Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
TIGA BELAS


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aleeya dan Windy sudah berangkat ke Dinas kesehatan setempat untuk melakukan orientasi atau perkenalan dengan staf disana, dikarenakan mereka berdua sama-sama berprofesi dibidang kesehatan maka mereka orientasinya di Dinas Kesehatan terkait sesuai dengan jurusan mereka. Selain itu. mereka juga akan melihat tempat penempatan mereka dimana nantiknya. Setahu Aleeya bahwa dirinya yang sebagai bidan akan ditempatkan di desa yang jauh dari kota, yang terletak diseberang pulau, sedangkan Windy yang seoarang Perawat kabarnya akan ditempatkan disebuah Puskesmas tapi belum tahu apakah Puskesmas di dekat kota atau malah didesa seberang juga seperti dirinya.


Setelah pamit dengan Tante Murni, Aleeya dan Windy berangkat dengan menggunakan becak. Karena kebetulan saat itu ketiga motor yang ada di rumah Tante Murni dipakai si pemilikinya, maka jadilah mereka berinisiatif menyewa sebuah becak yang bisa mengantar jemput mereka dari rumah Tante Murni ke Dinas Kesehatan.


“Lya,  si cowok dingin itu ada masalah apa sih sama kita? Kok bawaannya jutek aja, heran aku. Padahal aku sudah bersikap baik lo dengan dia, kalau ketemu dia selalu senyum, sapa, salam tapi sedikitpun dia gak mengindahkan sikap baik aku itu malahan kadang melotot dengan bersuara besar gitu sama aku, aku jadi sebel deh dibuatnya” Sungut Windy tiba-tiba saat mereka didalam perjalanan menuju Dinas Kesehatan.


“Biarkan ajalah Win, sabar aja. Mungkin memnag sifat dia yang seperti itu. Kita juga gak mungkin marah atau membalas perbuatan dia yang kurang menyenangkan itu kan. Kita sudah dikasih tempat sama Tante Murni saja sudah bersyukur banget, yang penting Tante Murni baik sama kitanya. Ngak usah dihiraukan atas perbuatannya, anggap angin lalu saja” Jawab Aleeya dengan tersenyum tipis.


“Iya sih, cuman itu tadi… Apa sama semua orang dia begitu ya? Kalau iya, mana ada cewek yang mau sama dia. Langsung ilfil cewek dengan sikap dia itu. Apa jangan-jangan dia gak suka cewek ya?” Kata Windy menduga-duga.


“Usshh.. Jangan berpikiran buruk seperti itu Win, gak baik. Kalau itu gak benar malah jadi fitnah lo.” Kata ALeeya memperingati temannya itu. Windy hanya mangut-mangut seraya nyengir-nyengir tak jelas.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai didepan Dinas kesehatan. Terlihat disana sudah ramai orang berseragam hitam putih seperti mereka berdiri menunggu diparkiran.


“Pak, minta nomor hpnya ya? Nantik kami mau dijemput lagi sama bapak, bisa kan?” Tanya Windy ke supir becak tersebut.


“Bisa donk, ini nomor saya” Kata Si bapak dengan antusias lalu memberikan kartu namanya kepada mereka berdua.


“Keren tukang becak saja ada kartu namanya lo, Ya.” Bisik Windy ke telinga Aleeya. Aleeya hanya tersenyum lebar menanggapinya.


Setelah itu, mereka berdua masuk kedalam halaman dinas kesehatan yang tidak begitu luas. Mereka bergabung dengan teman yang lainnya, yang sudah dapat dipastikna mereka yang ada didalam itu adalah tenaga kesehatan semuanya.


Sesaat kemudian langkah kaki Aleeya berhenti saat matanya menangkap sesosok wajah yang  baru-baru ini ia kenal. Wajah seorang lelaki yang sempat membuat dirinya malu karena ketahuan meliriknya saat itu. Lelaki itu seperti menyadari Aleeya yang melihat kearahnya, yang kemudian malah melambaikan tangannya dan sejurus kemudian dia langusng berlari kecil menuju dimana Aleeya dan Windy berdiri. Aleeya yang tidak siap dengan kehadiran lelaki itu langsung gelagapan dibuatnya.


“Hai, jumpa lagi kita ya?” Sapanya dengan sangat ramah.


