku mau antarin kamu karena terpaksa. Karena suruhan mama aku aja. Kalau tidak.. Tak akan sudi aku bangun pagi-pagi hanya untuk antarin cewek kampungan seperti kamu ini.." Ujar Andra setelah ia selesai mandi dan berganti pakaian kemudian datang kembali kedapur.
Aleeya menarik nafas panjang. Ia berusaha untuk sabar menghadapi sikap arogannya Andra. Karena saat ini posisinya memang membutuhkan bantuan lelaki itu. Biarlah dia dibilang kampungan, tak mengapa. Aleeya berusaha untuk membesarkan hatinya.
"Terimakasih ya. Iya ngak apa-apa, biarpun terpaksa.. Aku tetap ucapkan terimakasih" Kata Aleeya kemudian.
Andra tidak menanggapi ucapan Aleeya. Tapi ia langsung meraih kunci motor yang ada di gantungan dekat pintu dan lalu Menuju keluar. Aleeya mengikuti lelaki itu dari belakang.
"Tunggu.. Aku boleh ngasih saran tidak..?" Tanya Aleeya dengan hati-hati. Andra berhenti sejenak dan menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Saran apa?" Tanyanya agak garang.
"Eee.. Kalau bisa kita bawa motor masing-masing aja. Nantik aku ikutin kamu dari belakang. Jadi aku pinjam motornya Dika.. Kamu pakai motor kamu itu" Kata Aleeya sambil menunjuk motor Besarnya Andra. Andra tersenyum kecut mendengar saran yang diberikan oleh Aleeya.
"Sadar diri juga kamu ternyata ya. Hahaha.... Memang enggak pantas cewek seperti kamu duduk dibelakang cowok tampan seperti aku.. Diatas motor ini lagi.. Hahhaa.." Ucapnya dengan sombong. Wajah Aleeya langsung berubah merah padam menahan amarah yang sebenarnya sudah diubun-ubunnya. Tapi tetap Berusaha dia tahan.
"Oke.. Ambil kunci hondanya Dika didalam. Dan keluarkan motornya sendiri dari garasi!" Suruhnya. Aleeya Langsung beregegas masuk kembali kedalam rumah.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berangkat. Dipertengahan jalan, Aleeya mengikuti Andra dari belakang, lelaki itu membawa motor dengan lumayan kencang sehingga membuat Aleeya agak kewalahan untuk mengikutinya. Entah sengaja atau tidak, yang jelas Aleeya sedikit kesal dengan perlakuannya tersebut. Aleeya sempat memberi kode pada Andra dengan mengklaksonnya, namun lelaki itu seperti pura-pura tidak mendengar dan malah semakin melajukan motornya meninggalkan Aleeya jauh dibelakang.
Saat dipersimpangan jalan, Aleeya pun memberhentikan motornya. Ia menatap bingung simpang empat yang ada dihadapannya saat ini. Ia sama sekali tidak tahu Andra belok kemana.
“Ya, Allah… Andra belok kemana ya? Dia emang gak ikhlas tampaknya antarin aku, Astagfirullah…” Ucap Aleeya seraya menghela nafas panjang.
Cukup lama juga Aleeya berdiam diri disana, berharap Andra berputar arah dan datang menghampirinya. Namun, harapan Aleeya tak kunjung menjadi kenyataan. Lelaki arogan itu sama sekali tidak datang kembali menjemputnya. Dan akhirnya, Aleeya memutuskan untuk menghubungi tante Murni. Karena memang Aleeya belum mempunyai nomor handphone lelaki itu.
“Assalamu’alaikum, Aleeya.. Kenapa?” Tidak menunggu lama, Tante Murni langsung mengangkat telpon dari Aleeya.
“Tunggu… Tunggu… Kamu perginya gak boncengan sama Andra memangnya?” Tanya Tante Murni dengan merasa heran.
“Gak, Tante. Kami naik motor sendiri-sendiri” Jawab Aleeya.
“Ya ampuun.. Kebiasaanlah si Andra ini, bawa motor suka kencang-kencang. Ya sudah, bentar ya Aleeya.. Tante telpon Andra dulu ya. Kamu disitu saja, jangan kemana-mana” Ujar Tante Murni.
“Baik Tante” Jawab Aleeya.
Beberapa menit kemudian…Tante Murni menelpon Aleeya…
“Aleeya, Tante sudah telpon Andra. Sebentar lagi dia sampai ketempat kamu. Kamu tunggu aja disana ya” Kata Tante Murni.
__ADS_1
“Oh, iya Tante. Terimakasih banyak…” Sahut Aleeya dengan sopan.
Benar kata Tante Murni, selang beberapa menit setelah Tante Murni mematikan telponnya, Andra pun datang. Ia berhenti tepat disebelah Aleeya. Lelaki itu lalu membuka kaca helmnya yang gelap dan kemudian munculnya seraut wajah masam yang tergambar disana.
“Makanya bawa motor jangan lelet. Ketinggalan kan!” Umpatnya dengan nada kesal. Aleeya hanya diam. Rasanya malas sekali ia harus menjawab pernyataan dari cowok belagu didepannya ini.
“Pakai mengadu sama Mama aku pula lagi, dasar pengadu!!” Andra masih melanjutkan umpatannya ke Aleeya. Sedangkan Aleeya, hanya bisa mengelus-ngelus dadanya.
“Yadah, cepatlah.. Jangan sampai ketinggalan lagi, gak akan sudi aku balik-balik lagi kebelakang” Teriak Andra dengan tidak sabaran.
“Iya, tapi kamu bawa motornya jangan laju-laju. Saya kan orang baru disini jadi belum kenal bagaimana jalanan disini” Kata Aleeya yang akhirnya mengeluarkan suaranya juga.
Andra tidak menggubris ucapan Aleeya tersebut, ia langsung saja kembali menutup helmnya dan kemudian meng-gas kencang motornya menjauh dari sana. Aleeya yang kaget segera menghidupkan motornya dan kemudian berusaha mengejar Andra yang sudah semakin jauh.
“Jangan sampai ketinggalan lagi deh!” Batin Aleeya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai disebuah bangunan bertingkat tempat pendaftran ulang bagi peserta CPNS yang sudah lulus.
“Jadi daftar ulangnya dibagian mananya?” Saat diparkiran, Aleeya memberanikan diri untuk bertanya ke Andra.
“Mana aku tahu, kamu Tanya aja sama satpam tuh sana…” Tunjuk Andra masih dengan gaya soknya.
“Oh, yadah.. Kamu kalau mau pulang juga gak apa-apa. Gak usah tungguin saya, InshaAllah saya sudah ingat jalan pulang kok…” Kata Aleeya. Mendengar perkataan Aleeya tersbut, membuat Andra langsung menyunggingkan senyum sinisnya.
“Yang mau nungguin kamu siapa? Pede amat” Katanya lalu tanpa basa-basi lelaki itu langsung berlalu saja dari sana, meninggalkan Aleeya yang termangu dengan hati yang kesal.
`
`
__ADS_1
`
BERSAMBUNG...