“Hai, kamu disini juga?” Windy membalas sapaan darinya.


“Iya, aku kan Nakes juga” Sahutnya dengan tersenyum.


“Oya? Profesi Kamu apa emangnya? perwat juga ya?” Tanya Windy.


“Iya, aku perawat. Kamu perawat juga kan? Dan teman kamu ini Bidan kan?” Tebaknya dan langsung melirik kearah Aleeya yang masih diam mematung disana.

__ADS_1


“Iya, benar. Kok tahu sih?” Sahut Windy dengan cengar-cengir.


Aleeya yang merasa risih dengan obrolan sok akrab mereka berdua itu, memilih untuk menghindar dan pergi kesebuah kursi yang kebetulan ada disana dan lalu duduk dikursi tersebut.


Windy yang sadar Aleeya berpindah tempat, langsung mengikutinya dan si lelaki sok akrab itu pun mengikuti mereka juga.


“Kalian sudah tau belum penempatannya dimana?” Tanya Fauzal lagi.


“Belum tau, kan belum diumumkan” Jawab Windy, hanya dialah yang tadi menjawab pertanyaan dari Fauzal. Aleeya masih diam membisu.


“Mana tahu saja ada dapat bocoran dari orang dalam” Kata Fauzal, kemudian dia melirik ke Aleeya yang sibuk dengan handphonenya.


“Aleeya, kok diam aja? Oya, Kalau gak salah,  biasanya bidan penempatanya didesa kan? Jadi bidan desa setahu aku” Komentar Fauzal lagi menaggapi tentang penempatan Aleeya.


“Iya, aku juga ada dengar seperti itu” Akhirnya Aleeya mengeluarkan suaranya juga dan  menjawab pertanyaan Fauzal  dengan singkat.


“Tapi, setahu aku desa di kepulauan ini lumayan jauh-jauh juga lo jaraknya dari kota, belum lagi jalan menuju kesana yang katanya kurang bagus, malahan bisa dibilang sangat-sangat hancur. Tapi, aku bukan bermaksud menaku-nakuti kamu ya, cuman pengen ngasih tahu kamu aja biar nantik tidak begitu kaget” Kata Fauzal.


“Ya gak apa-apa. Jauh sebelum saya ikut tes disini juga sudah tau kok resikonya jika jadi bidan desa itu bagaimana, penempatan pastilah jauh dari kota. Namanya juga bidan desa.” Jawab ALeeya dengan santai.


Beberapa menit kemudian, mereka semua disuruh berbaris dihalaman dinas untuk mendengar pengarahan dari Kepala Dinas dan Staf dinas yang lainnya dan sebelumnya Kepala Dinas bersama Staf memperkenalkan diri mereka masing-masing.


Kepala Dinas menegaskan kepada mereka semua bahwa dimanapun nantiknya mereka ditempatkan harus bisa menerima dengan lapang dada dan tetap menjalaninya dengan ikhlas. Jangan sampai pengaruh tempat yang tidak diharapkan menjadi alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Karena tugas dan pengabdian mereka saat itu sudah menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan.


Aleeya membenarkan apa yang dikatakan oleh kepala dinas tersebut, memang benar sekarang ini tanggung jawab yang besar akan segera ia pikul, dimanapun penmpatannya dan akan seperti apa disananya Aleeya harus bisa menerima dan menajalani tanggung jawab tersebut tanpa keluh kesah tentunya.


Mendengar cerita dari orang-orang bahwa jadi bidan desa itu tidak semudah yang dibayangkan, malahan sangat sulit, dimana kita akan berbaur dengan masyarakat yang menjadikan kita sebagai seseorang yang dapat dipercaya mengenai kesehatan mereka.


Kehidupan masyarakat didesa pastilah tidak sama dengan perkotaan, Aleeya yang biasa hidup dan bekerja sebagai bidan di kota pasti akan merasa canggung bila dihadapakan dengan lingkungan baru yang mengharuskan dia untuk bisa membuat masyarakat desa mempercayai dirinya sebagai seoarang tenaga kesehatan yang berkompeten.


Tapi, balik lagi semua ini pilihan hidup yang sudah ia pilih dan mau tidak mau harus tetap ia jalani. Aleeya yakin selama masih ada Allah didalam hatinya, semua pasti akan baik-baik saja. Aleeya menyakini dirinya pasti bisa menjadi seoarang bidan desa yang seperti diharapkan oleh Masyarakat desa nantiknya. Ya.. Aleeya selalu menanamkan hal itu dihatinya.


Setelah kepala Dinas selesai memberi pengarahan, mereka dibagi beberapa kelompok untuk masuk kedalam ruangan-ruangan yang ada di Dinas untuk mengenal lebih lanjut program dan kegiatan yang ada disana. Dalam kelompok tersebut terdiri atas 5 orang, namun sayang sekalu Aleeya tidak sekelompok dengan Windy.

__ADS_1


“Hhmm… Berpisah deh kita hari ini, Ya?” Kata Windy dengan wajah yang sedih.


“Ya gak apa-apa win, kan cuman sebentar,” Jawab Aleeya.


“Kita sekelompok kan?” Tiba-tiba sebuah suara mampir diantara mereka. Suaranya Fauzal, yang tanpa Aleeya ketahui bahwa dia malah sekelompok dengan lelaki itu.


“Kebetulan sekali ya, akan lebih asyik jika sekelompok dengan orang yang sudah kita kenal bukan?” Lanjutnya lagi lalu berlalu dari sana. Windy dan Aleeya hanya terdiam.


Setelah itu, dari kelompok Aleeya orientasi diruang program pengendalian penyakit menular, mereka saling berekanalan dengan staf yang ada didalam sana. Dikelompok Aleeya, ada 2 perempuan termasuk dirinya dan 3 orang lelaki yang salah satunya adalah Fauzal.


“Hai, Lya.. Kamu bawa pulpen lebih?” Fauzal bertanya kepada Aleeya yang sedang mencatat sesuatu dikertasnya. Aleeya melihat sebentar kearah Fauzal lalu tanpa mengeluarkan suara ia langsung saja mengambil penanya yang lain dari dalam tas dan memberikan kepada lelaki itu.


“Alhamdulillah, terimaksih ya.. Pena aku soalnya macet pulak nih tiba-tiba” Katanya, Aleeya hanya tersenyum kecut.


Akhirnya jam istirahatpun tiba, mereka diberi waktu istirahat untuk makan dan sholat selama 1 jam setengah. Aleeya lalu keluar dari ruangan tersebut dan bermaksud untuk mencari Windy. Namun, baru selangkah kakinya berjalan keluar.. Tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya.


“Aleeya, Tunggu..!!” Jerit seseorang tersebut yang membuat Aleeya langsung menoleh kesumber suara


“Kamu mau kemana?” Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Fauzal. Aleeya seakan terganggu dengan kehadiran cowok satu ini yang menurutnya sikapnya itu terlalu berlebihan. Padahal sudah berbagai cara yang Aleeya lakukan demi menghindar untuk mengobrol dengannya, tapi sepertinya dia tidak paham juga. Dia masih tetap juga memulai pembicaraan dengan Aleeya.


“Kenapa emangnya?” Tanya Aleeya sedikit ketus.


“Mau ikut aku gak? Kita ke mesjid bareng setelah itu makan,” Katanya dengan tersenyum lebar.


“Maaf, aku gak bisa.” Aleeya langsung menjawab dengan cepat setelah itu membalikkan badannya untuk menghindar dari perkataan selanjutnya drai lelaki itu.


“Kenapa gak bisa?” Fauzal tidak menyerah dan malah mengikuti Aleeya dari belakang.


“Kamu sepertinya dari kemarin menghindar terus ya dari aku, emang ada yang salah ya? Padahal kan aku cuman ingin berteman” Katanya yang terus mengoceh.


“Maaf, ada batasan bagi aku untuk berteman dengan lawan jenis. Aku harap kamu memakluminya, permisi” Tegas Aleeya lalu pergi menjauh dari sana meninggalkan Fauzal yang terdiam mematung dengan perkataan Aleeya barusan.


***

__ADS_1


ASSALAMU'ALAIKUM, SEMUANYA... TERIMAKSIH BAGI YANG SUDAH SUDI MAMPIR DI NOVEL SAYA INI. NOVEL INI KONFLIKNYA RINGAN SAJA KOK, GAK TERLALU BERBELIT-BELIT YANG PENTING AKAN BANYAK ILMU YANG TERSIRAT DIDALAMNYA,


TERUS MEMBACA YA,,


__ADS_2